
Vrey terkejut. Baru kali ini Aelwen membantahnya. Amarahnya semakin memuncak. “Oh, ya?” balas Vrey. “Kalau bukan karena mulut besarmu, semua ini nggak akan terjadi!”
“Aku sudah minta maaf. Berapa kali kau mau aku minta maaf supaya puas?” bentak Aelwen. Kali ini Vrey benar-benar naik pitam, dia sudah siap memberi Aelwen pelajaran, tapi Blaire menahannya.
“Sudah cukup!” Blaire ikut berteriak. “Aelwen, pergi ke pasar dan beli perbekalan secukupnya.” Dia meraih kantong uang Vrey dan menyerahkannya pada Aelwen.
Vrey baru akan protes, tapi Blaire memelototinya. “Tutup mulutmu dan berkemas!” ancamnya. “Atau aku bersumpah jeweran Gill tadi nggak akan ada apa-apanya dibanding apa yang akan kulakukan padamu nanti!”
Vrey kesal luar biasa, tapi Blaire lebih senior, membantahnya sama saja mencari perkara dengan Gill. Dia memutuskan untuk diam saja saat Blaire memberi tahu Aelwen apa saja yang harus dibelinya.
“Dan habislah semua uang simpananku,” omel Vrey saat Aelwen beserta kantong uangnya meninggalkan kamar. “Kenapa, sih, Gill harus mengusirku segala?”
Blaire melipat mantel yang dipilih Vrey dan memasukkannya dalam sebuah tas besar. “Dia nggak tahan melihatmu seperti ini terus.”
“Maksudnya?” Vrey mengangkat sebelah alisnya.
“Kau pikir dia nggak menyadari keanehanmu sebulan ini?” tanya Blaire. “Terakhir kali kau bersikap begini adalah enam tahun lalu waktu kau tiba-tiba minggat untuk tinggal bersama para Elvar.”
Vrey terdiam, lidahnya terasa kelu. Blaire menyebutkan keras-keras peristiwa yang tidak ingin diingatnya lagi. Dia buru-buru memalingkan wajahnya, berlagak seolah tidak peduli.
Tapi Blaire mencecarnya. “Gill mengkhawatirkanmu.”
Gill? Khawatir? Dalam mimpi mungkin, rutuk Vrey dalam hati.
Blaire melanjutkan. “Saat Gill tahu tentang Jubah Nymph, dia langsung paham arti benda itu untukmu. Makanya dia nggak mau kau menyerah.”
Vrey buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Tapi kenapa aku harus mengajak Aelwen? Dia, kan, nggak bisa apa-apa.
Mengajaknya dalam perjalanan berbahaya seperti ini hanya akan bikin repot!”
Vrey tidak berlebihan, Mildryd terpisah ratusan kilometer dari Granville. Di antara dua kota itu terbentang padang rumput dan rawa tak berpenghuni yang merupakan sarang binatang buas, perampok, dan bahkan Daemon. Para pedagang biasanya melintasi padang rumput dengan kereta komodo. Mereka membutuhkan setidaknya enam hari perjalanan, dan mereka selalu menyewa prajurit bayaran untuk melindungi diri.
Vrey tidak punya uang lebih untuk menyewa kereta. Dia bahkan tidak yakin akan masih punya sisa uang setelah Aelwen selesai berbelanja nanti. Untuk mencapai Granville, mereka harus berjalan kaki. Dan selama perjalanan, dia harus melindungi diri sendiri dari apa pun yang mungkin ditemuinya nanti. Ditambah lagi, dia juga harus melindungi Aelwen.
Apa, sih, yang ada di otak Gill?
Blaire menghela napas. “Aelwen bisa sihir penyembuh dan paham seluk-beluk kota Granville. Dia juga bisa baca-tulis. Siapa tahu dia bisa menemukan petunjuk yang mungkin kau lewatkan. Apa kau nggak terpikir akan hal itu?”
Vrey menggaruk kepalanya kesal. “Baik, baik, kau menang, aku nggak akan mengeluh lagi. Sekarang kita sudah selesai berkemas, apa aku boleh melanjutkan tidurku?”
__ADS_1
Blaire menghela napas berat. “Baiklah, aku juga harus memasak makan malam,” katanya. “Tapi setelah Aelwen pulang nanti, kau harus turun dan makan bersama kami, mengerti?” Vrey
mengangguk asal-asalan sebelum melempar dirinya ke atas
tempat tidur lagi.
Tapi Vrey tidak benar-benar tidur, dia tidak bisa tidur dengan emosi yang masih meluap-luap seperti itu. Akhirnya dia menghabiskan waktunya bersembunyi di dalam selimut sepanjang sore.
