Ther Melian Revelation

Ther Melian Revelation
Episode 2


__ADS_3

Vrey memejamkan mata, pasrah tatkala kobaran api menyambar tubuhnya. Panas api menyungkup wajahya, membuat napasnya sesak.



Gadis itu menyadari hidup yang dijalaninya penuh bahaya dan risiko. Sebagai pencuri dan pemburu liar yang berulang kali melakukan perbuatan nekat—kalau tidak mau disebut gila—Vrey selalu berteman dengan bahaya. Hanya tinggal menunggu waktu sampai keberuntungan tak lagi berpihak padanya, maka segalanya akan berakhir.



Tapi tak sekali pun Vrey mengira hidupnya akan berakhir seperti ini. Di hadapan orang yang sangat berarti baginya.



Panas yang menyengat kulit Vrey perlahan menghilang. Segalanya menjadi kabur dan gelap. Pikirannya melayang mundur pada peristiwa empat bulan yang lalu, saat semua ini belum terjadi.



***



Bulan yang terlihat bagaikan cincin bersinar mengintip dari balik awan gelap yang menyelimuti Hutan Telssier.



Vrey berjaga di sebuah pelataran kecil di antara pohon jati. Kelebat seekor kelelawar yang terbang beberapa meter di sampingnya membuat gadis itu berjengit. Wajar jika Vrey waspada. Dia dan teman-temannya tengah menyusup ke Hutan Telssier, tempat suci bangsa Elvar, bangsa asli penghuni benua Ther Melian.



Walaupun bangsa Elvar terlihat rupawan, Vrey tahu benar untuk tidak meremehkan mereka. Elvar memiliki pendengaran dan penglihatan setajam rubah dan mampu bergerak secepat angin. Namun yang lebih hebat lagi, Elvar adalah makhluk abadi, mereka awet muda dan tidak akan mati karena usia tua.



Manusia, yang merupakan bangsa pendatang di benua ini, tidak memiliki semua keistimewaan itu. Vrey sendiri seorang Vier-Elv, setengah Elvar setengah Manusia. Dia mewarisi pendengaran dan penglihatan tajam bangsa Elvar. Itulah mengapa dia mendapat tugas berjaga,



sementara teman-temannya bekerja.



Gadis itu melirik ke tepi pelataran tempat dua temannya, Blaire dan Rufius, tengah menata jebakan jala. Di sisi mereka, si bocah Evan memegangi lentera minyak. Blaire, Rufius, dan Evan adalah Manusia, karena itu mereka memerlukan lentera untuk melihat dalam kegelapan.



Mereka semua masih sangat muda. Vrey sendiri baru berusia delapan belas tahun, tapi dia sudah terkenal sebagai pencuri dan pemburu andal. Sekalipun demikian, orang yang tidak mengenal Vrey tidak akan menyangkanya sama sekali.



Selain Vrey, kaum Vier-Elv umumnya selalu menjauhi masalah. Mereka tidak akan melanggar hukum Elvar, apalagi melakukan hal terlarang, terlebih mengendap-endap tengah malam buta di hutan suci bangsa Elvar seperti yang dilakukan Vrey saat ini.



Ya ... Vrey tersenyum kecut. Mungkin dialah satu-satunya Vier-Elv yang memilih hidup sebagai pencuri dan pemburu liar. Tapi, Vrey tidak menyesalinya—



“Bocah!” Bentakan Blaire membuyarkan lamunan Vrey.



“Turunkan lenteranya! Kau berniat mengumumkan keberadaan kita pada para Elvar, apa?!” omel wanita berambut merah itu.



Si bocah—Evan—buru-buru menurunkan lentera minyaknya sampai-sampai nyaris menyambar ikat kepala Rufius.



“Kau sudah bosan hidup, Nak?” hardik Rufius.



“M-Maaf,” suara Evan terdengar bagai cicitan tikus. “Aku tidak menyangka Hutan Telssier gelap sekali. Aku takut.”



Blaire menatap Evan tajam. “Bukannya kau sendiri yang merengek ikut? Sekarang tutup mulut dan pegang lentera itu baik-baik!”



Tak berani membantah, anak laki-laki berambut pucat itu meringkukkan badan dan menggenggam lenteranya erat-erat.



Vrey tersenyum. Dia tahu, Blaire tidak benar-benar marah. Tadi sore, Evan memang sesumbar macam-macam agar diizinkan ikut dalam perburuan kali ini. Sebagai anggota termuda dalam komplotan mereka, bocah itu sudah tidak sabar ingin unjuk kemampuan agar tidak diremehkan terus-menerus.



