Ther Melian Revelation

Ther Melian Revelation
Episode 10


__ADS_3

Valadin menggunakan Schalantir untuk menepis halilintar yang nyaris menyambar tubuhnya. Tapi belum lagi bisa bernapas lega, cakar sang naga kembali terayun ke arahnya. Dia berniat menghindar, tapi lalu teringat Laruen yang berlindung di belakangnya. Dia mengurungkan niatnya dan mengambil risiko berlari melewati sang naga.



Akhirnya dia tiba kembali di dekat undakan yang menuju ke altar. Suara debum keras diiringi percikan kilat menyadarkan Valadin bahwa Naga Indigo berada tepat di belakangnya. Valadin merapatkan diri ke undakan, tepat ketika sang naga menyergapnya. Cakar naga itu menghantam bagian depan undakan, meninggalkan goresan yang dalam dan memanjang.



Valadin menyelipkan tubuhnya di antara bebatuan yang menyusun undakan. Sementara itu Naga Indigo merayap ke bagian atasnya, lalu bertengger di atas altar sambil menjulurkan lehernya yang panjang untuk mengitari undakan dan mencari Valadin, ekornya melecut-lecut liar tanpa henti.



Valadin bisa merasakan panas dari percikan kilat di ekor naga menyengat wajah dan telinganya. Sedetik kemudian ekor itu mendarat hanya setengah meter darinya. Hanya tinggal masalah waktu sebelum sang naga meremukkannya. Detik berikutnya Valadin mendengar ledakan keras. Dia mendongak dan menyadari sesuatu membentur punggung naga. Benda itu jatuh berdenting di hadapannya—sebuah pisau lempar.



Karth sudah membawa Laruen berlindung ke tempat Ellanese dan sekarang melontarkan pisau-pisaunya ke punggung naga untuk mengalihkan perhatian makhluk itu. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Valadin meninggalkan persembunyiannya dan bergabung bersama Ellanese dan yang lain. Belum juga sempat mengatur napas, Valadin sudah disambut perdebatan



antara Eizen dan Laruen.



“Kenapa kau tidak membantu kami tadi?” hardik Laruen. “Kau seorang Magus, kan? Gunakan sihirmu, lawan naga itu!” Gadis itu memelototi Eizen.



Suara Eizen tetap datar saat menanggapi Laruen. “Memangnya aku pernah bilang akan membantu kalian?” tanyanya. “Aku berencana menunggu sampai kalian gagal lalu menaklukkan naga itu seorang diri.”



Wajah Laruen merah padam dibakar amarah. Dia baru akan mendamprat Eizen, tapi Valadin menghentikannya. “Tidak apa, Laruen,” katanya. “Eizen, benar. Kita tidak bisa memaksanya untuk membantu kita.”



Dentuman keras yang diiringi percikan kilat di samping mereka mengejutkan Valadin. Nyaris bersamaan Karth mundur kembali ke dalam pelindung sihir. Dia menggunakan pelindung Ellanese untuk menghindari serangan naga.



“Anda baik-baik saja?” tanya Karth. Valadin menjawab dengan anggukan pelan.



Naga Indigo mengibaskan ekornya, persis kucing yang gemas melihat mangsanya. Makhluk itu menghantam pelindung Ellanese beberapa kali seolah mencari kelemahan. Tapi dengan segera sang naga menyadari sihir pelindung Vestal tidak semudah itu ditembus. Dia mengepakkan sayapnya dan mendarat di atas altar.



“Apa kalian akan bersembunyi saja di situ sampai subuh?” tanya sang Penjaga Templia. “Atau kalian mau menyerah saja sekarang?”



“Tidak,” jawab Valadin. “Kami tidak datang kemari untuk menyerah.”



Makhluk itu menyeringai. “Kalau begitu, kita lihat berapa lama kalian bisa bertahan.” Dan kemudian, dia mengibaskan jari-jarinya.



Saat itu juga diiringi gemuruh kencang, hujan halilintar yang membutakan mata dijatuhkan dari langit. Kali ini Valadin nyaris tak dapat melihat apa pun selain cahaya putih.



Ellanese mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. “Dia terlalu kuat. Aku tidak bisa mempertahankan pelindung sebesar ini terus-menerus!” serunya. “Kalian harus mendekat padaku.”



