
Mildryd, kota kecil yang selalu ramai oleh pengunjung. Bahkan saat menjelang subuh sekalipun, jalanannya dipenuhi kereta pedagang dari desa sekitar.
Aelwen mengangkat belanjaannya dengan dua tangan. Dia menyelinap di antara kereta dan komodo penariknya. Komodo adalah reptilia pemakan tumbuhan yang hanya hidup di Ther Melian. Makhluk itu berjalan dengan kedua kaki belakangnya yang kuat dan cukup jinak sehingga umum digunakan sebagai tunggangan atau penarik kereta.
Bangunan-bangunan kayu berdinding terbuka dan beratap sirap mengimpit lorong sempit yang dilalui Aelwen. Gadis itu harus berhati-hati agar tidak terperosok ke kubangan-kubangan besar yang terbentuk di antara batu pelapis jalanan. Tujuan Aelwen adalah rumah makan yang terletak persis di ujung gang.
Selembar papan kayu lapuk bertulis ‘Kedai Kucing Liar’ bergantung di depan pintu masuk rumah makan, lengkap dengan gambar sesosok hitam yang menyerupai kucing hutan yang sedang menyeringai.
Aelwen mengernyit setiap kali menatap papan kayu lapuk itu. Sampai kapan pun dia tidak akan pernah memahami selera Gill—ketua mereka. Beberapa tahun sebelum Aelwen bergabung, Gill membeli rumah makan ini dan menamainya sesuai komplotan mereka. Kemudian, tempat ini menjadi markas dan kedok mereka sehari-hari.
Tiba-tiba terdengar sorak-sorai pengunjung dari dalam kedai. Seolah paham apa yang terjadi, Aelwen bergegas mendorong pintu kayu dan menghambur ke dalam ruang makan.
Para pengunjung yang memenuhi lima meja kayu besar larut dalam kegembiraan. Aelwen langsung menyadari apa penyebabnya. Vrey dan Blaire baru saja tiba dari pintu belakang kedai. Para pengunjung bersorak semakin kencang saat dua gadis itu berjalan ke tengah ruang makan.
Seorang pria bertubuh ceking mengangkat gelasnya ke udara. “Betul, kan, kataku! Mereka berhasil lagi!”
“Sial!” sahut pria bertubuh tambun di sebelahnya. “Tadinya kupikir para Elvar akan berhasil menangkap mereka malam ini.” Pria itu merogoh sakunya dan menyorongkan beberapa keping uang pada si ceking.
Aelwen hanya menggeleng lemah. Tapi teman-temannya, khususnya Vrey, justru menyeringai lebar saat menyadari dirinya dijadikan bahan taruhan oleh para pengunjung kedai.
Ya ... Profesi mereka sudah menjadi rahasia umum di Mildryd. Ada banyak komplotan pencuri di Mildryd. Pencuri seperti geng Kucing Liar sudah menjadi bagian dari kota ini. Tak heran, karena salah satu salah satu roda penggerak kehidupan kota ini memang perdagangan barang gelap.
Tanpa meletakkan belanjaannya Aelwen bergegas menghampiri Vrey. Seperti biasa, gadis itu terlihat mencolok dengan rambut cokelat terang dan bola mata ungu gelap yang tajam seperti kucing.
“Vrey, Blaire,” sapanya. “Kalian akhirnya pulang. Aku cemas sekali.” Vrey membalas sapaan temannya dengan senyum. Sebaliknya Blaire menyambar belanjaan dari tangan Aelwen.
“Bisa kau periksa lengan Vrey?” tanya Blaire. “Dia terluka cukup dalam.”
Aelwen langsung tanggap. Dia melepaskan celemeknya dan menyerahkannya pada Blaire. “Gill ada di dapur,” katanya. “Dia berpesan agar kalian langsung menemuinya.”
Blaire mengenakan celemek dengan cekatan seraya menggumam, “Nanti saja. Kau rawat Vrey dulu.”
Tanpa menunggu disuruh dua kali, Aelwen mengamit lengan Vrey dan mengajaknya ke bagian belakang ruang makan. Mereka naik ke lantai dua melalui tangga kayu sempit yang berkeriat-keriut setiap kali Aelwen menapakkan kaki di atasnya.