Sayangnya, keinginannya yang muluk berbanding terbalik dengan kemampuannya, pikir Vrey.



Gadis itu teringat betapa bersemangatnya dia saat pertama kali diizinkan berburu. Dan keinginannya untuk membantu malah hampir membuat semuanya berantakan. Tetapi itu dulu sekali, saat Vrey bahkan belum bisa mengayunkan belatinya dengan benar. Sekarang, dia sudah sangat berbeda dari anak perempuan pucat yang selalu ingin membuktikan diri itu.



Telinga Vrey tiba-tiba menangkap suara gemeresik daun di kejauhan. “Shhh!” Dia memberi isyarat agar teman-temannya diam.



Evan terbelalak. “Apa? Ki-kita ketahuan?” tanyanya dengan suara bergetar.



Vrey tidak menjawab. Dia menajamkan telinga untuk mendengar lebih baik. Pandangan Very terpaku pada satu titik di antara celah pohon jati.



Jantungnya berdegup. Sesuatu menuju kemari.Apa? Prajurit Elvar, Daemon? Atau....



Napas Vrey tertahan ketika makhluk yang diamatinya melintas di antara seberkas pucat cahaya bulan. Dia akhirnya bisa melihatnya dengan jelas. Gadis itu menyeringai sembari berbalik memandangi teman-temannya. “Buruan kita datang! Shadhavar jantan dewasa, tanduknya sudah tumbuh sepenuhnya.”



Rufius dan Blaire membalas seringai Vrey. Mereka bergegas menyelesaikan jebakan jala dan menyembunyikan diri di antara rerimbunan bambu air yang tumbuh lebat di sisi pekarangan.



“Hei, Bocah!” bisik Blaire. “Matikan lenteranya.”



Evan tergopoh-gopoh meniup lenteranya agar padam, tapi upayanya hanya membuat api menyala semakin besar.



Rufius memutar bola matanya dengan gemas. “Ingatkan aku agar tidak mengajak bocah ini lagi lain kali!” desisnya. Dia merebut lentera dari tangan Evan. Rufius memutar sumbu yang ada di dasar lentera untuk memadamkannya.



Begitu nyala api kecil itu padam, segalanya menjadi gelap, tapi bagi Vrey kegelapan ini bukanlah masalah. Dia masih bisa melihat sebaik sebelumnya. Mulai wajah dongkol Evan yang bersungut-sungut tanpa suara, hingga Shadhavar yang berjalan mendekati jebakan jala.


__ADS_1


Napas Vrey tertahan ketika si Shadhavar mulai melangkah memasuki pelataran. Sekilas hewan itu menyerupai seekor rusa yang anggun, tingginya mungkin hampir sama dengan Evan. Satu-satunya yang membedakan adalah tanduk tunggal yang berlubang-lubang di ujung kepalanya. Angin malam yang berembus melalui lubang di tanduk Shadhavar seolah memainkan music lembut.



Kalau segalanya berjalan lancar, hewan itu akan terpancing bau tebu bercampur obat tidur yang sudah dipasang Rufius sebagai umpan. Setelah memakannya dia akan terjatuh ke dalam jebakan jala dan selesailah. Tapi kalau semuanya tidak berjalan sesuai rencana….



Itulah saatnya dia turun tangan. Vrey menelan ludah. Membayangkannya saja membuat jemari kaki dan tangannya dingin. Dia sudah melakukan hal ini berkali-kali, namun tidak lantas membuatnya bertambah mudah. Vrey paham betul risiko pekerjaan ini. Kalau dia berbuat salah, para Elvar akan memergoki mereka dalam hitungan menit.



Rasa dingin menjalar dari tangan Vrey ke dadanya. Aku tidak ingin hal itu terjadi! Tiba-tiba Vrey merasakan jemari yang hangat meremas tangannya.



Blaire ... Vrey tersenyum.



Bagaikan seorang kakak, Blaire tahu betul bagaimana menenangkan perasaannya. Vrey balas menggenggam jemari Blaire. Dia menarik napas dalam-dalam dan memusatkan perhatian pada buruan di depan matanya.



Tergoda aroma manis tebu, Shadhavar itu terus berjalan mendekati perangkap. Hewan itu mengendus tumpukan tebu dan hendak memakannya ketika terdengar suara keras yang memecah kesunyian hutan.



