THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu

THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu
Bab 4 Bandit dan Perisai


__ADS_3

Satu minggu berlalu setelah badai menerjang desa Alba. Kini keadaan desa telah kembali lengang seperti biasanya. Begitu pula dengan keluarga kecil Acie yang hidup dengan damai dan bahagia. Keseharian Acie hanya membantu kedua kakaknya atau ayahnya.


Jangan lupakan bahwa mereka bukanlah saudara atau ayah kandung Acie. Namun, ikatan itulah yang telah menanamkan rasa sayang dan cinta yang begitu kuat dalam hati Acie.


Acie tumbuh menjadi gadis pemberani berkat sosok ayah yang telah mengasuhnya dengan cinta dan kasih sayang yang begitu besar. Kasih sayang dari seluruh warga desa yang telah menganggap Acie seperti keluarga mereka sendiri juga menjadi kekuatan yang besar bagi diri Acie. Tidak ada satu pun penduduk di Desa Alba yang mengejek atau mencemooh kekurangan fisik Acie. Bahkan mereka sama sekali tidak mengusik tentang hal itu. Acie hidup di desa yang luar biasa, semua penduduk Desa Alba sudah seperti keluarga bagi Acie.


Sesuai jadwal yang telah diurutkan oleh Ciero kakak perempuan Acie, hari ini tugas Acie untuk membagikan susu kepada warga desa. Sekotak besar susu kambing yang telah dimasak dan dimasukkan dalam botol-botol kaca sedang, dibawa oleh Acie kepada para warga desa.


“Ingat! Susunya harus terbagi semua, jangan sampai ada yang tinggal, mengerti!” ujar Ciero yang tengah memasangkan syal di leher Acie dengan serius.


“Baik, siap Nyonya!” sahut Acie dengan semangatnya.


Satu demi satu botol susu dalam kotak besar itu berkurang. Dengan cermat Acie membagikan susu itu kepada warga desa. Bagi Acie, seluk-beluk Desa Alba sudah terekam penuh dalam ingatannya. Dia bisa membedakan letak rumah perrumah serta jarak antar rumah para warga desa. Dengan lincah Acie berlari pelan mengantarkan susunya satu persatu. Warga Desa Alba sudah tidak heran lagi dengan kelakuan Acie yang menurut mereka itu sangat tidak mungkin dilakukan oleh manusia pada umumnya.


“Nyonya! Ini susu untuk mu hari ini.” Ucap Acie pada salah satu warga desa yang kebetulan berjalan di depannya.


“Terima kasih Nak. Kau terlihat semangat hari ini,” ucap warga desa itu dengan senyuman.


“Hehe... terima kasih kembali!” seru Acie sembari berjalan mundur serta melambaikan tangannya kearah warga desa itu.


Hanya tiga botol susu yang tersisa dalam kotak besar yang dipeluk oleh Acie. Dia sudah membagikan semua susunya kepada warga desa, tapi masih tersisa tiga. Jika dia tidak membagikan susunya sampai habis, Ciero akan memarahinya.


“Aku tidak bisa pulang jika susunya belum habis. Padahal perutku sudah minta jatah.” Keluh Acie sambil mengelus pelan perut ratanya.


Dengan langkah pelan Acie kembali memutari desa dengan harapan ada yang belum mendapatkan susunya. Langkah Acie terhenti saat indera pendengarannya menangkap sebuah suara dari arah gerbang Desa Alba yang berjarak sekitar delapan meter darinya. Acie kembali memfokuskan pendengarnya. Sebuah suara teriakan dari seorang laki-laki yang tengah berlari kearah Desa Alba dengan tergesa-gesa terekam dalam memori Acie. Dengan segera Acie berlari menuju gerbang utama Desa Alba. Seperti dugaan Acie. seorang laki-laki tengah berlari tergesa-gesa menuju kearah desa. warga desa yang bertugas menjaga pos keamanan desa segera menemui laki-laki itu, begitu pula dengan Acie yang dengan cepat berlari kearah gerbang desa. Terlihat laki-laki itu terengah-engah sembari menunjukkan tanganya kearah penggunungan.


“Ada apa?! Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?!” tanya salah satu warga desa yang bertugas di pos keamanan.


Laki-laki itu tidak bisa berkata-kata, wajahnya babak belur seperti telah dipukuli oleh seseorang dengan sangat parah. Subuah suara kembali tertangkap oleh indera pendengaran Acie. Kini suara itu terdengar jelas, sebuah suara derap kuda yang tengah berlari kearah Desa Alba.