Aelwen, Vrey, Rufius, Blaire, Clyde, dan Evan tinggal di loteng rumah makan. Loteng itu terdiri dari sebuah lorong panjang dengan dua pintu di masing-masing sisi lorong. Pintu paling depan adalah kamar Gill. Blaire dan Rufius tinggal kamar di sebelahnya. Si bocah, Evan, dan Clyde, berbagi kamar di seberang kamar Gill.
Kamar Aelwen dan Vrey terletak persis di sebelah kamar Clyde. Dulunya Vrey tinggal sendirian di kamar itu, sebelum Aelwen bergabung dengan komplotan mereka tiga tahun yang lalu.
Aelwen mendahului Vrey dan membuka pintu yang menutup kamar mereka. Kamar itu sangat sempit, sebagian sisi temboknya miring karena merangkap sebagai atap bangunan. Di tengah tembok miring terdapat jendela kayu besar yang selalu terbuka. Dua tempat tidur mungil berjajar tepat di bawahnya.
Dia menyalakan lilin di atas nakas dengan cekatan dan membantu Vrey duduk nyaman di atas tempat tidur. Tanpa memberi waktu bagi Vrey untuk sekadar menghela napas, Aelwen langsung mencecarnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
“Kenapa kalian lama sekali? Apa yang terjadi sampai tanganmu terluka? Apa kau bertarung dengan Elvar? Apa kalian mendapatkan tanduknya? Selain Shadhavar, makhluk aneh apa lagi yang kalian temui?” Aelwen mengucapkan semua itu dalam satu tarikan napas.
“Si bocah berulah! Kurang hati-hati. Nggak. Iya. Dan sayangnya nggak ada,” jawab Vrey.
Aelwen tertawa kecil. Setelah tiga tahun berbagi kamar, Vrey sudah terbiasa dengan kecerewetan Aelwen. Vrey bahkan sudah tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan Aelwen dengan cepat, tanpa membuang waktu.
“Yang penting kalian semua selamat,” timpal Aelwen. “Sini, biar kulihat lukamu,” ujarnya sambil melepaskan perban yang melilit lengan Vrey.
__ADS_1
Aelwen menyadari Vrey mati-matian menahan sakit. Gadis itu berusaha menyembunyikannya dengan memasang wajah sedatar mungkin. Tapi telinga Vrey yang berdenyut-denyut memberitahukan segalanya pada Aelwen.
Tapi Aelwen juga paham betapa keras kepalanya Vrey. Jadi dia tidak mengatakan apa-apa dan mulai membersihkan luka Vrey dengan ramuan obat. Setelah selesai, Aelwen menangkupkan tangan kanannya di atas luka Vrey. Gadis itu menarik napas dalam-dalam. Aelwen merasakan telapak tangannya mulai hangat, dia berkonsentrasi agar kehangatan itu terpancar dan meresap ke lubang yang menganga di lengan Vrey.
Perlahan-lahan kulit Vrey yang terkoyak seolah menyatu kembali. Luka lebar yang sebelumnya mengucurkan darah kini hilang nyaris tanpa bekas.
“Kurasa cukup,” gumam Aelwen sambil menyeka keringat di keningnya.
Vrey tersenyum. “’Makasih,” katanya. Gadis itu mengamati bekas lukanya dengan saksama. “Sihir penyembuhmu mengalami kemajuan pesat dibanding tiga tahun lalu. Kau diam-diam berlatih, ya?”
“Tentu saja,” jawab Aelwen sembari membereskan bekas perban dan botol obat-obatan. “Aku tidak bisa ikut berburu bersama kalian. Jadi sebisa mungkin aku harus mampu merawat kalian saat terluka.”
“Kau banyak berubah,” ujar Vrey. “Aku ingat saat pertama bertemu denganmu. Kau benar benar payah, bahkan lebih payah dariku. Nggak bisa bersih-bersih, apalagi masak, menjahit celana sobek pun nggak mampu! Untung Blaire sabar mengajarimu.”
Aelwen tersenyum kecut. Ya ... Vrey menemukanku tiga tahun lalu.
Saat itu Aelwen baru saja kabur dari rumahnya di Ibukota Granville. Tersesat, kehabisan uang, kehujanan, dan kedinginan, Aelwen memutuskan untuk berteduh di teras sebuah kedai, kedai ini.
Waktu itu sebenarnya Vrey bisa saja mengusir Aelwen. Tapi sebaliknya, Vrey mengundangnya masuk, memberinya pakaian ganti, minuman hangat, dan makanan.
