
Tuan Dalmar sangat khawatir saat ia tidak menemukan keberadaan putri bungsunya di rumah. Ia segera melangkah menuju wilayah perbatasan desa. Dia tidak membiarkan para warga desa mengikutinya. Bahkan Basilio dilarang untuk mendekati perbatasan desa.
“Ayah! Biarkan aku ikut dengan mu.” Pinta Caezar dengan berharap.
“Kau tunggulah di sini. Awasi warga desa.” Tukas Tuan Dalmar.
“Tapi Ayah! Aku tidak bisa tenang di sini. Aku sangat khawatir dengan Adikku Ayah!” sahut Caezar.
“Tuan, saya dan anak buah saya akan mengawasi desa dan warga desa. Anda pergilah dengan Tuan Caezar ke tempat Nona Acie.” Ucap Basilio dengan yakin.
Akhirnya Tuan Dalmar mengizinkan Caezar pergi bersama dengannya. Mereka berdua segera beranjak dari desa menuju ke hutan larangan tempat sihir itu berada. Saat mereka berjarak tujuh meter dari hutan larangan, tubuh Tuan Dalmar dan Caezar mulai terasa berat karena efek dari asap sihir yang dikeluarkan oleh pedang tekkutuk.
“Asap apa ini?! Kenapa tubuh ku jadi lemah seperti ini?” gumam Caezar pada dirinya.
Sekuat tenaga Tuan Dalmar dan Caezar berjalan menuju hutan larangan. Walau daya energi tubuh mereka semakin berkurang karena terkena efek dari asap hitam yang kini telah menyenyelimuti kawasan perbatasan Desa Alba dan hutan larangan.
Saat Luna tengah mengeluarkan pedang terkutuk itu dengan energi sihirnya, Acie menangkap sebuah pergerakan dari arah perbatasan desa. Acie memfokuskan indera pendengar dan mata batinnya untuk menangkap objek beregerak tersebut.
“ACIE ...!!! ACIE ...! kau di mana ...?!” seru Caezar dengan suara yang lantang.
Acie begitu tersentak mendengar teriakan yang berasal dari kakak laki-lakinya. Acie mulai cemas akan keberadaan kakaknya dalam hutan yang berbahaya seperti ini.
“Luna! Tak bisakah kau lebih cepat sedikit?!” pinta Acie pada sang perisai.
“Baik, Tuanku.” Sahut Luna dengan patuh.
Tak berapa lama kemudian pedang terkutuk itu berhasil dikeluarkan oleh Luna dari dalam tanah. Dengan segera Acie menaiki tubuh Luna dan berlari menuju ke tebing. Namun, langkah mereka tertahan saat sekelompok moster berwarna hitam serta berbulu lebat dan bertaring panjang menghadang mereka. Acie mulai berpikir, jika dia dan Luna sibuk dengan para moster itu, waktu tempuh mereka untuk membuang pedang terkutuk itu akan semakin lambat. Hal itu sangat beresiko akan keselamatan Luna.
“LUNA! Larilah secepat mungkin kearah tebing. Aku akan menahan moster itu di sini.” Jelas Acie pada Luna.
“Tapi, Tuanku! Mereka bukan moster kecil. Mereka moster Muz, para pemangsa manusia. Mereka tidak bisa dianggap remeh. Tuanku! Biarkan hamba yang mengurus para moster itu.” Pinta Luna karena merasa cemas dengan tuannya.
“Kau turuti saja perintahku!” seru Acie, “Jangan sampai kau terlambat. Cepat pergi! LUNA!”
Luna tidak bisa menahan niat Acie, dia hanya bisa melakukan kehendak dari tuannya.
Dengan segera Luna berlari menuju arah tebing.
Melihat para moster itu mulai bergerak mengikuti langkah Luna, dengan cepat Acie menghadang mereka. Acie mengeluarkan panahnya dan membidik para moster yang memiliki warna jiwa biru di mata batin Acie. Satu persatu anak panah ia lepas mengenai moster Muz tersebut. Namun, moster bukanlah tandingan yang lemah, mereka memiliki kekuatan lebih besar dari manusia. Anak panah Acie melesat mengenai kepala salah satu moster Muz itu.
