
Aelwen merasa lega saat Kabut Gelap yang mengepung Hutan Telssier berangsur-angsur menipis. Sebelumnya dia tidak pernah melihat Kabut Gelap begitu dekat, bahkan dalam perjalanannya dari Granville ke Mildryd sekalipun.
Kabut Gelap yang menyelimuti benua ini merupakan tempat hidup para Daemon—makhluk keji yang hidup dengan memangsa makhluk lain. Daemon telah mendiami benua ini bahkan sejak sebelum Bangsa Elvar. Di mana ada Kabut, bisa dipastikan mereka berada tak jauh dari situ.
Pepohonan yang lebat kini menjadi lebih jarang. Akhirnya Aelwen bisa melihat tujuan mereka, hamparan padang rumput yang tersembunyi di tengah hutan.
Perjuangan Aelwen merayu dan memohon pada Vrey— agar diajak berburu Nymph—terbayar sudah. Dia memang belum melihat para Nymph. Tapi melihat padang itu saja sudah membuatnya merasa takjub. Padang rumput liar itu sangat indah. Jauh lebih indah dari kebun-kebun yang ada di Kota Granville.
Padang itu ditumbuhi berbagai macam bunga. Lili, begonia, dan aster bermekaran walaupun belum saatnya berbunga. Tempat itu bermandikan cahaya matahari, tidak seperti bagian hutan lainnya yang tampak muram. Di tengah-tengah padang terdapat kolam dengan air yang sangat jernih. Sekawanan teratai dengan bunga berwarna ungu cerah tumbuh subur di sana. Ratusan capung dan kupu-kupu melayang di atasnya.
Aelwen sampai ternganga saking takjubnya. Dia belum pernah melihat tempat yang begitu luar biasa. Bahkan di buku atau lukisan—dan dia sudah membaca ratusan buku dan melihat banyak lukisan.
“Di sinilah para Nymph tinggal,” kata Vrey. Gadis itu duduk di antara karpet bunga dan meluruskan kakinya.
Aelwen duduk di sampingnya, “Di sini? Tapi aku tidak melihat satu pun. Lagi pula kenapa tidak ada Elvar yang menjaganya?”
“Nymph adalah roh tanaman yang ada di Hutan Telssier,”
Vrey menjelaskan. “Mereka juga pemalu. Mereka nggak akan
memperlihatkan dirinya di hadapan makhluk lain. Kurasa
itulah sebabnya para Elvar menganggap tempat ini nggak perlu
dijaga.”
“Tapi kalau kau tidak bisa melihatnya, bagaimana caramu
menangkap mereka?”
“Akan kutunjukkan,” jawab Vrey.
Vrey terdiam. Kemudian dia menatap Aelwen dengan tajam.
“Ingat, jangan ceritakan apa pun yang kau lihat nanti pada teman-teman di kedai atau kulempar kau ke jeram tadi!”
“Memangnya kenapa?” Aelwen semakin penasaran.
“Lihat saja sendiri,” jawab Vrey singkat. Dia menarik napas dalam-dalam dan mulai membuka mulutnya. Suara lembut dan merdu mengalun keluar dari bibir Vrey.
Aelwen tiba-tiba merasa bulu kuduknya meremang. Dia menyadari capung dan kupu-kupu yang sebelumnya terbang tak beraturan kini menghampiri Vrey seolah mendengarkan. Walaupun Vrey bersenandung tanpa menyanyikan sepatah kata pun, Aelwen bisa merasakan kekuatan sihir mengalir dari suara Vrey.
Saat itulah Aelwen menyadari kemunculan makhluk-makhluk berukuran sebesar telapak tangan dari balik bunga dan rumput—para Nymph. Sayap mereka yang menyerupai sayap kupu-kupu mengepak kencang. Setiap kepakannya menjatuhkan jejak debu halus yang berkilauan.
Para Nymph terbang mendekat. Sekarang Aelwen bisa melihat dengan jelas makhluk yang sebelumnya hanya dibacanya dalam dongeng. Sepintas Nymph menyerupai Elvar. Tapi bola mata mereka besar seperti serangga. Selain itu, tubuh mereka ditumbuhi sejenis tanaman menjalar yang berbunga ungu.
Sepasang Nymph terbang tepat di depan mata Aelwen. Dia begitu terkesan hingga ingin sekali menyentuh mereka. Tapi Aelwen tidak berani bergerak, khawatir para Nymph akan terbang menjauh.
Di luar dugaan Aelwen, Vrey tiba-tiba berhenti bernyanyi dan menyambar sepasang Nymph itu dengan gerakan secepat kilat. Para Nymph yang lain menghilang dari pandangan Aelwen. Padang rumput kembali seperti sediakala, semua kupu-kupu dan capung kembali terbang tak beraturan ke sana-kemari.