Aelwen teringat bagaimana dia menghabiskan sup masakan Vrey dengan lahap. Tidak mewah memang, hanya semangkuk sup encer yang berisi pucuk-pucuk sayuran layu, yang kalau dipikir-pikir mungkin lebih layak untuk pakan ternak. Makanan itu sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan hidangan mewah yang biasa disantap Aelwen di rumahnya. Tapi bagi Aelwen, sup itu adalah makanan terbaik yang pernah dinikmatinya.
“Kau nggak menyesal?” tanya Vrey tiba-tiba. “Melarikan diri dari rumah untuk hidup di kedai kumuh ini?”
“Tidak sama sekali,” jawab Aelwen. “Keluargaku ingin agar aku menjadi seorang Acolyte. Tapi aku tidak menginginkannya. Di sini aku bebas untuk menjadi apa pun yang kunginkan.”
Vrey mencibirkan bibirnya gemas. “Menjadi apa pun yang kau inginkan?” ledeknya. “Maksudmu juru masak dan tukang bersih-bersih?”
Aelwen menanggapi dengan tawa kecil. Dia ingat bagaimana dulu dia memohon pada Very dan komplotannya agar diizinkan tinggal dan bekerja di kedai ini.
Tentu saja waktu itu aku belum tahu kalau mereka adalah pencuri! pikir Aelwen.
Sekarang kalau dipikir-pikir lagi, dia mengerti mengapa mereka ragu mempekerjakan dirinya. Mungkin mereka khawatir keberadaan orang asing di dalam kedai akan merusak kedok mereka.
Butuh setahun sebelum Vrey dan teman-temannya akhirnya memberi tahu Aelwen pekerjaan mereka yang sesungguhnya. Saat itu dia sudah tidak terkejut saat mendengarnya. Sedikit banyak dia sudah bisa mencium ada yang aneh dari tindak-tanduk mereka. Tapi Aelwen senang Vrey dan teman-temannya memutuskan untuk berterus-terang padanya. Karena itu berarti mereka telah menerima Aelwen menjadi bagian dari kelompok mereka.
Aelwen akhirnya selesai membereskan semua perlengkapannya. “Ayo turun,” ajaknya. “Gill sudah menunggu kalian di dapur.”
***
Gill—seorang pria muda berusia tiga puluhan—adalah pemimpin komplotan mereka. Aelwen mengintip ke dapur dari sela-sela pintu ruang makan dan menyadari pria itu menggeretakkan jari-jari tangannya dengan kesal di meja dapur. Tampangnya yang gusar memperparah penampilannya yang memang sudah acak-acakan.
“Dia marah,” bisiknya pada Vrey dan Blaire yang hanya bisa bertukar tatapan pasrah. Didampingi Aelwen, mereka memberanikan diri memasuki dapur sempit itu.
“Sukses, bos!” ujar Vrey. “Rufius dan Evan sebentar lagi datang membawa tanduknya.” Namun seperti yang sudah diduga Aelwen, Vrey justru disambut dengan sapaan ‘khas’ Gill.
“Sukses apanya! Ke mana saja kalian dari tadi? Mengambil satu tanduk saja lama sekali. Kemampuan kalian sudah menurun, ya?” hardiknya dengan suara menggelegar.
“Itu salah Evan!” jawab Vrey dan Blaire nyaris serempak.
__ADS_1
“Bocah itu bersin waktu Shadhavar hampir memakan umpannya,” tambah Vrey. “Gara-gara dia kami nyaris tertangkap!”
“Si bodoh itu!” gerutu Gill sambil mengepalkan tinjunya erat-erat. “Kuhajar dia kalau pulang nanti,” ucapan Gill terhenti saat melihat bekas luka di lengan Vrey.
“Kenapa itu?” tanyanya kasar.
“Cuma tergores, sudah dirawat Aelwen, kok,” jawab Vrey.
“Oh, ya, sudah,” balas Gill, tak acuh seperti biasa. Tapi Aelwen bisa melihat sekilas keprihatinan terlintas di mata pria itu. Hanya sebatas itu perasaan yang dapat diperlihatkan Gill pada bawahannya kalau dia ingin tetap terlihat sebagai pemimpin yang keras.
