Ther Melian Revelation

Ther Melian Revelation
Episode 5


__ADS_3

Udara pagi yang berembus di wajah Vrey membawa aroma embun, aroma yang menenangkan hati dan membuat Vrey teringat pada seseorang yang sangat berarti baginya. Vrey merasa mencium aroma orang itu di embun pagi.



Untuk sesaat, Vrey merasa seperti berbaring di sebelah orang itu, di antara hamparan rumput di tepi Hutan Telssier. Orang itu tersenyum padanya, senyum lembut yang dirindukan Vrey.



Mendadak kokok ayam dari kejauhan membangunkannya. Gadis itu mengejapkan matanya. Dia terbangun dan menyadari tidak sedang berada di padang rumput. Dia berada di kamar mungilnya dan tidak ada siapa-siapa di sisinya. Seketika itu juga Vrey merasakan kekosongan menyeruak memenuhi dadanya, tapi dia buru-buru mengusir perasaan itu.



Kenapa aku harus memimpikan orang itu, sih! rutuk Vrey.



Gadis itu beringsut keluar dari selimut hangatnya. Udara pagi yang dingin menusuk kulit. Very melirik sekilas ke arah tempat tidur di sebelahnya, gulungan selimut yang mirip kempompong raksasa masih membungkus tubuh Aelwen.



Vrey tersenyum kecil melihatnya, semalam memang turun hujan dan udara menjadi sangat dingin. Aelwen mungkin tidak tahan dingin. Tidak ingin membangunkan teman sekamarnya, Vrey turun dari tempat tidur pelan-pelan. Hari mungkin masih subuh, langit di atas jendela



kamarnya masih gelap.



Dua hari sudah berlalu sejak perburuan Shadhavar. Gill memberi mereka semua waktu libur. Vrey menghabiskan waktunya untuk tidur sepanjang hari kemarin. Tapi hari ini dia berniat mengerjakan sesuatu yang sudah agak lama ditundanya.



Vrey melepas pakaian tidurnya dan menggantinya dengan kemeja tanpa lengan serta celana pendek. Setelah mencuci muka dan mengikat tali sepatunya, Vrey membuka pintu kamarnya perlahan-lahan. Dia ingin pergi sebelum Aelwen terjaga.



Tapi betapa terkejutnya Vrey saat mendapati Aelwen sudah berdiri di depan kamar, menanti dirinya.



“Mau ke mana?” tanyanya. Gadis itu menatap Vrey tajam dengan matanya yang sebiru langit. Vrey bersumpah dia bisa merasakan wajahnya memucat. “... Ehm, eh ... itu.”



“Aku punya firasat kau akan pergi ke Hutan Telssier pagi ini,” kata Aelwen dengan suara keras.



“Shhhh,” sela Vrey.



Dia menyeret Aelwen menuruni tangga menuju ruang makan yang kosong. Begitu mereka tiba, Aelwen melanjutkan protesnya. “Kau sudah janji akan mengajakku berburu Nymph. Tapi setiap kali kau selalu berangkat diam-diam.”



“Kulihat kau tidur nyenyak. Jadi aku nggak membangunkanmu,” kilah Vrey.



“Jangan banyak alasan!” hardik Aelwen. “Kalau hari ini kau tidak mengajakku, aku akan melaporkanmu pada Gill dan yang lain,” tambahnya setengah mengancam.



Vrey menggaruk kepalanya kesal. Sejak lima tahun yang lalu dia bolak-balik ke Hutan Telssier, sendirian, untuk berburu Nymph. Selama itu pula dia berhasil merahasiakannya dari Gill dan komplotannya. Tapi beberapa bulan lalu rahasianya terbongkar oleh teman sekamarnya yang bawel dan selalu ingin tahu itu.



Memang mustahil menyembunyikan rahasia dari teman sekamar, rutuk Vrey dalam hati. Apalagi kalau teman sekamarmu adalah Aelwen.



“Kau pikir ini semacam piknik di taman?” tanya Vrey.



“Kita harus melewati hutan lebat dan menyeberangi sungai. Kalau nggak hati-hati, kau bisa tenggelam.”



