
Laruen menapak keluar dari kereta yang ditumpanginya. Matahari beranjak tenggelam, cahaya jingga emas dari arah lautan menyinari jalanan Kota Terraven.
Seorang pria jangkung menyusul turun dari kereta yang sama. Baik Laruen dan pria itu mengenakan jubah bertudung berwarna hijau. Sementara pria itu berjalan ke bagian depan kereta unyuk membayar enam keping perak kepada kusir, Laruen menyusuri jalanan kota yang lengang menuju dermaga.
Sesampainya di ujung dermana Laruen berhenti sebentar. Gadis itu mengamati bentangan air yang seolah tak berujung di hadapannya. Suara debur ombak dan burung camar yang bersahut-sahutan memenuhi pendengarannya. Angin yang bertiup membawa serta aroma garam, aroma yang asing bagi Laruen.
Ini adalah kali pertamanya dia melihat lautan luas. Ini juga kali pertamanya dia melihat kota Manusia selain Mildryd. Terraven merupakan kota pelabuhan kecil di sebelah timur laut Ibukota Kerajaan Granville.
Laruen berbalik untuk mengamati kota. Beberapa gedung tinggi dari bebatuan besar mengapit jalanan kecil yang membelah kota. Tapi gedung- gedung itu kosong dan tak terawat. Tembok, atap, dan daun pintunya tampak kusam akibat terjangan angin laut selama bertahun-tahun. Ditambah langit kelabu dan Kabut Gelap yang meggelayut di atas kota, Terraven terlihat bagaikan sebuah lukisan murung.
Di sepanjang dermaga yang membentang di sepanjang garis pantai, para nelayan sibuk bekerja. Mereka memuat jaring-jaring besar dan tong-tong berisi bubuk hitam beraroma menyengat ke dalam perahu mereka.
Tak lama kemudian, teman Laruen menyusul dan berdiri di sebelahnya. “Hei, Karth, bubuk hitam apa itu?” tanya Laruen begitu pria itu tiba.
“Bubuk mesiu,” jawab Karth sambil menyibak tudung jubahnya, membiarkan angin laut memainkan rambut kelabu panjang yang dikuncir kuda di belakang lehernya.
“Apa kegunaannya?” Laruen mengernyitkan sebelah matanya.
“Bubuk itu menghasilkan ledakan sehingga ikan mudah ditangkap. Sayangnya ledakannya juga merusak karang dan tanaman laut lainnya,” Karth menjelaskan.
Laruen terkejut luar biasa mendengarnya. Dia mengatupkan bibirnya dengan geram dan menatap tajam ke arah para nelayan.
“Ayolah, kita nggak berada di sini untuk itu,” Karth menepuk pundak Laruen dan mengajaknya melanjutkan perjalanan.
Laruen mengikuti dengan enggan. Karth berjalan di depan, mereka melewati perkampungan yang terapung di atas tonggak-tonggak kayu hingga tiba ke bagian dermaga yang sepi. Karth
terlihat menimbang-nimbang sebelum akhirnya menghampiri seorang pria tua yang duduk memancing di atas kapalnya.
“Hei, pak tua,” panggil Karth. “Bisa mengantar kami dengan perahumu ke sebuah pulau di Kuburan Kapal?”
“Bisa saja,” jawab orang tua itu tanpa menoleh. “Tapi nggak sekarang. Untuk lima keping perunggu kuantar kalian besok pagi.”
“Bukan besok, sekarang!” sahut Laruen galak. Dia tidak suka melihat Manusia yang malas, seperti nelayan tua ini.
“Kami bayar dua puluh keping jika Anda bersedia mengantar kami sekarang,” Karth menambahkan dengan tenang.
Sesuai dugaan, mendengar kata dua puluh keping, nelayan tua itu bangkit dari tempat duduknya.
Memang hanya uang yang ada di kepala kalian! pikir Laruen.
Si nelayan tua meletakkan alat pancingnya dan berbalik. Dia menatap Laruen dan Karth bergantian. Mulanya dia menatap mereka dengan penuh curiga, tapi seperti terkena sihir, mendadak dia melupakan kecurigaannya dan kembali bersikap biasa.
“Kenapa nggak bilang dari tadi kalau bayarannya dua puluh keping,” ujarnya sembari mempersilakan Laruen dan Karth naik ke atas kapal kecilnya. “Heran, hari ini banyak sekali turis yang ingin melihat pulau itu.”
Karth mengangkat alisnya. “Ada pengunjung sebelum kami?”
