THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu

THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu
Bab 2 Tangisan dan Ikatan


__ADS_3

Suara gemersik pepohonan yang ditiup oleh angin serta suara pelan aliran sungai yang mengalir dengan tenang. Terdengar isakan kecil dari tepian sungai yang dangkal.


Seorang pria dewasa dengan busur di punggungnya berjalan mendekati aliran sungai sekedar untuk melepas dahaga. Pria dewasa itu seakan tidak percaya mendapati sebuah keranjang yang terbuat dari kayu jati tengah terhayun-hayun digerakkan oleh arus sungai. Dengan heran serta rasa penasaran akan keranjang itu, pria dewasa tersebut berjalan mendekatinya. Dengan pelan ia membuka tutupan keranjang itu. Dia begitu tersentak saat melihat sosok bayi kecil yang kedinginan menangis dengan pelan seakan dia kehilangan tenaganya. Bayi itu terus berusaha membuka matanya yang tertutup. Hati pria itu seakan meleleh melihat senyuman kecil sang bayi.


“Siapa yang tega membuatmu seperti ini?” gumam pria itu dengan wajah yang penuh kesedihan dan simpati.


Dengan hangat, pria dewasa itu membawa bayi kecil itu bersama dengannya.


“Tunggulah sebentar lagi, kita akan segera sampai.” Ucap pria itu pada sang bayi.


Sebuah pemukiman kecil yang dikelilingi dengan bukit-bukit yang berwarna putih diselimuti oleh salju. Pria itu berjalan dengan cepat kearah satu rumah kecil di sana.


“Ayah! Apa buruannya dapat?” tanya seorang anak perempuan yang berumur sekitar lima tahun sembari berlari pelan kearah ayahnya.


“Ayah, Sol melahirkan empat ekor anaknya tadi.” seru seorang anak laki-laki berumur sekitar enam tahun saat mendapati ayahnya pulang.


Namun, pria dewasa tersebut tidak merespon kedua anaknya itu. Dia dengan segera berjalan memasuki rumah kecilnya.


“Ciero! Buatkan segelas susu hangat dan segera bawa kemari.” Suruh pria itu kepada anak perempuannya.


“Baiklah,” jawab sang anak dengan patuh dan segera berlari kearah dapur.


Di atas tumpukan bulu domba yang telah dibersihkan dan disulam menjadi sebuah selimut, bayi kecil itu mulai merasakan kehangatan kembali.


“Ini susunya Ayah ...” Ucap Ciero mengulurkan segelas susu kepada ayahnya. “Ayah, ini bayi siapa?” tanya Ciero dengan wajah heran.

__ADS_1


Pria itu hanya diam memberikan susu hangat kepada bayi kecil itu dengan penuh kasih. Seorang anak laki-laki berjalan mendekati ayahnya dengan langkah tergesa-gesa. Dia menarik lengan ayahnyadan berjalan mendekat kearah pintu.


“Ayah, kau menculik bayi orang?!” tanya anak laki-laki itu dengan wajah menyelidik.


“Untuk apa Ayah menculik bayi! dengan kalian saja Ayah sudah kewalahan... ” Jawab sang ayah menepis tuduhan anaknya tersebut.


“Lalu itu bayi siapa?!”


“Ayah juga tidak tau, Ayah menemukannya ditepi sungai, Ayah rasa dia telah dibuang oleh orang tuanya.” Jelas pria dewasa itu kepada putranya.


“Dia dibuang?!” terka anak laki-laki itu tidak percaya.


Pria itu kembali berjalan mendekati bayi kecil yang terlihat sangat tenang dan damai.


“Ayah, bisakah dia tinggal bersama kita?” tanya Ciero kepada ayahnya dengan mata yang berbinar.


“Caezar, jangan berkata seperti itu, Ayah akan berusaha menghidupi kalian bertiga. Biarkan setidaknya bayi ini merasakan kehangatan. Kau tidak kasihan padanya?” tanya sang ayah pada putranya itu.


“Tapi Ayah, bagaimana kita menghidupinya?” ucap Caezar yang masih dipenuhi ketidak yakinan dalam hatinya untuk menerima kehadiran bayi kecil itu di keluarga kecil mereka.


“Serahkan semua pada Ayah, kalian jadilah kakak-kakak yang baik.” Ucap sang ayah penuh keyakinan.


