THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu

THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu
Bab 5 Basilio & Desa Alba


__ADS_3

Malam yang kelam nan dingin seakan memeluk tubuh Acie yang tengah duduk bersandar di punggung Ciero yang tengah sibuk dengan sulamannya.


“Kak, kenapa mereka bicaranya lama sekali?” tanya Acie pada kakaknya.


“Mungkin banyak yang Ayah tanyakan pada bandit itu.”


“Aku jadi ingin tau apa yang mereka bicarakan,” ucap Acie menyipitkan matanya.


“Jangan banyak bergerak! Sulaman Kakak jadi rusak nanti!” seru Ciero dengan wajah kesal.


“Maaf-maaf...” sahut Acie sambil menyeringai.


Di sebuah ruangan yang berukuran sedang, terlihat Tuan Dalmar, Caezar, dan dua orang bandit siang tadi tengah dalam situasi serius.


“Sebelumnya, perkenalkan dulu siapa nama kalian.” Ucap Tuan Dalmar dengan penuh wibawa.


“B-baiklah, saya Basilio dan ini rekan saya, Sol.” Jelas bos bandit itu.


“Sol?!” seru Caezar dengan wajah tidak percaya mengetahui nama bandit yang mengenakan penutup mata itu sama dengan nama salah satu kambingnya.


“Ada apa Caezar? Kau kenal dia?” tanya Tuan Dalmar pada putranya itu.


“Oh! Tidak Ayah, aku hanya sedikit terkejut saja.” Jelas Caezar mencoba menahan tawanya.


“Baiklah, ceritakan tentang kalian padaku. Kenapa kalian bisa melakukan kejahatan seperti ini? Sejak kapan kalian melakukannya?” tanya Dalmar pada bos bandit yang bernama Basilio itu.


“Sebenarnya, saya adalah mantan komandan pasukan dari kerajaan Emerald. Saya dikeluarkan dari istana karna tidak bisa memusnahkan para bandit yang berkuasa di perbatasan utara kerajaan. Padahal saya sudah sangat berusaha dan berkerja keras dalam mempertahankan benteng Utara kerajaan yang terletak di daerah pelosok kerajaan Emerald. Setelah bencana yang melanda kerajaan Emerald lima belas tahun lalu, benteng itu sudah musnah hingga sekarang dihuni oleh para bandit yang tinggal di daerah Utara. Benteng itu adalah rumah bagi saya, hingga akhirnya saya tidak tau harus berjalan ke mana. Saya mulai mencoba segala hal untuk bertahan hidup. Saya terus berkelana hingga bencana besar itu terjadi. Tidak ada yang dapat mengehentikan bencana itu. Pada saat dimalam bencana besar itu terjadi, saya yang tengah mencari tempat untuk berlindung tercengang saat melihat langit mengeluarkan cahaya yang amat terang, cahaya itu seakan mengalir bagaikan aliran sungai. Saya berjalan mengikuti cahaya itu walau pun badai hampir saja menerbangkan tubuh saya... "


"Saya terus mengikuti cahaya terang itu, hingga langkah saya berhenti tepat di depan sebuah sungai yang mengalir dengan sangat deras, tidak akan ada yang selamat jika jatuh ke sungai itu. Saya meringis melihat arus sungai yang dapat menelan apapun, saya memutuskan untuk beranjak dari sana. Namun, seketika mata saya mengankap beberapa orang yang berada di seberang sungai itu. Saya tidak bisa melihat jelas siapa mereka, tapi terlihat seorang wanita yang tengah menangis di sana. Sepertinya dia tengah berbicara pada seorang laki-laki yang memegang sebuah keranjang di tangannya. Sesaat kemudian laki-laki itu melemparkan keranjang yang dipegangnya ke dalam sungai. Seketika keranjang itu hanyut terbawa arus sungai yang semakin deras. Saya sedikit penasaran dengan keranjang yang terlihat mewah itu. Saya mencoba mengejar keranjang itu sekuat tenaga. Namun, langkah saya terhenti saat melihat sekelompok orang yang tengah terluka. Mereka seperti baru saja menjadi korban bencana itu. Hati saya yang baik tergerak untuk menyelamatkan mereka. Dan pada akhirnya saya bisa menyelamatkan mereka. Saat fajar tiba, bencana itu telah menghillang. Saya sangat terkejut melihat beberapa orang pria yang terluka itu ternyata para bandit yang pernah saya tangkap saat saya bertugas di benteng Utara. Nah, saat itu lah saya mulai berpikir untuk meminta mereka menebus kebaikan saya dengan menjadikan saya sebagai pimpinan mereka. Anehnya mereka bersedia. Karna rasa dendam saya pada kerajaan yang memperlakukan saya dengan tidak adil, pada akhirnya saya memutuskan untuk menjadi ancaman bagi kerajaan Emerald.” Jelas Basilio panjang lebar.


