
Setelah acara besar penobatan Putri Alessia kemarin, hari ini istana terlihat lenggang dan berjalan seperti sediakala. Walaupun sinar matahari sudah sangat terik, kamar Alessia masih terlihat gelap tanpa adanya pergerakan.
Tok tok tok...
Mayla bersama dengan dua orang pelayan lainnya mencoba untuk membangunkan sang putri. Namun sama sekali tidak ada respon dari Alessia.
“Tuan Putri ...! Tuan Putri! Ini sudah hampir siang Tuan Putri...” seru Myla dari balik pintu.
Melihat tak ada respon yang diberikan oleh Alessia, Myla memutuskan untuk masuk ke kamar Alessia.
“Ayo masuk!” seru Myla kepada kedua pelayan di belakangnya.
Dengan lebar Myla membuka pintu kamar Alessia. Dia segera masuk bersama kedua pelayan lainnya. Mereka langsung berjalan membukakan tirai jendela besar dan membiarkan cahaya matahari memenuhi ruangan yang sebelumnya terlihat gelap.
Alessia merasa sangat terganggu dengan sinar matahari yang silau, dia memasukkan kepalanya ke dalam selimut dan kembali tidur. Myla yang melihat kelakuaan Alessia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Tuan Putri berhenti bersembunyi dibalik selimutmu! Ayo cepat bangun...” pinta Myla pada sang putri sembari mencoba menarik selimut yang dipeluk erat oleh Alessia.
“Tuan Putri... ini sudah hampir siang... jika sampai Yang Mulia Ratu tau Anda masih dibalik selimut seperti ini, Anda pasti akan dimarahi... Tuan Putri ayolah bangun...!” Myla kembali menarik selimut itu dengan kuat.
“Tuan Putri, jika Anda masih tidak ingin bangun... saya akam melaporkannya kepada Ratu!” ancam Myla.
Alessia belum juga keluar dari balik selimutnya. Myla berhenti menarik selimut yang dipeluk erat oleh Alessia.
“Baiklah! Kalian berdua tetap di sini dan awasi Tuan Putri! Saya akan pergi keruangan Ratu sekarang.” Myla langsung berjalan menjauhi ranjang Alessia.
Mendengar perkataan Myla berusan, Alessia mengeluarkan kepalanya dari balik selimut dan begitu terkejut saat melihat Myla benar-benar ingin pergi ke kediaman Ratu. Tanpa pikir panjang Alessia langsung loncat dari ranjangnya dan berdiri tegak di lantai.
“M ... Myla! Cepat siapkan bak mandinya! Aku ingin mandi! Ayo cepat!” Alessia mencoba menahan niat Myla.
Myla kembali menghela nafasnya dengan kasar melihat tingkah laku Tuan Putrinya itu.
“Kalian Berdua! Cepat siapkan bak mandinya!” perintah Myla kepada dua orang pelayan yang berdiri dengan tenang didekat pintu.
Dengan segera kedua pelayan itu melangkah ketempat pemandian sang Putri untuk menyiapkan semuanya.
“Tuan Putri, Anda harus ingat posisi Anda saat ini. Anda tidak boleh bersikap ceroboh atau melakukan sesuatu yang bisa menjatuhkan martabat Anda sebagai Putri Mahkota kerajaan ini,” ucap Myla sembari membantu Alessia melepaskan gaun malamnya.
“Aku hanya ingin tidur sedikit lebih lama! Apa itu salah?!” sahut Alessia dengan wajah cemberut.
“Putri ... tubuh Anda, pikiran Anda, jiwa dan raga Anda bukan milik Anda seorang sekarang. Suatu saat nanti, Anda akan menjadi pewaris tahta milik yang mulia Raja. Anda harus bersikap lebih dewasa.” Jelas Myla dengan serius.
“Hmph! Aku masih ingin bebas sekarang, aku belum mau memikirkan tentang politik.” Ucap Alessia dengan wajah kesal.
“Ini sudah takdir Anda sebagai keturunan dari Yang Mulia Raja. Anda tidak bisa menolaknya Tuan Putri ...” tekan Myla.
