
Dengan langkah perlahan Acie mulai mengintai mangsanya dibalik pohon pinus yang rindang. Dengan gerakan cepat Acie membidik anak panahnya tepat di jantung rusa gunung yang tengah mencari makan. Seakan telah terkode dalam kepalanya, jarak Acie dengan rusa itu berkisar sepuluh meter dari jangkauannya. Tak ada rasa ragu dan bimbang dalam bidikan Acie. Anak panah melesat dengan cepat saat Acie melepas ekor panah itu dari tangan kanannya. Wajah Acie terlihat puas saat melihat panah yang dilepasnya menancap tepat pada jantung rusa itu. Tidak dengan Ceazar yang terlihat tidak percaya dengan apa yang dilakukan Acie yang menurutnya di luar nalar.
“Kak! Ayo!” seru Acie sembari berlari menuju tempat buruannya terjatuh. “Bagus! Kak Ciero pasti senang sekali. Kita dapat buruan yang besar hari ini.” Ujar Acie dengan wajah bahagia.
Ceazar hanya bisa menghela nafasnya melihat adik kecilnya telah tumbuh menjadi gadis yang tangguh dan ajaib.
“Baiklah, untuk hari ini kita cukupkan ini saja. Lebih baik kita segera pulang, Kakak dengar dari warga kalau malam ini akan ada badai salju.” Jelas Ceazar pada Acie yang menganggukkan ajakan Kakaknya.
Tidak terhitung dalam pikiran Acie dan Ceazar, angin kencang tiba-tiba datang dari arah timur penggunungan. Jarak pandang Ceazar mulai tertutup karna salju yang diterbangkan oleh angin yang kencang.
“Acie! Pengang tangan Kakak, jangan sampai kita terpisah!” ucap Ceazar pada Acie yang berjalan di belakangnya. Tubuh mereka seakan ditarik oleh angin kuat itu.
“Kau masih sanggup berjalan?!” tanya Ceazar pada Acie yang memegang erat tangannya.
“Iya Kak! Aku baik-baik saja!” ucap Acie dengan keras.
Anginnya semakin kuat, mungkin sebentar lagi badai akan segera datang. Ceazar mulai merasa cemas, jarak mereka dengan Desa Alba masih sangat jauh di sertai jarak pandang yang terhalang salju membuat langkah mereka memelan.
“Acie! Apa sebaiknya kita berteduh dulu?” tanya Ceazar pada Acie.
“Di mana?”
“Di sebelah kiri kita ada gua kecil di sana! Ayo ikut Kakak!” seru Ceazar pada Acie yang mengiyakan ajakan kakaknya.
Terlihat sebuah gua kecil yang tertutup batang pohon pinus yang terbawa angin.
“Bantu Kakak singkirkan ini!” ujar Ceazar pada Acie.
“Baik.” Sahut Acie dan segera memindahkan batang pohon pinus yang kering itu dari mulut gua.
“Ayo masuk!” suruh Ceazar pada adiknya itu.
Dengan segera Acie melangkah masuk ke dalam gua kecil yang hanya bisa memuat dua ekor sapi.
“Untuk semetara, kita tunggu di sini dulu, jika badainya sudah reda kita baru kembali ke desa.” Jelas Ceazar pada Acie yang terlihat kedinginan.
Wajah Tuan Dalmar terlihat panik dan cemas melihat Acie dan Ceazar tidak kunjung tiba. Ingin sekali dia berlari ke hutan dan menjemput mereka. Namun, badai yang kencang menahan langkahnya itu.
“Ayah, mereka akan baik-baik saja. Ayah tidak perlu terlalu khawatir.” Ucap Ciero mencoba menenangkan sang ayah.
__ADS_1
“Semoga mereka baik-baik saja.” Gumam Dalmar dengan wajah berharap.
“Masuklah Ayah, badainya semakin besar.” Suruh Ciero pada ayahnya yang berdiri kukuh di depan pintu.
Satu jam telah berlalu, kini badai salju telah mereda. Seluruh hutan dipenuhi dengan salju yang menumpuk hingga selutut orang dewasa. Terlihat Acie yang tertidur dipangkuan Kakaknya.
“Acie! Bangunlah, badai sudah berhenti. Kita harus segera kembali ke desa sebelum datang badai susulan.” Ucap Ceazar pada Acie yang bangun dari tidurnya.
Segera Acie dan Ceazar beranjak dari gua itu. Dengan langkah yang pelan mereka mencoba keluar dari hutan. Langkah Acie tiba-tiba terhenti saat indera pendengarannya menangkap sebuah suara yang berasal dari arah belakang mereka.
“Ada apa?” tanya Ceazar menatap heran kearah Acie.
“Kakak dengar sesuatu?” tanya Acie pada Ceazar yang terlihat semakin bingung.
“Suara apa? Kakak tidak mendengarnya.”
“Kak, sebaiknya kita lari sekarang! aku rasa seekor serigala besar tengah berlari menuju kearah kita.” Jelas Acie pada Ceazar yang tersentak dengan ucapan adiknya itu.
“K... kau jangan bercanda!” ucap Ceazar menepis perkataan adiknya.
“Lari Kak!” Acie segera menarik tangan kakaknya dan berlari menjauh dari hutan.
“Kak!” seru Acie menghentikan langkahnya.
“Kenapa? Kanapa berhenti?! Serigalanya semakin mendekat! Ayo cepat!” ucap Ceazar sembari menarik kembali tangan Acie.
