Three siblings

Three siblings
Chapter 10


__ADS_3

Rutinitas siswa Indonesia setiap hari Senin adalah upacara. Seperti pagi ini murid-murid mulai berkumpul di lapangan membentuk barisan yang tersusun rapi, dari yang terpendek paling depan sampai kebelakang yang paling tinggi.


Dipagi hari ini matahari bersinar sangat terang membuat semua siswa merasa seperti terpanggang dan dijemur layaknya ikan kering. Lain halnya dengan kelompok paduan suara tempatnya berada di bawah pohon mangga di pinggir lapangan beserta petugas upacara lainnya. Lain halnya dengan murid yang terlambat atau yang tidak mengenakan atribut lengkap mereka berbaris menghadap sinar matahari langsung.


Upacara terasa berlangsung sangat lama. Sebenarnya waktu upacara hanya sekitar 40 menit namun Karna pembina upacara yang bercerita panjang lebar, jadilah upacara berlangsung selama 1 jam. Membuat banyak murid perempuan harus dibawa ke UKS lantaran pingsan termasuk Via.


Sesaat sebelum upacara selesai Via tiba-tiba terjatuh pingsan yang membuat satu lapangan menjadi heboh. Bagaimana tidak kejadian itu disaksikan langsung oleh seluruh murid lantaran Via yang merupakan anggota paskibraka yang bertugas dan berdiri di tempat yang semua orang leluasa untuk melihat ke arah sana.


Saat petugas UKS ingin menaikkan Via ke tandu, tiba-tiba Raka datang dan langsung menggendong Via menuju UKS yang mana lagi-lagi membuat heboh satu sekolah termasuk Aiden dkk yang berdiri di tempat tidak terhormat karena terlambat mengikuti upacara.


°°°°°°


"Dia hanya demam biasa. Setelah sadar nanti beri dia obat yang ada di atas meja. Sebelum itu pastikan dulu dia sudah sarapan pagi atau belum sebelum meminum obat."Jelas Dokter yang menjaga UKS.


Raka mengangguk mendengar penjelasan dokter, sesekali menatap ke arah Via yang masih belum siuman.


"Kalau begitu saya keruangan saya dulu disebelah kalau butuh apa-apa segera hubungi saya atau panggil saya."Pamit dokter tersebut kemudian keluar dari UKS.


Raka kemudian duduk di samping ranjang tempat Via. Menatap wajah pucat Via yang terlihat damai. Setiap menatap wajah itu jantung Raka selalu berdetak dengan cepat. Raka selalu merasakan perasaan berbeda saat berada disamping Via yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Melihat Via yang sakit seperti ini membuat perasaan Raka menjadi kacau. Dia begitu khawatir dan takut melihat Via sakit ataupun menangis.


Setelah sekian lama Raka kemudian menyadari perasaannya. Dia mengakui bahwa ia telah jatuh hati pada kakak kelasnya itu.


Bermula saat pertama kali Raka bertemu dengan Via sekitar 10 tahun lalu. Saat itu Via yang berumur 7 tahun dan Raka yang berumur 6 tahun.


Flashback


Saat itu Raka kabur dari rumah setelah mengetahui fakta bahwa dia ternyata hanyalah anak adopsi. Raka begitu terpukul ketika mengetahui bahwa kedua orang tua yang dia sangat sayangi ternyata bukan orang tua kandungnya.


Awalnya Raka tak mengetahui arti dari kata adopsi tersebut. Namun setelah bertanya ke beberapa pelayan akhirnya Raka mengerti maksud dari kata tersebut.


Raka kabur dari rumah dan berlari tak tentu arah hingga akhirnya diapun tiba di sebuah taman kemudian menangis. Taman itu sangat sepi sehingga tak ada yang mendengar tangisan Raka.

__ADS_1


Setelah beberapa saat menangis tiba-tiba Raka merasa ada tepukan di pundaknya. Saat Raka berbalik ia melihat seorang gadis kecil tengah menatapnya lembut. Kemudian gadis kecil itu beralih duduk disebelahnya lalu menyodorkan sapu tangan berwarna putih bersih yang salah satu sudutnya bertuliskan "VIA".


Raka hanya memandang sapu tangan tersebut sembari melamun. Karna tak mendapat respon gadis kecil itu langsung saja mengusap air mata Raka dengan lembut menggunakan sapu tangan tadi. Setelahnya gadis itu kemudian memandang Raka sembari tersenyum.


"Nah, kalo kayak gini kan makin ganteng."Ucap gadis kecil tersebut.


Raka yang mendengarnya langsung saja menatap kearah gadis kecil itu. Gadis itu tersenyum lembut ke arah Raka kemudian mengusap kepala Raka.


"Jangan nangis lagi yah. Kenalin aku Via kalo kamu nama kamu siapa? hm?"Tanya Via kecil menatap Raka menunggu jawaban.


"Raka."Jawab Raka malu-malu.


"Wah, kamu punya nama yang bagus."Puji Via sembari tersenyum sangat manis hingga kedua lesung pipinya terlihat.