“Sudahlah ... aku tidak ingin membicarakan itu sekarang. Oya Myla! Aku ingin meminta sesuatu padamu!” wajah kusut Alessia tiba-tiba berubah menjadi semangat.
“Apa itu Tuan Putri?” tanya Myla penasaran.
“Akan ku katakan nanti.” Putus Alessia dan segera berjalan menuju tempat pemandiannya.
Myla memicingkan kedua matanya melihat kearah Alessia yang tiba-tiba begitu semangat. Myla curiga kalau Alessia akan meminta sesuatu yang aneh padanya. Tidak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak, Myla berjalan mengikuti Alessia ke tempat pemandian.
Waktu telah berselang tiga jam setelah kedatangan pria berjubah hitam ke penjara bawah tanah pagi tadi. Tuan Dalmar terlihat tidak tenang di tempatnya. Basilio yang meilihat Tuan Dalmar duduk diam di dalam selnya, dia mencoba untuk berbicara dengannya.
“Tuan ...? apa ada sesuatu yang tengah Anda pikirkan?” tanya Basilio.
Tuan Dalmar membuka matanya dan melihat kearah Basilio yang menempelkan wajahnya kesela jeruji besi yang mengurungnya.
“Ada hal yang tengah mengganggu pikiranku, tapi ... tidak ada jalan keluar dari gangguan itu.” Aku Tuan Dalmar kepada Basiliio yang terlihat bingung.
“Apa itu Tuan?” tanya Basiliio kembali.
“Saya tidak tau harus menjelaskannya bagaimana,” keluh Tuan Dalmar sembari menundukkan pandangannya ke bawah.
“Tuan ... jika itu bukan hal yang penting, Tuan tidak perlu memikirkannya.” Saran Basiliio.
“Tapi mungkin ini adalah hal yang penting.” Aku Tuan Dalmar kembali.
Tidak ingin terlihat mendesak Tuan Dalmar untuk menjawab rasa penasarannya, Basilio duduk kembali di pojok ruangan tempatnya dikurung.
Dalam diam Tuan Dalmar memikirkan perkataan dari pria jubah hitam yang beberapa waktu yang lalu mengikat janji dengannya. Entah itu benar atau tidak, tapi Tuan Dalmar sedikit berharap pada perkataan pria tersebut. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi jika perkataan pria itu benar maka dia bisa menyelamatkan Basilio dari kematian.
Walaupun mencoba untuk tegar, disetiap detik dia memejamkan matanya, Tuan Dalmar selalu teringat akan anak-anaknya di desa. Pikirannya sungguh sangat kalut dengan kerinduannya kepada putra-putrinya yang kini tidak akan bisa ia lihat lagi. Rasanya ingin sekali lagi sebelum ajal menjeput dirinya, ia bisa melihat ketiga anaknya itu. Namun, semua itu adalah hal yang sangat mustahil sekarang. Bahkan untuk sejengkal pun ia tidak dapat beranjak dari jeruji besi yang mengurungnya dalam gelap.
Gaun biru dengan lengan panjang terlihat begitu manis dikenakan oleh Alesseia. Rambut peraknya dibiarkan tergerai. Ia melangkah dengan anggun ke ruang makan istana. Langkah Alessia terhenti saat melihat Ratu tengah duduk di salah satu kursi di meja besar untuk 20 orang itu.
Dengan cepat dia memalingkan tubuhnya kearah Myla yang berdiri di belakangnya.
“Myla! Apa Ibunda sudah lama di sini?” tanya Alessia dengan wajah cemas.
“Emmmh...” berpikir. “Saya rasa baru sebentar Putri.” Jawab Myla setelah berpikir sejenak.
“Kau yakin?!” tanya Alessia memastikan.
“Iya, saya yakin. Soalnya Yang Mulia Ratu, selalu minum teh sebelum sarapan pagi. Jadi, karna dia sekarang sedang minum teh... berarti Ratu baru saja kemari sekitar 30 detik yang lalu.” Myla menepuk serentak kedua tangannya meyakinkan argumennya.