Acie mulai kewalahan menghadapi para moster yang banyaknya sekitar 20an. Dia sudah banyak kehilangan tenaganya. Sudah dua puluh menit dia melawan para moster itu, hanya empat dari mereka yang telah berhasil ia lumpuhkan.
“Hah ... hah ... hah ...” terngah-engah.
“A-apa yang harus ku lakukan? Tenagaku tidak banyak lagi.” Gumam Acie pada dirinya.
Para moster itu kembali menyerang Acie dengan cepat. Segera Acie menghindar dari serangan moster tersebut. Reflek Acie terhadap serangan sudah cukup terlatih. Dia bukanlah gadis lemah yang hanya bisa menangis dan menyerah pada keadaan. Dia selalu mengingat pesan dari ayahnya, jika dia ingin hidup lama di dunia ini, maka dia harus berusaha tanpa menyerah. Mengingat hal itu, Acie kembali bangkit dengan semangat membara. satu persatu moster itu terkena serangan telak dari Acie. Dia tidak bisa menggunakan busurnya lagi, karena anak panahnya telah habis.
__ADS_1
“Aku tidak akan menyerah! Nyawa ini hanya milikku! Tidak akan ku biarkan kalian menyentuhku dengan tubuh menjijikkan itu!” sorotan mata emas Acie membara bagaikan api,
“Hyaaaaaaak...!!!!!!” tanpa jeda Acie menyerang bertubi-tubi. Memukul, menendang, memukul, menendang, memukul lagi dan lagi.
Acie menusuk jantung moster itu dengan pedang pendeknya. Kembali Acie menebas leher moster lainnya. Percikan darah para moster itu memenuhi wajah dan tubuh Acie.
Acie terjatuh tersungkur ke tanah. Setetes demi setes darah keluar dari kepala dan tubuh Acie yang terluka. Para moster yang banyaknya berkisar dua puluh itu telah berhasil di hancurkan oleh Acie. Dengan nafas yang berat Acie merebahkan tubuhnya telentang di atas tanah.
“Hah ... hah ... hah ...! aku ... berhasil Ayah ...,” gumam Acie pelan.
DEG!!!
Secara tiba-tiba perasaan Acie terasa sangat buruk, ia segera teringat dengan Luna yang tengah membawa pedang terkutuk itu menuju tebing.
“Luna!” gumam Acie penuh kekhawatiran.
Acie segera berlari menuju arah tebing. Tubuh Acie seakan membeku saat mendapati cahaya jiwa yang dimiliki Luna telah memudar.
“Luna ...!! apa yang terjadi?! kenapa dengan energi tubuhmu?!” seru Acie pada sosok Luna yang tengah meraung menahan sakit.
“Jangan menedekat kemari Tuanku! Pedang ini sudah tidak bisa dikendalikan! Dia sudah menyerap separuh dari energi sihir hamba. Tuanku! Menjauhlah!” pinta Luna pada tuannya.
Hati Acie seakan dibakar bara yang amat panas, ia merasakan kesakitan yang amat dalam. Seakan separuh jiwanya telah menghilang perlahan-lahan.
Acie tidak bisa membiarkan sosok sahabat yang selalu melindunginya, menghormatinya, dan setia padanya, harus berkorban demi menunaikan keinginannya. Dia tidak bisa menerima jika dia harus kehilang sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya.
“Tidak ..., aku akan bersamamu,” gumam Acie.
“Tidak Acie! Kau tetap di sini.” Ucap Tuan Dalmar yang berada tepat di belakang Acie.
Acie segera membalikkan tubuhnya, ia tersentak saat merasakan keberadaan ayahnya yang memandangnya dengan tatapan berharap.
“Jangan mendekat ke sana. Biarkan binatang itu yang melakukannya. Kau cukup berdiri di sini! “ tukas Tuan Dalmar dengan wajah menuntut.
