
Matahari menyinari kamar Vrey melalui jendela di atas tempat tidurnya. Hari sudah siang, pikir Vrey saat melirik ke jendela. Dia menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya. Hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Dia enggan bangun apalagi memulai aktivitasnya.
Sebulan yang lalu, Vrey dan Aelwen berhasil menggenapi jumlah sayap yang dibutuhkan untuk membuat Jubah Nymph. Waktu itu dia benar-benar senang, Vrey seolah bisa merasakan Jubah Nymph yang diidam-idamkannya berada dalam genggamannya. Tapi saat dia dan Aelwen berusaha mengubah sayap-sayap itu menjadi jubah, saat itulah bencana terjadi ...
Pakaian umumnya dibuat dari kulit binatang yang dikeraskan dengan lilin panas. Menurut Aelwen, untuk bahan serapuh sayap Nymph sepertinya cara itu sesuai. Sayangnya, saat mereka mencoba mencelupkan sehelai sayap Nymph ke dalam lilin panas, sayap itu hancur.
Ide Aelwen berikutnya adalah menjahit potongan-potongan sayap menjadi jubah. Tapi saat Aelwen mencobanya, sayap itu sobek. Mereka terus mencoba dengan berbagai jenis benang. Vrey sampai harus menggunakan hampir seluruh uang simpanan pribadinya untuk membeli benang sutra halus yang didatangkan dari Kerajaan Lavanya. Tapi semuanya sia-sia. Tak peduli jenis benang apa yang mereka gunakan, sayap Nymph terlalu rapuh untuk dijahit.
Vrey dan Aelwen akhirnya sampai pada satu kesimpulan. Bahan serapuh itu tidak bisa dibuat menjadi pakaian.
Jubah Nymph hanyalah sebuah mitos, tidak lebih ...
Sejak menyadari hal itu, Vrey seolah kehilangan semangat. Sepanjang hari dia hanya mengurung diri di kamar. Dia tidak pernah menyangka kegagalan itu akan membuatnya begitu
merana seperti ini. Memang benar dia menginginkan Jubah Nymph. Tapi itu wajar, kan? Siapa yang tidak menginginkan benda luar biasa seperti itu.
Vrey tidak mengerti dari mana datangnya semua kekecewaan ini. Dia bahkan tidak bisa ingat kapan terakhir kali dia pernah merasa seperti itu. Kecuali mungkin lima tahun yang lalu saat ...
Gadis itu menggigit bibirnya, mencegah dirinya mengingat masa-masa itu lagi. Saat ini dia tidak boleh memikirkan hal itu. Vrey tidak mau menambah beban pikirannya sendiri. Dia harus
bangkit lagi dari keterpurukan ini, secepatnya.
Saat ini mereka memang tengah libur dan tidak ada pesanan. Tapi jika dia terus bersikap seperti ini, cepat atau lambat Gill akan menghajarnya habis-habisan.
Tidak hanya Gill. Teman-temannya pun mencemaskan Vrey. Tiada hari berlalu tanpa Blaire bertanya apa Vrey sakit dan memaksanya untuk makan lebih banyak.
Vrey menyingkap selimutnya dan beringsut bangun, tapi pandangannya langsung tertumbuk pada peti penyimpanan sayap Nymph. Seketika itu juga kekesalannya kembali memuncak. “Satu peti penuh sampah!” gerutunya sambil melemparkan bantalnya ke peti itu.
Mendadak pintu kamar Vrey terbuka lebar, dan Aelwen berjalan masuk. “Maaf, Vrey,” katanya. “Mereka memaksaku.”
Kening Vrey berkerut. Dan sejurus kemudian Blaire, Rufius, Evan, dan Clyde berurutan memasuki kamar Vrey. Blaire menatap Vrey tajam. “Jadi ... Jubah Nymph, ya,” katanya. “Itu yang kau sembunyikan dari kami selama ini?”
Vrey melompat bangun dari tempat tidurnya. Dia langsung melotot gusar pada Aelwen. “Kau cerita pada mereka?” hardiknya gusar.