Alessia memicingkan kedua matanya mendengar argumen Myla, “Baiklah ... ayo!” putus Alessia sembari kembali melangkah mendekati ibunya di ruang makan.
Dengan pelan serta penuh keanggunan dan sopan santun Alessia mencoba untuk menyapa ibunya yang tengah menikmati teh hangat di tangannya.
“Selamat pagi Ibunda Ratu ...” sapa Alessia dengan lembut.
Ratu memalingkan wajahnya kearah Alessia yang berdiri di sebelah kanannya.
__ADS_1
“Ah ... selamat pagi Sayang ... tidurmu nyenyak?” tanya sang ratu dengan suara yang amat lembut dan jernih.
“Emh!” mengangguk, “Walaupun tubuhku terasa sedikit pegal.” Keluh Alessia memegang tengkuk lehernya.
“Ehh... kenapa bisa seperti itu?! Kamu tidak minum teh herbal yang Ibu berikan padamu semalam? Myla! Apa kau tidak memberikan teh itu padanya?!” tanya sang Ratu dengan wajah cemas dan marah.
“B... bukan seperti itu Ibunda!” bantah Alessia dengan cepat. “Myla sudah memberikan teh itu padaku semalam, tapi aku tidak mau meminumnya karena terlalu ngantuk dan lelah, maafkan Alessia Ibunda ...” Alessia menundukkan kepalanya merasa bersalah.
“Hmmmph...” sang Ratu menghela nafas panjang. “Baiklah ... tidak perlu dipikirkan lagi, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Ayo! Cepat duduk ... hidangannya sudah siap.” Ucap sang Ratu mengakhiri pagi kacau Alessia.
Alessia berjalan menduduki salah satu kursi di dekat sang Ratu. Dengan tajam Alessia mengerlingkan matanya kearah Myla yang berdiri di sampingnya. Myla yang melihatnya langsung mengetup mulutnya menahan tawa.
Setelah selesai sarapan pagi bersama Ratu karna Raja Tanzan tidak bisa hadir karna tengah menghadiri rapat dadakan subuh tadi, Alessia menarik tangan Myla dengan tergesa-gesa menuju kamarnya.
Setelah sampai di dalam kamar Alessia langsung menutup pintu kamarnya dengan rapat. Alessia melangkah dengan cepat kearah Myla yang membuat Myla tersentak. Saat jaraknya dengan Myla hanya tinggal selangkah, Alessia tiba-tiba memegang kedua bahu Myla dengan kuat.
Alessia mendekatkan wajahnya kearah Myla yang berdiri dengan bingung.
“Lepas bajumu!” pinta Alessia denga wajah serius.
Seketika Myla terperanjat dari diamnya.
“HAH?!” tersentak, “A ... apa maksud ... A ... Anda Tuan Putri?! Kenapa ... saya harus me ... melepas baju saya??!” Myla menyilangkan kedua tanggannya ke dada dengan wajah shok.
“Sudah! Jangan banyak tanya, lepas saja bajumu ...” tekan Alessia dan mencoba untuk melepas baju Myla dengan paksa.
“J ... jangan Tuan Putri! Apa yang Anda lakukan!” Myla menepis tangan Alessia yang mencoba membuka bajunya dengan paksa.
“Jangan banyak bergerak! Lepas saja bajumu sekarang! Atau aku yang akan melepasnya!” ancam Alessia yang membuat Myla semakin bergidik ngeri.
“Ba ... baiklah! Saya akan melepaskannya! Tapi katakan dulu untuk apa Tuan Purti ...?!!” tekan Myla pada Alessia.
“Lepas dulu, baru aku akan mengatakannya!” Alessia tetap kukuh dengan pendiriannya atau bisa disebut, keras kepalanya.
Myla akhirnya menyerah kepada Putri berkepala batu itu. Dengan segera Myla melepaskan pakaian pelayannya di hadapan Alessia yang terlihat tidak sabar. Myla hanya melepas pakaian luarnya saja, dia masih mengenakan gaun putih polos di balik gaun pelayannya yang berwarna biru tua dan putih. Bentuk pakaiannya sama seperti pakaian para pelayan di masa kerajaan Eropa. Gaun biru lengan panjang sekaki dengan celemek putih di ikat di pinggang.