Acie hanya diam mendengar perkataan sang ayah. Seakan tidak ada lagi jalan pikiran dalam kepala Acie. Namun, teringat akan sosok Luna yang yang meminta Acie mengelus kepalanya dengan manja. Dia teringat sosok Luna yang selalu ada untuk melindunginya. Setetes airmata keluar dari bola mata emasnya.
“Maafkan aku Ayah ..., aku tidak bisa kehilangannya. Aku harus melindunginya!” ucap Acie dengan suara yang gemetar.
“Sadarlah Nak! Apa yang bisa kau lakukan! Jika dia saja tidak bisa melawannya, apalagi denganmu! Tenangkan lah pikiranmu Nak, jangan gegabah.” Jelas Tuan Dalmar dengan penuh tekanan.
“Aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika sampai kehilangannya Ayah! Maafkan aku Ayah, aku menentangmu kali ini.” Putus Acie dan segera berlari menuju kearah Luna yang cahayanya hampir tidak terlihat oleh mata batin Acie.
“LUNA! Bertahan lah! Jika sampai kau kalah dengan benda bodoh itu! Aku tidak akan memaafkanmu! Aku tidak akan mengelus kepalamu lagi! Aku tidak akan membiarkankanmu berburu denganku lagi! Aku akan membuangmu! LUNA!!!”
Seruan Acie membangkitkan kembali kesadaran yang hampir hilang dari Luna.
“Tuanku ...! jangan kemari, di sini sangat berbahaya ...,” seru Luna dengan suara yang lemah.
__ADS_1
“Dasar bodoh! Aku tidak akan membiarkanmu sendirian! Aku akan selalu bersamamu, LUNA!!!” seru Acie dengan suara yang lantang.
Tiba-tiba sebuah cahaya yang amat terang keluar dari tubuh Acie dan Luna. Tuan Dalmar yang menyaksikan itu begitu tersentak dan tertegun akan pemandangan di depannya. Dia tidak pernah melihat cahaya yang keluar dari tubuh manusia.
“Luna, kita akan selalu bersama. Jika dunia ingin memisahkan kita, maka aku akan melawannya. Tidak ada yang dapat memutuskan ikatan kita berdua. Kau dan aku adalah satu jiwa dan raga. Kau adalah bagian dari hidupku, LUNA.” Ucap Acie di dalam hatinya.
Cahaya itu semakin bersinar terang, seakan dunia dipenui dengan cahaya silau itu. Namun, sebuah cahaya hitam memancar dari tubuh Luna.
“Luna! Keluarkan pedang itu dari tubuhmu!” pinta Acie pada sosok Luna.
“Tapi Tuanku,” sahut Luna ragu akan permintaan tuannya.
“Percaya padaku, Luna!”
Sorotan mata Acie seakan memberi keyakinan kepada Luna. Dengan segera ia mengeluarkan pedang terkutuk itu dari dalam tubuhnya. Pedang itu menancap dengan kuat di atas tanah. Dengan langkah pasti Acie berjalan mendekati pedang tersebut.
Seakan tidak ada yang dapat menghentikan langkahnya itu. Cahaya yang keluar dari tubuh Acie menahan sihir yang dikeluarkan dari pedang tekutuk itu. Tanpa rasa ragu dan bimbang Acie menggenggam kuat gagang pedang tersebut dengan tangan kanannya. Seakan dia tidak merasakan apapun. Sihir hitam itu terus melilit di tangan kanannya dengan kuat.
“Tuanku!” seru Luna dengan khawatir.
“Luna, aku akan mengakhiri ini semua. Aku akan mengakhiri kutukan ini. Akan ku hapus dia dari permukaan bumi ini! Hancur lah! Wahai pedang terkutuk ...!!!!!” menarik dengan kuat. “HYAAAAAK ....!!!!!!!” berteriak dengan keras.