Tak perlu disuruh dua kali, Valadin, Karth, dan Laruen merapatkan diri pada Ellanese. Sang Vestal memejamkan mata. Kristal putihnya bersinar terang, pelindung sihir yang tadinya



luas kini menyempit dan menangkupi area sempit tempat mereka berdiri.



Saat itulah Valadin menyadari sesuatu, Eizen tidak bersama mereka.



“Zen, kemari!” panggil Valadin dari balik tameng sihir. Tapi Eizen bergeming. Pria itu berbisik, “Shesta,” lalu mengayunkan tongkatnya. Seketika itu juga tubuhnya diselubungi sesuatu yang menyerupai cangkang telur yang bersinar.



Hujan kilat menghujani mereka tanpa henti. Berkat perlindungan Ellanese, mereka tidak terluka sedikit pun. Tapi semakin lama wajah Ellanese semakin memucat. Sihir pelindung Vestal memang luar biasa, tapi kekuatan Naga Indigo jauh di atasnya. Valadin tahu Ellanese mulai kehabisan tenaga.



Valadin menyentuh pundak partnernya. “Aku akan membantumu,” bisiknya. Dia memejamkan matanya dan memusatkan pikiran serta seluruh tenaganya pada Schalantir. Pedang itu memancarkan cahaya warna-warni yang hangat dan menenangkan, yang kemudian meluap dan masuk ke tubuh Ellanese dan teman-temannya yang lain.



Cahaya Schalantir memulihkan kembali kekuatan mereka. Pelindung sihir Ellanese, yang nyaris remuk kini berpendar terang. Namun kebalikan dengan teman-temannya yang kembali segar, Valadin merasa letih bukan main. Dia harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menggunakan sihir itu. Valadin hanya berharap kekuatan yang telah diberikannya pada Ellanese dan yang lain cukup untuk memenangkan ujian ini.



“Terima kasih, Lourd Valadin,” ujar Karth. “Tapi kita tidak bisa begini terus. Kita harus



menemukan celah untuk menyerang.”



“Aku tahu,” kata Valadin.



Dia melirik ke arah Eizen. Sang Magus terlihat santai. Karena hanya membuat pelindung sihir untuk dirinya sendiri, dia tidak menggunakan tenaga sebanyak Ellanese. Valadin tahu Eizen tidak bersedia menerima perintah darinya, itu bagian dari kesepakatan mereka saat Valadin meminta Eizen bergabung dengannya. Jadi Valadin harus menunggu sampai Eizen menyadari bahwa satu-satunya cara mereka bisa menang adalah dengan bekerja sama.



Laruen mengambil anak panah dari tabungnya. “Aku sudah pulih. Sekarang aku yakin bisa memanah matanya dengan tepat. Tapi halilintar itu menganggu.”



“Bersabarlah,” kata Valadin. “Jangan menembakkan anak panahmu sampai tiba waktunya.”



Auman naga yang menggelegar dan panjang membuyarkan pembicaraan mereka. Sang Naga Indigo menjatuhkan lebih banyak halilintar, gemuruh dan kilatan cahaya yang begitu menyilaukan menghunjam mereka.



Pelindung sihir Ellanese tertembus di beberapa tempat. Sambaran-sambaran kilat tanpa ampun menerobos masuk. Untungnya, Valadin dan yang lainnya berdiri dekat dengan Ellanese, di tempat kekuatan pelindung sihir paling maksimal.



Ellanese mempertahankan pelindungnya melewati serangan yang sejauh ini paling dahsyat. Serangan itu sekaligus mengakhiri rangkaian hujan halilintar dari sang Naga Indigo.



“Selicas Aeger!” Suara parau Eizen tiba-tiba terdengar di atas hiruk-pikuk itu.



Valadin tercengang ketika pulau karang bergetar dahsyat. Dari bawah kaki naga, pasak-pasak batu sebesar batang pohon mendadak menyeruak ke atas. Sang Naga Indigo nyaris tidak sempat menghindar, salah satu pasak menggores bagian samping tubuhnya, mengupas sebagian sisiknya dan menunjukkan kulit dalamnya yang putih dan lunak. Tapi Valadin tidak melihat darah tertumpah.