“Sudah ...” ucap Myla menyerahkan bajunya kepada Alessia.
Dengan cepat Alessia mengambil baju itu dari tangan Myla dan langsung berlari ke ruang gantinya. Myla hanya diam di tempat dengan wajah yang amat bingung.
Setelah beberapa detik, Alessia keluar dari ruang ganti dengan mengenakan pakaian yang diberikan Myla padanya. Tentu saja Myla yang melihat itu langsung melongo dan tertanya-tanya dalam pikirannya.
“Tuan Putri! Apa yang Anda lakukan??!! Kenapa memakai pakaian pelayan?!!” mata Myla hampir loncat keluar dari kelopaknya.
“Wahh... ternyata ini bagus juga!” seru Alessia tidak menggubris pertanyaan Myla yang syok di tempatnya.
“TUAN PUTRI!!” panggil Myla dengan suara yang keras.
“Sssst ... jangan berteriak!” pinta Alessia dengan wajah waspada.
“Tuan Putri ... cepat katakan apa maksud semua ini?!” tekan Myla dengan wajah menuntut.
“Iya ... iya! aku berencana untuk ke pusat kota hari ini!” Ucap Alessia tanpa beban sembari menampakkan deretan gigi putihnya kearah Myla.
Myla memicingkan ke dua matanya, “Maksud Anda ... Tuan Putri Alessia ingin pergi keluar istana? Begitu ...” tanya Myla dengan nada yang dingin.
Alessia tersentak saat melihat ekspresi membunuh dari Myla.
“K ... kau! Tidak boleh menghalangiku ya! Aku akan tetap pergi!” kukuh Alessia.
“Tuan Putri ...” Myla menatap Alessia dengan tatapan menusuk.
“Hmmmph...” menghela nafas. “ Baiklah, jika memang Tuan Putri sangat ingin keluar dari intana, saya akan memanggil pengawal untuk menyiapkan kereta.” Putus Myla.
“B ... benarkah!” terkejut. “Tapi, aku tidak perlu kereta, aku ingin jalan kaki.” Ucap Alessia yang kembali membuat Myla memicingkan ke dua matanya kerah Alessia.
“Kau tidak perlu khawatir Myla ... kau juga akan ikut bersamaku! Kita akan pergi ke pusat kota dengan menyamar, supaya tidak ada yang tau siapa kita. Oya! Tidak perlu membawa pengawal, jika pengawal ikut bersama kita, penyamaran kita akan sia-sia. Kau mengertikan?” jelas Alessia dengan wajah semangat.
Sebenarnya Myla ingin sekali menghentikan niat dari Alessia, tapi, dia juga tidak bisa melawan keras kepala Tuan Putrinya itu. Jika Alessia sudah memutuskan sesuatu, maka dia akan tetap melakukannya apapun yang terjadi.
“ Baiklah, kita akan pergi. Tapi Tuan Putri harus ingat, kita akan kembali ke istana sebelum jam makan siang.” Putus Myla.
“Hah?! Bukankah itu hanya dua jam saja?!” bantah Alessia tidak terima dengan keputusan Myla.
“Kalau begitu, kita tidak usah pergi.” Ancam Myla dengan suara yang dingin.
“Dasar nenek sihir,” gumam Alessia dengan wajah cemberut. “Baiklah ... dua jam juga tidak masalah.” Dengan berat hati Alessia menerima permintaan Myla.
Akhirnya Alessia dan pelayan priabadinya yang bernama Myla berangkat menuju ke pusat kota Kerajaan Emerald.
Ada yang berbeda dengan Ibu kota hari ini, di alun-alun kota banyak prajurit kerajaan yang tengah berjaga dan sebagian dari mereka tengah membangun sebuah panggung kecil. Bukan untuk sebuah acara, tapi sebuah panggung untuk mengeksekusi penjahat kerajaan Emerald.