Suara bersin Evan mengejutkan semua orang, termasuk si Shadhavar. Hewan itu melompat dan mendarat persis di atas jebakan yang sudah disiapkan untuknya. Sebentang jaring yang tersembunyi di balik daun-daun busuk tertarik ke atas. Jaring itu membungkus dan mengangkat si Shadhavar kira-kira semeter dari atas tanah. Hewan itu menjerit dan meronta, suaranya memekakkan telinga. Hanya tinggal masalah waktu sampai para prajurit Elvar yang berjaga di hutan ini mendengarnya dan mengetahui lokasi mereka.



“Sial!” maki Vrey.



Gadis itu melesat keluar dari persembunyian. Vrey berlari menuju jaring yang membelit Shadhavar. Seluruh jala bergoyang, bahkan pohon yang digunakan untuk menggantung jebakan pun berguncang keras tatkala hewan itu meronta dan mengibas-ngibaskan kepalanya ke segala arah.



Vrey mengambil ancang-ancang dan melompat ke atas jaring. Dia mendarat tepat di atas tubuh Shadhavar lalu mencabut belatinya yang sudah dilumuri obat bius. Tapi pergerakan Very terhenti saat sesuatu yang tajam menggores lengan kanannya. Dia tidak mengantisipasi pergerakan kepala Shadhavar dan tangannya tergores tanduk.



Darah mengucur dari lukanya. Namun, Vrey tidak membiarkan rasa sakit menghambat pekerjaannya. Dia menggunakan tangan kiri untuk menahan kepala Shadhavar supaya berhenti meronta, lalu Vrey menghunjamkan belatinya pada sasaran.



Setelah beberapa saat Gerakan Shadhavar melemah. Obat bius bekerja cepat sesuai harapan Vrey. Dia mencabut belatinya, melompat, turun, dan mengambil lentera cadangan yang tersimpan di dalam tas.



“Ecendius,” bisiknya perlahan dalam bahasa Elvar.



Mendadak, bagian dalam lentera mulai terasa hangat. Cahaya jingga terpancar dari dalam lentera, merebak membentuk api kecil. Nyala redup lentera menjadi petunjuk bagi Blaire dan Rufius untuk keluar dari semak-semak dan menghampiri Vrey.



Begitulah, tidak hanya penglihatan dan pendengaran Vrey yang melebihi teman-temannya. Dia juga seorang Magus, orang yang memiliki bakat langka untuk memanipulasi elemen alam seperti api, air, dan tanah dengan mantra-mantra tertentu.



“Bagus, Vrey!” puji Blaire.



Evan mengikuti di belakang Blaire. Dari raut wajah bocah itu, Vrey langsung tahu, Evan menyadari dia tidak berperan dalam kesuksesan perburuan kali ini, malah nyaris menggagalkannya.




Rufius menepuk pundak Vrey sebelum mencabut pedang pendek yang tergantung di ikat pinggangnya. Tanpa buang-buang waktu pemuda itu mengayunkan mata pedangnya ke



pangkal tanduk Shadhavar. Namun baru sekali mengayunkan pedangnya, Rufius berhenti. Matanya tertumbuk pada bekas darah di ujung tanduk Shadhavar.



“Kau terluka?” Rufius melirik ke arah Vrey.



“Tidak ada apa-apa,” jawab Vrey santai. “Hanya tergores tanduknya, nanti juga sembuh sendiri,” Vrey berbohong.



Tangannya mulai berdenyut sakit. Sedari tadi dia meremas lukanya untuk mencegah agar darahnya tidak mengalir. Tapi saat ini mereka masih di wilayah Elvar, suara Shadhavar tadi mungkin menarik perhatian yang tidak diinginkan. Vrey tidak ingin teman-temannya mencemaskan lukanya dan menunda pekerjaan mereka.



“Mana bisa begitu,” sahut Blaire sambil meraih lengan Vrey. Dia melotot ketika menyadari dalamnya luka di tangan Vrey.



“Kau ini!” desisnya gemas.



“Nggak separah kelihatannya, kok,” Vrey meringis pasrah.



“Aku bisa menahannya sampai di markas kita nanti. Kau bantu



Rufius saja.”



“Biar Evan yang bantu Rufius,” tukas Blaire. “Hei bocah, jangan bengong begitu. Ambilkan perban di tasku, lalu bantu Rufius agar kita bisa cepat pergi dari sini!”