“Sial!” maki Eizen, sementara sang Naga Indigo mengepakkan sayapnya yang besar dan mengangkasa.



Valadin mendongak, berusaha menangkap kelebatan gerak sang naga yang terbang berputar-putar di atas pulau. Dia bisa merasakan semua temannya menahan napas, menanti serangan berikutnya. Tapi selama beberapa menit selanjutnya, tidak terjadi apa pun. Kepakan sayap naga terdengar semakin sayup sebelum akhirnya menghilang.



Mendadak deru angin kencang dari langit menusuk mata Valadin. Dia tidak bisa melihat apa yang terjadi sampai sang naga sudah begitu dekat dengan permukaan pulau. Makhluk itu melipat sayapnya ke belakang dan menukik ke arah Eizen.



Tapi Eizen sama sekali tidak gentar. Dia mengangkat tongkat sihirnya. “Selicas Aeger!” raungnya lagi.

__ADS_1



Pasak-pasak raksasa kembali bermunculan dari dalam dasar pulau, membentuk tembok yang panjang dan kokoh di antara Eizen dan sang naga. Valadin tahu apa rencana Eizen, sayangnya dia punya firasat bahwa rencana itu tidak akan berhasil.



“Minggir, Zen!”



Eizen tidak memedulikan peringatan Valadin. Dia bergeming di dalam benteng kokohnya.



Valadin menyaksikan kejadian selanjutnya seolah segalanya terjadi dalam gerak lambat. Sang naga menerjang batu-batu yang disihir Eizen. Percikan halilintar di sekeliling tubuhnya beradu



dengan tembok batu, menghasilkan rentetan ledakan dahsyat. Benturan bertubi-tubi yang memekakkan telinga menyusul kemudian. Batu-batu besar seukuran kepala orang dewasa terpental ke segala arah saat naga itu menembus pertahanan Eizen. Sebagian sayap dan sisiknya terkelupas. Tapi tetap belum ada darah yang menetes.



Valadin terbeliak saat si reptil raksasa akhirnya menghancurkan lapis terakhir benteng Eizen dan menghantam telak tubuh sang Magus. Untungnya Eizen sempat merapalkan sihir pelindung, yang menyelamatkan dirinya dari luka fatal atau bahkan kematian. Tapi Eizen terpental jauh. Dia tidak mampu berdiri, bahkan menggerakkan mulut untuk sekadar merapalkan sihir perlindungan saja tak mampu.



Sebaliknya setelah nyaris meremukkan Eizen, Naga Indigo mendarat dengan sempurna di atas altar. Menyadari Eizen masih hidup, dia segera mengayunkan ekornya, yang tak ubahnya cambuk besar berduri itu, dan mengarahkannya tepat ke arah Eizen yang terbaring tak berdaya.



***



Laruen memejamkan mata kala ekor sang naga menghunjam Eizen. Dia tidak melihat apa yang terjadi tapi bisa merasakan tumbukan dahsyat ketika ekor naga menghantam sasarannya.



Perlahan-lahan Laruen membuka matanya. Dia terperangah kala menyadari ekor Naga Indigo tidak menghantam Eizen, melainkan Valadin.



Lourd Valadin berdiri di depan Eizen, perisai tergenggam di tangannya. Dia menggunakan perisainya untuk menahan serangan naga—untuk melindungi Eizen.



Eizen sama terkejutnya dengan Laruen saat menyadari apa yang terjadi.



Tapi kebingunan itu tidak berlangsung lama. Sang Naga Indigo mengayunkan ekornya dan menghantam telak perisai Valadin. Kali ini tanpa ampun Valadin terpental ke belakang, nyaris menimpa Eizen.



Laruen, Karth, dan Ellanese berlari bersamaan menghampiri Valadin. Untung mereka melakukannya karena berikutnya sang Naga Indigo mengayunkan jarinya dan ribuan halilintar kembali menghujani pulau. Ellanese merapalkan sihir pelindung tepat pada waktunya. Untuk sementara mereka aman.



Laruen membantu Karth memapah Valadin. Wajah Valadin pucat pasi. Kulitnya memerah akibat tersengat halilintar yang mengaliri ekor naga.



