Ther Melian Revelation

Ther Melian Revelation
Episode 9


__ADS_3

Karth mendesah, sadar betul Valadin telah merencanakan semua ini. Pria itu sengaja mengundangnya dan Laruen kemari, memberitahukan sebuah rahasia mencengangkan lalu menawarkan kesempatan untuk mundur. Tentu saja Karth tidak bisa mundur. Dia tidak mungkin membiarkan Laruen mendaftarkan diri dalam misi seperti ini seorang diri.



Walau demikian, Karth tidak sepenuhnya merasa dipaksa untuk bergabung. Dia setuju dengan pemikiran Valadin. Selama ratusan tahun, para Tetua dan Ratu Ratana tidak pernah melakukan apa pun untuk mengubah nasib Bangsa Elvar. Karth sadar bangsanya di ambang kehancuran, hanya tinggal masalah waktu saja.



Rencana Valadin menggunakan kekuatan para Aether mungkin berbahaya dan sedikit gila. Tapi saat ini, sepertinya itulah satu-satunya jalan yang paling masuk akal. Lagi pula dia ingin melihat sendiri sosok para Aether dan ujian macam apa yang akan mereka berikan.



“Jadi,” kata Karth, “bagaimana kita akan memanggil Voltress?”



Ellanese menunjuk altar batu di tengah undakan. “Dengan menuliskan Rune pemanggilan di atas altar itu,” jawabnya. Rune adalah huruf kuno Bangsa Elvar yang nyaris tidak digunakan lagi, saat ini hanya tinggal sedikit Elvar yang bisa membacanya, apalagi menulisnya.



Valadin melanjutkan. “Hanya para Tetua yang mengetahui Rune itu. Bahkan kami, para Gardian, pun tidak mengetahuinya. Tapi seratus tahun yang lalu, Eizen mencurinya.”



“Kau mencurinya?” Karth mengangkat alisnya, tertarik. Eizen meludah. “Mereka menghentikanku sebelum aku berhasil menggunakan Rune itu,” katanya. “Sisanya kalian sudah tahu, aku dipecat dan dihukum Pengasingan selama seratus tahun.” Eizen meremas tinjunya ketika membicarakan tentang hukumannya.



Tak heran, pikir Karth. Pengasingan adalah hukuman yang mengerikan. Dia pernah mendengar Elvar yang dihukum Pengasingan tidak dapat bergerak, berbicara, mendengar, bahkan melihat. Seluruh inderanya dikunci, dikurung di dalam dirinya sendiri. Andai boleh memilih, dia lebih baik mati daripada harus menghabiskan hidup abadinya dalam Pengasingan.



“Kuduga Andalah yang membebaskan Eizen dari Pengasingannya?” tanya Karth pada Valadin, yang dijawab dengan anggukan.



“Setelah insiden dengan Eizen,” Valadin melanjutkan, “para Tetua akhirnya memutuskan untuk menghancurkan perkamen berisi Rune agar kejadian itu tidak terulang lagi.”



Alis Karth masih berkerut. “Apa itu tidak terlalu berlebihan?” Valadin menghela napas panjang. “Para Tetua dan Ratu Ratana memutuskan bahwa kekuatan sedahsyat itu tidak sepantasnya dikuasai siapa pun.”



“Aku tidak mengerti siapa yang menunjuk orangorang bodoh itu menjadi pemimpin bangsa kita!” desis Eizen dengan mata memicing. “Para Aether menawarkan kekuatan mereka pada kita. Apa salah kalau kita menerimanya?”



“Aku paham maksudmu,” balas Karth kalem. “Tapi tanpa Rune itu, bagaimana kita akan memanggil Voltress?”



“Itulah sebabnya Eizen ada di sini,” jawab Valadin dengan tersenyum. “Selain para Tetua, hanya dia yang tahu persis bentuk Rune Pemanggilan.”



Eizen berjalan menghampiri Valadin, lalu berlutut di sisi altar. “Jangan senang dulu,” ujarnya masam. “Sudah seratus tahun sejak kali terakhir kali aku melihat Rune itu. Aku sendiri tidak yakin apakah masih mengingat bentuknya dengan benar.”



