
Dengan menatap lurus kearah api yang menyala dari tumpukan kayu yang disusun membentuk kerucut, Tuan Dalmar masih tenggelam dalam ingatannya akan sosok putri bungsunya yang ia lihat saat kejadian dua hari yang lalu. Ia masih tidak dapat memercayai kejadian tersebut, yang membuat putrinya menjadi sesuatu yang asing.
Setelah kejadian peperangan lima puluh tahun yang lalu, manusia tidak dapat menggunakan sihir lagi dalam kehidupannya. Hanya orang-orang dari keturunan bangsawan tinggi yang dapat memiliki sihir sesuai warisan keluarganya, tapi jika rakyat biasa memiliki sihir dalam tubuhnya, maka dia akan diasingkan. Hal ini dikarenakan kekhawatiran akan terjadianya pemberontakan dan kejahatan. Namun, kenyataan bahwa Acie memiliki sihir yang begitu besar membuat Tuan Dalmar merasa khawatir.
Selama lima belas tahun terakhir, semenjak ia mengasuh Acie sebagai putrinya, Tuan Dalmar sama sekali tidak pernah mencari tahu asal usul Acie yang sebenarnya. Kini ia mulai cemas jika suatu saat nanti Acie harus pergi meninggalkannya.
“Ayah, kenapa masih terjaga? Istirahatlah ini sudah larut.” Ucap Ciero sembari berjalan mendekati ayahnya yang duduk di dekat perapian.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Tuan Dalmar ambigu.
“Maksud Ayah?!” Ciero mengerutkan keningnya.
“Acie bukanlah manusia biasa seperti kita, dia memiliki sihir dalam tubuhnya. Jika warga desa mengetahuinya, akan timbul masalah besar. Ayah sudah tidak memerdulikan asal usul Acie sejak dulu, tapi sepertinya sekarang Ayah harus mulai mencari tahu asal usul gadis itu. Apapun resikonya.” Putus Tuan Dalmar.
Ciero hanya menatap lurus kearah ayahnya yang terlihat tertekan. Dia tidak bisa menyarankan apa-apa. Dia sendiri juga sangat khawatir dengan keadaan Acie saat ini. Bukanlah satu hal yang baik jika warga desa mengetahui kelebihan adiknya itu.
Jam empat pagi Acie telah terbangun dari tidurnya. Ia segera mengambil kapak untuk membelah kayu menjadi belahan kecil. Seakan musim dingin tidak ada habisnya di bumi belahan utara. Satu persatu batang kayu yang telah dibagi dua menjadi belahan-belahan kecil. Tak terlihat rasa lelah dari raut wajah Acie.
Acie kembali teringat kejadian dua hari yang lalu, dia mulai berpikir dengan respon tubuhnya saat itu. Dia tidak pernah menduga bahwa akan mengeluarkan energi besar seperti itu. Seakan energi itu telah terkubur begitu lama di dalam tubuhnya.
Dia juga bingung dengan kepemilikannya atas pedang yang telah menjadi milik dari para penguasa sejak dahulu. Namun, Acie tidak bisa mengelak atas jalan takdir yang telah ditetapkan untuknya.
Selesai dengan potongan kayunya, Acie kembali masuk ke rumah untuk mengambil panah dan busur miliknya. Ia segera berangkat menuju ke hutan berburu.
“LUNA! Keluarlah!”
Muncullah cahaya dari tubuh Acie yang mengeluarkan sosok serigala putih besar yang bernama Luna.
“Hari ini aku ingin mengelilingi area perbukitan, biarkan aku menaikimu.” Pinta Acie pada sang perisai.
“Silahkan, Tuanku.” Ucap Luna dengan hormat.
Dengan berlari kecil, Luna mengelilingi perbukitan Albion yang dipenuhi dengan salju yang dingin. Wilayah hutan tempat para warga desa berburu tidak lah jauh dengan jalan yang biasa dilalui oleh warga desa yang keluar dari desa.
Selain berburu binatang liar di hutan, warga Desa Alba juga menjual susu kambing. Warga desa juga menjual selimut dan syal kepada desa-desa terdekat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walau perjalanan mereka tidak sampai ke Ibu Kota, tapi kelangsungan hidup Desa Alba cukup baik.