“Tuan! Tutup gerbangnya!” Suruh Acie dengan wajah serius.


“Ada apa? Mengapa kita harus menutup gerbangnya?” tanya warga yang bertugas.


“Sekitar dua puluh menit lagi, ada sekitar dua puluh orang yang menunggang kuda tengah menuju ke desa ini. Saya rasa itu bukan warga desa kita. Mereka juga membawa senjata.” Jelas Acie yang membuat warga desa yang mendengarnya itu sedikit tidak percaya.


Namun, untuk sekedar berhati-hati, mereka memutuskan untuk mendengarkan saran dari Acie. Segera mereka menutup gerbang Desa.


Sesuai prediksi dari Acie dua puluh menit kemudian terlihat sekumpulan orang yang berkuda menuju ke Desa Alba. Para warga desa mulai panik dengan datangnya orang-orang bersenjata itu. Para warga desa diarahkan menuju ke rumah masing-masing.


“Hei Nak! Pulanglah, di sini berbahaya.” Suruh salah satu warga desa kepada Acie yang masih kukuh ditempatnya berdiri.


saat hendak melangkahkan kakinya, sebuah anak panah melesat mengenai seorang warga desa hingga melukainya. Acie begitu tersentak hingga membuatnya tak bisa melangkah.


“Apa yang mereka lakukan?!” seru Acie dengan wajah terkejut.


Batin Acie seakan merengut merasakan ancaman bahaya yang tengah menunggu Desa Alba dan warganya.


“Seseorang! Panggil Tuan Dalmar kemari!” seru seorang warga dengan panik.


Memang benar, Tuan Dalmar adalah kepala desa Desa Alba, selain terlatih dalam bela diri dan berburu, Tuan Dalmar juga sangat mempuni dalam menyelesaikan masalah warga Desa Alba. Sikapnya yang adil dan bijaksana cukup membuatnya dikagumi oleh seluruh warga desa.


Sesaat kemudian terdengar dentuman keras dari arah gerbang desa.


“Buka gerbangnya!!! Jika kalian masih ingin hidup, cepat buka gerbangnya!!!” teriak seseorang dari balik gerbang.


Warga desa terlihat semakin panik. “Apa yang harus kita lakukan?!” ucap salah seorang warga dengan cemas.


Terlihat Ciero dan Caezar tengah berlari kearah warga desa yang berkumpul di depan gerbang desa.


“Di mana Tuan Dalmar?” tanya salah seorang warga.


“Ayah sedang berburu di hutan, dia sudah beragkat sejak fajar tadi dan sampai sekarang belum kembali.” Jelas Ciero kepada warga desa.


Keadaan semakin membuat panik warga desa. Para bandit itu tak henti-hentinya menghantamkan gerbang desa dengan sesuatu yang besar.


“Apa yang harus kita perbuat sekarang? Apa kita buka saja gerbangnya?” ucap salah seorang warga desa.


“Apa kau gila! Mereka akan membunuh kita semua!” sahut warga lainnya dengan cemas. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menghadapi para bandit itu.

__ADS_1


“Aku akan menemui mereka.” Ujar Acie tiba-tiba.


Para warga desa terkejut mendengar ucpan Acie barusan.


“Apa? Jangan macam-macam Acie! Jangan berani melangkahkan satu langkah pun dari situ.” Ucap Ciero mengancam.


“Kakak... kita tidak bisa hanya diam saja seperti ini. Mereka akan menghancurkan desa ini.” Jelas Acie kepada Ciero yang terlihat masih tidak terima dengan saran dari adiknya.


“Kau tidak perlu khawatir, warga desa akan menyelesaikan masalah ini.” Putus Ciero yang masih tidak bisa membungkam niat adiknya itu.


“Aku juga warga desa ini, aku tumbuh di sini! Aku tidak bisa membiarkan desa ini dalam bahaya! “ jelas Acie penuh keyakinan.


“Tapi Acie__” perkataan Ciero terbungkam oleh Caezar yang tiba-tiba memengang bahunya.


“Biarkan dia menjadi dirinya sendiri.” Ucap Caezar yang membuat Ciero menatap Caezar dengan wajah cemas.


Dengan gerakan cepat, Acie melompati gerbang desa yang tingginya sekitar tiga meter. Terlihat wajah terkejut dari warga desa saat melihat apa yang dilakukan Acie barusan.


“Kenapa dia bisa melompat setinggi itu?!” seru seorang warga desa dengan wajah tidak percaya.


Acie sedikit terkejut melihat sekumpulan bandit yang duduk dengan angkuhnya di atas kuda mereka.


