Ther Melian Revelation

Ther Melian Revelation
Episode 13


__ADS_3

Matahari belum terbit saat Vrey dan Aelwen meninggalkan kedai. Saat makan malam kemarin, Vrey sudah mengucapkan semua yang ingin dia ucapkan. Akan lebih mudah pergi tanpa mengulangi perpisahan itu, jadi dia pergi tanpa membangunkan teman-temannya.



Mereka menyusuri jalan-jalan kota yang becek karena hujan semalam. Embun pagi bercampur kabut tipis tidak menghalangi langkahnya. Tas besar di punggungnya terasa bagai beban berat yang menggelayut di dalam hatinya. Tak lama kemudian mereka tiba di gerbang di sisi selatan Mildryd yang terbuka.



Vrey menoleh ke belakang. Dia menatap lekat-lekat kota tempatnya tinggal sejak kecil. Atap Kedai Kucing Liar sudah tidak terlihat karena bangunan kecil itu terletak jauh dari gerbang kota. Untuk beberapa saat, Vrey berdiri bergeming di situ, tenggelam dalam kenangannya.



Aelwen membuyarkan lamunan Vrey. “Sudah saatnya pergi,” katanya.



Vrey mengangguk tanpa melepaskan tatapannya dari kota. “Setelah kembali dari Falthemnar lima tahun yang lalu, aku nggak pernah terpikir akan meninggalkan tempat ini lagi. Kali



ini entah aku nggak akan kembali lagi atau nggak ...”



“Itu tidak akan terjadi!” sahut Aelwen tegas. “Kita memang tidak bisa meramalkan apa yang akan terjadi. Tapi aku yakin kita akan pulang lagi ke kota ini.” Dia menatap Vrey tajam. “Aku akan menemanimu sampai kita mendapatkan Jubah Nymph. Kau sudah menolongku saat aku terdampar di kota ini. Sekarang giliranku,” lanjutnya. Aelwen mengulurkan tangannya pada Vrey dan tersenyum, bukan senyum manis dan lemah lembut yang biasa dilihat Vrey, tapi senyum yang begitu menenangkan dan penuh percaya diri.



Vrey terkejut, Aelwen terlihat begitu tegar hari ini. Sedikit ragu, Vrey menyambut uluran tangannya. Mereka berjalan bersama meninggalkan gerbang kota. Awan mendung melapisi langit di atas Mildryd, melindungi mereka dari sinar matahari. Bersama-sama mereka menyusuri jalan besar yang terbentang di luar kota selama hampir dua jam sebelum menumpang kereta pedagang yang mereka temui. Di depan jalan besar yang menuju desa lain, barulah mereka berdua turun. Saat itu sudah lewat tengah hari. Mereka berhenti untuk makan siang dan beristirahat.



“Kita sudah menempuh jarak yang lumayan.” Aelwen membuka peta pemberian Clyde. “Posisi kita sekarang kira-kira di sini,” tambahnya sambil menunjuk ke suatu lokasi di peta.



Tapi hanya sejauh itulah mereka bisa menikmati kemudahan. Karena selewat desa itu, tidak banyak kereta yang melintas. Pada musim seperti ini, kereta yang menuju atau datang dari Granville amat jarang. Mereka harus meneruskan dengan berjalan kaki mulai sekarang.



“Kita nggak begitu jauh dari Mildryd,” kata Vrey. “Di sekitar kita masih ada beberapa desa kecil. Jadi sampai nanti malam kita nggak akan menemui bahaya. Tapi mulai besok, kita akan memasuki wilayah rawa tak berpenghuni. Aelwen, coba kau amati peta itu, apa ada jalur lain yang bisa kita tempuh untuk sampai ke Granville? Sebisa mungkin aku nggak mau melewati jalan utama setelah ini,” lanjutnya.



Aelwen memperhatikan peta dengan saksama. “Seharusnya ada beberapa rute tua yang sudah jarang dipakai, kenapa?”


__ADS_1


“Kita akan rentan diserang perampok kalau terus berjalan di jalan utama. Kalau kita lewat jalan kecil tersembunyi, keberadaan kita nggak akan terlalu mencolok,” Vrey menjelaskan.



Aelwen tampak ragu. “Tapi jalan-jalan ini sepertinya sudah lama tidak digunakan. Mungkin akan ada Daemon di sana. Kau yakin?” tanyanya.



“Nggak apa-apa,” jawab Vrey. “Kalau kita menghindari Kabut Gelap dan menyalakan api, Daemon nggak akan mengganggu kita. Sebaliknya di jalan besar, nyala api justru memberitahukan keberadaan kita pada perampok.”



“Kurasa kau benar.” Aelwen berdiri, melipat peta dan menyimpannya dengan hati-hati ke dalam tasnya.



“Ayo,” kata Vrey. “Kita akan menggunakan jalan tua itu mulai sekarang supaya besok kita sudah terbiasa!”



Mereka melanjutkan perjalanan melalui jalan-jalan kecil yang nyaris hilang ditelan waktu. Aelwen menggunakan peta dan kompas untuk menentukan arah, sementara Vrey mengandalkan kejelian matanya untuk mencari sisa-sisa jalan setapak di antara rumput liar. Mereka baru berhenti ketika matahari terbenam. Kali ini jarak yang mereka tempuh tidak sebaik yang mereka harapkan.



