
Mata Valadin tertumbuk pada Relik Rubi di genggamannya. Cincin itu berpendar merah, semerah darah, seakan mewakili kesedihan dan perasaan bersalah yang menggumpal dalam hatinya.
Rasa sakit yang tak tertahankan seketika menyeruak dari dadanya, mengoyak kewarasannya. Tapi, Valadin bertahan untuk tidak menunjukkannya. Dia harus kuat. Demi teman-temannya, dan demi masa depan yang diimpikannya.
Valadin memalingkan pandangannya dari cahaya merah menyilaukan itu. Tapi tatapannya justru tertumbuk pada zirah dan pedangnya yang ternoda darah, pengingat bahwa hari ini dia telah jatuh dalam dosa yang tak terampuni demi memenuhi ambisinya. Dan sebagai hukuman, dia harus kehilangan sesuatu yang amat berharga baginya.
Empat bulan yang lalu saat mulai merencanakan semua ini, Valadin sudah menyadari risikonya. Tapi sama sekali tak tebersit dalam pikirannya bahwa keadaannya akan menjadi seperti ini.
***
Bulan yang terlihat bagaikan cincin bersinar mengintip dari balik awan gelap yang menyelimuti Hutan Telssier.
Hutan luas itu memenuhi hampir seluruh ujung utara Benua Ther Melian—benua tropis kecil yang diselimuti kabut dan terletak tepat di tengah khatulistiwa dunia Terra.
Valadin berdiri di antara tanah lapang yang diapit pohon akasia. Dia menatap kelamnya malam, seolah menantikan sesuatu. Layaknya seorang Elvar, kegelapan malam sama sekali tidak membuatnya terganggu.
Seorang Elvar wanita berdiri tak jauh darinya. Partnernya—Ellanese. Rambut Ellanese yang sewarna kuning jagung berombak dan terurai hingga ke pinggul. Dia menggenggam sebatang tongkat putih panjang yang menyerupai tongkat untuk berjalan, tapi puncaknya bertakhtakan kristal bening. Ellanese terlihat seperti gadis berusia dua puluhan, tapi Valadin tahu usianya sudah tujuh ratus tahun. Hanya beberapa tahun lebih tua dari dirinya.
“Lourd Valadin—” Ellanese hendak mengatakan sesuatu, tapi koakan seekor elang dari kejauhan mengejutkannya.
Valadin tersenyum, elang itu adalah jawaban dari penantiannya. Dia bergegas mengikuti kelebatan elang dan menuju tanah lapang beberapa ratus meter di sebelah utara hutan.
Di tengah tanah lapang, seorang gadis muda berambut cokelat sebahu merentangkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit. Si elang menukik di antara dahan pepohonan sebelum mendarat di sarung tangan gadis itu.
Gadis itu sangat muda jika dibandingkan Valadin. Usianya tak lebih dari delapan belas tahun. Bola matanya yang besar dan berwarna merah kecokelatan tampak berseri-seri saat membelai tengkuk elangnya.
Laruen menoleh ke arah Valadin. “Lourd Valadin,” sapanya, buru-buru memberi hormat menyambut Valadin. “Apa yang Anda lakukan di sini?”
“Aku mencarimu,” jawab Valadin. Dia memberi isyarat pada Laruen agar bersikap biasa saja. Valadin tidak terlalu menyukai formalitas.
Laruen balas tersenyum. Tapi senyumnya sirna ketika menyadari kehadiran Ellanese yang menyusul di belakang Valadin.
“Selamat malam, Leidz Ellanese.” Laruen menatap enggan pada Ellanese. Lourd dan Leidz adalah panggilan hormat dari Elvar yang lebih muda pada mereka yang lebih tua.
Namun Ellanese membalas sapaan Laruen dengan dengusan pelan. Valadin menghela napas berat. Ellanese dan Laruen bagai kucing dan anjing. Tidak heran, mengingat Ellanese membenci kaum Vier-Elv, dan Laruen adalah seorang Vier-Elv.
“Apa yang dikatakan Peregrine padamu?” tanya Valadin, mencoba mencairkan suasana. Peregrine adalah nama elang Laruen.
Laruen mengembuskan napas sebelum menjawab. “Peregrine baru saja melihat komplotan pencuri, tidak terlalu jauh dari sini. Tapi aku khawatir kita terlambat.” Suara gadis itu bergetar ketika melanjutkan laporannya. “Mereka sudah mendapatkan tanduknya.”
Valadin tertunduk. “Lagi-lagi,” sesalnya dengan suara tercekat.
Kesunyian panjang menyusul kabar buruk yang disampaikan Laruen. Dengung serangga dan gemerisik dedaunan pun tak mampu memecahkannya.
“Mungkin lebih baik kita melihatnya langsung?” tanya Laruen, yang dijawab Valadin dengan anggukan pelan.
__ADS_1
Laruen melepaskan Peregrine, yang langsung melesat ke angkasa untuk menunjukkan arah. “Silakan, Lourd Valadin, Leidz Ellanese.”