Evan, dengan wajah merengut, menyerahkan segulung kain pada Blaire. Sesaat Vrey bisa melihat campuran rasa malu dan bersalah di mata bocah itu. Namun sebelum dia sempat melihat lebih jelas, Evan sudah berbalik untuk membantu Rufius.



Dengan cekatan Blaire membersihkan luka Vrey dengan air dari kantong kulit yang dibawanya. Dia lalu membalutnya erat-erat untuk menghentikan pendarahan. “Untuk sementara, kurasa cukup,” ujar Blaire. “Saat pulang nanti mintalah Aelwen untuk mengobatimu.”



Pada saat bersamaan, Rufius selesai memotong tanduk Shadhavar. Dia memasukkan tanduk itu ke dalam tas besar yang dibawa Evan. “Pegang yang benar, bocah. Kalau tanduk ini sampai hilang di hutan, aku sendiri yang akan menghajarmu!” ancamnya. Sosok mungil Evan terlihat menciut di hadapan Rufius yang tinggi besar.



Tepat pada saat itulah suara kepakan dari langit mengagetkan Vrey. “Kita ketahuan!” mata Vrey terpaku pada sesosok elang yang berputar-putar di atas mereka. “Ayo pergi dari sini!”



“Ka-kau yakin?” tanya Evan tergagap. “M-Mungkin itu cuma kelelawar.” Bocah itu menengadahkan kepalanya, berusaha melihat.

__ADS_1



Tentu saja Evan tidak mungkin melihat apa pun di antara kegelapan. Bodoh banget, sih, piker Vrey gemas.



“Aku yakin!” jawab Vrey. “Di pergelangan kakinya ada gelang kulit. Elang itu milik para Elvar.”



Rufius mengambil alih. “Kita berpencar!” perintahnya. “Aku dan si bocah akan mengambil jalan memutar ke Mildryd. Blaire, kau, dan Vrey ambil jalan utama.”



Blaire menyerahkan lentera minyak yang dipegangnya pada Rufius “Bawa ini, kalian lebih membutuhkannya.”



Rufius menyambar lentera dari tangan Blaire dan mereka berpencar. Vrey dan Blaire mengambil arah berbeda dengan Rufius dan Evan. Mereka langsung menuju jalan utama yang memotong hutan dan mengarah ke kota mereka, Mildryd.



Aku tidak suka ini, pikir Vrey. Ini terlalu berisiko.Jalan utama biasanya dijaga ketat.



Tapi Vrey tidak punya pilihan. Dia dan Blaire berjalan menjauhi pelataran, bergegas menuju jalan utama. Pada saat itulah tiba-tiba Vrey merasakan firasat buruk. Dia menghentikan langkahnya sambil meletakkan telunjuknya di bibir Blaire, isyarat agar temannya tidak bergerak atau bersuara.



Vrey memicingkan matanya sambil menyelinap tanpa suara di antara semak. Dari celah kaliandra yang mengimpit dirinya, Vrey bisa melihat sebuah tempat terbuka. Tiga orang Elvar tengah bercakap-cakap di sana.



Jantung Vrey serasa nyaris lepas. Dia merasa sangat beruntung sekaligus lega karena menyadari keberadaan para Elvar itu lebih dulu dan bukan sebaliknya.



Vrey mengawasi mereka lekat-lekat. Ketiga sosok ramping itu berpendar pucat saat kulit keemasan mereka tertimpa sinar bulan. Tapi dia terlalu jauh untuk melihat wajah mereka ataupun mendengar apa yang mereka bicarakan.



Saat itulah Vrey melihat elang yang tadi memergoki mereka hinggap di tangan salah satu Elvar. Dia menyadari Elvar itu adalah seorang Ierre, atau Elvar yang memiliki kemampuan khusus untuk berkomunikasi dengan hewan. Sang Ierre melepaskan elangnya kembali ke udara. Kemudian dia dan kedua temannya berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan burung itu menuju tempat Shadhavar.



Vrey menunggu beberapa saat sampai telinganya tidak bisa lagi menangkap langkah kaki para Elvar. Dia tahu selama dia bisa mendengar mereka, mereka juga bisa mendengar dirinya.