“Kenapa malah anak kecil yang kemari! Apa warga desa mu pengecut semua?! Hah?!!” seru salah seorang bandit yang memegang pedang besar di tangan kirinya.


“Aku bukan anak kecil! Dan untuk apa kalian ke desa kami?!” ujar Acie dengan suara tegas.


“Oooo...! lihat ...! Kaki mu gemetar Nak! Lebih baik kau pulang dan suruh Ayahmu kemari!!!” ujar bandit yang memakai penutup di mata kanannya.


“Ayahku tidak ada. Jika kalian ingin mengatakan sesuatu, katakan saja padaku!” sahut Acie dengan tegas.


“Kau ini benar-benar keras kepala ya! Hei! gadis kecil, jika kau masih sayang pada nyawamu, berbalik dan pulanglah! Jangan lupa segera sembunyi di bawah tempat tidurmu!!” seru bandit yang menutup sebelah matanya, diakhiri tawa angkuh darinya.


“ACIE!” seru Caezar yang tiba-tiba keluar dari arah gerbang.


“Kakak?! Sedang apa Kakak kemari?” tanya Acie dengan wajah terkejut.


“Kurang ajar! Kalian meremehkan kami?! Darah manusia lemah seperti kalian tidak pantas untuk membasahi pedang kami!!!” seru seorang bandit yang mengenakan jubah hitam kulit serta rambutnya yang di ikat di puncak kepalanya hingga mirip seperti air mancur. Terlihat wajah bandit itu dipenuhi bekas luka.


“Apa kau pimpinan mereka?” tanya Caezar kepada bandit itu.


“Aku Rajanya! bukan pimpinannya!” sahut bos bandit itu dengan penuh amarah.


“Terserah apa katamu, lebih baik segera kalian tinggalkan tempat ini!” seru Caezar dengan tegas.


Bos bandit itu semakin terlihat marah mendengar perkataan Caezar yang menurutnya merendahkan mereka.


“Kurang ajar! Bunuh mereka!!!” seru bos bandit itu dengan tegas.


Segera para bandit yang lain turun dari kuda mereka.


“Acie! Berdirilah di belakang Kakak!” Suruh Caezar yang sama sekali tidak digubris oleh Acie.


Wajah Acie terlihat antusias, dia seperti menginginkan hal itu terjadi.


“Kakak, jangan lupa kalau aku murid Tuan Dalmar. Akan ku perlihatkan hasil jerih payahku selama ini.” Ucap Acie penuh dengan semangat yang membara bagaikan api.


Caezar hanya bisa menghela nafasnya. Jika adiknya itu sudah bertekat, maka tidak ada yang bisa menghentikannya.


“HYAAAAAAK....!!!!!” terdengar teriakan lantang para bandit yang mulai menyerang Acie dan Caezar.


Suara para bandit itu menggema hingga membuat Ciero yang berdiri di balik gerbang memucat menahan kecemasannya. Tidak terlihat satu pun serangan para bandit dapat mengenai Acie dan Caezar. Dengan lincah Acie menangkis serangan para bandit itu.


Dengan hanya mengandalkan indra batin dan indra pendengarnya, Acie bisa menahan semua serangan yang datang padanya serta memprediksi gerakan lawannya. Satu persatu bandit itu terjatuh ke tanah, tidak terlihat rasa lelah dari wajah Acie, dia terlihat sangat antusias dengan perkelahian itu.


“Tetap fokus Acie! Jangan gegabah! Mereka bersenjata!” seru Caezar yang berjarak satu meter dari Acie.


Acie menerima saran dari kakaknya itu, dia tidak bisa menyerang mereka dengan gegabah. Bisa saja mereka dapat melukainya. Terlihat Acie mulai kelelahan, seakan para bandit itu memiliki sembilan nyawa, mereka sama sekali tidak terlihat kesakitan. Padahal Acie telah menyerang mereka dengan serius.


“AKH!” rintih Caezar saat tangannya terkena tebasan pedang.

__ADS_1


Acie tersentak saat mendengar teriakan kakaknya. Caezar terlihat terluka di bagian lengan kananya karena tersayat pedang bandit yang menyerangnya.


“Kakak!!” seru Acie.


Dengan segera Acie berlari kearah Caezar yang terlihat tengah kesakitan. Namun, langkah Acie terhenti saat bos bandit itu berdiri tepat di hadapannya.


“Apa kau sudah menyerah? Bersujudlah padaku, maka aku akan melepaskan Kakak mu itu. Kau tidak ingin melihat dia matikan?” Ucap bos bandit itu yang membuat Acie mematung di tempat.


