
"Biar kami yang membereskannya, kamu duduk saja."Pinta Aiden menahan tangan Riri yang hendak memungut sampah.
"Kenapa?"Tanya Riri bingung sembari menatap wajah Aiden lebih tepatnya kek mata Aiden.
Sesaat netra hijau teduh milik Aiden membuat Riri tertegun, sungguh menatap mata itu seakan memandang pemandangan yang menenangkan.
"Karna kami yang berbuat jadi biarkan kami yang membereskannya juga."Jawab Aiden membuyarkan lamunan Riri.
Riri yang salah tingkah hanya mengangguk kemudian memilih duduk bersama Via di tangga yang mengawasi semuanya berberes.
Disisi lain...
Cia dan Safir sedang mencuci piring di dapur. Hanya ada keheningan yang melanda mereka. Cia yang biasanya akan membuka suara duluan sedang mengantuk jadi ia memilih diam sembari mengerjakan pekerjaannya. Safir yang memang asalnya pendiam dan kalem tidak tau harus memulai pembicaraan darimana.
Cia sesekali menguap karna kantuknya. Sedangkan cucian piring masih ada setengah. Hampir saja piring yang ada digenggaman Cia terjatuh, untung dengan sigap Safir menangkapnya.
"Kamu udahan aja cuci piringnya biar aku yang menyelesaikannya. Kasian kamu udah ngantuk."Ucap Safir lembut menyapa Indra pendengaran Cia.
"Eh maaf, emang kelihatan banget yah?"Ucap Cia merasa tak enak pada Safir.
"Iya, nurut yah, kamu udahan aja biar aku yang selesaikan..."Pinta Safir sekali lagi sembari tersenyum lembut ke arah Cia.
"Baiklah..."Akhirnya Cia pasrah dan memilih duduk di kursi dekat wastafel sembari memandangi wajah Safir yang menurutnya tampannya tak manusiawi. Ya memang tampan sih. Jika dilihat wajah Safir perpaduan antara Korea dan Turki. Namun aslinya orang Indonesia asli.
"Ada apa? Kenapa kamu natap aku dari tadi?"Tanya Safir, karena sedari tadi dia diam-diam melirik Cia yang memandanginya.
"Kamu kok ganteng banget sih? Mama kamu dulu ngidam apa sih waktu ngandung kamu, sampai sampai anaknya bisa seganteng ini."Ungkap Cia dalam keadaan setengah sadar karena sudah mengantuk berat.
Safir yang mendengar perkataan Cia mendadak salah tingkah. Wajahnya memang biasa saja, namun telinganya yang memerah tidak dapat berbohong jika dirinya sedang salah tingkah. Padahal tersangka yang menyebabkan Safir salting hanya mengutarakan isi pikirannya dan sekarang malah tertidur dengan menyandarkan kepalanya pada lemari dekat wastafel.
Beberapa saat kemudian...
Setelah membereskan semuanya, Aiden dkk langsung pamit pulang. Cia yang tertidur sudah dipindahkan ke kamarnya dengan digendong oleh Safir. Sedangkan Riri sudah tertidur sedari tadi atas perintah dari Via.
Yudis kemudian mematikan semua lampu lalu mulai berjalan ke arah tangga. Namun langkahnya terhenti saat melihat satu ruangan yang lampunya masih menyala. Yudis kemudian melangkah kearah ruangan tersebut. Setelah sampai, penglihatannya menangkap Via yang sedang tertidur dengan posisi duduk bersandar pada sandaran kursi lalu kepala yang menunduk serta beberapa kertas ditangannya.
Yudis menatap kasihan kearah sepupunya itu. Sejak masih kecil sudah memikul tanggung jawab yang begitu besar. Sebenarnya Yudis sering kali menolak menginap bukan karna takut dengan Via, melainkan merasa malu dan kalah terhadap anak Bagaskara terutama Via yang seumuran dengannya. Hanya dia dan para sepupu dari pihak Bagaskara yang tau kebenaran tentang anak Bagaskara terutama Via. Seakan Via sengaja merahasiakannya dari pihak ibunya.
Kemudian Yudis melangkah dan membangunkan Via pelan. Takut mengejutkannya.
"Via... Ayo bangun, kamu harus pindah ke kamar. Nanti badanmu sakit jika diposisi itu terlalu lama."Pinta Yudis pelan dan Lembut.
__ADS_1
"Hm... Ah iya..."Ucap Via yang langsung terbangun ketika mendengar suara Yudis. Tak sama seperti kedua adiknya yang walaupun teriak kebakaran tidak akan bangun.
Keesokan paginya...