“Beberapa jam yang lalu,” si nelayan mengerutkan dahinya. “Tiga orang bertudung hijau seperti kalian. Satu di antaranya perempuan, cantik sekali. Tapi warna kulitnya aneh, cokelat keemasan seperti Elvar. Aku hanya melihatnya sekilas saat tudung jubahnya tertiup angin, jadi aku bisa saja salah,” celotehnya sambil melepaskan tali penambat kapalnya dari dermaga.
“Leidz Ellanese,” desis Laruen tak senang.
“Iya, dan satunya lagi pasti Lourd Valadin,” timpal Karth. “Menurutmu siapa satunya lagi?”
Laruen mengangkat bahu. “Entahlah,” gumamnya. “Tapi Lourd Valadin memang pernah bilang selain dirimu masih ada satu orang lagi yang diajaknya bergabung, mungkin itu
orangnya.”
Saat itu satu bulan telah berlalu sejak pembicaraan Laruen dengan Valadin di Hutan Telssier.
Malam itu, setelah Valadin dan Ellanese beranjak pergi, mata Laruen terpaku pada punggung sang Komandan Legiun Falthemnar yang dikaguminya itu hingga sosok Valadin menghilang di antara pepohonan. Lalu tiba-tiba koakan nyaring Peregrine mengejutkannya.
__ADS_1
Laruen berbalik cepat. Elangnya baru saja memberi tahu ada seseorang yang bersembunyi di balik pepohonan.
“Siapa di sana?!” Lauren memasang anak panah di busurnya dan mengarahkannya ke tempat yang ditunjukkan Peregrine.
“Hei, jangan asal tembak begitu,” jawab seorang pria dari balik pepohonan.
Laruen mengenali suara itu. “Karth,” desisnya seraya menurunkan busur. “Kau mencuri dengar pembicaraan kami?”
Karth melangkah santai dari balik pepohonan. “Aku nggak bermaksud menguping, kalian saja yang nggak menyadari kehadiranku.” Dia menyeringai usil.
Laruen mendengus. Ya ... dia kadang lupa kalau Karth— partnernya—adalah seorang Shazin. Kaum Shazin merupakan prajurit elit yang terlatih dalam pertempuran jarak dekat, khususnya dalam hal mendekati lawan diam-diam lalu menghabisinya dalam satu serangan.
“Seberapa banyak yang kau dengar?” cecar Laruen.
“Nggak ada yang baru,” jawab Karth santai. “Dia mengatakan hal yang sama seperti yang diucapkannya padaku beberapa hari lalu.”
Laruen terkesiap. “Lourd Valadin memintamu bergabung?” Karth mengangguk. “Tapi aku masih mempertimbangkan permintaannya. Kulihat kau cepat sekali memberikan jawaban,” ujarnya menggoda.
Seketika itu juga Laruen merasa wajahnya panas. “Bukan seperti itu!” bantahnya. “Kau tahu, kan, betapa aku menghormati Lourd Valadin. Tanpa dirinya, nggak mungkin Vier-Elv sepertiku bisa menjadi prajurit Legiun Falthemnar. Dan nggak seperti Elvar berdarah murni lainnya, dia menganggapku sebagai teman.”
“Aku juga berdarah murni,” sela Karth. “Jadi selama ini aku nggak dianggap teman?” tambahnya dengan nada kecewa yang dibuat-buat.
“Iya, iya! Semuanya, kecuali kau, puas?” balas Laruen sewot. Karth tertawa kecil sambal mengacak-acak rambut Laruen. Dia senang sekali berhasil membuat Laruen salah tingkah.
Memang, selain Lourd Valadin, Karth adalah satu-satunya teman Laruen. Bahkan Karth juga satu-satunya prajurit Legiun Falthemnar yang bersedia menjadi partnernya. Dan untuk itu Laruen sangat menghormati Karth, walau keusilannya kadang membuat Laruen kesal setengah mati.
“Jadi,” kata Laruen akhirnya. “Kau akan bergabung dengan kami, kan?”
Karth tersenyum masam dan mengangkat bahu. “Nggak ada pilihan lain, kan?” katanya balas bertanya.
***
Lamunan Laruen mendadak buyar ketika kapal yang ditumpanginya oleng terkena hantaman ombak. “Pegangan yang erat, cuaca lagi nggak begitu bagus,” kata si nelayan.