Mendadak pintu dapur di belakang Aelwen terbuka. Dia menoleh dan melihat Rufius. Rambutnya yang berantakan membuat wajahnya terlihat lebih bengis dari biasanya. Evan berdiri di samping Rufius, gemetar ketakutan. Seluruh tubuh mereka basah kuyup dan tertutup lumpur. Clyde menyusul di belakang mereka, masih mengenakan seragam prajuritnya. Rambutnya yang berwarna cokelat gelap tampak basah oleh keringat akibat tertutup helm sepanjang malam.
Bau keringat bercampur lumpur dan daun busuk menyerbak dari arah ketiga orang itu. Sampai sampai Vrey—yang penciumannya paling tajam di antara mereka—harus menutup hidungnya dengan tangan.
Gill memandang jijik ke arah mereka. “Apa-apaan ini?” Rufius melotot gusar ke arah Evan “Bocah tolol ini!” makinya.
“Sudah kubilang apapun yang terjadi jangan jauh-jauh dariku. Malah lari tunggang-langgang cuma gara-gara seekor kelinci mengejutkannya.”
Vrey mengernyitkan alisnya, “Terus?”
“Sudah jelas, kan?!” balas Rufius gusar. “Dia jatuh dari tebing dan nyaris tenggelam! Aku harus mati-matian menyeretnya keluar dari sungai.”
Clyde menyambar segelas tuak. “Kenapa juga kau menolongnya, harusnya biarkan saja dia tenggelam!” tambahnya sebelum meneguk habis isi gelasnya.
“Niatku, sih, cuma menyelamatkan tas berisi tanduk Shadhavar saja,” potong Rufius keji.
“Kebetulan saja tasnya tersangkut di badannya.”
Wajah Evan berubah seputih kertas saat mendengar semua itu. Tapi Aelwen tahu, Rufius tidak sungguh-sungguh mengucapkannya. Vrey dan teman-temannya mungkin mengatakan hal-hal kasar—terkadang kejam malah—tapi mereka sebenarnya saling memedulikan satu sama lain, dengan cara mereka yang unik dan tidak lazim tentunya.
Vrey meraih tas berlumpur di tangan Evan dan mengeluarkan isinya ke atas meja. Sebuah tanduk Shadhavar berukuran besar. Tanduk itu berongga di bagian tengahnya, beberapa lubang menghiasi sisi-sisinya—sekilas bentuknya menyerupai seruling.
Gill meraih tanduk itu dan menimang-nimangnya. “Kerja bagus,” pujinya. “Pelanggan yang memesan tanduk ini pasti puas. Pembayaran benda ini cukup untuk hidup enak selama beberapa minggu ke depan.”
Clyde meletakkan gelas tuak yang sudah kosong di atas meja dapur. “Maksudnya ‘hidup enak’ untuk kita semua atau cuma untukmu, Gill?” sindirnya.
“Jelas, kan?” jawab Gill sewot. “Kalian cuma kucing-kucing jalanan. Sudah untung aku memungut kalian saat tidak ada yang mau menerima kalian.”
Clyde hanya menarik sudut bibirnya ke atas dan tersenyum kecut.
“Ya sudah, ini sudah subuh,” Gill memasukkan kembali tanduk itu ke dalam tas. “Aelwen, tutup kedai!” perintahnya. Dia berpaling pada Vrey dan Blaire. “Kalian berdua, pastikan semua orang membayar makanannya!”
Aelwen dan teman-temannya beranjak menuju ruang makan, sebelum bentakan Gill membuat mereka terlonjak.
“Kecuali kau, bocah tengik!” hardik Gill sesaat sebelum Evan meninggalkan dapur. “Tetap di sini! Aku akan memberimu pelajaran!” Gill mengepalkan tinju kanannya ke telapak tangan kirinya.
Sulit untuk tidak merasa simpati pada Evan. Apalagi Aelwen menyadari betapa pucatnya wajah bocah itu. Tapi memang seperti inilah keadaannya. Gill sangat keras terhadap mereka, cenderung ringan tangan malah.
Selain Aelwen—yang memang hanya mengerjakan urusan rumah tangga—seluruh anggota komplotan ini pernah merasakan ‘pelajaran’ dari Gill. Pria itu tidak segan-segan mendisiplinkan anak buahnya yang mengacau atau berbuat kesalahan. Tapi karena itulah mereka bisa menjadi pencuri dan pemburu terbaik di Mildryd seperti saat ini.
__ADS_1