
Saat jam istirahat, didalam ruang UKS terdapat Riri yang sedang berbaring sembari menutup matanya. Sedari tadi Riri belum juga sadar dari pingsannya. Disana ada Via yang menjaga Riri seorang diri. Via memaksa yang lainnya untuk kekantin mengisi perut mereka terutama Cia. Jadilah Cia yang menurut dari pada kena amukan dari kakaknya di ikuti oleh para kurcacinya Aiden dkk.
Riri membuka matanya yang terasa berat lalu mengedarkan pandangannya kemudian menemukan Via yang tengah tertidur disampingnya dalam posisi duduk dan menjadikan lengannya sebagai bantal di atas brankar tempat Riri.
Riri kemudian mengalihkan pandangannya kearah nakas. Disana terdapat nasi kotak dan sekotak susu coklat. Riri langsung mengambil nasi kotak dan susu itu kemudian memakan nasi kotak tersebut. Dengan melihat susu kotak rasa coklat itu Riri sudah satu bahwa itu untuknya. Cia dan Via selalu menyediakan itu jika Riri sedang sakit.
Setelah selesai makan dan menghabiskan susu coklatnya, Riri kembali berbaring karena kepalanya masih terasa pusing. Namun baru beberapa saat, tiba tiba Cia masuk bersama para antek-anteknya siapa lagi kalau bukan Aiden dkk. Karena mengingat ada Via jadi Cia tidak berteriak dan masuk dengan kalem. Namun Laras yang melihat Riri sudah sadar langsung berteriak sangat keras hingga Via yang sedang tertidur terjatuh dari kursi dengan tidak elitnya sembari mencium lantai yang dingin.
"WOI RIRI UDAH SADAR... RI LO GAKPAPA KAN? TUH GURU BK KALO NGEHUKUM EMANG SUKA NGADI-NGADI." Teriak Laras tepat disamping Via sembari memegang wajah Riri.
BRUUUKKKK....
DUKKK...
"KAK VIA."Teriak Cia kaget.
"Woi si Anjir kalo teriak liat tempat dong... Kakak gue jatoh noh, mana gak estetik lagi jatuhnya, bibirnya juga udah gak perawan ciuman ama lantai..."Ucap Riri miris melihat posisi Via yang berusaha berdiri dibantu Cia.
"Y...ya sorry gak sengaja."Cicit Laras menatap takut takut pada Via yang menatapnya tajam.
Tanpa sepatah kata Via langsung pergi meninggalkan UKS. Tidak ada yang tau isi hatinya sekarang. Semua hanya menatap Cengo kejadian tersebut.
"Hayolo Kak Via marah..."Ucap Raka menakut-nakuti Laras.
"Ih Jan gitu lah Rak, jantung gue disko nih..."Cemberut Laras memonyongkan bibirnya.
"Lo udah baikan kan Ri? Makanya kalo gue ajak bolos itu bolos aja..."Ucap Cia yang sudah duduk disamping brankar Riri.
"Gue gakpapa kok Ci', cuman kecapean aja trus belum sarapan juga tadi pagi..."Ucap Riri sembari tersenyum manis meyakinkan mereka kalau ia sudah baik-baik saja.
"Lo tau gak Ri? Kalo yang gendong Lo tadi ke UKS si Jayden. Mukanya keliatan khawatir banget, dia juga nge bentak suster yang jaga tadi."Ucap Laras sesekali melirik Jayden yang wajahnya sudah memerah.
"Yah gue sebagai suami yang baik sudah sepatutnya kek gitu...bilang aja Lo iri ye kan?"Sewot Jayden memandang Laras julid.
"Idih si najis gue bukan bini lo yah, tapi thanks udah gendong gue kesini..."Ucap Riri tulus.
"Udah pacarannya...lanjutnya nanti aja. Gue sebagai jomblo karatan merasa iri. Tapi gakpapa masih ada ayang mingyu."Seru Cia.
"Ini kalian gak ke kelas? Dah bell loh dari tadi."Ucap Riri menatap mereka semua.
"Sekalian lah kita semua bolos, males juga gue masuk. Hari ini dikelas belajar Kimia."Alasan Riko sembari duduk santai di sofa UKS.
"Inget kalian kelas 12 loh bentar lagi ujian... Ntar kalo gak lulus nanges.."Nasihat Cia juga mengejek.
"Yeh, kita mah walaupun gak belajar tetep pinter... Emang Lo sendiri pengen balik ke kelas?"Tanya Brian pada Cia.