Namun, terlihat wajah Tuan Dalmar tengah memikirkan sesuatu.


“Ayah?” tegur Caezar pada ayahnya yang tidak merespon kisah Basilio.


“Em,” tersentak, “Kau bilang tadi, kalau kau mengejar keranjang yang hanyut itu?” tanya Dalmar pada Basilio dengan wajah serius.


“I-iya,” sahut Basilio.


“Apa kau mendapatkannya?” tanya Tuan Dalmar kembali dengan wajah menuntut.


“Tidak, saya hanya mengejarnya setengah jalan, dan sampai sekarang saya tidak tau di mana keranjang itu berada,” Jelas Basilio.

__ADS_1


“Tunggu sebentar! Yang membuat saya heran, kenapa kalian menghentikan niat kalian untuk menyerang kami tadi siang?” Tanya Caezar dengan wajah bingung.


“Saya dengar, kalian juga bersumpah setia kepada putri termuda saya. Mengapa kalian bisa menunduk serendah itu? Mengapa kalian melakukan itu?” tambah Tuan Dalmar.


Basillio menatap ujung kakinya, dia seakan merasa gemetar jika mengingat kejadian tadi siang.


“S... saya juga tidak mengerti dengan apa yang telah saya lakukan. Saat s-serigala besar itu berbicara layaknya manusia, saya tidak dapat berkutik. Tatapan serigala itu dan gadis kecil itu seakan mengengkang seluruh tubuh saya. Saya sama sekali tidak bisa bergerak, nafas saya seakan hampir hilang. Saya benar-benar merasakan sesuatu yang besar dalam diri gadis kecil itu. Matanya memancarakan cahaya yang begitu hangat hingga membuat saya merasakan suatu ikatan yang sangat kuat dengannya. Setelah cahaya itu hilang, hati saya terasa sakit, rasanya saya tidak ingin berpisah dengan sosok yang berdiri di depan saya. Saat itulah saya memutuskan untuk menjadi pengikut setianya. Saya rasa ... ini adalah sebuah takdir, Tuan.” aku Basillio dengan amat dalam.


Tuan Dalmar dan Caezar masih tidak percaya akan kejadian itu dan penjelasan dari bandit gunung itu. Seakan ada banyak teka-teki yang tiba-tiba muncul di dalam kehidupan Acie. Bahkan kemunculan serigala besar itu, membuat Tuan Dalmar ragu akan kebenarannya.


Malam itu berakhir dengan damai, tidak ada perselisihan yang terjadi disaat Tuan Dalmar mengintrogasi para bandit gunung itu. Langit pagi di Desa Alba tidak terlihat cerah hari ini. Para penduduk desa yang ingin berburu mengurungkan niat mereka takut tiba-tiba badai salju datang.


“Acie! Kemarilah sebentar!” seru Ciero yang tengah memasak di dapur rumahnya.


“Dia tidak ada, dia keluar beberapa menit yang lalu.” Sahut Tuan Dalmar yang berjalan mendekati putrinya itu.


“Dia selalu saja tidak ada jika sedang dibutuhkan.” Ujar Ciero kesal.


“Biar Ayah saja yang melakukannya.” Putus Dalmar.