Saat matahari terbenam, Aelwen sudah kembali. Vrey masih kesal dan masih ingin mengurung diri di kamar. Tapi saat teriakan galak Gill terdengar dari bawah, Vrey tidak punya pilihan selain turun.
Ketika tiba di ruang makan, semua orang sudah duduk di depan setumpuk hidangan lezat. Ayam bakar saus kelapa, daging yang ditumis dengan beraneka ragam sayur dan rempah, serta
sup kepala ikan dengan potongan tomat segar. Vrey tercegang. Dia tidak ingat pernah melihat meja makan mereka berlimpah makanan enak seperti itu. Blaire jelas sengaja menyiapkan makan malam istimewa untuk perpisahannya.
Ingatan bahwa besok dia harus pergi meninggalkan rumah memenuhi benak Vrey, membuat nafsu makannya hilang. Vrey duduk di kursi kosong di antara Blaire dan Evan sebelum memandangi wajah teman-temannya satu per satu. Di ujung meja ada Gill yang menggigit paha ayam bakar dengan penuh selera. Lalu di sebelahnya ada Rufius yang mengkritik cara Evan memotong daging. Bocah itu masih belum bisa menggunakan pisau dan garpu dengan baik. Blaire berkeliling dan menuangkan minuman untuk semua orang. Sementara Clyde memindahkan lauk sebanyak-banyaknya ke piringnya yang kosong.
Pemandangan itu seolah tidak berubah oleh waktu. Vrey selalu makan malam bersama mereka di tempat ini sejak empat belas tahun yang lalu saat Gill mengajaknya tinggal di sini.
Saat itu, selain Rufius, Clyde, dan Blaire, masih ada beberapa anggota lain yang sekarang sudah tidak bersama mereka lagi. Waktu itu Evan dan Aelwen juga belum bergabung. Wajah-wajah orang yang pernah menghuni rumah itu dan menjadi bagian dari kelompok Gill tiba-tiba bermunculan di benak Vrey. Beberapa dari mereka sudah berhenti menjadi pencuri, ada juga
yang memutuskan untuk keluar dan bekerja sendiri. Vrey masih tidak percaya besok adalah gilirannya pergi dari rumah itu dan meninggalkan teman-temannya, entah sampai kapan.
“Gill,” kata Vrey dengan suara bergetar. “Aku nggak mau pergi. Rumahku di sini bersama kalian. Aku nggak mau berpisah dengan kalian hanya demi Jubah Nymph.”
Semuanya terdiam. Mereka menatap lurus ke arah Vrey yang tertunduk lesu di hadapan piring penuh makanan yang tidak tersentuh. Vrey sudah siap seandainya Gill akan memaki atau menghajarnya. Dia tidak ingin teman-temannya berpikir jubah itu lebih penting dari mereka. Tapi di luar dugaan, Gill tersenyum. Dan bukan seringai licik seperti yang biasa menghiasi wajah pria itu. Tapi sebuah senyuman yang tulus.
“Dengar Vrey,” katanya. “Aku tahu apa arti jubah itu untukmu. Dan sebelum mendapatkannya, kau nggak akan pernah merasa bahagia.”
“Aku nggak membutuhkan benda itu!” sahut Vrey penuh emosi. “Aku cuma ingin terus bersama kalian, itu saja.”
“Kalau benar begitu,” Gill menatap Vrey tajam. “Kenapa sebulan terakhir ini kau terlihat begitu menyedihkan?”
Vrey tertunduk menghindari tatapan Gill. Mata itu seolah membaca isi hatinya yang paling dalam.
Gill meminum sisa tuak di gelasnya. “Nggak apa-apa, Vrey. Kau nggak perlu malu mengakuinya. Tapi aku ingin kau pergi dan mengejar impianmu dengan sepenuh hati. Dan apa pun hasilnya nanti, ingatlah ... kau selalu bisa pulang ke sini, ke Mildryd,” katanya sambil meletakkan gelas kosongnya di atas meja.
Vrey memberanikan diri menatap ke depan. Gill masih menatapnya lekat-lekat. Dan kali ini Vrey tidak bisa menahan emosinya lagi, butiran air mata hampir menetes di pipinya.
Tapi justru Blaire yang terlebih dulu menangis dan menghambur memeluk Vrey. Ruang dapur berubah sunyi senyap, hanya terdengar isak tangis Blaire. Bahkan Clyde pun tidak berani mengeluarkan ejekan untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
Pelan-pelan Vrey melepaskan pelukan Blaire. “Jangan menangis, dong, Blaire,” katanya. “Aku pasti pulang ... aku janji!” Mati-matian Vrey menahan diri agar tidak ikut larut dalam derai air mata Blaire.