Mengelilingi area perbukitan salju merupakan hal yang baru dilakukan oleh Acie. Selama lima belas tahun hidupnya, Acie tidak pernah keluar dari wilayah Desa Alba. Ayahnya melarang dia untuk melangkah keluar dari wilayah desa, dengan alasan banyak sesuatu yang berbahaya di luar sana.
Acie cukup mengerti dengan kekhawatiran ayahnya itu. Namun, untuk kali ini Acie merasa harus keluar dari wilayah Desa Alba, dia ingin sekali mengetahui bagaimana keadaaan di luar Desa Alba.
Dalam perjalanannya mengelilingi perbukitan Albion, sesekali Acie bertanya kepada Luna situasi dan keadaan disekitar mereka. Walau sangat ingin melihat pemandangan di sekelilingnya, tapi itu adalah suatu hal yang mustahil bagi Acie. Dia hanya bisa menerka suasana di sekitarnya dengan mengandalkan indera pendengarnya yang tajam.
“Dunia ini luas sekali bukan ...,” ucap Acie pelan.
“Kau tau Luna, aku sedikit iri denganmu. Rasanya ingin sekali aku melihat dunia sepertimu. Dulu aku pernah iri pada teman-temanku di desa, aku sangat iri ketika mereka menceritakan tentang Ayah mereka. Saat itu aku hanya bisa diam mendengar kekaguman mereka. Sampai saat ini, aku masih merasakan kekosongan di dalam hatiku. Aku ingin sekali melihat wajah bahagia orang-orang yang aku sayangi, wajah sedih mereka, wajah kesal mereka, aku ingin sekali melihatnya. Tidak masalahkan jika aku meratapi kekuranganku seperti ini, Luna?” ucap Acie dengan wajah sendu.
Luna merasakan perasaan sedih tuannya itu, “Tuanku, tidak ada salahnya jika manusia meratapi nasib mereka. Selama seratus tahun lebih hamba hidup di dunia manusia ini, ada satu hal yang tidak bisa direnggut dari manusia, yaitu tekad. Jika manusia sudah bertekad, apa saja akan bisa dilakukan oleh mereka. Tidak mustahil bagi mereka untuk menghancurkan dunia ini.” Aku Luna.
Acie sedikit tertegun mendengar ucapan Luna barusan. Dia tidak pernah berpikir seperti itu, perkataan Luna itu merupakan ilmu bagi Acie. Tidak ada salahnya manusia memiliki suatu pemikiran yang absurd. Hal ini memungkinkan manusia untuk melewati garis ketidak mampuannya.
Matahari sudah berada tepat di atas puncak kepala. Hawa panas dari matahari cukup terasa pada hari yang cerah ini.
“Luna, hari ini cukup sampai di sini saja. Ayo kita kembali ke desa!” ucap Acie pada Luna yang mengangguki perintah tuannya.
Saat jarak antara Acie dan hutan berburu tinggal beberapa meter, Acie menangkap sebuah suara dari arah perbukitan yang berjarak satu kilometer dari tempat Acie berada.
“Luna! Kau dengar sesuatu?”
“Iya, Tuanku.”
“Suara itu sepertinya berasal dari arah sana.” Acie menunjuk kearah pegunungan Albion.
“Haruskah kita ke sana, Tuanku?” tanya Luna.
“Ayo!” seru Acie.
Luna segera membalikkan arahnya menuju ke penggunungan Albion. Luna berlari dengan cepat kearah suara itu berasal. Terlihat sekumpulan moster Muz di sana.
“Moster! Sedang apa mereka?!” ucap Acie saat melihat objek berwarna biru itu dengan mata batinnya.
“Tuanku, ada manusia di sana,” Ucap Luna.
“Aku juga melihatnya. Luna, turunkan aku!” pinta Acie.
Segera Luna menundukkan kepalanya ke tanah. Dengan cepat Acie meluncur dari atas Luna. Acie mengambil busur di punggungnya, ia sematkan anak panah di tengah busur itu. Dengan cepat anak panah itu melesat hingga terkena kepala salah satu moster yang hampir menggigit manusia yang berada di sana.
