
Jam terakhir telah usai, kini semua murid mulai berlomba-lomba keluar dari kelas masing-masing untuk pulang. Entah pulang ke rumah masing-masing atau berpulang ke sisinya.
Sama seperti si tiga bersaudara beserta Aiden dkk. Mereka sudah ada diparkiran dan telah menaiki kendaraan masing-masing. Namun mereka masih belum pulang dikarenakan ada pertengkaran kecil antara Riri dan Jayden. Sejak tadi Jayden terus-menerus mengajak Riri pulang bersama yang ditolak oleh Riri. Sehingga Jayden terus memegang tangan Riri sambil memohon.
"Ayolah Ri, pulang bareng gue ya."Bujuk Jayden mengelus tangan mulus Riri.
"Gak mau Jayden, gue mau pulang bareng Cia. Lepasin gak!"Tolak Riri kesal, sekolah sudah sangat sepi dan Jayden masih saja terus merengek.
"Udahlah Ri pulang aja bareng dia. Gue dah laper nih pengen cepet-cepet pulang."Ucap Cia kesal, sedari tadi perutnya bergemuruh minta di isi tapi dua mahkluk di hadapannya tak mau berhenti berdebat.
"Ish Lo mah gitu, yaudah ayok pulang, awas aja kayak waktu itu, gue gak mau yah dibilang hamil lagi, ingat jangan singgah-singgah." Akhirnya Riri setuju di antar pulang oleh Jayden dengan sangat terpaksa.
Akhirnya setelah perdebatan panjang itu selesai, semuanya pun langsung pulang kerumah masing-masing.
°°°°°°°
Via, Cia dan Riri saat ini sedang bersantai-santai di ruang keluarga. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka bertiga. Mereka langsung berbalik melihat siapakah gerangan yang masuk ke rumah tanpa permisi.
"Papah Mamah."Ucap Cia dan Riri bersamaan sedangkan Via seperti biasa selalu datar dan hanya ber dehem.
"Ah mamah papah kok pulang gak ngasih kabar sih, kan bisa aku ke bandara jemput kalian."Rengek Cia pada papahnya, memeluk papahnya sayang yang dibalas oleh papahnya.
"Kan kejutan sayang. Hm manjanya anak papah, kangen yah sama papah?"Tanya Ardan sembari mencolek hidung kecil Cia.
"Iyalah pah, lebih tepatnya sih kangen dikasih uang jajan banyak hehehe."Jawab Cia disertai dengan kekehan.
"Kamu ini."Gemas Ardan.
"Bercanda pah."Ucap Cia lalu mengajak Papahnya duduk.
Cia memang sangat dekat dengan Ardan begitupula Ardan dia paling dekat dengan anaknya yang satu ini. Segala permintaan sang putri pasti dipenuhi.
Riri hanya menatap pemandangan itu dengan malas. Dalam benaknya dia berfikir kakaknya itu lebih manja daripada dirinya padahal dia yang anak bungsu.
__ADS_1
"Duduk mah."Ucap Riri mempersilahkan Sarah duduk.
Berbeda dengan Ardan yang saling melepas rindu dengan salah satu anaknya, Diana justru hanya duduk memandangi suami dan anaknya yang sedang melepas rindu. Diana memang tidak terlalu dekat dengan anak-anaknya. Cia dan Riri juga segan untuk bermanja dengan Diana.
Via hanya memandangi pemandangan didepannya dengan datar. Dirinya terlalu malas untuk sekedar ikut campus dalam drama mereka. Via kemudian bangkit dari duduknya berniat menuju ke kamarnya Karna merasakan kepalanya yang sangat pusing serta badannya yang lemas.
Baru hendak naik tangga, suara Ardan membuat pergerakannya terhenti
"Via setelah makan malam temui papah sebentar di ruang kerja."Perintah Ardan tanpa bantahan.
Via hanya mengangguk mengiyakan perintah Ardan kemudian melanjutkan jalannya yang tertunda.
"Papah mau ngapain manggil kak Via ke ruang kerja papah?"Tanya Cia penasaran, pasalnya Ardan cukup sering memanggil Via masuk keruang kerjanya kemudian biasanya setelah itu Via tak keluar kamar selama 2 sampai 3 hari.
"Papah hanya meminta tolong dibantu mengerjakan tugas kantor. memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?"Tanya Ardan tumben sekali putri cantiknya ini bertanya hal seperti ini.
"Biar Cia aja yang bantuin papah, Cia juga bisa kok mengerjakan kerjaan kayak gitu."Ucap Cia sesekali melirik ke arah Diana.