Cipratan air laut sedingin es menampar wajah Laruen. Angin dingin yang berembus kencang nyaris menyibak tudung jubahnya. Jantung Laruen berdegup kencang. Dia mencengkeram badan kapal erat-erat, khawatir kapal yang mereka tumpangi terbalik. Tapi untunglah hal itu tak terjadi. Si nelayan tua dengan cekatan membawa perahu mereka melewati amukan demi amukan ombak.
“Kita tiba,” ujar Karth akhirnya.
Laruen mengedarkan pandangannya. Kapal mereka memasuki wilayah perairan yang diselimuti Kabut Gelap. Di antara kungkungan kabut dia masih bisa melihat gugusan karang sebesar pohon bertebaran. Laruen tidak berani membayangkan apa jadinya kalau kapal kecil mereka sampai menghantam salah satu karang itu.
Dari sela-sela ombak dan karang, Laruen melihat puluhan tiang layar dan puing-puing kapal besar mencuat di atas permukaan air. Sekarang dia baru benar-benar paham kenapa perairan ini dinamai Kuburan Kapal.
“Apa yang membawa kalian ke Kuburan Kapal sore-sore begini, sih?” tanya nelayan tua itu tiba-tiba. “Kalian tahu, kan, tempat ini terkutuk?”
“Tutup mulutmu,” sahut Laruen ketus. “Kami membayarmu untuk mendayung, bukan mengobrol.”
“Nggak usah galak begitu,” cela Karth pelan. “Lagi pula yang dia katakan tentang tempat ini ada benarnya.” Dia memandang Laruen tajam. “Tempat ini memang terkutuk.”
Gadis itu mendengus pelan, sadar Karth sedang menggodanya. “Aku bukan anak kecil. Kau pikir cerita hantu semacam itu bisa menakutiku?”
Walaupun mulutnya berkata seperti itu, sejujurnya Laruen tidak tenang sejak kapal mereka memasuki Kuburan Kapal. Udara di tempat itu tercium seperti kematian. Pasti ada ratusan atau mungkin ribuan pelaut yang kehilangan nyawanya di sini saat kapal mereka terempas menabrak gugusan karang.
Laruen belum pernah merasa setakut ini sebelumnya, tapi dia tidak mau menunjukkannya pada Karth. Selama ini, partnernya selalu melindunginya. Lauren ingin menunjukkan bahwa dia sudah dewasa, bukan lagi gadis penakut yang baru bergabung dengan Legiun Falthemnar.
“Lihat!” ujar si nelayan tua. Laruen menengadahkan kepalanya. Tepat di hadapannya, Kabut Gelap menghadang bagai dinding kelabu tebal.
Angin bertiup dari arah kabut membawa serta aroma aneh yang menyesakkan napas.
__ADS_1
“Pulau yang kalian cari ada di balik Kabut,” kata si nelayan.
“Tunggu apa lagi?” tanya Karth. “Bawa kami ke sana.”
Si nelayan tampak enggan, Laruen tidak menyalahkannya. Kabut Gelap sepekat itu akan membuat siapa saja gentar.
“Kalian benar-benar nggak waras,” ujar si nelayan tua sambil mengarahkan perahunya masuk ke dalam kabut.
Perahu kecil itu berlayar pelan menembus kabut. Jantung Laruen berdegup semakin kencang, khawatir kalau-kalau mereka akan diserang Daemon saat berada di dalam kabut. Tapi untunglah kabut tidak terlalu tebal, dalam beberapa kayuhan mereka sudah keluar dari kepungan kabut.
Kini di depan mata Laruen terbentang pulau karang besar yang lebarnya paling tidak beberapa ratus meter. Di tengah pulau ada semacam gua yang menyerupai lubang hitam menganga. Tapi Laruen tidak dapat melihat apa yang ada di dalam gua itu. Kabut gelap yang menggantung di atas pulau menutupi pandangannya.
Mendadak, dari mulut gua terdengar raungan dan lolongan panjang. Bulu kuduk Laruen meremang, tanpa sadar gadis itu beringsut mundur.
Kapal mereka merapat ke salah satu bagian pulau yang cukup landai. Karth melompat turun dari kapal, lalu membantu Laruen turun dan menyerahkan sepuluh keping perunggu pada si nelayan.
“Kubayar sisanya besok pagi waktu kau menjemput kami,” jelas Karth sebelum orang tua itu sempat protes.
Walau terlihat tidak senang, nelayan tua itu mengambil dan mengantungi keping-keping yang diberikan Karth. “Demi Odyss, aku berharap kalian masih hidup saat kujemput besok.” Setelah itu, dia mendayung kapalnya dan berlayar kembali menuju Terraven sebelum seluruh perairan tertutup Kabut Gelap.