Wajah Raka langsung memerah mendengar pujian tersebut, terlebih saat melihat senyum Via yang begitu manis membuat Raka langsung salah tingkah.


"Terimakasih."Ucap Raka malu-malu sembari tersenyum kecil.


"Raka, Via boleh nanya gak?"


"Boleh, Via mau nanya apa?"Jawab Raka sembari memandang Via polos.


"Sebelumnya maaf yah kalau Via tanya kayak gini. Raka tadi nangis karna apa?" Tanya Via ragu takut Raka kembali sedih.


Wajah Raka yang semula tersenyum tiba-tiba berubah kembali menjadi sedih, bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Via yang melihat itu langsung panik, tanpa sadar Via memeluk Raka kemudian mengusap punggung Raka lembut mencoba menenangkan Raka.


"Maaf yah karna pertanyaan Via Raka jadi sedih. Kalo Raka gak mau jawab gakpapa itu haknya Raka. Pasti berat yah. Kamu boleh nangis tapi jangan terlalu lama nanti bisa sesak sama pusing. Maafin Via yah."Ucap Via kemudian melepas pelukannya karna dirasa Raka sudah mulai tenang.


"Raka sedih karna ternyata Raka cuman anak adopsi. Raka bukan anak kandungnya ayah sama bunda."Ucap Raka sembari menunduk tidak mau memperlihatkan matanya yang kembali berkaca-kaca.


"Raka jangan sedih, ayah sama bundanya Raka sayang kan sama Raka?"

__ADS_1


"Iya. Ayah sama Bunda kalo manggil Raka selalu pake kata sayang. Raka juga sayang sama mereka."Jawab Raka kembali memandang wajah Via yang menurutnya sangat damai dan menenangkan.


"Itu artinya Raka sangat berharga bagi mereka. Semua orang itu berharga dan berhak bahagia begitupun dengan Raka. Raka jangan sedih lagi yah. Nanti ayah sama bundanya Raka tau Raka sedih nanti mereka ikutan sedih juga. Emang Raka mau?"


"Raka gak mau ayah bunda sedih."Jawab Raka sembari menggeleng.


"Kalo gitu Raka gak boleh sedih dong. Ayo senyum dulu biar tambah ganteng."Pinta Via sembari mengusap pipi berisi Raka yang seperti bakpao.


Raka langsung saja tersenyum manis menampakkan gigi kelincinya yang sangat imut.


"Ini cokelat buat Raka dimakan yah. Terus sapu tangan ini buat Raka. Jangan sedih lagi yah."


Raka mengangguk sembari memegang cokelat dan sapu tangan pemberian Via.


"Kalo gitu Via pergi dulu yah. Mau pulang. Kamu juga harus pulang." Via melambaikan tangannya sambil berlari sesekali menengok kebelakang lalu tersenyum ke arah Raka.


Setelah Via sudah tak terlihat, Raka kembali menatap sapu tangan pemberian Via. Ternyata ada tulisan lain disisi lain sapu tangan itu yaitu "Adrovia Zenitha".


°°°°°


Setelah 10 tahun Raka kembali dipertemukan dengan Via. Awalnya Raka ragu karena yang namanya Via sangat banyak disekolah ini. Wajah Via kecil dan Via remaja sangat mirip namun yang membedakan jika wajah Via kecil sangat lembut dan penuh senyuman kebalikan dengan Via remaja yang wajahnya sangat datar tanpa ekspresi bahkan sifatnya sangat dingin tak tersentuh. Namun setelah mendengar nama panjang Via Raka jadi yakin bahwa itu adalah Via yang sama, Raka semakin yakin saat melihat senyuman Via ditaman hari itu saat Via menggambar. Senyuman itu sama persis dengan senyuman yang ia lihat saat masih kecil.


Raka juga masih menyimpan sapu tangan pemberian Via dan dijaga dengan baik. Bahkan ia memasukkan sapu tangan tersebut didalam kotak yang menggunakan kunci agar tak ada yang dapat mengambilnya, Raka tak membiarkan siapapun menyentuhnya hanya dia seorang yang boleh. Berlebihan memang, namun saat itu Raka benar-benar putus asa karna tak dapat bertemu Via lagi. Setelah hari itu Raka beserta keluarganya pindah keluar kota.


Saat bertemu kembali Raka begitu sangat bahagia, namun tak bisa mengungkapkannya karena wajah Via yang terkesan datar dan seperti tak ingin diganggu. Ada banyak fakta yang membuat Raka terasa memiliki tembok tak terlihat di antara Raka dan Via. Pertama Via lebih tua darinya setahun itu tak masalah baginya namun fakta selanjutnya membuat Raka semakin merasa tembok yang membatasinya sangat tebal. Raka dan Via beda agama Raka merupakan Islam sedangkan Via adalah Atheis.


"Aku senang bertemu denganmu kembali Via atau kak Via."Guman Raka terus memandang Via yang masih setiap menutup rapat matanya.


Hingga akhirnya Raka juga ikut tertidur berbantalkan lengannya sembari terduduk.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2