“Aku sudah dengar itu ribuan kali,” bantah Aelwen.



“Kemarin, si bocah saja kalian ajak ke sana. Kenapa aku tidak boleh?”



“Kemarin kita lewat jembatan,” tukas Vrey.



Dulu sebelum Clyde berhasil mendapat pekerjaan sebagai prajurit penjaga pos, mereka harus menyeberangi Sungai Arquus melalui rute lain yang lebih berbahaya. Vrey tidak bisa membayangkan bagaimana Aelwen akan melaluinya.



“Janji adalah janji, Vrey,” ujar Aelwen putus asa. “Kumohon. Aku akan sangat berhati-hati. Kau tidak perlu mencemaskanku. Aku ingin sekali melihat Nymph,” pintanya penuh harap.



Vrey menghela napas kesal. Mustahil membujuk gadis ini untuk melupakan keinginan gilanya. Sepertinya memang tidak ada pilihan selain mengajak Aelwen. “Baiklah,” kata Vrey



akhirnya. “Tapi ingat kalau kau terluka, jelaskan sendiri pada Gill dan jangan libatkan aku!”


__ADS_1


Aelwen mengangguk senang. Gadis itu berlari keluar kedai dengan penuh semangat hingga roknya berkibar-kibar. Kebalikan dengan Vrey yang melangkah gontai menyusul Aelwen.



Hari ini aku harus memandu seorang gadis kota menjelajahi hutan. Sempurna ... rutuk Very sembari menutup pintu kedai.



Aelwen menyusuri jalan-jalan kota yang mulai ramai dengan berbagai kesibukan. Tentu saja sosok Aelwen menjadi pusat perhatian para penduduk Mildryd yang tengah memulai aktivitasnya pagi itu. Rambut Aelwen yang pirang panjang tergerai hingga ke punggung. Sorot matanya cerdas dan gerak-geriknya juga anggun. Bukan tipikal gadis yang biasa ditemui



berkeliaran di Mildryd.



Vrey mengikuti di belakang Aelwen, berjalan sambil mengamati gadis itu. Memang sejak mengetahui rahasia komplotan mereka, Aelwen ingin terlibat dalam petualangan tanpa menyadari keterbatasannya sendiri. Dan terkadang hal itu membuat Vrey gemas.



Untuk meredakan emosinya, Vrey memperhatikan kesibukan di sekelilingnya. Di serambi sebuah rumah, dia melihat dua orang Vier-Elv sibuk menyiapkan dagangan. Beberapa Vier-Elv—seperti Vrey—memilih tinggal di wilayah Manusia karena keberadaan mereka lebih diterima di sini.



Vrey dan Aelwen akhirnya mencapai gerbang di sisi barat daya Mildryd. Hari masih pagi, tapi sudah banyak orang yang keluar-masuk gerbang. Vrey melintasi gerbang dan menyusuri jalan setapak yang memotong perkebunan pisang untuk menuju ke hutan. Sesampainya di hutan dia mulai memisahkan diri dari para pencari kayu yang memenuhi daerah itu.



Kabut tipis menyelimuti hutan saat Vrey tiba di daerah yang sepi dan jarang didatangi Manusia. Jalan setapak yang dilewatinya berujung di sebuah tebing yang terjal. Tidak terlalu jauh di bawahnya Sungai Arquss mengalir dengan deras.



“Hutan Telssier terletak di balik hutan di seberang sungai ini,” terang Vrey singkat.



“Bagaimana kita akan menyeberang?” tanya Aelwen.



“Nggak di sini, ayo ikut aku.” Vrey memeriksa keadaan di sekitarnya. Setelah memastikan tidak ada orang, dia meninggalkan jalan setapak dan masuk ke dalam hutan.



Butuh waktu cukup lama bagi Vrey dan Aelwen untuk menyusuri hutan di tepian tebing itu. Suara gemuruh air terdengar semakin keras. Setelah melewati barisan pepohonan nangka yang rapat, Sungai Arquus kembali terlihat. Sungai yang tadinya lebar kini menyempit hingga enam meter saja lebarnya. Tapi karena penyempitan itulah, aliran sungainya menjadi sangat deras.