Seperti janji dari Yang Mulia Raja, bahwa hukuman Tuan Dalmar dan Basilio di undurkan dua hari, maka setelah matahari tenggelam hari ini dan terbit esok hari, hukuman mati bagi Tuan Dalmar dan Basilio akan dilaksanakan di depan seluruh rakyat kerajaan Emerald.
Dengan sebuah kipas kecil, Alessia menutup sebagian wajahnya agar tidak ada yang bisa mengenalinya dari penyamaran.
“Tuan Putri, Anda ingin ke mana?” tanya Myla dengan sedikit berbisik.
“Sssst... jangan panggil Tuan Putri di sini, kita bisa ketahuan ...” pinta Alessia kepada Myla yang berjalan di sampingnya.
Myla mengerutkan keningnya mendengar perkataan Alessia barusan.
“Lalu saya harus panggil siapa Tuan Putri?!” ucap Myla lagi.
“Panggil saja ...” berpikir. “Adik!” putus Alessia.
“A ... Adik?!!” terbelalak.
“Iya! Adik. Hari ini kau akan menjadi Kakak perempuanku. Oke Kakak ... ayo kita jalan-jalan hari ini!” seru Alessia dengan semangat dan berjalan dengan cepat meninggalkan Myla.
“Tunggu! Tuan Pu_” Myla menggeleng kepala dengan cepat. “Adik! Tunggu ...!” seru Myla dan segera mengejar jaraknya dengan Alessia.
Hari yang cerah dan sedikit berangin mendampingi keseharian rakyat kerajaan Emerald. Kerajaan ini sangat jarang diguyur oleh hujan. Ini terjadi setelah bencana 15 tahun silam. Walaupun air hujan sangat jarang turun, penduduk kota tidak merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air mereka. kerajaan Emerald diberkahi dengan sebuah sungai yang mengelilingi Ibu Kota kerajaan Emerald. Sungai itu tidak pernah kering walau di musim kemarau. Airnya yang jernih dan sedikit terasa manis terus mengalir dengan deras. Namun, tidak ada yang tau di mana kepala sungai itu berada. Dan tidak ada yang tau pula dari mana asal air mengalir itu. Seakan bumi menyembunyikannya dari mata manusia. Sungai itu bernama Mir, yang berarti kedamaian.
Di depan sebuah toko kue kecil, tapi terkesan sangat artistik dengan menyuguhkan keunikan dari perabotannya yang terbuat dari kaca dan mutiara yang berwarna warni.
“Aku ingin sekali ke sini dan sekarang sudah terwujud!” ucap Alessia dengan wajah girang.
“Tu_ Adik! Kamu yakin ingin ke tempat sekecil ini?” tanya Myla.
“Jangan lihat ukurannya Kakak! Tempat ini bagaikan intan yang tersembunyi dibalik batu, kecil tapi indah. Ayo masuk Kakak!” Alessia langsung menarik tangan Myla masuk ke dalam toko kue itu.
Saat melihat isi di dalam toko kecil itu, mulut Alessia tidak henti-hentinya terbuka dengan lebar. Matanya berbinar-binar saat melihat interior indah toko itu. Kursi kayu yang di cat putih serta meja kayu yang berbentuk hati, sungguh membuat mata merasa dimanja akan kecantikannya. Dinding-dinding yang dihiasi dengan aneka bentuk kaca yang ditaburi mutiara yang berwarna-warni, bagaikan di dunia peri.
__ADS_1
Seorang pelayan toko itu berjalan menghampiri Alessia dan Myla yang berdiri di depan pintu masuk toko.
“Selamat datang Nona ... silahkan duduk di mana Anda suka ...” ucap Pelayan itu dengan suara yang lembut dan sopan.
Alessia segera menutup mulutnya yang terbuka lebar saat mendengar sapaan pelayan itu. Dan sekali lagi mulut Alessia terbuka lebar saat melihat seorang pelayan wanita yang berdiri di sampingnya sambil tersenyum ramah padanya.
“M ... manis sekali ...” gumam Alessia pada dirinya saat melihat pelayan wanita itu mengenakan pakaian ala tuan putri kecil.
“Tu_ A ... Adik! Ayo duduk!” seru Myla mencoba menghentikan tingkah aneh Alessia yang menurutnya sangat memalukan.