“Tidak apa,” ujar Valadin. “Aku yakin kau bisa mengingatnya.” Eizen meraih batu kapur yang disodorkan Valadin dan mulai mencoret di atas altar. Selama hampir setengah jam berikutnya, dia masih berkutat dengan Rune itu. Berkali-kali Eizen berhenti dan menggunakan lengan bajunya untuk menghapus Rune yang dirasanya salah.



Walaupun seratus tahun telah berlalu, Eizen masih mengingat sebagian besar Rune Pemanggilan yang luar biasa rumit itu. Dia pasti menghabiskan seratus tahun masa Pengasingannya untuk membayangkan seluruh rangkaian Rune, pikir Karth. Bahkan mungkin memimpikannya siang dan malam.



Eizen akhirnya selesai menggambarkan Rune Pemanggilan di atas altar. Dia menepuk tangannya untuk membersihkan debu kapur yang melekat, lalu memeriksa pekerjaannya beberapa saat, sebelum menoleh pada Valadin dan mengangguk yakin.



Karth dan yang lainnya mengawasi altar lekat-lekat. Di altar batu halus itu kini terdapat sebentuk bintang bersegi tujuh. Di sekeliling bintang itulah Eizen menggambar serangkaian Rune yang rumit. Mendadak garis-garis yang digambar Eizen berpendar. Seluruh altar bersinar. Cahayanya seolah membentuk pilar perak yang menembus Kabut Gelap di atas kepala mereka.

__ADS_1



Karth mendongak. Sekarang dia bisa melihat langit malam yang sebelumnya tertutup kabut, bulan dan bintang seolah bercahaya redup jika dibanding pilar cahaya yang menyilaukan. Tapi mendadak, bersamaan dengan kilat yang menyambar altar di hadapan mereka, pilar itu padam, diiringi gelegar guntur yang memekakkan telinga. Lalu angin berembus kencang dan memadamkan semua bola-bola api yang tadi disihir Eizen. Pulau karang kembali gelap gulita.



Tiba-tiba terdengar raungan dari langit di atas Karth. Suaranya begitu keras sampai membuat seluruh pulau kecil itu bergetar. Raungan itu tidak menyerupai suara Daemon apa pun yang pernah Karth temui. Dia langsung waspada dan mengambil posisi di samping Laruen.



“Apa itu?” bisik Laruen. Walaupun berusaha menyembunyikannya, Karth dapat mendengar kekhawatiran dari suara partnernya.



“Entahlah,” Valadin yang menjawab. “Mungkin bagian dari ujian Sang Aether.”



Karth tidak ingin menunggu untuk mencari tahu. Dia mencabut salah satu pisau lemparnya. Seluruh pisau Karth berlumur racun khas Shazin. Cukup dengan satu goresan, Karth bisa menghabisi lawan apa pun, bahkan Daemon sebesar kerbau. Tapi sekarang dia ragu apa pisaunya bisa digunakan untuk melawan entah-makhluk-apa yang meraung ganas di atas sana.



Saat itulah mendadak seluruh pulau berguncang. Sesuatu yang besar dan berat jatuh di hadapan mereka. Laruen sampai mencengkeram lengan Karth erat-erat saking kagetnya. Nyaris bersamaan, langit yang gelap gulita mendadak terang oleh rangkaian kilat yang menari-nari liar. Sambaran demi sambaran kilat menerangi pulau. Cahayanya menyilaukan sekaligus menyakitkan mata. Tapi dengan cahaya itu Karth bisa melihat apa yang baru saja jatuh dari langit.



Seekor naga raksasa bersisik indigo. Hewan itu berdiri tegak dengan dua kaki belakangnya. Sepasang kaki depannya—yang hampir sama panjangnya dengan kaki belakang—diangkat tinggi-tinggi. Naga itu lalu mendaratkan kedua kaki depannya, menghasilkan suara berdebum keras dan guncangan ringan.