“Baiklah! Ciero akan jadi kakak yang baik buat adik kecil!” ujar Ciero dengan penuh semangat.


Bayi kecil itu terus saja tersenyum memperlihatkan batang gusinya. Caezar hanya bisa menghela nafasnya, mungkin dia harus sanggup menjadi kakak tertua dari dua adik perempuannya.

__ADS_1


Keluarga kecil itu kini telah menjadi keluarga bagi bayi tunanetra itu. Ciero dan Caezar mengasuh bayi itu dengan penuh kasih sayang. Seakan ikatan kuat telah mengikat hati mereka kepada bayi kecil nan mungil itu. Hari demi hari bayi itu tumbuh dengan sehat, tak terlihat rasa lelah dan risih dari sosok pria yang bernama Dalmar dan kedua anaknya dalam mengasuh bayi kecil yang diberi nama Acie.


Lima tahun telah berlalu, Acie tumbuh dengan dipenuhi kasih sayang dari keluarganya. Acie lahir tanpa memiliki penglihatan layaknya manusia lainnya. Mata bulat dihiasi retina yang berwarna kuning keemasan, memancarkan cahaya indah seakan dapat menerangi seluruh dunia hanya dengan sorotan matanya.


“Acie! Ayo ikut Kakak membagikan susu pada warga!” seru Ciero yang telah tumbuh menjadi gadis yang tangguh dan pekerja keras.


“Baik!” sahut Acie sembari berlari kearah kakaknya.


“Jangan lari nanti jatuh!” seru Ciero merasa khawatir pada adik kecilnya itu.


Walau tanpa penglihatan, Acie dapat melakukan hal yang sama seperti orang lain pada umumnya. Dia bisa berlari, melompat, bahkan menangkap ikan di sungai. Kekurangan panca indra penglihatannya itu, membuat seluruh panca indra yang lain memiliki tingkat kepekaan lebih besar dibandingkan manusia pada umumnya. Acie hanya tidak bisa melihat fisik dari seseorang atau segala hal di dunia yang nyata. Namun, penglihatan batinnya lebih kuat dari siapapun. Dalmar mengasuh putri kecilnya itu dengan tegas dan membekalkan seni bela diri dalam diri Acie. Sejak umur empat tahun Acie sudah mulai mengerti hal yang berkaitan dengan bela diri, walaupun dia hanya bisa menerka gerakan dari ayah dan kakak laki-lakinya saat mereka latihan dengan mata batin yang belum sempurna.


Ayahnya juga membekali Acie seni memanah, walaupun banyak kesulitan dan rintangan dalam proses pencapaian Acie, dia tidak pernah menyerah sebelum berhasil. Acie diajarkan untuk selalu berusaha dan pantang menyerah jika ingin hidup lama di dunia yang kejam ini. Hingga umurnya lima tahun, Acie sudah bisa memanah rusa yang berada puluhan meter dari jarak pandangnya. Walau hanya mengandalkan mata batin dan indera pendengarnya, Acie mampu melakukan itu tanpa meleset.


Semakin bertambahnya hari dan bergantinya tahun, Acie semakin lihai dalam memeraktekkan seni bela diri yang telah dikuasainya yang diajarkan oleh sang ayah.


“Ayah, hari ini aku yang akan memburu binatang di hutan, Ayah istirahat saja.” Ucap Acie kepada sang ayah yang terlihat tidak sehat.


“Berhati-hatilah Nak, Jika kau sampai terluka, Ayah akan menghukummu. Mengerti!” ujar sang Ayah pada putri tercintanya itu.


“Siap! Acie berangkat Ayah.” Putus Acie dan segera melangkah keluar dari rumah kecilnya.


“Aci! Kakak ikut bersamamu.” Ujar Caezar sang kakak laki-laki yang menyayangi Acie lebih dari dirinya sendiri.


Acie, sosok bayi kecil yang dibuang oleh orang tua kandungnya tanpa rasa kasihan dan iba. Ia telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja berumur 15 tahun. Dia tumbuh disebuah pemukiman kecil yang bernama Alba, ditepian bukit yang berwarna putih. Dengan segala kelebihan yang tersembunyi dalam dirinya tanpa ada seorang pun yang menyadarinya. Suatu saat nanti, akankah Acie mampu menerima kenyataan tentang siapa dirinya yang sebenarnya.

__ADS_1


Bersambung...


******


__ADS_2