“Mana Eizen?” tanya Valadin. “Apa dia baik-baik saja?” Suaranya begitu lemah, nyaris tidak terdengar di antara dentuman dahsyat yang terjadi di luar kubah pelindung mereka.



Laruen menyadari Eizen menghampiri mereka. Dia pikir pria itu setidaknya akan merasa cemas akan kondisi Valadin, tapi Eizen justru murka.



“Kenapa?!” hardiknya. “Untuk apa melindungiku seperti ini? Kau pikir aku akan merasa berutang budi lalu menolongmu, begitu!?”



Tapi Valadin malah tersenyum. “Syukurlah kau baik-baik saja,” ujarnya pelan. “Kau temanku yang berharga, Zen. Mana mungkin kubiarkan kau mati begitu saja.”



Eizen nyaris tak berkedip mendengar jawaban Valadin, lalu buru-buru memalingkan wajahnya yang memerah ke arah lain.




Laruen ternganga mendengar ucapan itu meluncur dari bibir Eizen. Dia semakin terkejut saat melihat wajah sang Magus. Senyum angkuh dan menyebalkan yang sebelumnya menghiasi bibir pria itu sirna sudah. Eizen terlihat bingung. Dia jelas terpukul melihat Valadin rela terluka parah demi dirinya.



“Tidak!” kata Valadin. “Jangan menyalahkan dirimu. Lagi pula kita masih bisa memenangkan ini.” Dia berusaha bangun.



Laruen menahannya. “Lourd Valadin, sebaiknya Anda tidak bertarung dalam kondisi seperti ini.”



“Aku tidak berencana melakukannya,” kata Valadin. “Lagi pula, Laruen, kau tidak membutuhkanku untuk mengalahkan naga ini.”



Rahang Laruen serasa nyaris lepas saat mendengarnya. “A-aku!?”



“Ya,” jawab Valadin yakin. “Dengan sedikit bantuan dari Eizen tentunya.” Dia berbalik memandang Eizen. “Bersediakah kau meminjamkan kekuatanmu dan bertarung bersama kami, Zen?”



Laruen tidak bisa menahan diri untuk melirik ke arah Eizen. Keraguan yang sebelumnya membayangi mata sang Magus tidak tampak lagi. Sorot mata Eizen sudah kembali seperti semula, tajam dan penuh percaya diri. Tapi Laruen bisa merasakan sesuatu yang berbeda terpancar di sana.



Eizen mengamati Naga Indigo yang bertengger di atas altar selama beberapa saat. Kemudian dia mengangguk. “Aku mengerti,” katanya. Setelah itu, dia ganti menatap Laruen. “Kau siap?”



Tentu saja Laruen gugup bukan kepalang. Dia buru-buru mengalihkan pandangannya pada Valadin. “Apa yang harus kulakukan?” tanyanya.



“Kau ingat kata-kataku tadi, Laruen?” tanya Valadin. “Sebentar lagi waktunya akan tiba. Jangan disia-siakan.”



“Baiklah.” Laruen mengangguk. Dia masih tidak mengerti. Tapi dia tahu Eizen akan memberikan kesempatan untuknya. Dan kali ini, dia tidak boleh meleset.



Hampir bersamaan, Laruen dan Eizen berdiri. Sang Magus mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Naga Indigo. “Kau siap?” tanyanya lagi.



Laruen mengangguk.



Eizen mengentakkan tongkat sihirnya ke arah undakan. “Fargas Aeger!” serunya.



Guncangan hebat menggetarkan pulau kecil itu. Undakan di bawah kaki naga merekah bagai pintu perangkap. Dan sebelum sang naga menyadari apa yang terjadi, rekahan itu mengatup dengan cepat, mengapit kedua tangan dan kakinya.



Sedetik kemudian, terpaan kilat yang menghujani mereka tiba-tiba berhenti. Laruen langsung paham. Sama seperti Magus yang harus merapal mantra untuk menggunakan sihir, sang naga juga harus menggerakkan tangannya untuk melancarkan hujan petir.