“Kita menyeberang di sini,” kata Vrey.



Aelwen terdiam. Vrey menyadari wajah gadis itu memucat kala menatap air yang mengalir deras, tapi Vrey memakluminya. Siapa pun yang jatuh ke bawah sana pasti terseret dan tenggelam, Elvar sekalipun.




“Enak saja,” balas Aelwen dengan suara lantang. Vrey hanya tersenyum kecut mendengarnya.



“Jadi apa rencana kita sekarang? Melompat?” tanya Aelwen.



“Iya,” jawab Vrey kalem. Dia membuka tas kulitnya, mengeluarkan seutas tali yang ujungnya sudah terhubung kait besi.



Vrey mengambil ancang-ancang dan melemparkan tali itu ke seberang. Butuh beberapa kali percobaan sebelum Vrey berhasil mengaitkannya ke sebatang pohon yang cukup besar. Lengan Vrey yang baru terluka oleh tanduk Shadhavar tidak mempermudahnya melakukan hal itu. Dia lalu menarik tali sekuat tenaga untuk memastikan apa pohon itu kuat menahan berat badannya.



Setelah yakin talinya akan bertahan, Vrey menjelaskan pada Aelwen. “Aku akan menyeberang dulu. Sesampainya di sana, akan kulemparkan ujung tali ini padamu. Perhatikan caranya baik-baik.”



Selesai mengatakannya, Vrey membentuk semacam simpul di ujung tali dan menyelipkan kaki kirinya ke dalam simpul. Kemudian dia menjejakkan kaki kanannya di ujung tebing dan berayun ke depan. Beberapa detik kemudian, tubuh ringan Vrey mendarat di seberang sungai.



“Gampang, kan?” serunya saat melemparkan kembali ‘ayunan’-nya pada Aelwen.



Aelwen menangkap tali itu dan menggenggamnya erat-erat. Gadis itu terlihat ragu. Setelah mengambil ancang-ancang Aelwen menjejakkan kaki dan mengayunkan tubuhnya ke depan. Namun ayunannya terlalu lemah, Aelwen nyaris tidak sampai ke seberang tebing.



Untunglah Vrey dengan sigap menangkap Aelwen. Dia menyeret gadis itu sekuat tenaga sampai mereka berdua jatuh di atas tanah. “Hampir saja!” napas Vrey terengah-engah saking tegangnya.



Kalau saja Vrey tidak menarik Aelwen tepat waktu, gadis itu akan bergantung di atas jeram. Siapa yang tahu apa yang bisa terjadi kemudian. Batang pohonnya bisa saja patah menahan berat Aelwen, atau gadis itu bisa kehilangan pegangannya dan jatuh ke sungai.



Setelah napasnya tenang kembali, Vrey baru menyadari Aelwen jatuh menimpa dirinya. “Bisa minggir?” tanya Vrey. “Aku nggak bisa bangun, nih.”



“Ah ... iya, m-maaf,” jawab Aelwen kikuk. Dia buru-buru menyingkir agar Vrey bisa berdiri.



Vrey membersihkan debu yang mengotori bajunya. Dia lalu melepaskan talinya dari pohon. Tanpa diminta Aelwen membantunya menggulung tali, saat itulah Vrey menyadari rona merah menghiasi wajah Aelwen.

__ADS_1



“Tak perlu merasa malu,” hibur Vrey. “Lompatan tadi memang nggak mudah bagi yang belum terbiasa.”



Alih-alih menjawab, Aelwen hanya mengangguk kikuk. Vrey tidak mengatakan apa-apa lagi dan menyimpan talinya ke dalam tas.



“Kita akan memasuki wilayah Elvar,” Vrey mengingatkan ketika mereka siap melanjutkan perjalanan. “Jangan membuat suara keras-keras.”



Mereka berjalan beberapa saat sampai bertemu jalan setapak yang cukup besar. Jalan itu mengarah ke desa yang terletak tidak terlalu jauh dari sana. Dari sela-sela kabut Vrey bisa melihat atap-atap rumah mungil yang terbuat dari jerami di kejauhan.