Namun, Acie melepaskan genggaman kakaknya itu. Ceazar menatap heran kearah Acie.
“Kak, sejauh manapun kita berlari, dia akan terus mengejar kita. Bisa bahaya jika kita berlari kearah desa.” Ujar Acie pada Ceazar.
“Terus sekarang kau mau apa? Kau mau melawannya? Jangan bercanda Acie! Ayo! kita harus segera menjauh dari sini!” Ceazar menepis perkataan adiknya yang menurutnya tidak masuk akal.
“Tidak Kak! Kita tidak bisa membahayakan warga desa.” Sahut Acie kembali yang membuat Ceazar mengerutu.
“Kakak mohon Acie, jangan gegabah seperti ini. Kita tidak bisa melawan binatang buas itu sendirian!” jelas Ceazar pada Acie yang masih kukuh dengan pilihannya.
“Kita pasti bisa Kak! Kakak tidak sendirian, aku juga tidak sendirian. Kita berdua di sini! Yakinlah Kak, kita bisa melawannya! ” Ucap Acie penuh keyakinan. Namun, lain halnya dengan Caezar yang terlihat sangat khawatir akan keputusan adiknya itu.
Kini serigala putih itu sudah berjarak satu meter dari arah Acie dan Ceazar. Detak jantung Acie seakan mengencang. Dia tidak bisa bergerak sembarangan, dia juga tidak bisa berlari kembali ke hutan. Satu-satunya pilihan adalah melawan serigala itu. Dengan cepat Acie membidik panahnya tepat kearah jantung serigala itu. Indera batinnya sudah menetapkan sasaran. Bola mata emasnya seakan memancarkan sinar yang tajam kearah ujung panahnya. Namun, sesaat sebelum ia lepaskan anak panah tersebut, sebuah suara menggema di dalam kepala Acie. Rasa sakit yang amat kuat dikepalanya membuat panah yang dipengangnya terjatuh. Tubuh Acie seakan melemah, secara tidak sadar dia terjatuh tertunduk di atas salju. Dia tidak bisa menormalkan seluruh inderanya. Seakan seluruh panca inderanya menggema dan berdenyut keras hingga membuat ia sulit bernafas.
__ADS_1
Suara menggema itu kembali terdengar di kepala Acie.
“Wahai Tuanku... dengarlah suara hambamu ini..” jelas seruan itu menggema keras di dalam kepala Acie.
“S... siapa kau?!”
“Hamba adalah perisai Anda Tuanku.. hamba telah menunggu Anda selama seratus tahun, kini dengan susah payah hamba telah menemukan Tuanku.” Jelas seruan itu.
“Kenapa kau mencariku? Apa yang kau inginkan dari ku?” tanya Acie kembali pada seruan itu.
“Anda adalah penguasa bumi ini, Anda adalah pemilik hamba. Jika hamba tidak mencari Tuanku, maka hamba tidak bisa menyelesaikan tugas hamba sebagai perisai dari sang perkasa yang agung.” Jelas seruan itu yang membuat Acie semakin dilanda kebingungan yang dalam dan rasa sakit yang kian menjerat tubuhnya.
“Aku tidak paham maksud perkataanmu, mengapa kau yakin bahwa aku adalah orang yang selama ini kau cari?” tanya Acie pada seruan itu.
“Darah hamba akan mendidih disaat hamba menemui pemilik hamba. Tuanku adalah pemilik hamba yang sebenarnya. Terimalah pengabdian hamba, Tuanku sang perkasa.” Seruan itu semakin menggema keseluruh tubuh Acie.
Tubuhnya seakan memanas, detak jantungnya semakin kencang.
“S... sakit sekali...” gumam Acie dalam hati.
“B... Baiklah, jika itu keinginanmu. Walau aku tidak tahu apa tujuanmu, setidaknya beritahu aku Siapa namamu?” tanya Acie pada seruan itu.
“LUNA.”
Ucapan terakhir dari seruan itu mengakhiri rasa sakit dari tubuh Acie.
Caezar seakan tidak bisa mengunkapkan rasa terkejutnya saat melihat Acie berbicara entah dengan siapa. Dan tak lama kemudian sebuah cahaya yang amat terang terpancar dari tubuh Acie. Ceazar tidak bisa menerka apa yang sebenarnya terjadi. Saat cahaya itu menghilang Acie terjatuh ke tanah yang di selimuti salju yang tebal. Dengan segera Caezar memegang tubuh Acie dengan penuh kecemasan.
“Acie! Acie?! Kamu tidak apa-apa?!” tanya Caezar dengan cemas.
“A... aku baik-baik saja Kak. Hanya saja tubuhku terasa sangat panas.” Jelas Acie pada kakaknya itu.
“Bangunlah, kita kembali ke desa sekarang,” putus Caezar.
Dalam bahasa latin, Luna berarti bulan yang bersinar. Kini ikatan janji kuat antara Acie dengan sosok perisai yang bernama Luna tidak lain adalah serigala putih yang berdiri tepat di hadapan Acie telah terikat sangat kuat. Tidak ada yang sanggup melepas dan menghancurkan ikatan itu. Luna telah menemukan tuan yang selama ini dicari olehnya. Akankah Acie dapat berteman baik dengan Luna? Acie si gadis tangguh dengan seribu kelebihan kini telah menemukan perisai miliknya. Dunia sedang menunggu kemunculanya.
Bersambung...
*****
__ADS_1