Via menuruni anak tangga dengan tergesa gesa. Jam sudah menunjukkan pukul 07.15 yang artinya 15 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Via berjalan kearah dapur untuk pamit kepada bi Nasri pembantu yang selalu memasak setiap pagi di kediaman Bagaskara.
"Saya pamit..."Ucap Via singkat sembari menyalami tangan Bi Nasri.
"Non Via gak sarapan dulu?"Tanya Bi Nasri melihat anak majikannya yang nampak buru buru. Walaupun wajah Via terlihat datar tanpa ekspresi namun gerakan tubuhnya tak dapat berbohong. Bi Nasri juga sudah hafal betul bagaimana tingkah laku anak majikannya itu. Secara dia sudah bekerja dikediaman Bagaskara sebelum Via lahir, bahkan Bi Nasri juga tau rahasia itu.
"Nanti saja, tapi tolong bangunkan mereka suruh Yudis mengantar mereka menggunakan mobilku."Perintah Via dengan sopan lalu berlalu dari sana. Bi Nasri langsung saja menjalankan perintah tersebut.
Via mengendarai motornya ralat itu bukan motornya melainkan motor Yudis dengan kecepatan hampir diatas rata rata. Sesekali melirik kearah jam tangannya yang sekarang menunjukkan pukul 07.23. Dia menggerutu kesal mengingat dirinya terlambat bangun karena begadang semalaman bekerja dan mengawasi Yudis dkk.
Saat hampir sampai didepan gerbang, Via melajukan motornya dengan kecepatan penuh tak kalah melihat satpam mulai menutup gerbang hampir menutup sepenuhnya. Satpam yang sedang menutup gerbang dibuat hampir jantungan oleh Via. Dia hanya mengelus dada sabar dan melanjutkan aktivitasnya.
Murid murid yang masih berada di koridor sekolah berteriak histeris saat melihat sebuah motor sport melaju dengan kencang masuk ke area sekolah kemudian terparkir ditempat parkir khusus motor.
Via membuang nafas lega saat melihat lorong sekolah yang masih ramai. Dirinya mengira sudah terlambat. Lalu Via membuka helmnya kasar lalu meletakkannya. Kemudian berjalan menuju kelasnya dengan wajah datar khasnya.
"KAK VIAAA..."Teriak seseorang saat Via sudah berada di koridor sekolah menuju kelasnya. Ternyata itu adalah Luna. Via hanya menatap Luna dengan datar sampai Luna berada dihadapannya.
"Kak Via... Kok kak Via naik motor? Mobil kakak mana? Trus kakak ngebut loh tadi , kan bahaya kak..."Tanya Luna dengan tampang polos dan khawatirnya.
Disisi lain...
"Gimana ni Ri? Kita masuk lewat gerbang atau lewat tembok belakang?"Tanya Cia yang berada tak jauh dari gerbang sekolah yang sudah tertutup.
"Manjat tembok ajalah Ci', benner kata bang Yudis kalo lewat gerbang pasti gak dibolehin masuk."Jawab Riri lelah.
Tadi setelah Yudis mengantar mereka, Yudis langsung tancap gak menuju sekolahnya dengan kecepatan penuh.
"Oke deh..."Ucap Cia lalu berjalan menuju belakang sekolah.
Setelah sampai didepan tembok belakang sekolah, Cia dan Riri menatap satu sama lain kemudian beralih menatap tembok didepannya. Tak seperti dugaannya. Ternyata tembok belakang sekolah sangat tinggi bahkan walaupun Cia melompat sekali pun tak akan dapat memegang puncak tembok tersebut.
"Gimana dong, kita udah terlambat banget... Mau pulang tapi ponsel sama dompet kita tertinggal dirumah...huaaaaa masa kita harus jalan kaki?"Kata Cia frustasi.
"Woi, kalian ngapain disitu? Bolos ya?"Tanya seseorang yang berjalan mendekat.
Cia dan Riri berbalik lalu menatap ke sumber suara. Ternyata suara itu berasal dari Aiden dkk.
__ADS_1
Berakhirlah mereka sekarang berada di lapangan berdiri hormat kearah tiang bendera ditengah teriknya matahari. Mereka tidak bisa berbuat apapun karena Bu Laras sang guru BK mengawasi mereka.
"Duh panas banget nih haus pula..."Ucap Cia dengan sesekali menurunkan tangannya yang sedang hormat.
"Ya Allah cobaan apalagi ini? Tadi pagi diguyur air seember sama Bunda sekarang dijemur dibawah sinar matahari yang amat panas membara serasa simulasi dipadang masyhar."Keluh Riko sembari memasang ekspresi menyedihkan.