"Ya kagak sih, males sekarang dikelas gue lagi belajar Bahasa Jerman... Gue gak minat ke Jerman jadi gak usahlah belajar..."Jawab Cia santai kemudian ikut berbaring di brankar sebelah Riri.
__ADS_1
"Yeh, sama aja berarti...."Sewot Riki.
Skip pulang sekolah...
Diparkiran sudah ada Cia, Via, Riri dan Aiden dkk. Rencananya Via dan Riri akan saling boncengan sementara Cia akan dibonceng oleh Aiden. Namun rencana mereka terusik saat Luna datang dan menghentikan motor mereka yang hendak melaju.
"BERHENTI...."Teriak Luna menahan mereka semua di gerbang.
"Lo apa-apaan sih halangi jalan... Minggir gak Lo, kita mau pulang..."Ucap Cia sinis menatap Luna tak suka.
"Kakak ikut..."Rengek Luna pada Via yang saat ini sudah membonceng Riri.
"Gak bisa gitu dong, Riri lagi sakit jadi pulang bareng kak Via... Lo apa-apaan sih."Ucap Cia tak terima.
"Neng Luna pulang sendiri yah, kan biasanya diantar sama sopir..."Bujuk Raka.
"Gak mau, kak Via..."Rengek Luna sembari memegang lengan Via.
"Mengertilah."Singkat Via hanya menatap datar ke depan.
"Kak Via tega sama Luna, hari ini sopir Luna sakit jadi gak bisa jemput..." Alibi Luna.
"Sini gue anter..."tawar Brian karena sedikit kasihan kepada Luna.
"Gak mau, aku maunya sama kak Via."Rengek Luna menghentak-hentakkan kakinya.
"Kakak, kepala Riri pusing mau cepat-cepat bobo di kasur..."Keluh Riri menyandarkan kepalanya dipundak Via.
Luna menatap kepergian mereka dengan sendu. Namun, beberapa saat kemudian tatapannya berubah tajam dan berkilat marah.
Disisi lain...
"Cia..."Panggil Aiden namun masih tetap fokus berkendara.
"Hah? I- iya?"Jawab Cia tersadar dari lamunannya. Gadis itu melamun membayangkan dirinya serasa seperti di adegan *******-******* dibonceng oleh cowok ganteng.
"Kita singgah sebentar untuk makan."Ucap Aiden lalu menepikan motornya didepan warung makan yang terlihat sederhana namun cukup ramai.
"Lo yakin mau makan disini?"Tanya Cia tak percaya. Cia tak menyangka Aiden akan makan disini. Secara Aiden berasal dari keluarga kaya raya. Biasanya orang sekaya Aiden tidak akan jauh dengan kata mewah.
"Iya, kenapa? Keberatan?"Tanya Aiden sembari menatap Cia.
"Bukan, bukan gitu. Maksud gue, gue kira Lo gak makan ditempat kayak gini. Ngertilah... "Ucap Cia menjelaskan takut Aiden salah paham dan mengiranya cewek matre.
"Gua semua orang sama dengan yang Lo pikirin."Balas Aiden santai setelah duduk disalah satu meja didalam warung tersebut. Cia bungkam atas penuturan Aiden.
Cia merasa ada gejolak aneh dalam tubuhnya. Jantungnya berdetak tak stabil. Dia tak pernah sekalipun merasakan perasaan ini. Baru kali ini dia merasakan hal ini saat Aiden berucap demikian. Tapi jujur saja, Aiden mendekati tipe ideal cowok idamannya. Sikap Aiden juga saat ini terlihat santai raut wajahnya tidak lagi datar. Berbeda saat disekolah, raut wajahnya selalu datar dan terkesan dingin. Tanpa sadar Cia melamun dan tidak menyadari panggilan Aiden.
__ADS_1
"Cia..."Panggil Aiden tepat ditelinga Cia. Cia sontak berbalik menghadap Aiden dan tanpa sengaja Aiden mencium pipi Cia. Karena terlalu gugup sontak Cia menjauh dari Aiden dan merasakan jantungnya yang semakin berdetak kencang.
"Maaf, gua gak sengaja...tadi gua manggil Lo berkali-kali tapi Lo nggak ngerespon jadi gua manggil Lo tepat ditelinga Lo."Jelas Aiden biasa saja namun dengan wajah yang bersemu merah hanya diarea pipi. Kulitnya yang putih dapat dengan jelas memperlihatkan wajahnya yang memerah.
