Ther Melian Revelation

Ther Melian Revelation
Episode 8


__ADS_3

Setelah melewati ruang kubah, gua yang mereka lalui menyempit. Ratusan pilar batu rucing mencuat dari atap dan dasar gua dan merintangi jalan. Tapi akhirnya mereka tiba juga di tujuan.



Pusat gua itu berupa ruangan melingkar yang cukup luas. Laruen melihat dua orang sudah menunggu mereka di sana. Menyadari kehadiran Laruen, salah satu dari mereka melepas jubahnya, Valadin.



“Terima kasih sudah datang,” sambutnya ramah. Schalantirnya diselipkan di sabuk kulit dan bergantung di pinggangnya. Ujung pedang itu nyaris menyentuh tanah. Di gua yang gelap, Schalantir berkilau lebih terang dari biasanya.



Nyaris bersamaan, Laruen, Karth, dan Ellanese membuka tudung jubah yang mereka kenakan, kecuali si anggota terakhir. Orang itu bergeming di belakang Valadin.



Seperti biasa Leidz Ellanese mengenakan gaun yang terlihat ringan, senada dengan warna tongkat Vestalnya. Walaupun tidak menyukainya, Laruen harus mengakui Leidz Ellanese memang sangat anggun. Kulitnya yang cokelat gelap terlihat kontras dengan gaun dan rambutnya yang terang.



Sebaliknya, Karth mengenakan celana panjang kulit berwarna gelap dan rompi tanpa lengan, memamerkan tangannya yang ramping namun berotot. Sepasang sabuk kulit melingkari pinggangnya, dengan puluhan pisau lempar berderet di situ.



Karth menimang-nimang jubah hijaunya. “Jubah ini luar biasa,” ujarnya. “Akan sulit menyembunyikan identitas dari kusir kereta dan nelayan yang mengantarkan kami kemari kalau bukan karena jubah ajaib ini.”



“Kerahasiaan adalah bagian dari rencana kita,” kata Valadin.



“Jubah Chamael mengandung sihir yang membaurkan pemakainya dengan sekitarnya. Jubah ini sulit didapat jadi simpanlah baik-baik untuk perjalanan kita selanjutnya.”



Valadin menghampiri sosok bertudung di belakangnya. “Sekarang, mari kuperkenalkan kalian pada anggota terakhir kita. Eizen,” panggilnya, “ayo, perkenalkan dirimu.”



Setelah Valadin mengatakannya, barulah orang yang dipanggil Eizen itu membuka jubahnya. Rambut Eizen yang abu-abu kebiruan tergerai menutupi sebagian wajahnya. Pria itu mengenakan setelan kelabu berlengan panjang. Matanya yang kuning tajam mengamati Laruen dan Karth bergantian. Senyum yang seolah mengejek tersungging di bibirnya, membuat wajah tirusnya tampak mengerikan.



“Zen, ini Karth,” kata Valadin. “Dan ini Laruen ...”



Eizen langsung menyela Valadin. “Seorang Vier-Elv?” tanyanya sembari mengangkat alis



“Laruen berbeda,” Valadin menjelaskan. “Aku memercayainya sepenuh hatiku.”



Wajah dan pipi Laruen terasa panas akibat ucapan Valadin. Karth sampai harus menyikutnya agar memberi salam pada Eizen. Laruen mengulurkan tangannya pada Eizen. Tapi pria itu justru memalingkan wajahnya ke arah lain. Valadin menghela napas lalu memberi isyarat pada mereka untuk mengikutinya. “Ayo,” ujarnya.



Mereka menjelajah semakin dalam ke perut gua. Valadin berjalan paling depan, Eizen dan Ellanese mengikuti di belakangnya. Sementara Karth berjalan paling belakang. Laruen sengaja melambatkan langkahnya sampai menjajari Karth.



“Kau kenal pria menyebalkan itu?” bisik Laruen. “Apa benar dia Magus yang membakar para Daemon tadi? Kenapa aku nggak pernah dengar tentang Magus sehebat itu?”



Karth tersenyum. “Itu wajar, dia jauh lebih tua dari kita semua. Mungkin dua atau tiga ratus tahun lebih tua dari Lourd Valadin”



Perbedaan usia antara Laruen dan yang lain di kelompok itu memang jauh, sangat jauh bahkan. Karth, misalnya, dia sudah berusia enam ratus tahun, Ellanese dan Valadin bahkan lebih tua lagi, sedangkan Laruen bahkan belum dua puluh tahun. Sebagai Vier-Elv, dia tidak dikaruniai umur panjang seperti Elvar murni lainnya.



“Apa dia setenar itu?” Laruen mengangkat alisnya.



“Aku nggak akan bilang tenar, sih,” jawab Karth. “Yang jelas reputasinya nggak bisa dibilang baik.”



“Maksudmu?” desak Laruen.



“Aku nggak kenal dia secara pribadi,” Karth menjelaskan. “Konon dia salah satu Magus terkuat yang pernah hidup di era kita. Tapi perangainya susah ditebak. Sepertinya dulu dia menjabat posisi tinggi di Legiun Falthemnar sebelum dikeluarkan secara tidak hormat.”