Dengan segera Myla menarik Alessia untuk duduk di salah satu kursi yang telah di sediakan di sana.
Pelayan wanita itu langsung mengikuti Alessia dan Myla.
“Ini buku menunya Nona ...” memberikan buku menu kecil yang berwarna putih dengan dihiasi mutiara kecil di pinggirnya.
Lagi-lagi Alessia terbelalak melihat buku menu itu. Myla yang melihat sikap Alessia yang mulai aneh lagi langsung bersuara.
“Adik ... cepat pilih menunya, banyak tempat yang harus kita kunjungikan?” ucap Myla dengan tatapan serta raut wajah manis yang terlihat sangat tidak alami.
“Oh! Baiklah Kakak ...” jawab Alessia tanpa beban dengan wajah bahagia.
Myla menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Dia tidak bisa melawan satu pun sifat dari Tuan Putrinya itu. Myla bingung memilih kata yang tepat untuk Tuan Putrinya itu, antara polos atau bodoh.
Di belakang sesaknya bangunan tinggi Ibu Kota dan ramainya manusia yang berlalu lalang, terdapat hutan pohon Maple yang lebat, yang daunnya kian memerah dan berguguran. Di sana terlihat sebuah bangunan besar tua dan tidak terurus.
Banyak semak belukar dan juga daunan kering yang menumpuk di halaman dan teras bangunan itu. Jika dilihat dari luar, bangunan itu lebih terlihat seperti rumah yang dihuni oleh makhluk halus dan serupanya.
Seorang pria yang mengenakan topeng hitam dan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya serta kepalanya, berjalan dengan tergesa-gesa kearah rumah tua itu. Tanpa ragu dia membuka sebuah pintu besar rumah itu dan segera masuk ke dalam setelah memastikan tidak ada siapapun yang mengikutinya.
Seperti halnya di luar, di dalam bangunan tua itu juga dipenuhi dengan daun-daun kering dan juga ranting-ranting kecil yang dibawa oleh burung yang masuk ke dalam. Pria berjubah hitam itu berjalan menaiki tangga menuju lantai dua bangunan itu. Dia berjalan kearah kiri bangunan itu, dia terus berjalan tanpa menoleh kemanapun. Di ujung lantai dua, pria itu berhenti tepat di depan sebuah cermin besar yang sudah retak dan kotor.
Pria itu kemudian mengetuk cermin itu sekali dengan pelan, kemudian setelah berselang lima detik ia kembali mengetuk cermin itu sebanyak dua kali dengan lebih keras.
Tiba-tiba cermin besar itu bergerak ke samping dan meperlihatkan sebuah pintu besi dengan lebar sepanjang satu lengan pria dewasa dan panjangnya sekitar satu meter. Pintu besi itu perlahan terbuka dengan sendirinya. Dengan segera pria berjubah itu masuk ke dalam sebuah lorong gelap di balik pintu itu. Setelah pria itu masuk, pintu besi itu langsung tertutup kembali begitu juga dengan cerminnya yang kembali seperti semula.
Pria berjubah itu, berjalan dengan cepat menyusuri lorong gelap yang panjangnya sekitar lima meter. Sebuah cahaya redup terlihat saat pria itu berada di ujung lorong tersebut. Terdapat sebuah ruangan besar yang terlihat rapi dan bersih. Di sana, terdapat banyak orang yang memakai topeng dan jubah yang sama seperti pria itu. Mereka terlihat berdiri dengan tenang di pojok-pojok ruangan itu. Pria berjubah tadi tidak menghentikan langkahnya di situ, dia terus berjalan dan berhenti di depan sebuah pintu besi yang berukuran dua kali lipat dari pintu besi sebelumnya.
“Tuan ku ...” ucap pria itu saat berada di depan pintu itu.
Seseorang membukakan pintu itu dari dalam, segera pria itu masuk ke ruangan di balik pintu itu. Sebuah meja besar, terlihat banyak buku dan alat tulis serta kertas-kertas yang tersusun dengan rapi di atas meja tersebut.