“Maaf, Vrey,” Aelwen tertunduk. “Tapi semua orang menghawatirkanmu ... Aku harus mengatakannya pada mereka”
Penjelasan Aelwen membuat Vrey semakin murka. “Apa peduliku? Kau, kan, sudah janji nggak akan cerita!” Saking kesalnya, dia turun dari tempat tidur dan langsung berdiri tepat
di hadapan Aelwen.
Aelwen memang lebih tinggi darinya, tapi Vrey tidak peduli. Sambil berkacak pinggang, dia menatap tajam mata biru Aelwen. Gadis itu menunduk gelisah seperti anak anjing yang dimarahi tuannya.
Sialnya ada Blaire yang menengahi. “Ini bukan salahnya,” ujarnya. “Kau pikir kami nggak bisa cari tahu sendiri?”
Mendadak Clyde menepuk punggung Vrey keras-keras sampai dia nyaris terjungkal. “Kalau sejak awal kau cerita tentang Jubah itu kami, kan, bisa membantumu menemukan jalan.”
Semua perhatian dari teman-temannya justru membuat Vrey semakin kesal. “Sudah-sudah!” ujarnya gusar. “Kita lupakan saja tentang benda sial itu. Akan kujual sayap-sayap ini di pasar. Aku yakin salah satu pelanggan kita bersedia membeli semuanya.” Dia membongkar petinya dan mengeluarkan tas berisi sayap Nymph.
Sehelai sayap terjatuh ke atas lantai kayu. Vrey memungut dan meremas benda itu tanpa mengatakan apa-apa.
Lima tahun ... Selama itulah dia mengumpulkan semua sayap itu. Tanpa dia sadari impiannya akan Jubah Nymph telah membantunya melupakan sebuah kesedihan di masa lalunya. Tapi kini Vrey akan kehilangan impian itu.
Itukah sebabnya aku merasa seperti ini? Vrey tidak mengerti, yang jelas dia tidak mau teman-temannya mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
Tapi Vrey sadar dia tidak bisa selamanya berpegang pada sebuah impian kosong.
Ya! Untuk apa kusimpan lebih lama lagi? pikir Vrey. Seharusnya kubuang semua ini sebulan yang lalu.
Membulatkan tekad, Vrey menjejalkan sayap itu ke dalam tas dan beranjak menuju pintu. Tapi di saat bersamaan, Gill membuka pintu kamar Vrey. Daun pintu kayu itu membentur wajah Vrey dan membuatnya terjengkang ke lantai.
Gill melihat Vrey dengan wajah tidak bersalah. “Oh, Vrey, haha, aku nggak tahu kau ada di balik pintu tadi.”
Vrey cepat-cepat berdiri. Dia mengusap-usap hidungnya yang nyeri bukan kepalang. Ada beberapa cacian yang melintas di kepalanya untuk Gill. Tapi Vrey masih cukup waras untuk menyimpannya di dalam hati saja.
“Hmm, tampangmu itu menyedihkan sekali, tahu!” kata Gill lagi. “Kau betul-betul menginginkan jubah itu sampai rela mengamen seperti Elvar-Elvar banci itu, ya?”
Napas Vrey terhenti saat mendengar ucapan Gill.
Clyde menepuk dahinya. “Astaga ...” ujarnya. “Kok aku bisa lupa, sih!” Dia mengalihkan tatapannya pada Vrey. “Aku nggak ngerti kenapa kau menyembunyikan nyanyian merdumu itu dari kami. Padahal kami semua ingin mendengarnya, lho. Benar begitu, kan, teman-teman?” tanyanya sambil mengedipkan sebelah mata.
Vrey melotot gusar. Itu sama sekali bukan pujian! Vrey tahu persis maksud di balik ucapan Clyde. Dugaan Vrey terbukti beberapa detik kemudian saat Rufius, Blaire, dan Evan mulai cekikikan. Awalnya mereka berusaha menahannya, tapi akhirnya menyerah juga. Tak lama kemudian semua orang meledak dalam gelak tawa, bahkan Aelwen pun tidak ketinggalan.