Keluarlah sebuah cahaya yang amat terang dari peadang tersebut, hingga menghancurkan sihir hitam yang menyelimutinya. Angin kencang datang berhembus dengan amat kuat, menerbangkan ranting-tanting dan dedaunan yang tumbuh di hutan terlarang itu.
Kekuatan besar yang keluar dari tubuh Acie dan pedang terkutuk itu bersatu. Hingga menyebabkan bencana alam di sekitar lingkaran kekuatan itu yang mencapai puluhan kilometer.
Sesaat kemudian, bencana alam itu berakhir diiringi dengan hilangnya cahaya yang keluar dari tubuh Acie. Acie tersungkur ke tanah. Ia tidak bisa menahan lagi tubuhnya yang semakin berat.
“Tuanku ..., lihatlah! Itu adalah pedang suci yang dimiliki oleh penguasa dunia ini, BEHOUN ZEME.” Ucap Luna dengan takjub.
“Apa maksudmu? Pedang suci?” tanya Acie dengan bingung.
“Iya,Tuanku. Itu adalah pedang pusaka yang dimiliki oleh penguasa dunia ini sejak dahulu kala. Pedang ini telah menghilang sejak lima puluh tahun yang lalu, setelah terjadinya perang besar antara tiga ras terbesar di dunia ini. Sebelumnya, pedang ini dimiliki oleh penguasa ras manusia. Namun, karena ketamakan, kebencian, dan dendam yang ditimbulkan oleh manusia, menyebabkan pedang ini berubah menjadi pedang pembawa petaka. Sehingga pedang tersebut membahayakan umat manusia. Oleh karena itu, para ras manusia memutuskan untuk mengubur pedang tersebut di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh makhluk apapun. Tuanku, pedang ini telah kembali suci. Dia telah kembali menjadi pedang pusaka pelindung umat manusia. Tuanku, ambil lah pedang ini, hanya Anda yang dapat menyentuhnya.” jelas Luna dengan seksama.
Acie terlihat tidak percaya dengan ucapan Luna berusan padanya. Dia masih bingung dengan keadaan yang tengah dialaminya itu. Acie menatap Luna dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
“Luna! Kau jangan bercanda. Apa maksudmu pedang ini adalah pedang pusaka? Dan kenapa hanya aku yang dapat menyentunya??” tanya Acie dengan wajah bingung.
“Bahoun Zeme adalah pedang bertuan. Sama seperti hamba Tuanku. Pedang ini bukanlah pedang biasa yang dapat disentuh oleh sembarang orang. Namun, pedang ini telah memilih Tuanku untuk mengembalikannya seperti sediakala. Tuanku, siapapun manusia yang sanggup menyentuh pedang ini, maka dia adalah pemiliknya. Bahoun Zeme telah memilih Anda sebagai Tuannya. Maka terimalah takdir Anda, Tuanku, sang Penguasa.” putus Luna.
Acie masih bingung setengah mati, tapi takdir telah menentukan jalan dalam hidup dari gadis yang bernama Acie. Dengan berat hati, Acie mengambil pedang yang tertancap di tanah itu dengan tangan kanannya. Dan seketika cahaya bersinar terang dari pedang itu, menandakan sumpahnya pada pemiliknya yang baru.
Tuan Dalmar dan Caezar yang masih termangu dengan kejadian yang mereka tonton barusan, serempak terkejut saat Acie berlari kearah mereka berdua.
“Ayah ...!! Kakak ...!!! ayo kita kembali ke desa!” seru Acie dengan semangat.
Sang ayah dan sang kakak hanya bisa mengiyakan ajakan dari gadis di depannya itu. Seribu pertanyaan kembali membanjiri otak Tuan Dalmar. Dia hampir tidak mengenali putrinya itu. Sosok Acie yang baru saja ia lihat itu bukanlah sosok manusia biasa seperti mereka. Dia adalah sesuatu yang harus di jaga dengan baik. Jika tidak, mungkin saja dunia ini akan hancur dalam gengamannya. Begitu pikir Tuan Dalmar untuk sesaat.
__ADS_1
Bersambung...
******