Seorang pria dengan jubah hitam dan topeng berwarna putih duduk di kursi besar yang terletak di depan meja besar itu. Terlihat dia tengah mengupas sebuah apel merah di tangannya.
Tanpa perintah, pria yang barusan masuk langsung menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan kepada pria di depannya.
“Tuan ku, semua telah siap. Persiapan yang telah kita lakukan sudah bisa kita laksanakan besok.” Jelas pria.
Pria yang duduk di kursi besar itu menghentikan gerak tangannya dan mengangkat wajahnya melihat kearah pria di depannya.
“Bagus.” Ucap pria itu dengan suara pelan.
Sesuai janjinya, Alessia kembali ke istana setelah dua jam mengelilingi Ibu Kota bersama Myla. Namun, saat di perjalan pulang, tanpa sengaja Alessia melihat seorang anak kecil yang menangis di lorong kecil yang diapit oleh dua banguan. Merasa penasaran, Alessia berjalan mendekati anak kecil itu. Dia begitu terkejut saat melihat banyak luka dan lembam di tubuh anak laki-laki itu. Tubuhnya begitu kurus dan kotor, serta pakaiannya yang sudah tua dan sobek membuat hati Alessia meringis sakit.
Tanpa ragu, Alessia berlutut di hadapan anak kecil itu agar bisa berbicara dengannya. Myla yang melihatnya tidak bisa berkata apa-apa.
“Hei ... kenapa kau menagis?” tanya Alessia dengan suara yang pelan.
Tidak ada jawaban dari anak kecil itu, dia terus saja menangis dengan membenamkan kepalanya diantara ke dua lututnya yang dia peluk.
Melihat tidak ada respon dari anak kecil itu, Alessia kembali bertanya padanya.
“Apa kau lapar? Mau ku ambilkan makanan?” tanya Alessia mencoba menebak masalah anak itu.
Tiba-tiba anak laki-laki itu mengangkat wajahnya dan berkata dengan suara yang sedikit besar dan bergetar karna tangis.
“Aku bukan pengemis!” serunya, dia langsung berdiri dan lari ke dalam lorong kecil itu.
“Hei! Tunggu! kau mau ke mana ...!! Hei!” panggil Alessia dengan suara keras.
Saat Alessia hendak mengejar anak kecil itu, Myla menahan tangan Alessia dengan cepat.
“Tuan Putri, kita harus kembali ke istana!” ucap Myla.
“Apa maksudmu Myla?! Kita harus mengejar anak kecil itu!” tukas Alessia dengan wajah khawatir.
“Untuk apa? Dia saja tidak mau kita bantu, untuk apa mengejarnya! Ayo Putri kita kembali.” Myla menarik tangan Alessia dengan paksa.
Dengan kasar Alessia menghempaskan tangan Myla yang memegang tangannya dengan erat.
“Jika kau tidak mau mengejarnya, maka aku yang akan mengejar anak itu sendiri. Kau kembali saja ke istana!” putus Alessia dengan wajah marah.
“Putri, ini bukan hal yang baik untuk Anda lakukan! Jika Anda kenapa-napa bagaimana?! Jika Anda terluka atau berada dalam bahaya, siapa yang akan membatumu Tuan Putri?! Mungkin saja di sana tempat yang berbahaya. Tidak ada pengawal di sana! Tuan Putri saya mohon ... jangan lakukan hal yang akan berdampak buruk bagimu!” bantah Myla dengan keras.
“Jika yang kau katakan itu benar, maka aku harus segera mengejar anak itu! Karna dia bisa berada dalam bahaya.” Ucap Alessia tidak mau mendengar ucapan dari Myla.
Tanpa ragu, Alessia berlari memasuki gang kecil itu. Myla kehabisan kata-kata menghadapi Alessia yang bersikukuh dengan pendapatnya. Dengan segera Myla juga berlari masuk ke dalam gang kecil itu mengejar Alessia yang sudah jauh di depan.
Apa yang akan di temukan oleh Alessia di ujung gang kecil itu? Apakah dia akan berada dalam bahaya? Atau sebaliknya?
__ADS_1
Bersambung....
****