Sekarang sang naga berdiri dengan keempat kakinya. Karth menyadari sekujur tubuh naga itu dipenuhi percikan cahaya seperti kilat-kilat kecil. Lehernya begitu panjang hingga nyaris dua kali lipat tubuhnya. Duri-duri tajam berjajar mulai dari leher hingga ke ekornya. Karth tidak bisa memperkirakan seberapa panjang ekornya karena cahaya petir-petir kecil itu mengganggunya.



Sang Naga Indigo merentangkan sayapnya yang menyerupai sayap kelelawar, membuatnya tampak semakin besar. Makhluk itu menyorongkan leher dan menurunkan kepalanya hingga sejajar dengan mereka. Karth melihat sepasang tanduk runcing panjang di bagian atas kepala sang naga. Dengan matanya yang biru besar dan mengilap seperti batu safir, makhluk itu menatap mereka bergantian.



Cengkeraman tangan Laruen mengendur. “Luar biasa,” ujarnya kagum. Karth menyadari Laruen memandangi sang Naga Indigo nyaris tanpa berkedip. “Naga ini bukan makhluk biasa,” lanjut Laruen. “Dia memiliki kepribadian, kesadaran, dan kecerdasan tingkat tinggi.”




“Apakah itu sesuatu yang mengejutkan kalian?” Tiba-tiba terdengar suara di dalam kepala Karth. “Aku adalah makhluk suci penjaga Templia Voltress. Dan akulah yang akan menentukan apakah kalian layak memperoleh kekuatan Sang Aether.”



Karth terkesiap. “Aku mendengar suara di dalam kepalaku.” Valadin mengangguk. “Naga itu berbicara langsung ke dalam pikiran kita,” katanya. Dia berjalan maju hingga jaraknya hanya satu meter dari kepala sang Naga Indigo. “Kami kemari untuk mendapatkan kekuatan Aether, katakan saja apa ujiannya. Kami siap menghadapinya.”



Kami? pikir Karth.



Rasanya yang siap melawan naga itu hanya Eizen dan Valadin. Dia menahan lidahnya untuk tidak mengoreksi ucapan Valadin. Karth melirik ke arah pisau di tangannya, sadar betul kadal besar ini bukan bagiannya.



Sang Naga Indigo mengaum. “Hooo ... Rasa percaya dirimu tinggi. Kau pasti pemimpinnya,” katanya. “Baiklah, ini ujianku. Kalian harus membuatku terluka dan berdarah.”



Wajah Eizen mengerut. “Hanya itu?” katanya. “Kupikir ujiannya lebih berat.”



“Kalau kau pikir itu mudah, maju dan cobalah!” Selesai mengatakannya, Naga Indigo mengibaskan jari tangannya yang besar. Seiring dengan gerakan jemarinya, hujan halilintar turun dari langit tepat ke atas mereka.



Nyaris bersamaan, Karth dan Valadin melompat ke balik karang untuk menghindari hujan kilat. Sementara Ellanese merapalkan sihir perlindungan yang menangkupi dirinya, Laruen, dan Eizen. Dari kerutan di wajahnya, sang Vestal jelas tidak terlalu senang harus berbagi pelindung dengan kedua orang itu.

__ADS_1



Sang naga mengalihkan perhatiannya ke batu besar tempat Karth dan Valadin berlindung. Cakarnya yang besar diayunkan ke arah mereka, tapi Karth sudah meninggalkan tempat itu dan



menemukan persembunyian baru. Dia tidak mengenakan zirah seperti Valadin, juga tidak bisa merapalkan sihir pelindung, menghindar dan bersembunyi dari lawan adalah satu-satunya keahlian Karth.



Seorang diri, Valadin dipaksa bertahan dari sang naga. Dia buru-buru merapal pelindung sihir. Ledakan dahsyat membahana kala cakar sang naga menghantam pelindung Valadin.