__ADS_1
“Begitulah caraku menangkapnya,” kata Vrey. Dengan entengnya dia mencabut sayap dari punggung para Nymph.
Makhluk-makhluk itu menjerit dengan suara memilukan sebelum wujudnya berubah. Sosok mereka yang cantik seolah memudar dan mengering hingga menyerupai akar tanaman yang membusuk.
Vrey melempar tubuh Nymph yang tidak bernyawa ke dalam kolam, menyisakan sayap mereka di tangannya. Aelwen bergidik menyaksikan kejadian itu bergulir di depan matanya.
Seperti laba-laba, Vrey memikat para Nymph lalu menghabisi nyawa mereka. Tapi tidak seperti Aelwen, Vrey yang dibesarkan oleh para pencuri di Mildryd seperti sudah terbiasa melakukan hal-hal semacam ini. Gadis itu bahkan tidak terusik dengan perubahan ekspresi Aelwen.
Dengan hati-hati, Vrey menyimpan sayap-sayap Nymph ke dalam sebuah kantong kecil yang dibawanya.
“Ingat, jangan ceritakan hal ini pada siapa pun,” kata Vrey.
“Gill dan yang lainnya akan menertawaiku sampai mati kalau mereka tahu aku bisa menyanyi.” Dia lalu menambahkan dua coretan di secarik perkamen lusuh—catatan jumlah sayap Nymph yang sudah dikumpulkannya.
“Tapi, suaramu sungguh merdu. Dan aku tidak pernah mendengar lagu seperti itu sebelumnya? Apa itu lagu Elvar?” tanya Aelwen.
Vrey terdiam sesaat. “Jujur, aku juga nggak tahu. Aku bahkan nggak ingat di mana aku mempelajari lagu itu. Aku hanya tahu kalau aku bisa menyanyikannya sejak kecil, itu saja.”
“Lalu bagaimana kau tahu nyanyianmu bisa memikat para Nymph?” tanya Aelwen lagi.
“Ceritanya panjang,” jawab Vrey.
Aelwen tertawa kecil “Kita juga punya banyak waktu, kan? Ayo ceritalah,” desaknya.
“Oh, maaf,” ujar Aelwen serba salah. Dia tidak tahu-menahu tentang masa lalu Vrey karena gadis itu tidak pernah membicarakannya.
“Haha, tenang saja,” ujar Vrey. “Aku juga nggak terlalu ingat masa kecilku bersama kakek, kok. Lagi pula, aku sudah menganggap komplotan kita seperti keluargaku sendiri.”
Vrey memungut kerikil dan melemparkannya hingga memantul-mantul di kolam sebelum melanjutkan. “Tapi pernah pada suatu waktu, aku ingin tahu tentang sisi lain diriku,
tentang darah Elvar yang mengalir di tubuhku. Maka enam tahun yang lalu aku diam-diam meninggalkan kelompok kita untuk tinggal di Falthemnar bersama para Elvar.”
“Bukannya Vier-Elv tidak diizinkan menapakkan kaki di Falthemnar?” potong Aelwen penasaran
“Kau benar. Itu juga cerita yang panjang dan aku nggak ingin membicarakannya, kita lewati saja bagian itu.”
Aelwen sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut. Tapi dia menyadari kesedihan yang terpancar dari kedua bola mata Vrey saat mengatakan hal itu, jadi dia mengurungkannya. “Tidak apa, aku mengerti,” katanya.
Vrey melanjutkan. “Setelah hampir setahun aku sadar tempatku bukan bersama para Elvar, jadi aku meninggalkan Falthemnar,” kata Vrey, seulas senyum pahit menghasi bibirnya.
“Dalam perjalanan pulang, aku melintasi hutan ini. Saat itulah aku merasa takut. Takut Gill dan komplotannya nggak mau menerimaku lagi setelah pergi tanpa pamit. Akhirnya aku berjalan tanpa arah sampai menemukan tempat ini,” Vrey menatap sekeliling padang rumput itu.
“Aku duduk di tempat ini dan menggumamkan lagu yang sering kudendangkan sejak kecil,” Vrey menjelaskan.
“Menyanyikan lagu itu selalu membuatku merasa nyaman. Melodinya membantuku melupakan rasa takut dan cemas.”
Vrey menggumamkan lagu yang sama dan para Nymph kembali bermunculan. Satu Nymph terbang mendekat ke arahnya. Dan seperti sebelumnya, Vrey dengan cekatan menangkap Nymph itu.