Tapi Laruen belum bisa memanahnya. Sang penjaga Templia meraung murka, bergeliat liar dan meronta-ronta. Dan Eizen tidak berniat membiarkannya lolos. Seluruh tubuh Eizen bergetar. Dia mati-matian mempertahankan perangkapnya agar terus mencengkeram naga itu. Setelah adu kekuatan selama beberapa saat, pergerakan sang Naga Indigo melambat.



Laruen langsung tahu inilah kesempatannya. Tanpa buang waktu, dia melesat ke depan sambil merentangkan tali busurnya sampai ke ujung telinga. Percikan cahaya kilat memantul di mata biru sang naga, menandai sasaran yang harus dipanahnya.

__ADS_1



Laruen melepaskan tali busurnya dengan satu gerakan mulus jarinya. Panah yang digenggamnya meluncur kencang dan menembus bola mata biru yang besar itu, merobek pembuluh darah yang terletak tepat di baliknya. Cairan biru keperakan mengalir melalui batang anak panah Laruen, lalu menetes jatuh di atas pulau.



Dengan lolongan terakhir yang membekukan tulang, sang naga menggeliat liar. Dia membebaskan tangan dan kakinya dari timbunan batu dan membuat Eizen tersentak ke belakang. Sang Naga Indigo mengangkat kedua kaki depannya ke udara, lalu tersungkur ke samping dengan debuman yang membuat seluruh pulau berguncang.



Laruen terpana menyaksikannya. Valadin benar. Dia telah melukai naga itu, dengan bantuan Eizen.



“Bagus, Laruen.” Karth berlari menghampirinya.



Tapi Laruen menggeleng. “Tidak,” sanggahnya. “Ini berkat Eizen.” Dia menatap Eizen yang tengah menyimpan kembali tongkat sihirnya ke dalam saku.



Mendadak tubuh sang Naga Indigo bersinar luar biasa terang. Di antara cahaya terang yang menyilaukan itu, muncul sesosok makhluk tak dikenal.



Saat cahaya yang meluap itu mulai reda, Laruen bisa melihat dengan jelas. Sekilas, makhluk itu terlihat seperti seorang wanita berwajah anggun dengan rambut panjang berombak. Tapi lalu Laruen menyadari, alih-alih telinga, wanita itu memiliki sepasang sayap yang terbentang lebar di sisi kepalanya. Bagai burung, wanita itu melayang-layang di hadapan mereka. Dan



sama seperti sang Naga Indigo, seluruh tubuhnya diselimuti halilintar-halilintar kecil.



“Akulah Sang Aether Voltress.” Suaranya nyaring dan tajam. “Kalian semua telah menunjukkan kekuatan yang luar biasa dan melewati ujian dari penjagaku.”



Sang Voltress menatap mereka semua bergantian. Tatapannya berhenti pada Valadin, senyum penuh misteri menghiasi wajahnya yang pucat. “Engkau adalah pemimpin yang baik,” katanya. “Tapi di antara semua yang berada di sini, dialah yang paling berjasa dalam mengalahkanku dan layak mendapatkan kekuatanku.” Voltress mengepakkan sayapnya dan mendekati Eizen.



“Terimalah Relik Safir ini,” katanya. Dia meletakkan sesuatu yang bersinar terang di telapak tangan Eizen. “Dengan ini, kau dapat memanggilku kapan pun. Dan aku akan meminjamkan



kekuatanku padamu.”



Eizen berjengit saat benda itu bersentuhan dengan kulitnya, sedikit menyengatnya. Laruen mencondongkan tubuhnya untuk mengintip dan melihat di tangan Eizen kini terdapat sebuah bros bertakhtakan permata berwarna indigo. Permata itu memancarkan percikan cahaya perak bagaikan kilat, di dalamnya terukir Rune yang melambangkan halilintar. Itulah Relik Safir.



Setelah menyerahkan Relik Safir, sang Voltress melayang ke atas undakan yang telah hancur berantakan. “Perjalanan kalian masih panjang,” ujarnya. “Kumpulkan seluruh Relik Elemental



dari Templia lain untuk mendapatkan kekuatan kami para Aether.” Selesai mengucapkannya, sang Voltress menghilang secepat saat dia muncul. Seperti kilat yang menyambar dari langit, wanita itu lenyap dari hadapan mereka.