“Luna ...!” Acie mengisyaratkan Luna untuk menyerang sekumpulan moster Muz itu.
Dengan cepat luna berlari kearah para moster itu. Hanya memerlukan waktu lima detik, sekumpulan moster berbulu lebat itu musnah menjadi abu karna sihir api yang dikeluarkan oleh Luna. Acie sedikit tersentak melihat objek biru itu menghilang dalam sekejap.
“L-luar biasa.” Gumam Acie kagum.
__ADS_1
Acie segera berlari kearah tiga orang manusia yang terlihat lemah dan ketakutan di sana. Terlihat sebuah gerobak yang sudah terbalik di dekat mereka.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya Acie dengan sopan.
“Tuanku, sepertinya mereka terlihat tidak bisa berbicara saat ini.” Ucap Luna pada tuannya.
“Baiklah, sebaiknya kita bawa mereka ke desa.” Saran Acie yang diterima oleh Luna.
Saat tiba di hutan berburu serta jarak dengan Desa Alba sudah dekat , Acie menghentikan langkahnya diikuti oleh Luna.
“Luna, turunkan mereka di sini. Masuklah kembali ke dalam tubuhku.” Pinta Acie.
“Ada apa Tuanku? Mengapa hamba harus masuk kembali? Lalu bagaimana dengan para manusia ini?” ucap Luna dengan bingung.
Acie melihat sekilas kearah tiga orang manusia yang tidak sadarkan diri di atas punggung Luna.
“Aku akan menyuruh para bandit yang berjaga kemari. Kau masuklah, warga desa akan takut jika melihatmu.” Jelas Acie.
“Baiklah, Tuanku.” Ucap Luna dengan patuh.
Acie segera berlari menuju pos keamanan yang berada dekat dengan wilayah hutan berburu. Terlihat dua orang bandit yang tengah duduk bersantai di pos tersebut.
“Kalian berdua! Ikutlah denganku sebentar!” pinta Acie kepada dua orang yang terlihat kebingungan.
“Ada apa Nona?! Apa yang terjadi?!” tanya salah satu bandit itu.
“Ada beberapa orang yang terluka di sana! Ayo bantu aku membawa mereka ke desa.”
Walau sedikit bingung dua orang bandit itu segera bejalan mengikuti langkah Acie. Dua orang bandit itu terkejut melihat tiga orang yang tergeletak di tanah tak sadarkan diri.
“Ayo cepat!” seru Acie.
“Nona! Apa yang terjadi dengan mereka?!” tanya salah satu bandit itu sambil melihat kearah Acie dengan tatapan bingung.
“Aku akan menjelaskannya nanti. Bawa dulu mereka ke desa!”
“Baiklah, Nona.”
Segera para bandit itu membawa tiga orang yang berasal entah dari mana itu ke Desa Alba. Terlihat wajah terkejut dan bingung dari para warga desa yang melihatnya. Tiga orang itu di bawa ke rumah Tuan Dalmar. Ciero terkejut saat para bandit itu menerobos masuk ke dalam rumahnya.
“Eh! Ada apa ini? Siapa mereka?!” tanya Ciero bingung saat melihat orang-orang yang dibopong oleh bandit itu.
“Maaf Kakak! Ini darurat.” Seru Acie yang berjalan masuk ke dalam rumah.
Tak berapa lama kemudian Tuan Dalmar dan Caezar kembali ke rumah saat mendengar dari warga desa ada yang terluka dan dibawa ke rumahnya. Tuan Dalmar sedikit terkejut melihat tiga orang asing yang tengah terbaring tidak sadarkan diri di rumahnya.
Tuan Dalmar mendekati Acie yang tengah duduk di samping orang asing itu dengan wajah polos.
“Bisa kau jelaskan ini pada Ayah, Acie?” pinta Tuan Dalmar pada putrinya itu.
“Ayah!” tersentak. “Sebelumnya ... Acie minta maaf Ayah karena membawa mereka kemari.” Ucap Acie dengan wajah sendu.
“Tidak apa Nak, coba kau jelaskan pada Ayah, apa yang terjadi sebenarnya.” Ucap Tuan Dalmar sembari duduk bersila di samping Acie.