"Sabar Rik, Orang sabar jodohnya banyak..."Ucap Cia menimpali keluhan Riko.
"Emang iya Ci?"Tanya Brian pura pura polos atau emang polos beneran? Gak tau deh.
"Iya, contohnya gue, gue punya suami banyak, Taehyung, Jihoon, Mingyu, Yeonjun, Hyunjin, Cha Eunwoo, Soobin, Jaemin, Lucas, Felix masih banyak deh pokoknya..."Ucap Cia mengabsen sebagian nama suami halunya.
"Yeh, itu mah suami halu Lo, emang mereka kenal ama Lo? Kagak kan? Ngapain sih haluin mereka mending Ama kita-kita aja yang lebih pasti... "Kata Riki santai tanpa menoleh kearah Cia yang wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus.
"Ri, ayo kita serang Ri, masa dia ngatain kita? Lebih baik haluin mereka daripada berharap Ama kalian makan ati mulu. Iya gak Ri?"Tanya Cia pada Riri yang sedari tadi tak bergeming dan banyak tingkah dan hanya menunduk.
"ASTAGFIRULLAH... SI RIRI MIMISAN WOI..."Teriak Raka kala melihat ke arah Riri yang menunduk dengan baju Riri yang sudah memerah penuh dengan darah.
"RIRI..."Teriak Jayden dari arah koridor lalu berlari menghampiri Riri.
Jayden langsung saja menggendong Riri yang pingsan. Memang Riri sudah pingsan sedari tadi namun tidak ada yang sadar.
Cia langsung berlari menyusul Jayden yang menggendong Riri. Tapi teriakan Bu Laras menghentikan langkah Cia sejenak.
"KALIAN MAU KEMANA? HUKUMAN KALIAN BELUM SELESAI... SEKARANG KEMBALI KELAPANGAN, DAN JAYDEN JIKA DIA SUDAH SADAR SURUH KEMBALI KELAPANGAN UNTUK MELANJUTKAN HUKUMAN."Teriak Bu Laras dengan tajam dan angkuhnya.
Cia berhenti melangkah lalu langsung berbalik menghadap Bu Laras menatap dengan tampang datar. Cia kemudian berjalan mendekat ke arah Bu Laras dengan menatap tepat ke mata Bu Laras tanpa mengalihkan pandangan. Setelah berada sekitar 1 meter dari Bu Laras Cia berhenti namun masih tetap menatap Bu Laras namun kali ini dengan tatapan tajam menusuk.
Bu Laras masih dengan wajah angkuhnya menatap tajam Cia tanpa rasa takut walaupun agak terintimidasi oleh tatapan Cia.
"Kenapa kamu natap saya seperti itu? Marah? Mau lawan saya? Cih, bocah ingusan sepertimu tidak akan mampu melawan saya. Sekarang kembali kelapangan dan berdiri disana."Ucap Bu Laras menekan kata-katanya sembari menatap Cia remeh.
"Sudah mengocehnya?"Tanya Cia yang jengah melihat wajah Bu Laras yang meremehkannya.
"Apa katamu? Dasar murid kurang ajar? Heh dari sikap saja saya dapat menilai jika kamu adalah anak miskin yang tidak tau diri tidak beretika...tidak pernah diajarkan beretika yang benar dan tidak punya sopan santun... Seharusnya kamu tak pernah ada disini..anak tidak punya sopan santun sepertimu bukan disini tempatnya..."Ucap angkuh Bu Laras.
Memang Bu Laras adalah tipikal orang yang akan mengatakan isi pikirannya langsung. Suka memberikan hukuman yang sangat berat kepada murid yang tidak disukainya walaupun pelanggaran yang dilakukan ringan. Bahkan Bu Laras tak segan menghukum murid yang tidak disukainya walaupun tidak melakukan pelanggaran. Bu Laras juga hanya menutup mata pada kasus pembullyan disekolah yang dilakukan oleh anak-anak yang status keluarganya sangat tinggi karena sogokan.
Bu Laras juga tak pernah memperlakukan murid beasiswa dengan baik. Oleh karena itu banyak anak beasiswa yang memilih pindah dan tidak melanjutkan sekolah disana karena tersiksa oleh perlakuan Bu Laras dan murid pembully. Maka disekolah tersebut sangat jarang ditemukan anak beasiswa atau anak dari kalangan bawah yang bersekolah disana.
"Aku Ciara Lexitha Bagaskara dan yang pingsan tadi adikku Serina Chezita Bagaskara... Saya harap anda mengerti maksud saya."Ucap Cia dingin lalu berbalik menyusul Riri.
__ADS_1
Bersambung...