Hanya Vrey yang tidak tertawa. Wajahnya panas karena kesal. Dia menggertakkan rahangnya penuh amarah dan meremas tinjunya erat-erat. Sialan! Inilah sebabnya kenapa aku nggak ingin mereka tahu rahasiaku! Ingin rasanya Vrey menjejalkan semua sayap ini ke dalam mulut besar Aelwen.
“Gill!” ujar Vrey disela gelak tawa teman-temannya. “Kau punya banyak kenalan, kan? Pasti ada yang bersedia membayar mahal untuk sayap-sayap ini. Kita bisa menggunakan uangnya untuk berbagai keperluan.”
Gill berhenti tertawa. Dia memandangi Vrey sambil memicingkan matanya. “Kau nggak mengumpulkan sayap-sayap ini untuk uang, kan?” tanyanya.
Untuk sesaat Vrey tercengang dan tidak mampu menjawab. Tapi dia buru-buru mengendalikan dirinya. “Tentu saja aku melakukannya untuk uang! Memangnya ada alasan apa lagi?”
“Nggak usah bohong,” kata Gill. “Kau menginginkan Jubah itu untuk alasan lain.”
“Kenapa tidak?” tanya Aelwen. “Bukankah itu yang dilakukan pencuri? Memburu harta dan legenda,” tambahnya polos.
Gill tertawa dengan suara serak saat mendengarnya. “Tuh! Bahkan Aelwen lebih terdengar seperti pencuri daripada kau”
“Ayolah, Vrey,” sahut Aelwen berseri-seri. “Aku akan membantumu. Pasti ada cara lain. Kita akan menemukannya.”
Optimis amat sih, rutuk Vrey dalam hati. Aelwen pasti terlalu banyak membaca dongeng saat masih tinggal di kota. Vrey ingat, dalam dongeng yang diceritakan Aelwen, semua orang selalu mendapatkan impiannya dan hidup bahagia selamanya.
Setelah tiga tahun hidup di Mildryd, Aelwen masih belum belajar tentang kenyataan hidup yang paling mendasar. Nggak semua impian bisa terpenuhi dan nggak semua orang bisa hidup
bahagia selamanya!
Gara-gara ucapan Aelwen, sekarang Gill dan yang lain menatap Vrey, menunggunya menjawab ‘Iya’. Sadar bahwa dirinya tidak punya pilihan lain, Vrey mengembuskan napas
panjang. “Iya, iya,” katanya, “akan kucoba sekali lagi!”
Biarlah! Aku akan berpura-pura mengikuti keinginan mereka. Saat mereka melupakan masalah ini, akan kujual sayap-sayap itu diam-diam. Kalau sudah begitu, mereka nggak akan bisa apa-apa lagi.
Sesuai dugaan Vrey, semua orang terlihat puas. Khususnya Gill.
“Bagus,” kata pria itu. “Besok pagi-pagi sekali kau dan Aelwen harus berangkat. Kalian nggak boleh pulang sebelum menyelesaikan Jubah itu.”
“Apa?!” Vrey dan Aelwen berseru berbarengan.
__ADS_1
Gill menatap Vrey. “Apa aku kurang murah hati? Aku memberimu waktu untuk mengejar impianmu!” gerutunya. Kemudian, dia berpaling pada Aelwen. “Selama ini kau ingin bertualang dan mencari harta karun, kan? Sekaranglah kesempatanmu.”
“Benarkah, Gill?” Aelwen berbinar-binar. “Tapi kalau aku pergi, siapa yang akan mengurus kedai nanti?” Blaire yang menjawab. “Jangan khawatir, kita sedang libur. Kalaupun ada pesanan mendadak, aku akan tinggal dan mengurus kedai. Di saat darurat kita juga bisa memanfaatkan Evan.”
“Hei, apa maksudmu?” protes Evan.
Rufius manggut-manggut setuju. “Dengan begitu kita nggak usah repot menjaga bayi besar ini di hutan.”
“Aku bukan bayi!” protes Evan lagi.