Bola mata Laruen nyaris lepas saat mendengarnya. Dia ingat betul kesulitan yang dialaminya ketika mendaftar sebagai pasukan elit Bangsa Elvar itu. Laruen adalah satu-satunya Vier-Elv di Legiun Falthemnar—berkat Valadin tentunya. Sepertinya baru kemarin para Elvar berdarah murni protes karena pengangkatannya itu.

__ADS_1



Dia mengalihkan pandangan pada sosok Eizen yang berjalan di samping Valadin. Kalau pria itu benar-benar pernah menjabat posisi tinggi, tidak diragukan lagi dia pasti Magus yang sangat



hebat.



Tapi kejahatan apa yang dilakukannya sampai harus dipecat? Laruen tidak tahu dan tidak ingin memikirkannya lebih lama lagi.



Setelah beberapa saat, mereka tiba di sisi lain gua. Sebuah pelataran terbuka yang terletak persis di tengah pulau karang menyambut mereka. Pelataran itu dikungkung dinding karang terjal di setiap sisinya.



Walaupun berada di tempat terbuka, Laruen tidak bisa melihat langit malam atau bulan dan bintang. Kabut Gelap yang amat pekat menggantung di langit tepat di atas kepala mereka.



Eizen merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan tongkat kayu tipis berujung logam. Dia membisikkan sesuatu, dan dengan satu gerakan ringan menyihir pijaran-pijaran api yang melayang di sekitar mereka. Laruen merasa lebih tenang kala hangatnya api buatan Eizen menyelimuti tubuhnya.



“Terima kasih, Zen,” Valadin tersenyum. Tapi Eizen tidak acuh dan mengambil tempat di ujung pelataran, jauh dari semua orang.



Pijaran api yang dibuat Eizen menyala terang sehingga Laruen bisa melihat dengan jelas. Di tengah pelataran terdapat undakan yang cukup tinggi, di atasnya ada batu pipih melingkar yang menyerupai meja bundar tak berkaki. Batu itu berbeda dengan batuan lain yang ada di pulau, seakan sengaja dibawa kemari dan disusun sedemikian rupa.



Valadin menaiki undakan dan berdiri persis di depan batu pipih itu. Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. “Selamat datang di Templia Sang Aether Voltress,” ujarnya. Templia adalah tempat suci yang didedikasikan untuk memuja para Aether.



Laruen nyaris tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Valadin tampak begitu memesona, mata dan rambutnya berkilau keemasan di antara pijaran api yang mengitari mereka.



Sebaliknya, Karth mengerutkan alis. “Anda bercanda, kan?” tanyanya. “Pulau terpencil sarang Daemon ini?”



Ellanese mendengus sebal mendengar pertanyaan Karth. “Kau meragukan ucapan Lourd Valadin?”




“Tapi yang tidak kalian ketahui adalah para Aether yang kita puja itu benar-benar hidup dan nyata.” Valadin menatap Karth dan Laruen bergantian sebelum menambahkan, “Dan di pulau inilah Sang Aether Voltress berdiam.”



Laruen tercengang. Valadin menyadari perubahan ekspresi Laruen, tapi dia melanjutkan. “Tetua kita dan Ratu Ratana mengetahui hal ini, tapi mereka memilih merahasiakannya. Mereka merahasiakan lokasi ketujuh Templia tempat para Aether hidup, salah satunya adalah pulau ini.”



Tapi Karth tidak semudah itu percaya. “Tapi kalau Ratu dan Terua merahasiakan hal ini, dari mana Anda mengetahuinya?”



Valadin tersenyum mengerti. “Karena Aku dan Ellanese adalah Gardian, Penjaga Rahasia Templia ini. Tugas kami adalah melindungi Templia dan keberadaan Aether di benua yang semakin dipadati oleh Manusia,” jelas Valadin.



“Lalu apa yang tujuan Anda mengundang kami kemari dan menceritakan semua ini?” tanya Karth lagi.



“Aku mengundang kalian,” jawab Valadin. “Karena aku membutuhkan bantuan kalian untuk mendapatkan kekuatan para Aether.”



Laruen terbelalak. “Apa!?”



Eizen yang sedari tadi membisu, tiba-tiba berbicara. “Para Aether menjanjikan kuasa atas elemen mereka pada kita. Jika kita mampu melewati ujian yang mereka berikan, tentunya,” dia menjelaskan dengan suara berat yang agak parau.



Kali ini Laruen takjub, itu pertama kalinya dia mendengar Eizen bicara lebih dari dua kata.



Valadin meneruskan. “Eizen benar. Bisa kalian bayangkan, kuasa penuh atas ketujuh elemen yang menyusun dunia ini dan isinya. Kekuatan sebesar itu akan mengubah kedudukan bangsa



kita di benua ini.”