“Ayo,” ajak Karth. “Lourd Valadin pasti berada di sekitar sini.”
Mereka menyusuri jajaran karang rapat yang membentuk jalanan licin dan tidak rata. Sepanjang perjalanan mata Laruen tak hentinya mengawasi keadaan.
“Kabut di sini lebih tebal daripada hari paling berkabut di hutan,” bisiknya dengan suara tertahan. Sejak menapakkan kakinya di pulau, perasaan takut yang menyelimutinya semakin menjadi-jadi.
“Benar,” Karth menyetujui. “Waspadalah! Mungkin ada beberapa Daemon di sekitar sini.”
Laruen mengeluarkan busur panjang yang dari tadi disembunyikannya di balik jubah dan menyiapkan sebatang anak panah. Dalam hati, dia sedikit menyesal tidak membawa Peregrine. Selama ini Laruen tidak pernah bepergian tanpa Peregrine, dan elang itu memiliki insting yang tajam dan selalu memperingatkannya akan bahaya. Tapi Laruen tidak punya pilihan. Lautan terbuka seperti ini bukan tempat untuk burung yang terbiasa hidup di hutan seperti Peregrine.
Mereka sudah mendekati bagian tengah pulau, tempat mulut gua itu berada. Lauren menjerit tertahan saat menyadari kakinya menginjak sesuatu yang hangus.
Karth berlutut untuk mengamati. “Olrog,” gumamnya Olrog—Daemon yang menyerupai burung camar—konon tercipta dari Kabut Gelap yang merasuki bangkai camar. Dia mengamati paruh bergerigi tajam yang menyembul dari salah satu Olrog.
Saat itulah Laruen menyadari Olrog yang terbakar tidak hanya satu melainkan ratusan, tersebar di sekeliling mulut gua. Perutnya semakin mual. Selama hidupnya, dia tidak pernah melihat Daemon sebanyak ini.
Kenapa Lourd Valadin memintaku datang kemari?
“Tidak usah takut,” ujar suara yang sudah dikenal Laruen— Ellanese.
Laruen menoleh, dan mendapati sosok Ellanese yang mengenakan jubah bertudung berwarna hijau. Wanita itu melangkah tenang di atas bangkai para Olrog. “Daemon-daemon ini tidak bisa lagi menyakiti kalian.”
Wanita itu berhenti tepat di hadapan mereka. “Kalian lama sekali. Lourd Valadin sudah menunggu.” Dia melirik ke arah Laruen dari ujung matanya.
Walaupun sulit dipercaya, tapi kali ini Laruen benar-benar senang bertemu Ellanese. Meskipun wanita itu baru saja menatapnya hina, tapi Laruen tidak peduli.
Karth masih mengamati bangkai Olrog. “Siapa yang melakukan ini?” ujarnya. “Menggunakan sihir api di tempat terbuka seperti ini? Dia pasti seorang Magus yang sangat kuat!”
“Apa dia anggota terakhir kita?” tanya Laruen spontan.
“Siapa dia?”
Ellanese mendengus. “Jaga bicaramu, setengah-Elvar!” desisnya. “Asal tahu saja, aku tidak setuju menjadikanmu bagian dari kelompok ini!”
Kata-kata itu seolah menyadarkan Laruen. Pulau mengerikan atau tidak, Ellanese tetaplah Ellanese. Laruen tidak habis pikir kenapa Lourd Valadin bisa begitu sabar menghadapi wanita ini.
“Leidz Ellanese,” sela Karth tajam. “Anda belum menjawab pertanyaan Laruen. Siapa anggota kita yang terakhir?”
Ellanese menghela napas panjang sebelum menjawab. “Seseorang yang tidak kalah menjijikkannya!” jawabnya sambil melirik Laruen.
__ADS_1
Mata Laruen terbelalak. Tapi seperti tidak memedulikan perubahan ekspresi di wajah Laruen, Ellanese berjalan santai ke arah gua. Laruen dan Karth buru-buru mengikutinya. Begitu mereka tiba di dalam, Laruen menyadari betapa tingginya langit-langit gua itu, mungkin sepuluh meter di atas kepalanya. Seluruh atap gua melengkung bagaikan kubah raksasa. Ukuran gua yang kelewat besar itu mengakibatkan debur ombak bergema. Rupanya itulah sumber suara raungan yang tadi didengar Laruen.