Dari persembunyiannya, Karth melihat celah terbuka di perut naga. Daerah itu berada dalam jangkauan lemparan pisaunya dan tidak tertutup sisik tebal. Ditambah lagi saat ini sang naga sedang fokus pada Valadin, tidak sulit untuk menyelinap maju dan menorehkan pisaunya ke perut naga. Tapi sesuatu mengganjal perasaan Karth.



Ini terlalu mudah ...



Tapi Karth tidak ingin membuang kesempatan tanpa mencoba. Dia melesat sedekat mungkin ke perut naga dan melemparkan sebilah pisau. Pisaunya meluncur di sela-sela kaki sang naga dan nyaris menancap di perutnya. Saat itulah percikan-percikan kilat yang mengitari tubuh naga mengempaskan pisau Karth.



Hanya satu tarikan napas setelah ledakan itu, ekor Naga Indigo melecut ke arah Karth. Dia menghindarinya di saat-saat terakhir, dan ekor naga melecut ke dinding karang tempat Karth sebelumnya berada, menghasilkan ledakan yang kembali mengempaskannya.



“Karth!” Laruen menjerit panik.



Karth menoleh, melihat gadis itu berlari meninggalkan pelindung sihir Ellanese dan menuju ke arahnya.



***



Laruen tidak tahu apa yang merasukinya. Tahu-tahu saja dia sudah berlari meninggalkan pelindung sihir Ellanese untuk menolong Karth. Dia baru setengah jalan ketika Naga Indigo kembali melecutkan ekornya. Namun kali ini, sasarannya adalah Laruen.



Untung Laruen masih sempat menjatuhkan tubuhnya ke tanah sebelum ekor berduri itu menghantamnya, hanya melintas beberapa senti di atas kepalanya. Tapi percikan halilintar yang menyertainya menyengat Laruen. Gadis itu menjerit kesakitan. Tapi dia tidak bisa berdiam di situ lama-lama.



Naga Indigo kembali melecutkan ekornya. Kali ini Laruen berguling menghindar. Dia harus berguling dan berguling lagi karena ekor sang naga terus menghantam ke arahnya tanpa



ampun.



Tubuhnya sakit bukan kepalang akibat tersengat halilintar. Tangan dan kakinya bergetar tanpa bisa dikendalikan. Laruen merasa dia seperti ditusuk ribuan jarum. Ketika berguling menghindari lecutan ekor naga untuk kesekian kalinya, Laruen menyadari dia terpojok. Tembok karang mengapitnya, sementara sang naga menghadang satu-satunya jalan keluar. Makhluk itu mengayunkan ekornya lagi, tepat ke kepala Laruen.



Valadin melesat di antara Laruen dan ekor sang naga sambil mengangkat Schlantir ke udara. Cahaya putih hangat terpancar dari pedangnya. Cahaya itu menangkupi Laruen dan Valadin, sekaligus memblokir ekor naga. Naga Indigo meraung dan bertubi-tubi menghantam pelindung sihir Valadin dengan ekornya. Tapi Valadin bertahan. Dari balik pelindung kasat mata yang disihir Valadin, Laruen bisa melihat mata sang naga menyipit kesal.



Saat itulah Laruen menyadari sesuatu. Mata Naga Indigo tidak terlindung halilintar, tidak seperti bagian tubuhnya yang lain. Laruen memaksa tangannya yang kesemutan untuk bergerak. Dia memasang anak panah ke busur dan melepaskannya ke mata kanan sang naga.



Tapi rasa sakit di tubuhnya mengacaukan akurasinya. Alih-alih menuju mata, panahnya melenceng ke leher. Aliran halilintar di tubuh sang naga mementalkan panah Laruen bahkan sebelum benda itu sempat menggores sisiknya.


__ADS_1


Serangan Laruen yang gagal malah memicu kemarahan Naga Indigo. Makhluk itu menarik mundur ekornya lalu mengayunkan cakarnya, menjatuhkan hujan halilintar yang nyaris membutakan mata. Terus dan terus tanpa henti, akhirnya salah satu halilintar itu merobek pelindung sihir Valadin.


__ADS_2