"Oh ya? Maaf tadi gue melamun. Lo manggil gue kan? Yaudah apa?"Ucap Cia mencairkan suasana.
"Itu, Lo mau pesen apa?"Tanya Aiden tanpa menatap Cia. Wajahnya masih merah sampai sekarang.
"Tunggu..."Ucap Cia sembari melihat menu yang terpampang di dinding warung.
"Em, gue pesen, Gado-gado 1 porsi, Ikan bakar 1, sate ayam 1 porsi, ayam geprek sambel ijo 1 porsi, sub iga juga 1 porsi, trus minumnya air putih sama es cendol." Ucap Cia sembari tersenyum melihat gambar makanan yang dipesannya yang terpampang di dinding.
"Lo kok pesennya banyak banget? Siapa yang bakalan habisin semuanya?"Tanya Aiden. Pasalnya diwarung ini satu porsinya setara 2 porsi diwarung lain. Warung ini tidak pelit.
"Iya, gua yang bakalan abisin. Tenang aja pasti abis kok. Gua juga sering makan disini sama Riri."Jawab Cia santai.
"Hm terserah Lo deh."Pasrah Aiden. Aiden berfikir sepertinya Cia mirip dengan Bundanya. Bundanya juga suka makan banyak bahkan tidak pernah kenyang, cerewet dan penggemar pria tampan. Walaupun sudah menikah dan punya anak, Bundanya akan memuji dan bersikap manis. Inilah alasan Aiden malas membawa teman-temannya kerumah. Malas melihat Bundanya berperilaku manis dihadapan temannya. Tapi walaupun begitu Bundanya adalah orang yang setia dan selalu menjaga hubungannya dengan baik.
"Pesanannya dek..."Ucap pelayan sembari meletakkan pesanan mereka. Satu meja penuh dengan makanan dan didominasi oleh pesanan Cia. Aiden hanya memesan 1 porsi gado-gado beserta Es teh.
"Mari makan..."Ucap Cia kemudian mulai makan dengan lahap tanpa memperhatikan sekitarnya. Aiden hanya menatap Cia cengo. Bahkan gadis itu tak menjaga image didepannya.
Beberapa saat kemudian. Mereka selesai makan. Walaupun Cia memesan banyak Cia dapat menghabiskan makanannya dengan cepat hingga Aiden tidak perlu menunggu lama.
Setelah selesai makan. Cia dan Aiden keluar dari warung tersebut kemudian berjalan kearah motor Aiden. Namun langkah mereka terhenti kala Cia melihat Cowok berparas tampan hendak masuk kedalam warung. Cia dengan tidak tau malunya menyapa cowok tersebut dengan senyuman genitnya.
"Halo cowok ganteng!"Sapa Cia tepat dihadapan cowok itu dengan senyum genitnya yang kelihatan manis.
Cowok itu menatap Cia dari atas sampai bawah kemudian kemudian tersenyum manis.
"Hai..."Mendengar suaranya Cia dibuat mematung. Bukan karena berdamage atau berat. Justru karena suara cowok itu yang terdengar seperti suara perempuan mungkin karna emang perempuan.
"Kok... Kok suara kamu mirip cewek?"Tanya Cia setelah sadar dari keterkejutannya.
"Gue emang cewek. Kenapa emang? Berharap Lo?"Ucap Cowok itu yang ternyata cewek.
"Kok penampilan Lo gitu sih?"Tanya Cia mengubah kosa kata menjadi 'Lo Gue'.
"Terserah gue dong... Emang Lo siapa?" Jawab Cewek tomboy itu sewot.
"Idih, KUKIRA YANTO TERNYATA YANTI."Teriak Cia kemudian berjalan menghampiri Aiden dengan kesal.
Aiden yang sedari tadi menyaksikan tingkah laku Cia menahan tawa. Bahkan Aiden sudah tersenyum lebar yang membuat pengunjung wanita disana terpesona bahkan ada yang memfoto.
"APA MAU KETAWA LO?"Sembur Cia kesal melihat Aiden yang menahan tawa.
"Makanya gak usah kecentilan. Ayo pulang."Ucap Aiden menormalkan kembali ekspresinya.
__ADS_1
Kemudian merekapun pulang dengan Cia yang masih merasa kesal dan malu. Aiden yang melihat wajah kesal Cia dari spion tersenyum dalam helm full face nya tanpa disadari oleh Cia.
Bersambung...