Ditemani Laruen dan Ellanese, Valadin berjalan melintasi hutan yang gelap dan berkabut. Dia mengandalkan penglihatannya yang setajam rubah untuk menemukan jalan di antara rimbunnya pohon akasia dan semak kaliandra. Kepakan Peregrine yang mengangkasa di atas hutan memandunya ke arah yang harus dituju.
Sesampainya di kaki tanjakan, Valadin berhenti. Dari celah-celah kanopi hutan dia melihat Peregrine menukik ke balik kumpulan pohon jati.
“Di balik tanjakan itu,” ujar Laruen.
Valadin mulai mendaki secepat yang bisa dilakukannya. Dia berhenti ketika sampai di puncak tanjakan. Begitu juga Laruen dan Ellanese yang menyusul belakangan.
Di hadapannya, Peregrine hinggap di atas dahan pohon jati. Burung itu berkoak pelan sembari menatap Shadhavar yang terkapar di dasar pohon.
Dada Valadin langsung terasa sesak menyaksikan pemandangan memilukan itu. Tanduk si Shadhavar telah terpotong. Sebuah luka tusuk menganga di sisi bawah perutnya yang lunak, sepertinya pemburu yang melukainya tidak memiliki senjata yang mampu menggorok leher Shadhavar yang tertutup bulu tebal. Darah yang mengucur dari luka itu menodai bulunya yang indah serta menciptakan genangan gelap di tanah.
Hewan malang itu tidak dapat bersuara, apalagi bergerak, sepertinya akibat pengaruh obat bius yang digunakan para pemburu untuk melumpuhkannya. Si Shadhavar balas menatap Valadin. Matanya yang kelabu besar memancarkan kesedihan dan kesakitan, seolah bertanya, apa yang terjadi pada dirinya? Mengapa dia harus disakiti sedemikian rupa?
Valadin tak sanggup menatapnya lebih lama. Perlahan dia mendekati rusa itu dan berlutut di sampingnya. Darah Shadhavar mengotori jubah dan sepatunya, tapi dia tidak peduli. Valadin membelai lembut leher hewan itu.
Tanpa diminta Ellanese menghampiri mereka sambil mengarahkan tongkat putihnya ke tubuh Shadhavar dan memejamkan mata. Kristal bening di ujung tongkatnya bersinar. Cahaya putih hangat berpendar dari kristal itu, menyelimuti Shadhavar selama beberapa saat.
Tak lama kemudian Ellanese menurunkan tongkatnya. Dia menggeleng lemah pada Valadin.
“Aku akan mengakhiri penderitaanmu,” bisik Valadin di telinga Shadhavar. Dia memejamkan matanya dan berdoa. “Hamadryad, Sang Aether pelindung hutan dan seisinya, aku mengirimkan jiwa redup ini untuk kembali bersinar di sisimu.” Valadin lalu berdiri dan mencabut sebilah pedang dari pinggangnya.
Pedang itu panjangnya kira-kira setengah badan Valadin. Bilahnya berpijar terang, bahkan dalam kegelapan. Itulah Schalantir, pedang yang ditempa dengan logam langka dan mengandung kekuatan sihir. Kekuatan suci yang bersemayan di dalam Schalantir membuat pedang itu bersinar terang, walaupun usianya sudah lebih dari ratusan tahun.
Valadin menghunjamkan pedangnya ke luka menganga di perut Shadhavar. Makhluk itu menjerit tanpa suara ketika ujung tajam Schalantir menembus jantungnya. Matanya terbeliak lebar saat dia akhirnya tewas.
Valadin berlutut dan menutup kelopak mata si rusa dengan tangannya. Dia mengatupkan rahangnya dengan geram. Sebagai Eldynn—kesatria suci—yang melindungi dan membela mereka yang lemah, mencabut nyawa Shadhavar itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya. Tapi dia tidak punya pilihan lain ...
Shadhavar diburu untuk tanduknya yang berlubang. Tanduk itulah yang diincar para kolektor benda langka. Saat ini jumlah Shadhavar yang tersisa tinggal sedikit sekali. Makhluk itu, beserta hampir seluruh hewan ajaib yang hidup di Hutan Telssier, berada di ambang kepunahan.
Laruen berlutut di samping Valadin. Jemarinya meraba permukaan tanah. Valadin menyadari keberadaan empat jejak kaki yang berpencar menuju dua arah.
“Salah satunya pasti membawa tanduk itu,” desis Laruen.
Ellanese setuju. “Kita bisa berpencar. Dalam hitungan menit
mereka akan tertangkap.”
__ADS_1
Namun Valadin menggeleng. “Tidak perlu,” katanya.
“Untuk apa? Mereka hanya akan diserahkan kepada pihak yang berwajib, lalu dihukum dengan hukum Manusia. Itu tidak akan mengembalikan nyawa Shadhavar ini.”