Suasana pulau kembali sunyi senyap, tak ada lagi sambaran kilat di langit maupun gemuruh mengerikan. Mereka semua terdiam, tertegun dengan kejadian yang baru saja mereka saksikan. Mendadak Laruen teringat sesuatu.



“Lourd Valadin, luka Anda,” serunya. Seruan Laruen seolah menyadarkan Ellanese dari keterkejutannya. Dia menangkupkan telapak tangannya di atas tubuh Valadin.



“Tidak usah,” tolak Valadin. “Aku masih bisa menahannya. Tenagamu pasti terkuras setelah pertarungan tadi.” Tapi Ellanese tidak menghiraukannya dan menggunakan sihir penyembuhnya pada Valadin.



Laruen mengerutkan bibirnya kesal. Di saat seperti ini, dia hanya bisa melihat dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyembuhkan Valadin.



Pada saat itulah, Eizen tahu-tahu sudah berdiri di hadapan Valadin. Dia menggenggam Relik Safir dengan tangan kanannya. Laruen hampir lupa Eizenlah yang dipilih sang Voltress untuk



mendapatkan kekuatannya.



Ellanese melirik tajam pada Eizen. “Apa kau berniat menyimpan benda itu untuk dirimu sendiri?” tanyanya,



“Entahlah,” jawab Eizen. “Inginnya, sih, begitu.”



“Simpan saja,” kata Valadin tiba-tiba. “Berkat dirimu kita bisa mengalahkan naga itu. Jadi kalau kau ingin memilikinya, aku tidak akan mencegah.”



Laruen tidak memercayai pendengarannya. Bagaimana mungkin Valadin dengan begitu mudah memberikan Relik itu pada Eizen. Memang benar mereka tidak akan mengalahkan Naga Indigo tanpa Eizen. Tapi bukankah Eizen juga berutang nyawa pada Valadin?



Jadi harusnya mereka impas, kan? pikir Laruen.



Lalu bagaimana dengan kelanjutan misi ini jika Eizen benar-benar memutuskan untuk menyimpan Relik Safir sendiri. Entah kejahatan macam apa yang akan dilakukannya dengan Relik itu.



Seribu satu pertanyaan berkecamuk dalam benak Laruen. Dia hampir saja menyuarakan keberatannya ketika Eizen tiba-tiba menarik tangan kanan Valadin dan meletakkan Relik Safir



di atasnya.



“Simpanlah,” ujarnya singkat.



Entah untuk keberapa kalinya hari itu, rahang Laruen serasa nyaris lepas dari tempatnya. Dia memandangi Valadin dan Eizen bergantian, nyaris tidak berkedip.



Valadin menggeleng. “Kau yang mengalahkan naga itu, Zen,” katanya. “Relik ini milikmu.” Dia menyodorkan kembali Relik Safir pada Eizen.



Tapi Eizen memegang tangan Valadin dan mengatupkan jemarinya, lalu mendengus. “Aku tidak serendah itu sampai lupa membalas budi orang yang menyelamatkan nyawaku.” Wajahnya memerah. “Lagi pula, aku sadar beratnya ujian-ujian yang harus kita tempuh nanti. Bersama kalian, aku punya kesempatan lebih baik untuk mendapatkan seluruh Relik Elemental.”



“Jadi, kau akan tetap bersama kami?” tanya Valadin.



Eizen mengangguk pelan.



Tapi bagi Valadin, itu sudah cukup. “Terima kasih,” gumamnya.



Eizen tidak menjawab. Dia berbalik sambil mengibaskan mantelnya ke belakang punggung dan berjalan menuju puing-puing yang sebelumnya adalah undakan dan altar Templia Aether Voltress. Eizen duduk di salah satu puing dan menyendiri di sana.



Laruen menatap punggung pria itu. Malam ini mereka menaklukkan Templia pertama mereka berkat Eizen. Laruen merasa dia mengerti kenapa Lourd Valadin menginginkan Eizen bergabung dengan kelompok mereka. Dan itu bukan karena sang Magus mengetahui Rune Pemangggilan untuk memulai ujian dari para Aether, atau karena kemampuan sihirnya yang dahsyat.


__ADS_1


Ya ... Eizen memang seperti yang didesas-desuskan. Dia kuat, berbahaya, dan tidak bisa ditebak.


__ADS_2