__ADS_1



“Tunggu dulu,” sela Karth. “Kalau memang begitu adanya, kenapa para Tetua tidak menggunakan kekuatan Aether saat Perang Besar melawan bangsa Draeg seribu lima ratus tahun yang lalu? Kenapa kita yang pertama kali mencobanya?”



Valadin hendak menjawab, tapi Eizen mendahuluinya. “Tidak! Akulah yang pertama,” jawabnya tajam. “Dulu aku juga Gardian. Aku ingin melihat dan merasakan kekuatan para



Aether.”



Karth mengangkat alisnya. “Apa boleh kusimpulkan itulah sebabnya kau dipecat?”



“Begitulah,” jawab Eizen. “Dan kalian juga akan bernasib sama denganku kalau para Tetua mengetahui hal ini,” dia mengedarkan pandangannya pada semua orang.



Ellanesse mengentakkan tongkatnya dengan kasar ke tanah. “Jangan samakan kami denganmu,” hardiknya. “Kami tidak menginginkan kekuatan itu untuk diri sendiri. Kami melakukan ini demi kebaikan Bangsa Elvar.”



Eizen tertawa getir. “Jangan melawak!” dia balas menghardik. “Kalian melakukan ini karena jauh dalam lubuk hati kalian, kalian menyadari bangsa kita lemah. Kita tak ubahnya sampah di benua ini! Aku tidak mau menjadi bagian dari bangsa lemah, itulah alasanku melakukannya.”



Cerita Karth tentang reputasi Eizen terbukti dengan sendirinya. Belum sampai satu jam mengenal pria itu, Laruen langsung paham mengapa Leidz Ellanese membenci pria itu. Sepertinya untuk hal ini, dia dan Ellanese sependapat.



Tapi belum lagi Ellanese sempatmembalas hinaan Eizen, Valadin menyela. “Tidak, Zen,” katanya. “Bangsa kita kuat. Hanya saja mereka tidak menyadari kemampuan yang mereka miliki. Ratu Ratana dan para Tetua terlalu lama berpegang pada aturan-aturan kuno. Tugas kitaadalah menyadarkan mereka akan kekeliruan itu.”



“Kau tidak bisa menyadarkan keledai dari kebodohan mereka sendiri,” tukas Eizen gusar. “Aku sudah mencobanya, lihat apa yang terjadi padaku?”



Ellanese—yang memang tidak menyembunyikan kebenciannya terhadap Eizen—melangkah maju. Andai Valadin tidak menahannya, dia pasti sudah menampar Eizen.



“Mungkin bagimu impianku ini terlalu ambisius,” kata Valadin. “Tapi aku percaya, kau juga punya mimpi yang sama. Itu alasanmu berada di sini bersama kami, kan?” tanyanya.



Kali ini Eizen hanya mengatupkan rahangnya erat-erat. Valadin berbalik, ganti memandang Laruen dan Karth. “Kita di sini untuk memperoleh kekuatan para Aether dan memberikan harapan pada bangsa kita. Para Tetua dan Ratu Ratana terlalu keras kepala untuk melihat kenyataan. Kalau bukan kita yang melakukan ini, lambat laun benua ini akan hancur di tangan



Manusia.”



Kesunyian menyambut ucapan Valadin. Laruen tidak mendengar apa pun selain deru ombak yang pecah di sepanjang pantai.



“Aku sudah mengatakan semua yang perlu kukatakan,” Valadin menambahkan. “Tapi aku harus mengingatkan. Jika kalian memutuskan untuk menjalankan misi ini, kalian harus siap dengan segala risikonya. Termasuk menyakiti saudara sebangsa kita atau bahkan ... membunuh mereka.”



Laruen tersedak kaget. “Maksud Anda?”



“Aku memilih Templia ini sebagai lokasi pertama karena aku dan Ellanese adalah Gardiannya. Tapi di Templia yang lain kita akan harus berhadapan dengan para Gardian lain. Mereka akan mempertarukan nyawa untuk menghentikan kita,” jelas Valadin.



Eizen mengangkat bahu. “Aku tidak peduli. Para tetua pernah menggagalkanku sekali. Tidak akan kubiarkan siapa pun menghalangiku kali ini.”



Ellanese menggeleng lemah. “Jatuhnya korban memang patut disayangkan,” ujarnya. “Tapi aku paham risikonya dan memutuskan untuk terus maju. Bagaimana dengan kalian?” tanyanya sambil mengamati Laruen dan Karth.



Laruen menghindari tatapan tajam Ellanese dan melirik Karth. Dia bisa melihat partnernya mengangguk pelan.



“Sudah sejauh ini. Tidak mungkin mundur lagi, kan?” kata Karth.



Laruen buru-buru menoleh ke arah Valadin. “A-aku juga,” ujarnya. “Aku akan selalu bersama Anda apa pun yang terjadi, Lourd Valadin.”


__ADS_1


“Aku senang mendengarnya.” Valadin tersenyum. “Nah, malam semakin larut. Kita sebaiknya memanggil Sang Aether Voltress sekarang.”


__ADS_2