“Kejadiannya saat Acie berburu di hutan tadi. Aku mengajak Luna untuk berjalan-jalan mengelilingi bukit Albion. Saat aku dan Luna hendak pulang kami mendengar seperti ada suara orang yang meminta tolong dari arah bukit. Kami segera berlari menuju suara itu, dan saat kami sampai di sana, kami mendapati sekelompok moster yang tengah menyerang tiga orang ini Ayah. Mereka hampir saja terbunuh, tapi Luna membantuku melawan moster itu. Melihat orang-orang ini tidak sadarkan diri, kami memutuskan untuk membawa mereka ke desa.” Jelas Acie pada sang ayah.
“Luna itu siap Acie? Dia warga desa kita?” tanya Ciero yang berjalan dari arah dapur membawa segelas air untuk ayahnya.
Acie sedikit tersentak mendengar pertanyaan kakaknya. Dia tidak menyangka bahwa kakak perempuannya itu tidak tahu tentang sosok Luna yang bersemayam di dalam tubuhnya. Dia juga baru ingat, kalau yang tahu tentang keberadaan Luna hanyalah ayahnya, Caezar, dan Basilio si bos bandit. Sedangkan para anak buah Basilio, mereka sudah lupa akan sosok Luna, karna Luna sendiri yang membuat ingatan mereka tentangnya menghilang. Namun, beda dengan Basilio, dia bisa mengingat sosok Luna pada hari itu, karena Luna yang menanamkan ingatan itu pada Basilio.
“E .... dia ...”
“Dia teman Acie, warga desa kita.” sahut Caezar memotong ucapan Acie yang terbata.
“Benarkah! Kenapa kau tidak mengajaknya kemari?” ucap Ciero dengan polosnya.
“Kau ini banyak tanya sekali ya! Makan siangnya sudah siap atau belum?!” tukas Caezar.
“Bisa tidak jangan ikut campur! Aku sedang bicara dengan Acie!” sahut Ciero dengan kesal.
“Ayo ...! ayo ....!” Caezar mendorong tubuh Ciero hingga terseret ke dapur.
Tinggal Acie dan sang ayah yang masih duduk di tempat para orang asing itu terbaring. Sesaat kemudian, salah satu dari orang asing itu membuka matanya. Dia terlihat kebingungan saat melihat kesekelilingnya.
“Anda sudah tidak apa-apa?” tanya Tuan Dalmar dengan sopan.
“Ayah, mereka sudah sadar?” tanya Acie pada sang ayah.
“Hanya satu orang.” Sahut Tuan Dalmar.
Seorang pria tua dengan janggut putih sedada telah tersadar dari pingsannya. Ia segera bangun dan duduk bersila untuk menenangkan pikirannya.
__ADS_1
“Minumlah,” ucap Tuan Dalmar sembari mengulurkan segelas air putih kepada pria tua itu.
Pria tua itu mengambil air yang diberikan oleh Tuan Dalmar dengan kedua tanganya, “Terima kasih ...” Ucap pria tua itu.
“Tuan, jika boleh saya bertanya, apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Tuan Dalmar.