Suasana Desa Alba sedikit sepi, tidak banyak warga desa yang berlalu-lalang. Ini masih ada kaitannya dengan keberadaan para bandit gunung yang dipimpin oleh orang yang bernama Basilio itu. Para warga desa masih agak ragu akan penyesalan mereka.


“Sepi sekali ...,” gumam Acie yang tengah berjalan mengelilingi desa.


“Tuanku! Beristirahatlah sebentar. Anda pasti kelelahan karna kami yang tidak berguna ini,” ujar Basillio pada Acie.


“E ... panggil saja Acie. Tidak perlu seformal itu denganku. Bahkan kalian lebih tua dariku.” Jelas Acie pada sekawanan bandit gunung itu.


“T... tapi Tuan_” perkataan Basillio dipotong oleh Acie.


“Jika tidak, aku tidak mau bersama kalian lagi!” sahut Acie penuh tekanan.


“B-baiklah Tu_ m-maksud saya Nona Acie,” ucap Basillio dengan patuh.


Acie dan sekawanan bandit itu kembali melanjutkan perjalanan mereka dalam poses mengenal seluk-beluk Desa Alba. Mereka sampai ke hutan pinus di mana para warga desa sering berburu.


“Ini adalah area hutan yang sering digunakan oleh warga desa untuk berburu binatang atau mencari kayu, tapi kalian harus tetap waspada. Hutan ini masih tergolong hutan yang liar. Tidak ada batasan atau dinding yang memagari batas wilayah hutan ini. Bisa dikatakan ini adalah hutan bebas, dimana binatang apa saja ada di dalamnya.” Jelas Acie.


“Nona Acie, apa kami harus menjaga wilayah hutan ini?” tanya Basillio.


“Ayah tidak mengatakan kalau kalian harus menjaga wilayah ini. Aku juga tidak bisa mengatakan kalau kalian harus menjaganya. Kalian lakukan saja apa yang telah dikatakan oleh Ayah ku.”

__ADS_1


“Tapi, jika kami tidak menjaga di wilayah ini, bisa saja binatang liar tiba-tiba masuk kearea desa.” Sahut Sol, si bandit gunung yang memakai penutup mata.


“Kalian tidak perlu khawatir, sudah ada yang menjaga hutan ini.” Jelas Acie.


“M-maksud Anda?” tanya Basilio tidak mengerti dengan perkataan dari Acie.


Acie hanya menyungihkan senyuman singkat kepada mereka. Walau masih dalam keadaan bingung, Basillio nampak cukup percaya dengan perkataan dari tuannya itu. Perjalanan dilanjutkan menuju perbatasan Desa Alba.


Terlihat tumpukan karung goni yang berisikan pasir sepanjang tiga meter. Hal itu dilakukan untuk membatasi kawasan Desa Alba dengan hutan rimba yang tidak dihuni oleh manusia. Bahkan tidak ada satu pun manusia yang pernah menjajakan kakinya di hutan tersebut.


“Perjalan kita berakhir di sini. Ini adalah perbatasan desa,” jelas Acie.


“Baiklah Nona, tapi jika boleh saya tahu, apa maksud dari tulisan itu?” Basillio menunjuki kearah sebuah pohon.


Semua orang melihat kearah yang ditunjuk oleh Basillio. Acie tau maksud dari pertanyaan Basilio. Ayahnya pernah mengatakan tentang tulisan yang tertulis di papan kecil yang di gantung di pohon pinus.


“Itu mengartikan bahwa kalian dilarang melewati perbatasan ini. Jika kalian melanggar, nyawa kalian yang jadi taruhannya.” Jelas Acie dengan serius.


“M-maksudnya, jika kami sampai melewati batasan ini, maka kami akan mati? Begitu?!” terka Sol dengan wajah takut.


“Iya! Kalian akan mati. Jika kalian tidak percaya, silahkan mencobanya.” Ujar Acie datar.


Semua orang meringis mendengar perkataan Acie barusan.


“Nona, jika boleh kami tahu, kenapa bisa ada sebuah desa di tempat seperti ini? Bahkan binatang pun sulit hidup di tempat sedingin ini. Dan kenapa orang-orang di desa ini tidak suka jika membahas tentang Ibu Kota?” Tanya Basillio dengan wajah ingin tahu.