__ADS_1
“Itulah Nymph pertamaku,” kata Vrey. “Saat itu aku begitu senang. Kupikir kalau aku membawakan Nymph untuk Gill, dia akan menerimaku lagi. Aku sampai nggak menyadari kalau aku menangkap Nymph itu berkat nyanyianku.”
“Lalu, kau akhirnya kembali ke tempat Gill?”
“Iya, tapi begitu sampai di rumah, belum juga kuberikan Nymph itu padanya Gill sudah menghajarku sampai babak belur.” Vrey tersenyum masam mengenang kejadian itu.
“Lalu Nymph yang kau tangkap?” tanya Aelwen.
“Akhirnya tak pernah kuberikan pada Gill,” jawab Vrey. “Kebetulan waktu itu Gill pergi ke luar kota, jadi aku mencari informasi tentang hasil tangkapanku. Saat itulah aku bertemu dengan seorang kolektor di Mildryd. Dia seorang pria tua kaya yang kelihatannya terpelajar, jadi aku menunjukkan Nymph itu padanya.”
“Apa yang dikatakannya?” tanya Aelwen penasaran.
“Tentu saja dia terkejut,” kata Vrey. “Menurutnya Nymph sangat langka, bahkan di antara Bangsa Elvar sekalipun. Untuk memikat para Nymph, bangsa Elvar harus menyanyikan sebuah
lagu istimewa. Dan konon kabarnya bahkan di antara Bangsa Elvar sekalipun tak banyak yang mampu menyanyikan lagu itu.”
“Mengapa bangsa Elvar perlu memikat para Nymph?” tanya Aelwen lagi. “Tentunya tidak untuk mencabut sayapnya seperti yang kau lakukan, kan?”
Vrey tergelak. “Tentu saja tidak. Bangsa Elvar memikat para Nymph untuk mengumpulkan serbuk dari sayap mereka.” Vrey menunjukkan debu halus yang masih menempel di jarinya.
“Serbuk ini memiliki kekuatan sihir dan dapat digunakan sebagai campuran saat menempa berbagai macam senjata dan zirah.”
Dia melanjutkan kisahnya. “Orang tua itu sangat senang melihat Nymph yang kutangkap, dan dia memberitahuku tentang mitos Jubah Nymph.”
“Jubah Nymph?” Aelwen memicingkan matanya.
“Tadi aku bilang serbuk dari sayap Nymph bisa digunakan untuk campuran bahan tempa, kan,” Vrey mengingatkan.
“Bayangkan jika kau bisa mengumpulkan sayap Nymph dalam jumlah besar. Kau bisa mengubah sayap-sayap itu menjadi pakaian seringan bulu dan sekuat baja.” Vrey menatap Aelwen lekat-lekat lalu melanjutkan. “Katanya kekuatan Jubah Nymph mampu melebihi zirah terkuat yang ditempa oleh bangsa Draeg sekalipun.”
Mata Vrey berkilat-kilat saat mengatakannya. Tak heran, Bangsa Draeg—yang juga penghuni asli Ther Melian—dikenal karena bakat mereka dalam mengolah logam. Konon tidak ada pandai besi di dunia ini yang mampu menempa senjata dan zirah sebaik mereka.
“Jadi sejak saat itu kau mulai mengumpulkan Nymph?” tanya Aelwen.
“Iya,” jawab Vrey. “Pencuri mana yang nggak tergoda mendengar cerita seperti itu? Apalagi setelah menyelidiki sendiri, aku mengetahui bahwa Jubah Nymph adalah harta dari segala harta. Impian para pemburu dan kolektor di dunia ini,” tambahnya.
“Berapa sayap lagi yang kau butuhkan untuk menyelesaikan jubah itu?” tanya Aelwen.
“Sebenarnya aku berharap bisa menggenapkan jumlahnya hari ini,” kata Vrey. “Tapi kita harus cepat. Para Nymph nggak akan muncul selewat tengah hari.”
Jawaban Vrey seolah menyulut sesuatu dalam diri Aelwen. Tanpa sadar dia melompat berdiri. “Kalau begitu tunggu apa lagi?” tanyanya. “Ayo! Kau yang menyanyi, aku yang menangkap, dengan begitu kita bisa selesai sebelum siang.”
Vrey tersenyum. “Kau yakin?” tanyanya penuh selidik. Cara Aelwen memandanginya saat dia mencabut sayap para Nymph tadi tak luput dari perhatiannya.
“Aku yakin,” jawab Aelwen.
Vrey cukup puas dengan jawaban itu. “Baiklah,” kata gadis itu akhirnya.
Aelwen dan Vrey menghabiskan sisa pagi dengan mengumpulkan sayap Nymph. Dan saat matahari tepat berada di atas kepala, mereka akhirnya mendapatkan sayap yang dibutuhkan untuk membuat Jubah Nymph.
__ADS_1