Evan tiba-tiba ikut berdiri dari kursinya dan memeluk Vrey erat-erat. Bocah itu mengusap matanya yang memerah. “Tempat ini nggak akan sama tanpamu, Vrey,” ujarnya dengan suara sengau.
Vrey tersenyum dan balas mengacak-acak rambut Evan. Dia sungguh menyesal sudah bersikap acuh tak acuh pada mereka semua selama sebulan terakhir.
Rufius berdiri dan menepuk pundak Blaire agar berhenti menangis. Dia lalu meraih sesuatu dari balik baju dan menyerahkannya pada Vrey. “Bawa ini,” katanya
Vrey tidak bisa menyembunyikan decak kagumnya ketika melihat benda pemberian Rufius. Sebilah belati yang sangat indah, di gagangnya terdapat ukiran menyerupai kepala seekor ular yang menelan batu berwarna lembayung. “Belati ini indah sekali, dari mana kau mendapatkannya?”
“Aku mencurinya dari seorang kolektor beberapa tahun lalu. Hukuman karena dia mencurangi pembayaran,” Rufius menjelaskan. “Belati ini bernama Aen Glinr, dibuat oleh bangsa Elvar dan usianya sudah sangat tua. Batu di gagangnya menyimpan kekuatan sihir untuk membantu pemakainya merapal sihir. Sebenarnya aku ingin menyimpannya untuk diriku sendiri, tapi kurasa kau lebih membutuhkannya. Di perjalanan nanti kau akan menemui banyak Daemon, belati tuamu itu nggak akan berguna untuk melawan mereka!”
“Terima kasih, Rufius,” jawab Vrey. Dia mencoba mengayunkan Aen Glinr. Vrey langsung merasakan perbedaan dari belati tuanya. Aen Glinr lebih ringan walaupun bilahnya lebih besar, pertanda belati ini dibuat dari logam berkualitas dan ditempa dengan baik.
Clyde juga mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya, sebuah gulungan perkamen tebal yang sudah menguning dan sedikit lapuk. “Aku cuma punya ini,” dia menyodorkan perkamen itu pada Vrey.
Vrey menerima dan membukanya. Isinya adalah peta kuno kerajaan Granville yang digambar dengan tinta hitam yang sudah memudar. Rute-rute yang bisa ditempuh dari Mildryd hingga Ibukota Granville tercetak jelas di peta itu. Di dalam gulungan itu juga terdapat sebuah kompas sederhana.
“Kata penjualnya, peta ini sudah cukup tua,” kata Clyde. “Tapi kurasa jalanannya belum banyak berubah.”
Vrey mengangguk. Dia menggulung lagi peta dan kompas dari Clyde, kemudian menyimpan semua hadiah itu baik-baik. “Terima kasih, teman-teman,” katanya. “Maaf aku sudah bersikap menyebalkan sebulan ini. Gill benar, aku hanya akan membebani kalian kalau terus begini. “
Gill yang semula diam tiba-tiba membanting gelasnya yang kosong. “ARGH, hentikan semua omong kosong ini! Kenapa kalian jadi cengeng begini?! Menangis-nangis seperti ada yang mau mati saja! Blaire, gelasku sudah kosong, cepat isi lagi!”
Semua buru-buru kembali ke kursi masing-masing. Blaire menyeka air matanya dan mengisi gelas Gill sampai penuh.
“Gill benar,” katanya saat menuangkan tuak di gelas-gelas lain. “Vrey nggak pergi selamanya, kan. Dia pasti akan pulang, untuk apa kita bersedih begini?”
Vrey mengangguk. “Aku akan menemukan cara untuk membuat jubah itu dan langsung pulang!”
“Aku berjanji akan membantunya semampuku,” Aelwen yang dari tadi membisu tiba-tiba angkat bicara.
Vrey langsung merasa bersalah. Dia menyesal sudah bertengkar dengan Aelwen tadi siang.
Rufius mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, yang lain mengikuti. “Kami akan menunggu kalian di sini,” katanya.
Vrey mengangkat gelasnya. Mereka bersulang dan melanjutkan makan. Sekarang setelah menumpahkan semua yang mengganjal di dalam kepalanya, Vrey tiba-tiba merasa lapar. Dia menyantap semua hidangan dengan lahap sambil tertawa terbahak-bahak, mengomentari kekonyolan Evan atau ucapan sinis Clyde yang ditujukan pada bocah itu.
Saat mereka selesai, semua makanan dan tuak yang disediakan di meja dapur habis tak bersisa. Satu per satu meninggalkan dapur dan naik ke kamar masing-masing di atas.
__ADS_1
Kekenyangan, lelah, dan mengantuk, Vrey langsung terlelap di tempat tidurnya, hingga pagi hari tiba.