“Tidak Acie! Kakak baik-baik saja! Jangan lakukan hal rendah itu!” seru Caezar.


Hati Acie seakan memanas saat mendengar suara jeritan kakaknya yang dipukuli oleh para bandit.


“Lebih baik kau menyerah saja gadis kecil, tubuh mu sudah gemetar.” Ujar bos bandit itu dengan seringai angkuh di wajahnya.


“Lepaskan dia,” gumam Acie yang menundukkan kepalanya.


“Apa? Kau mengatakan sesuatu gadis kecil?” tanya bos bandit itu dengan wajah mengejek.


“LEPASKAN DIA!!!” terpancar cahaya yang membara dalam bola mata Acie, sorotan matanya membuat lelaki yang berdiri di hadapannya itu meringis ketakutan.


Tubuh laki-laki itu seakan gemetar, dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Tubuh bos bandit itu seakan melemah di hadapan Acie.


“K-ke-kenapa d-dengan tu-tubuhku... a-aku tidak b-bisa bergerak!” seru bos bandit itu dengan suara yang tersendat-sendat.


Sebuah cahaya yang begitu terang terpancar dari tubuh Acie. Semua bandit yang melihat cahaya terang itu tak dapat melangkahkan kakinya sama sekali. Mereka sekan tertarik begitu kuat kearah cahaya itu. Tubuh mereka seakan melemah, tanpa sadar mereka tersungkur ke tanah.


“A-apa itu?! Kenapa dia mengeluarkan cahaya seperti itu? Tubuhku tidak bisa bergerak!” seru bandit yang mengenakan penutup mata.


“S-siapa dia sebenarnya?!” seru bandit itu kembali.


“Jika kalian masih ingin merasakan udara di bumi ini, maka tunduklah kalian semua pada jiwa yang suci dan agung.” Seekor serigala putih besar keluar dari cahaya itu.


Semua orang terbungkam saat melihat serigala putih besar itu berdiri tepat di hadapan mereka. Tidak ada yang bisa berkata apa-apa mereka hanya bisa termangu-mangu dengan pemandangan di depan mereka.


“Jika kalian masih ingin merasakan hidup damai di dunia ini, maka tunduklah di hadapan sang penguasa.” Seru serigala putih yang berna Luna.


Sekejap cahaya itu menghilang tanpa meninggalkan jejak. Acie kembali tersadar dari lamunannya.


“A-pa yang terjadi?” seru Acie dengan bingung.


“Maafkan hamba Tuanku! Ampuni nyawa hamba!” seru bos bandit itu yang membuat Acie terheran-heran.


“Hamba berjanji akan senantiasa setia dan mengikuti langkah dari Tuanku. Terimalah janji setia kami wahai Tuanku!” seru bos bandit itu kembali.


Acie semakin terlihat bingung dengan keadaan yang tengah terjadi.


Mengapa mereka bisa berjanji setia seperti itu? Begitu pikir Acie yang menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


“Ba-baiklah! Tapi kalian harus berjanji padaku, kalau kalian tidak akan menyerang desa kami.” Ucap Acie dengan cermat.


“Kami berjanji dengan nyawa kami Tuanku!” sahut para bandit itu serempak.


“Ta-tapi, kenapa kalian memanggilku seperti itu?” tanya Acie yang masih terlihat bingung.


“Tuanku, mulai saat ini kami semua adalah bawahanmu, kami telah berjanji setia padamu.” Jelas bos bandit itu dengan mata berbinar.


Seakan isi kepala para perampok itu telah dicuci, mereka tiba-tiba saja merasa harus mengikuti gadis kecil di depan mereka jika tidak ingin nyawa mereka melayang.


“Hah?!! K... Kalian sedang apa?” termangu.


Sekilas Acie melihat kearah Caezar yang terlihat tercengang di tempat.


“K-kakak..? kakak baik-baik saja?” tanya Acie pada kakaknya yang menampakkan wajah yang tidak biasa.


Hari yang begitu penuh dengan semangat dan kejutan yang menimpa Desa Alba saat tiba-tiba para bandit yang ingin menyerang mereka menunduk di hadapan seluruh warga desa. Mereka juga tidak sungkan-sungkan meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan. Acie hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Kini Acie si gadis tangguh dengan perisai cahaya miliknya, telah bisa membuat sekumpulan bandit gunung yang dikenal sadis dan tanpa ampun menunduk dan berjanji setia padanya. Akankah Acie membuat dunia menunduk padanya?


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2