“Apa itu desa Elvar?” bisik Aelwen. Sepertinya dia juga



melihat atap-atap itu.





“Bukan,” jawab Vrey kalem “Itu Dominia.”



Mata Aelwen berkilat penuh semangat. “Dominia? Itu desa tempat tinggal kaum Vier-Elv dan Elvar Terbuang, kan?”



Vrey mengangguk.



“Apa kau pernah ke sana, Vrey?” tanya Aelwen.



“Nggak, sejak kecil aku dibesarkan di Mildryd,” jawab Vrey tanpa menoleh.



“Kau tidak penasaran tempat itu seperti apa?”



Vrey tersenyum mengejek. “Sama sekali nggak. Untuk apa? Mereka cuma pecundang menyedihkan.”



Aelwen mengernyitkan dahinya. “Tapi kau, kan, Vier-Elv juga?”



“Jangan samakan aku dengan orang yang tidak mau menerima kenyataan seperti mereka!” rutuk Vrey. “Mereka membangun desa di kawasan bangsa Elvar, bahkan hidup mengikuti tata cara Elvar. Dan untuk apa? Sampai kapan pun mereka nggak akan dianggap sebagai bagian dari bangsa Elvar. Untuk memasuki wilayah Elvar pun mereka butuh izin khusus, seperti layaknya Manusia.” Vrey mengakhiri semburannya dengan embusan napas panjang.



“Apa boleh buat,” Aelwen menimpali. “Elvar berdarah murni saat ini sudah semakin sedikit. Aku yakin para Elvar sengaja bersikap keras pada mereka untuk mengurangi jumlah Elvar yang menikah dengan Manusia.”



Tapi Vrey tidak tertarik meneruskannya. Apa pun yang dikatakan Aelwen tidak akan mengubah pendapatnya tentang kaum Vier-Elv. Jadi, dia mempercepat langkahnya sampai akhirnya mereka tiba di depan jajaran pepohonan yang tumbuh rapat.



“Hutan Telssier ada di balik pepohonan ini. Ingat pesanku tadi,” Vrey mengingatkan.



Vrey melintasi pepohonan dan semak belukar. Tepat di baliknya terbentang padang rumput kecil. Padang itu gelap. Matahari pagi baru mengintip di ufuk timur dan belum menembus lebatnya pepohonan yang mengapit padang itu.



Vrey mempercepat langkahnya. Dia tidak suka berada di tempat itu lama-lama. Bukan karena suasananya yang mencekam, tapi karena tempat ini penuh dengan kenangannya bersama orang itu, enam tahun yang lalu.



Aroma rumput yang khas menyeruak, mengingatkan Vrey akan mimpinya pagi tadi. Very buru-buru meninggalkan padang dan menuju hutan di depannya.



Dia akhirnya menapakkan kakinya di Hutan Telssier. Hutan itu berbeda sekali dengan hutan yang dia lewati sebelumnya. Pepohonan di sini lebih lebat, kokoh, dan tua. Desir, jerit, dan lenguhan tak jelas terdengar bersahut-sahutan, seolah menyambut kehadiran mereka di antara pepohonan yang muram.



Sepanjang perjalanan melewati Hutan Telssier, Aelwen mengamati sekelilingnya dengan tidak tenang. Vrey bisa melihat wajah Aelwen sedikit pucat.



Apa mungkin Aelwen merasa cemas? Vrey tersenyum sendiri.



Dia berani bertaruh sebelum hari ini Aelwen belum pernah memasuki hutan sebelumnya. Hutan Telssier di saat subuh memang sedikit menakutkan, apalagi Vrey dapat melihat Kabut Gelap mengintai di sisi hutan. Tapi Aelwen berusaha menyembunyikan rasa takutnya dari Vrey.



Sudah lama dia ingin berpetualang bersama Vrey, dan kini kesempatan itu tiba. Paling tidak Aelwen pasti berusaha menjaga mukanya, pikir Vrey.

__ADS_1


__ADS_2