Detik-detik terasa berlalu dengan begitu lambat. Vrey meringkuk di antara semak tanpa berani bergerak, apalagi bersuara. Bahkan bernapas pun dilakukannya sepelan mungkin. Perut Very mual. Selain tegang bukan kepalang, sebersit kenangan buruk masa lalunya tiba-tiba saja menghantui. Dia ingat pernah bersembunyi dari para Elvar seperti ini. Hanya saja waktu itu segalanya tidak berakhir terlalu baik baginya. Vrey hanya berharap kali ini segalanya akan baik-baik saja.



Suasana mencekam itu berlangsung entah berapa lama, sebelum Vrey akhirnya yakin mereka berdua sudah di luar jangkauan pendengaran para Elvar.



“Aman,” bisiknya. “Ayo kita jalan lagi.”



“Fiuh,” Blaire menghela napas lega. “Kupikir aku bakal mati gara-gara menahan napas,” kata gadis itu melebih-lebihkan.



Vrey tertawa kecil dan mereka melanjutkan perjalanan.



Tak lama Vrey menemukan jalan besar yang mengarah ke Mildryd, kota tempat mereka tinggal. Saat siang hari, jalanan ini ramai dilintasi para pedagang dengan kereta-kereta mereka yang besar. Tapi pada malam hari, jalan itu tertutup bagi semua orang.



Setelah menyusuri jalan selama hampir dua jam, akhirnya mereka sampai di tepi Sungai Arquus. Sungai lebar dan deras itu merupakan perbatasan alami antara wilayah Elvar dan Manusia.



Sebentang jembatan batu yang amat kokoh dibangun di atas aliran Sungai Arquus. Di tengah jembatan terdapat bangunan tinggi yang merupakan pos jaga. Ada sebuah gerbang besar di dasar bangunan. Gerbang itulah yang memisahkan Kota Mildryd dengan Hutan Telssier. Seperti biasa, gerbang itu selalu dalam keadaan tertutup.



Manusia tidak dapat melewati gerbang dan menapakkan kakinya di Hutan Telssier dengan leluasa. Wilayah bangsa Elvar hanya dapat dimasuki oleh orang-orang yang telah mendapat izin. Gerbang itu dimaksudkan untuk melindungi hutan dan wilayah milik bangsa Elvar.



Vrey tersenyum mengejek. Gerbang dan penjagaan seketat apa pun tidak ada artinya bagi dirinya dan komplotannya.



Dua gadis itu menyelinap ke balik sebuah pohon akasia sebelum menyeberangi jembatan dan menuju ke gerbang. Tiba-tiba salah satu prajurit yang berjaga di dalam pos menyadari kehadiran Vrey. Prajurit itu keluar dari pintu kecil di samping pos lalu menghampiri mereka.



“Lama banget, sih!” hardik prajurit itu gusar. “Delapan jam lebih kalian masuk ke hutan! Waktu giliran jagaku hampir habis. Mana Rufius dan si bocah?” Dia adalah Clyde, anggota komplotan Vrey juga.



“Sabar,” jawab Blaire kalem. “Mereka mengambil jalan memutar dan akan tiba lebih lambat. Kami harus pulang duluan, tangan Vrey terluka.”



Clyde menatap Vrey sinis dari balik helmnya “Dasar! Selalu saja bikin repot.”



“Cerewet!” balas Vrey ketus. “Memangnya kau bisa melakukannya lebih baik dariku?”





“Sana cepat masuk,” kata Clyde tanpa memedulikan Vrey.



“Aku akan cari alasan untuk memperpanjang giliran jagaku sampai Rufius dan Evan kembali,” tambahnya.



Vrey dan Blaire melangkah bergantian melalui pintu kecil itu. Mereka melintasi bagian dalam pos jaga yang panjangnya tidak sampai empat meter sebelum keluar lagi dari pintu lain di sisi satunya. Vrey yang keluar belakangan sempat mendengar Clyde berbisik di balik helmnya. “Lain kali hati-hati, bodoh!”



Belum sempat Vrey membalas hinaan itu, daun pintu sudah ditutup tepat di depan hidungnya.



“Berengsek!” maki Vrey dengan suara tertahan agar tidak membangunkan para prajurit jaga yang tertidur di dalam pos. Walaupun Clyde sudah mencampurkan obat tidur pada minuman mereka, tetap ada risiko salah satunya akan terbangun dan mendengar makiannya.



Blaire tertawa tanpa suara, tapi dia berhenti saat Vrey menatapnya sewot. Sambil menghela napas panjang. Vrey berbalik dan melanjutkan perjalanan melintasi jembatan dan menuju pusat kota Mildryd.

__ADS_1


__ADS_2