“Emm ....?” berpikir, “Aku tidak terlalu ingat dengan kisah desa ini, Ayah pernah mengatakannya padaku, tapi itu sudah cukup lama. Aku akan memberitahu kalian apa yang bisa ku ingat saja ya,” sahut Acie.


“Baiklah, Nona.” Putus Basillio sembari memasang pendengarannya baik-baik. Begitu juga dengan para bandit lainnya.


“Dua puluh tahun yang lalu, Desa Alba merupakan desa pelarian dari para kriminal yang berhasil lolos dari kejaran pengawal kerajaan. Mereka yang tidak memiliki tujuan sampai di sebuah pemukiman yang hanya berisikan tiga buah rumah yang lebih miripnya dengan gubuk kecil dari ilalang. Dengan membawa bekal seadanya, para kriminal yang ingin hidup pun memberikan sebagian dari milik mereka pada orang di pemukiman itu. Selama beberapa tahun mereka hidup dengan damai dan tenang di desa yang belum memiliki nama saat itu. Ada satu tahun di mana badai salju besar melanda desa tersebut. Mereka dilanda kekhawatiran, karena seluruh bahan makanan telah habis, bahkan air pun telah membeku. Penderitaan mereka semakin bertambah hari demi hari. badai itu sama sekali tidak berhenti. Hingga sebulan berlalu badai masih saja belum mereda. Satu persatu orang di pemukiman kecil itu kehilangan nyawa karna kelaparan dan hawa dingin yang menusuk. Mereka tidak bisa mencari bantuan dari siapapun. Jika mereka pergi ke wilayah kerajaan, maka mereka akan segera ditangkap dan dieksekusi. Karna mengingat hal tersebut, mereka menyerah dan memilih tetap di pemukiman. Namun, disaat harapan hidup sudah sirna dari diri mereka, datanglah sosok yang memberikan harapan itu kembali pada mereka. Dia adalah seorang pengembara yang kebetulan lewat di wilayah tersebut. Dia memberikan sejumlah makanan dan pakaian kepada mereka. Dengan rasa empati akan keadaan yang melanda pemukiman itu. Pria tersebut memutuskan untuk tinggal di pemukiman itu dan mencoba untuk menata ulang pemukiman yang sudah terlihat seperti tumpukan salju yang menggunung. Setelah sekian banyak pengorbanan dari pria itu, pemukiman tersebut menjadi sebuah desa yang dihuni oleh orang-orang yang tidak ada tujuan atau orang yang terbuang, dan juga orang-orang yang ingin mencari kedamaian dari kehidupan Ibu Kota yang memiriskan. Akhirnya sekitar seratus orang lebih telah memukim di sana. Hingga para warga yang tinggal mengankat pria pengembara itu menjadi pimpinan mereka dan diberilah nama desa ini dengan nama Alba yaitu kota kecil yang dikelilingi oleh perbukitan yang berwarna putih.” Jelas Acie,


“Para warga desa ini sangat tidak menyukai Ibu Kota dan kerajaan yang menurut mereka hanya memberikan penderitaan kepada mereka. Apa lagi di sini banyak yang jadi buronan kerajaan, mungkin karna sebab itu. Hanya ini yang bisa aku katakan pada kalian. Selebihnya cari tahu sendiri,” Tambah Acie.


Terlihat wajah para bandit gunung itu sudah memahami penjelasan dari Acie. Mereka cukup tahu bagaimana perasaan dari para penduduk Desa Alba yang bisa dikatakan sama dengan keadaan mereka. Perjalanan mereka dalam mengenal seluk-beluk Desa Alba telah selesai, kini mereka sudah paham akan tugas mereka sebagai penjaga keamanan dari desa yang telah mengampuni nyawa mereka.


“Ayo kita kembali!” seru Acie dengan semangat.


“BAIK ...!!!!!” sahut para bandit gunung itu serempak.


“Aku rasa ... makan siang sudah siap!” seru Acie antusias.

__ADS_1


Bersambung...


******


__ADS_2