"Tidak usah kakakmu sudah cukup. Kau dan Riri hanya perlu belajar dengan giat agar bisa meneruskan perusahaan Bagaskara dan perusahaan Alexandra."Ucap Ardan sembari mengecup puncak kepala putrinya.
"Via akan menjadi bawahan mu nanti, dia akan menjadi pelindungmu."Jawab Ardan santai, sedangkan Riri dan Cia terkejut dengan pernyataan sang ayah.
Sedangkan dari lantai atas Via yang hendak turun mengambil minum untuk minum obat terhenti. Via mendengar semuanya. Sejenak wajah datar Via menyorot kecewa lalu berubah kembali menjadi datar.
"Hm, Bawahan yah..."Ucap Via lirih lalu membatalkan niatnya untuk mengambil air lalu kembali ke kamarnya.
Sedangkan Diana yang melihat siluet Via yang kemudian menjauh lalu tersenyum miring.
°°°°°
Setelah makan malam seperti perintah Ardan. Via kini berada di ruang kerja Ardan dengan Ardan yang menatapnya tajam. Via tidak mengerti sama sekali kenapa Ardan menatapnya seperti itu, dirinya merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
"Kau tau apa kesalahanmu sehingga saya memanggil kamu kesini?"Tanya Ardan datar.
__ADS_1
"Tidak."Jawab Via singkat.
"Dasar anak tidak tau diri. Saya menyekolahkan kamu bukan agar kamu bisa se enaknya saja."Ucap Ardan dengan nada marah.
"Maksudnya?"Tanya Via, dia benar-benar tidak tau apa kesalahannya dan kenapa Ardan terlihat sangat marah.
"Hari ini kamu bolos kan? kami pikir saya membayar sekolah kamu pakai dedaunan hingga kamu bisa se enaknya saja. Nilai merah, kehadiran tidak memenuhi syarat untuk ikut ujian mau jadi apa kamu hah,.... "Ucap Ardan semakin marah.
"Tapi ayah aku tidak pernah bolo-"
PLAAAKK
Belum selesai Via berbicara tangan besar Ardan telah mendarat sempurna di pipi mulus Via meninggalkan bekas telapak tangan Ardan disana.
"Tidak mau mengakui kesalahanmu? Bahkan banyak saksi Luna dan Wali kelasmu yang berkata seperti itu bahkan menunjukkan absen kelas yang kehadiranmu selalu kosong. Mau berkata apa lagi HAH!"
PLAKKK
Kesal Ardan kemudian menampar kembali pipi sebelah Via lagi sehingga kedua pipi Via memerah bekas cap tangan Ardan. Bahkan darah sudah mengalir dari sudut bibir Via namun Via masih mempertahankan wajah datarnya seperti tak terjadi apa-apa.
"Hah, untung saja aku tak menaruh nama Bagaskara atau Alexandra ke belakang namamu atau kau akan mempermalukan nama baik keluarga dan menjadi aib."Ucap Ardan tanpa memikirkan perasaan Via yang tercampur aduk.
Via hanya dia dengan wajah datarnya, ingin menangis ataupun protes namun tak bisa, takut akan dihukum semakin berat.
"Kerjakan semua dokumen itu jangan tidur jika belum selesai, selesaikan dengan baik dan teliti jangan ada yang salah dan kotor atau hukumanmu saya tambah."Setelah berkata seperti itu Ardan langsung keluar dari ruangan lalu mengunci dari luar.
Via tanpa sepatah kata langsung saja mengerjakan dokumen tersebut sesuai perintah Ardan walau badannya sudah sangat lemas dan kepalanya yang terasa pusing dirinya juga belum makan sedari siang.
Via memandang ke arah foto yang tergantung di dinding ruangan ini yang sangat besar, didalamnya terdapat Ardan, Diana, Cia dan Riri. Foto itu di ambil saat pemotretan untuk profil sampul majalah tentang keluar besar Bagaskara. Dirinya tak ada disana. Dia memang anak yang disembunyikan keberadaannya entah karena apa, bahkan belakang namanya tidak ada nama Bagaskara.
Sejujurnya Via iri karena diperlakukan berbeda dengan saudaranya, namun Via terlampau sangat menyayangi adiknya bahkan jika harus ditukar dengan nyawanya Via siap melindungi adiknya. Bagaimanapun adiknya lah yang terlihat menyayanginya dengan tulus, walaupun Ardan memperlakukannya berbeda dan Diana yang seperti menganggapnya tidak ada dirinya tetap bersyukur mempunyai adik yang menyayanginya dengan tulus dan selalu menghiburnya secara tidak langsung.
Via menatap foto itu lalu kembali mengerjakan dokumen walaupun sesekali berhenti ketika kepalanya kembali pusing.
__ADS_1
Bersambung....