Pria tua itu kembali mengatur nafasnya,
“Tiga hari yang lalu, saya dan pegawai saya melakukan perjalan untuk menjajakan dagangan saya. Sebelumnya, saya adalah seorang pedagang barang antik di Ibu Kota. Namun, karena keadaan ekonomi Ibu Kota tengah dalam keadaan krisis, saya meresa khawatir dengan dangangan saya yang tidak bisa terjual. Melihat pedagang lain mulai kesusahan serta harus merelakan dagangan mereka membusuk atau lapuk karena tidak terjual, saya memutuskan untuk keluar dari wilayah Ibu Kota dan melakukan perjalanan untuk menjajakan dagangan saya. namun, perjalanan kami tidak berjalan lancar, disetiap wilayah yang kami lalui pasti terdapat pos penjagaan. Para pengawal kerajaan yang bejaga di sana menarik upah yang cukup besar pada setiap orang yang melewati wilayah itu. Karena tidak ada barang saya yang terjual satu pun dan tidak ada uang sepeser pun, saya tidak bisa melewati wilayah tersebut. Dengan terpaksa saya harus kembali ke tempat saya semula. Namun, salah satu pegawai saya mengetahui jalan pintas yang tidak dijaga oleh pengawal kerajaan,"
"Saya memutuskan untuk menerima sarannya. Langkah kami terhenti saat melihat pegunungan putih yang membentang luas di depan kami, tapi kami tidak menyerah, kami terus melakukan perjalanan hingga pada suatu sore, tiba-tiba awan hitam menyelimuti langit pegunungan yang kami lewati. Sesaat kemudian badai yang besar tiba-tiba datang entah dari mana. Dengan panik kami terus berjalan untuk mencari perlindungan. Namun, saat kami sampai di atas bukit putih itu, kami sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Tenaga kami sudah tidak ada lagi, karena sudah berhari-hari kami tidak makan dan minum. Saat itulah kami terbaring di sana entah berepa lama. Sampai sebuah suara terdengar di telinga saya. namun, saya tidak dapat lagi berbicara ataupun bergerak. Setelah itu saya tidak mengingat apa-apa lagi.” Jelas pria tua itu panjang lebar.
Mendengar cerita dari pria tua yang berprofesi sebagai pedagang dari Ibu Kota itu, Tuan Dalmar dan Acie hanya bisa mendengar dengan seksama. Ternyata bencana yang diakibatkan oleh pedang Bahoun Zeme juga berefek pada mereka.
“Kalau begitu, istirahatlah sebentar lagi, Tuan.” Ucap Tuan Dalmar.
“Terima kasih banyak.” Sahut pria tua itu dengan wajah lega.
Bulan bersinar indah di langit malam yang dingin. Terlihat Ciero yang tengah sibuk dengan masakannya di dapur.
“Acie ....! Bawa beberapa kayu kemari!” Pinta Ciero pada adiknya yang tengah bersantai memakan biji ek kering di dekat perapian.
“Siap ...!” memasukkan biji ek ke dalam mulutnya, dan segera berlari keluar mengambil kayu.
“Makan malamnya sudah siap?” tanya sang ayah yang berdiri di ambang pintu dapur.
“Sebentar lagi, Ayah.” Sahut Ciero.
Terlihat Acie yang berjalan masuk ke dapur dengan membawa seikat kayu di tangan kanannya. “Ini diletakkan di mana?” tanya Acie pada sang kakak.
“Bawa kemari,” pinta Ciero.
Beberapa saat kemudian, makan malam sudah siap dihidangkan. Sup kentang, roti panggang, dan ikan tuna rebus adalah menu makan malam kali ini. Terlihat para pedagang itu memakan makanannya dengan lahap.
Ciero merasa senang melihat masakannya di sukai oleh para pedagang itu.
Makan malam telah selesai, semua tengah duduk di dekat perapian untuk mencerna makanan yang baru saja mereka makan. Segelas susu kambing hangat Ciero berikan kepada mereka.
“Kami sangat berterima kasih kepada Anda, Tuan.” Ucap pria tua yang duduk bersila di depan Tuan Dalmar.
Mendengar ucapan pria tua itu Tuan Dalmar hanya tersenyum simpul kepadanya.
“Kami juga tidak tahu apa kami masih bisa bertahan hidup jika Anda tidak menolong kami.” Aku seorang pemuda yang merupakan pegawai dari pria tua itu.
“Kami di sini senang membantu sesama, bukan masalah besar untuk membantu orang lain.” Ucap Tuan Dalmar dengan bijaknya.
“Saya benar-benar kagum dengan desa ini. Tidak pernah saya menemukan ikatan sekuat ini. Andaikan saja semua orang di kerajaan Emerald memiliki pemikiran dan rasa kemanusian seperti di sini, mungkin saja tidak ada rakyat yang akan menderita.” Ucap pria tua itu dengan wajah sendu.
“Andaikan saja peperangan itu tidak terjadi ...,” tambah pemuda satunya dengan pelan.
Wajah tuan Dalmar sedikit terkejut mendengar ucapan dari pemuda itu.
“Peperangan?” ucap Tuan Dalmar.