Mendengar semua orang memutuskan segalanya bahkan tanpa bertanya pada dirinya membuat Vrey tambah murka. Dia berteriak sekeras-kerasnya.
“OY!” Suaranya yang menggelegar membuyarkan obrolan teman-temannya. “Seenaknya saja kalian memutuskan! Aku dan Aelwen nggak akan pergi ke mana-mana. ADUUUHHH!”
Jeweran panas Gill mendarat di telinga Vrey. Tidak hanya itu, Gill juga menarik telinganya ke atas sampai Vrey harus berjinjit. “Apa kau sudah tuli, hah!” Gill berteriak keras-keras
di telinganya.
“Aduh! Ampun, lepaskan telingaku, Gill,” pinta Vrey.
Gill akhirnya melepaskan jewerannya. Vrey meringis kesakitan sembari memegangi telinganya yang serasa mau lepas. “Ampun, deh, Gill, kenapa aku harus pergi? Aku, kan, bisa
menyelesaikan jubah itu di sini?”
Clyde berjengit menatap Vrey. “Kau ini benar-benar bodoh, ya?” ledeknya.
“Berisik!” balas Vrey sewot. “Aku, kan, bisa mencari informasi di Mildryd. Aku bisa berkeliling pasar dan bertanya, seseorang mungkin tahu sesuatu.”
“Di kota kecil seperti ini, bertanya siang malam pun kau nggak akan mendapatkan petunjuk apa pun,” Clyde menjelaskan.
Gill mengangguk. “Clyde benar. Kalau kau ingin informasi tentang hal-hal semacam itu, kau harus pergi ke Ibukota Granville. Aelwen berasal dari sana, aku yakin dia bisa membantumu.”
Aelwen yang sebelumnya bersemangat mendadak pucat pasi. “Eh ... Gill, aku sudah meninggalkan Granville selama tiga tahun. Kurasa segalanya sudah berubah. Lagi pula, aku tidak ingin kembali ke sana.”
Clyde melirik Aelwen. “Memangnya kenapa?” tanyanya. “Kau takut bakal dikenali orang-orang di biara? Tenang saja, tiap tahun ada puluhan Acolyte yang kabur. Mereka nggak akan mengingatmu.”
“Bukan itu,” Aelwen terlihat kebingungan.
Vrey mendengus tidak sabar. “Sudahlah, kalau dia nggak mau, jangan dipaksa. Aku juga nggak berniat pergi kok.”
Jawaban Vrey memancing emosi Gill. Dia menjewer telinga Vrey yang satunya. “BESOK PAGI KALIAN HARUS ANGKAT KAKI DARI RUMAH INI! DAN AKU NGGAK MAU MENDENGAR KELUHAN LAIN, MENGERTI?”
Vrey tahu menentang keinginan Gill saat ini sama saja dengan menggali kuburnya sendiri. Dia tidak membantah lagi. Vrey menggigit bibirnya dengan kesal lalu mengangguk pelan.
Gill puas melihatnya. Dia menyentakkan tangannya dari telinga Vrey dan keluar dari kamar. Satu per satu Clyde, Rufius, dan Evan menyusul Gill dan meninggalkan kamar, menyisakan Vrey, Alewen, dan Blaire. Vrey dan Aelwen tertunduk lesu. Mereka bahkan tidak saling memandang.
Blaire akhirnya mengangkat kedua tangannya. “Ayolah,” katanya. “Kubantu kalian berkemas.” Dia mulai mengeluarkan pakaian Vrey dari dalam peti.
Vrey terpaksa mulai berkemas. Blaire menyeret Aelwen yang melamun agar membantu. “Jangan bengong saja. Kau juga harus berkemas. Kita masih harus belanja di pasar setelah ini, ada banyak sekali yang harus dibeli. Persediaan makanan, tenda, obat-obatan.”
“Untuk apa?” tanya Vrey dingin. “Kalau di perjalanan nanti aku kehabisan bekal, aku tinggal menjual Aelwen di desa terdekat!”
__ADS_1
“Hei, kalau mau marah, marah sana sama Gill. Aku juga tidak ingin kembali ke Granville!” sahut Aelwen ketus.