Vrey menggunakan sihir untuk menyalakan api, sementara Aelwen mendirikan tenda. Setelah itu, mereka mulai memasak makan malam—seekor tupai liar yang siang tadi ditangkap Vrey.




Aelwen menggigit daging tupai, lalu mengamati peta. “Kota terdekat yang bisa kita capai, Kynan, berjarak sekitar dua minggu perjalanan dari sini. Kita bisa berhenti di sana nanti,” katanya menjelaskan.



Vrey mencondongkan badan untuk mengintip peta di pangkuan Aelwen. “Boleh juga, tapi sisa uangku nggak banyak. Kita nggak bisa menginap di sana lama-lama.”



“Kurasa kita cuma perlu membeli beberapa perbekalan. Dan siapa tahu, kalau kita beruntung ada kereta yang bisa kita tumpangi menuju Granville.”



“Kau benar.” Vrey menyukai rencana itu. “Dasar Gill sialan! Apa dia nggak bisa menunggu sebulan atau dua bulan lagi sebelum mengusirku. Saat itu akan lebih mudah menemukan tumpangan menuju Granville.”



“Justru karena itu,” sahut Aelwen tertawa. “Saat ini nggak banyak kereta, jadi nggak banyak pesanan juga. Kurasa Gill memilih waktu yang tepat untuk menyuruhmu pergi, saat dia nggak membutuhkanmu.”

__ADS_1



Vrey tertawa masam. Dia merebahkan punggungnya di karpet rumput. Saat itulah dia menyadari pemandangan luar biasa yang terhampar di atasnya. Langit malam tak ubahnya kanvas hitam dengan taburan bintang di permukaannya. Dia belum pernah melihat langit seindah itu sebelumnya. Vrey terpana.



“Aelwen, lihat ke atas.”



Aelwen menurut dan terperangah menyaksikan pemandangan itu. “Dari jendela di kamar kita, bintang-bintang tidak terlihat sedekat dan seterang ini,” kata Aelwen kagum.



Vrey tertawa kecil. “Kita beruntung malam ini nggak mendung, apalagi hujan. Kalau nggak, kita nggak mungkin menikmati pemandangan seperti ini. Besok atau lusa mungkin kita nggak akan seberuntung ini lagi.”



“Ini, kan, sudah menjelang awal musim cocok tanam, kurasa cuaca akan bagus sepanjang perjalanan. Kenapa kau selalu berpikiran jelek, sih?” Aelwen mengerutkan sebelah alisnya.



“Aku cuma bersikap realistis!” sahut Vrey. Senyumnya menghilang. “Di dunia ini, nggak ada sesuatu yang cuma-cuma. Untuk mendapat sesuatu yang kita impikan, kita harus kehilangan sesuatu yang sama berharganya. Itu aturan mainnya.” Vrey duduk dan menatap tasnya yang berisi sayap Nymph. “Untuk mendapat Jubah Nymph, aku harus meninggalkan rumahku. Aku nggak akan kaget kalau cuaca buruk akan menyertaiku selama perjalanan ini.”



Aelwen menepuk pundak Vrey perlahan. “Hei, kita akan mendapatkan jubah itu. Aku tahu kita bisa.”



Vrey tertunduk mendengar ucapan Aelwen, “Aku baru ingat. Aku belum minta maaf padamu atas kekasaranku kemarin.”



“Sudahlah. Aku juga salah melanggar janjiku.”



“Nggak.” Vrey menggeleng lemah. “Justru aku berterima kasih karena kau menceritakannya pada semua orang. Kalau Gill nggak memaksaku, aku mungkin sudah menyerah.” Vrey mendongak menatap langit, membiarkan kegelapan tanpa batas memenuhi pandangannya untuk sesaat. “Dan kalian benar,” lanjutnya, “Jubah Nymph sangat berarti bagiku. Memburu benda itu seperti memberiku tujuan hidup selama lima tahun terakhir. Aku nggak boleh melepaskannya begitu saja.” Selesai mengatakannya, Vrey merasakan kelegaan yang tidak disangka-sangka, membuatnya merasa sesuatu yang mengganjal di hatinya seperti menguap ke langit malam. Dia menarik napas panjang dan merebahkan kembali punggungnya di atas hamparan rumput



“Aku senang kau memercayaiku, Vrey.” Aelwen ikut berbaring dan memiringkan kepalanya ke arah Vrey.



Untuk sesaat Vrey merasa seolah mundur ke masa lalu. Dia ingat pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya, berbaring di hamparan rumput dengan seseorang di sampingnya. Orang itu juga memiringkan tubuhnya hingga wajah mereka begitu dekat dan napas mereka bercampur. Vrey merasa dadanya sesak, kenangan bersama orang itu, yang sudah lama dikuburnya dalam-dalam, mendadak muncul tanpa bisa dicegah.

__ADS_1



“Yeah,” jawab Vrey gugup. Dia merentangkan tangan lebar-lebar, berpura-pura menguap untuk menyembunyikan kegugupannya. “Aku juga. Sudah malam, sebaiknya kita istirahat. Perjalanan kita masih panjang.”


__ADS_2