“Aku tidak berniat menyerahkan mereka pada pengadilan,” ujar Ellanese geram. “Mereka pantas mendapat nasib yang sama dengan Shadhavar ini!” Matanya sama sekali tidak memancarkan keraguan saat mengucapkannya.
Valadin menatap Ellanese sambil tersenyum lemah. Jika menyangkut bangsa lain—terutama Manusia—Ellanese acapkali hilang kesabaran dan mengucapkan hal-hal yang tak terduga.
“Seorang Vestal yang penuh kasih dan pengampunan tidak seharusnya mengucapkan kata-kata seperti itu,” Valadin mengingatkan. Dia membersihkan ujung pedangnya dengan kain jubah. Valadin berdiri dan mendongak, menatap lurus ke arah langit yang kelam. Bulan dan bintang tak lagi terlihat, tertelan Kabut Gelap yang menggelayut. “Sebentar lagi tempat ini akan dipenuhi Kabut Gelap,” lanjut Valadin. “Kita sebaiknya menguburkan Shadhavar ini dengan layak sebelum para Daemon tiba.”
Laruen mengangguk. “Aku mengerti,” ujarnya tersendat. “Serahkan saja padaku.” Napasnya tertahan seolah menahan sesuatu.
“Ada apa?” tanya Valadin.
“Maafkan aku,” kata gadis itu akhirnya. “Aku bertanggung jawab menjaga bagian hutan ini. Semua ini terjadi karena kelalaianku.”
“Aku tidak menyalahkanmu,” kata Valadin. “Kau sudah melakukan yang terbaik.” Dia menepuk pelan pundak Laruen. “Lagi pula tak banyak yang bisa kita lakukan. Manusia sudah mengambil alih benua ini. Bangsa yang tiba di benua ini seribu lima ratus tahun yang lalu justru menyingkirkan kita yang lebih dulu ada di sini,” sesal Valadin. “Kejayaan bangsa kita berakhir berabad-abad lalu saat Ratu Ratana dan para Tetua menandatangani Perjanjian Tiga Bangsa. Mereka tak ubahnya menyerahkan benua ini untuk dikuasai Manusia,” tambahnya.
Sesaat semua terdiam. Hanya desir angin dan pekikan pelan Peregrine yang terdengar.
“Laruen, kau seorang Vier-Elv,” kata Valadin tiba-tiba. “Apa pendapatmu tentang Manusia?”
“Aku benci mereka!” sahut Laruen. “Mereka menodai hutan ini dengan ketamakan mereka. Membayangkan bahwa tubuhku dialiri darah manusia saja sudah membuatku jijik,” lanjutnya dengan suara dingin.
Valadin tersenyum mendengar jawaban itu. Dia sudah menduganya. “Aku memimpikan masa depan yang indah untuk benua ini,” katanya. “Masa depan di mana makhluk-makhluk seperti Shadhavar bisa hidup tanpa takut diburu. Sebuah era baru di mana bangsa Elvar kembali berkuasa dan dihormati seperti yang pernah terjadi ribuan tahun yang lalu. Era di mana tak ada lagi darah dan kematian akibat keserakahan Manusia. Apa kau juga pernah memimpikan hal yang sama?”
Laruen melirik jasad Shadhavar di sebelahnya. “Setiap kali aku menyaksikan hal seperti ini, Lourd.” Suaranya terdengar putus asa.
“Aku senang mengetahui kita memiliki impian yang sama,” Valadin tersenyum. Dia menatap Laruen lekat-lekat. “Apa kau rela berkorban demi impian itu?”
Laruen membalas tatapan Valadin, tak ada sebersit keraguan di matanya. “Nyawaku pun akan kukorbankan asal hal itu bisa terwujud, Lourd Valadin.”
“Bagus.” Tatapan Valadin berubah lembut. “Saatnya sudah semakin dekat.”
“Katakan saja apa yang harus kulakukan,” ujar Laruen berapi-api. “Aku siap melaksanakannya.”
“Sabar,” ujar Valadin tenang. “Segala sesuatu ada waktunya. Aku masih menunggu jawaban dari dua teman yang lain sebelum kita bisa memulai semua ini.”
“Siapa mereka?” tanya Laruen tak sabar.
“Kau akan mengetahuinya saat waktunya tiba. Tapi untuk sementara, rahasiakan dulu masalah ini dari semua orang. Bisakah aku memercayaimu?” tanya Valadin, yang dijawab Laruen dengan anggukan mantap.
“Bagus. Kita akan mengembalikan kejayaan bangsa Elvar,” kata Valadin. “Sudah terlalu lama kita menjadi bangsa kelas dua, di bawah bayang-bayang Manusia.” Dia menepuk Pundak Laruen.
__ADS_1
Valadin menyarungkan kembali Schalantir. Dia berbalik dan berjalan ke arah pepohonan yang tidak tertutup Kabut Gelap. Zirahnya berpendar pucat di bawah sinar rembulan yang mengintip dari balik Kabut. Dia tersenyum. Sebentar lagi segalanya akan dimulai …