“Iya Tuan. Peperangan besar antara kerajaan Emerald dan kerajaan Armond sepuluh tahun yang lalu membuat keadaan kerajaan Emerald sangat buruk. Banyak rakyat yang kehilangan rumah dan kampung halamannya. Bahkan ribuan rakyat telah ditangkap dan dijadikan budak oleh kerajaan Armond. Jika saja Raja tidak menyerah dan tunduk pada kerajaan Armond saat itu, maka kerajaan ini akan hancur tanpa sisa.” Jelas pemuda itu dengan wajah kecewa.
“Saya tidak heran mengapa Anda tidak mengetahui tentang peperangan besar itu. Jarak desa ini dengan Ibu Kota dan wilayah peperangan sangatlah jauh. Bahkan hampir tidak ada orang yang tahu tentang keberadaan desa ini. Saya juga sangat terkejut melihat ada desa di tengah pegunungan es seperti ini.” Tambah pria tua itu.
Wajah Tuan Dalmar sangat terkejut mendengar kisah dari para pedangan itu. Dia tidak menyangka bahwa sebuah peperangan besar telah terjadi di kerajaan Emerald sepuluh tahun yang lalu. Memang Desa Alba adalah desa terpencil. Tidak banyak yang mengetahui tentang desa ini. Bahkan informasi dari Ibu Kota kerajaan pun sangat sulit diketahui oleh penduduk Desa Alba.
“Paman, boleh saya tanya sesuatu?” ujar Acie pada pria tua itu.
“Tentu saja Nak,”
“Mengapa Paman sampai ke tempat terpencil seperti ini? Paman bilang siang tadi kalau paman ingin menjajakan dagangan milik Paman, tapi bukankah keputusan paman untuk kemari itu terasa tidak benar?”
“Benar sekali pertanyaanmu itu Nak. Sebelumnya, tujuan kami bukanlah ke tempat ini. Kami berencana untuk pergi ke wilayah Ligni. Di sana adalah tempat yang sangat indah, pohon-pohon tumbuh dengan subur di tanah itu. Selain jauh dari wilayah Ibu Kota, Ligni merupakan wilayah yang tidak terkena dampak perang. Wilayah itu memang tidak besar, tapi kehidupan yang damai dan tenang masih hidup di sana. Saya berpikir jika dagangan saya tidak dapat terjual, saya akan menetap di sana dan menjadi petani. Namun, langkah saya terhenti saat mendapati wilayah itu telah hangus dimakan api.” Menghela nafas.
“Tekat saya hilang saat itu juga. Saya sudah tidak tau harus berbuat apa. Namun, melihat mereka berdua,” melihat kearah dua pemuda di sampingnya,
“Saya kembali berpikir untuk kedua kalinya. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami.”
“Paman!” sela Acie, “Kenapa Wilayah Ligni itu bisa hangus?! Siapa yang membakarnya?” tanya Acie dengan wajah penasaran.
“Em ... saya tidak sempat bertanya pada penduduk di sana, tapi saat kami berhenti di kedai minum kecil di dekat wilayah itu, tanpa sengaja saya mendengar percakapan beberapa orang di kedai itu. Mereka megatakan bahwa sekelompok orang berkuda dan bersenjata datang ke wilayah itu, dan saat mereka pergi dari sana asap hitam yang sangat tebal terlihat di wilayah tersebut. Saya tidak tahu jelas apa yang terjadi, tapi mungkin saja mereka di rampok atau sekumpulan bandit gunung yang datang untuk mengambil alih wilayah mereka.” jelas pria tua itu.
Acie terlihat sedikit bingung dengan cerita dari pedagang Ibu Kota itu. Namun, sebagian besar dari ceritanya sudah dipahami oleh Acie. Wajah lelah mulai terlihat dari para pedagang itu.
“Sepertinya ini sudah larut, sebaiknya kita beristirahat dulu.” Ujar Tuan Dalmar.
Semua orang mengiyakan saran dari Tuan Dalmar. Dengan segera Ciero membereskan gelas kosong di sana di bantu oleh Acie. Malam yang kelam dan dingin mengakhiri cerita dari para pedagang Ibu Kota itu.
__ADS_1
Bersambung...
******