
"Cia Lo dari mana aja? kok waktu upacara gak ada?"Tanya Sarah setelah duduk disamping Cia. Setelah upacara dia langsung kembali ke kelas dan mendapati Cia disana bermain ponsel.
"Hehe tadi waktu pertengahan upacara gue izin ke WC tapi karna males balik upacara jadinya gue ke kelas."Jawab Cia sembari tersenyum manis.
"Lo tau gak kalo kak Via pingsan tadi?"Tanya Sarah lagi.
"Enggak, kan gue dikelas mulu dari tadi."Jawab Cia santai.
Sesaat kemudian hening. Tidak ada yang bersuara. Tiba-tiba Cia bangkit lalu melotot ke arah Sarah.
"Tadi yang Lo bilang pingsan siapa?"Tanya Cia Karna baru menyadari sesuatu.
"Kak Via."
"ANJIR KENAPA LO GAK BILANG DARI TADI...."Teriak Cia ngegas untung hanya mereka berdua yang ada dikelas.
"Gue udah bilang ya dari tadi. Lo nya aja yang kelihatan santai jadi gue pikir Lo gak peduli."Ucap Sarah datar. Telinganya terasa berdengung karena teriakan Cia tadi.
"Terus kakak gue dimana sekarang?"
"Kakak Lo dibawa sama Raka ke UKS."
Cia kemudian berniat pergi ke UKS namun terhenti karena guru yang akan mengajar telah datang. Cia tak berani izin karena ada ulangan pagi ini.
Sementara di sisi lain.
"Aduh kak Via gakpapa kan? Ini gurunya kok cepet banget datangnya sih mana serem banget lagi mukanya kan gak berani izin gue."Gumam Riri dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.
"Tenang aja kak Via bakal baik-baik aja kok. Kan ada si Raka yang nemenin. Lo tenang aja."Ucap Jayden untuk menenangkan Riri.
"Hm gue harap juga kayak gitu. Semoga aja kak Via baik-baik aja. Kak Via tuh jarang sakit bahkan hampir gak pernah. Pingsan aja gak pernah juga."
"Udah gak usah khawatir nanti kita liat sama-sama di UKS"
"hm."
°°°°°°°
"Raka kak Via belum bangun juga?"Tanya Riri pas sampai di UKS. Sekarang adalah jam istirahat dan Via belum bangun juga sedari tadi.
"Balum. Bahkan badannya jadi panas banget kata dokternya kak Via demam tinggi."Jawab Raka sembari mengelus tangan Via pandangannya tidak pernah teralihkan dari wajah pucat Via.
"KAK VIA."Teriak Cia yang datang tiba-tiba. Dibelakangnya terdapat Aiden dkk.
"Apa sih Lo teriak-teriak kaget gue anjir."Kesal Riri sembari mengelus dada.
"Serah Lo. kak Via belum siuman? kak Via sakit apa?"
"Kak Via demam tinggi belum sadar dari tadi."Jawab Riri.
"Bawa ke rumah sakit aja kasian mukanya dah pucat banget kek mayat."Sahut Brian.
"Hm, yaudah gue telfon orang rumah dulu ngabarin kalo kak Via sakit."Ucap Cia hendak mengambil ponsel di sakunya.
"Gak usah."Terdengar suara datar nan dingin namun lemah yang ternyata berasal dari Via.
"Kak Via."Ucap hampir semua orang yang ada disana.
"Hm."
"Kakak udah sadar. Yaudah kita kerumah sakit sekarang."Ucap Riri sembari memegang tangan Via.
__ADS_1
"Tidak usah."Tolak Via lalu menarik tangannya.
"Kenapa? Badan kakak panas banget loh. Trus itu muka kakak pucat banget harus segera kerumah sakit."
"Tidak usah Riri. Aku sudah sehat."Ucap Via kemudian turun dari ranjang.
"Apanya yang sehat, kakak tuh lagi sakit. Kakak mau kemana lagi?"Ucap Cia ketika melihat Via hendak melangkah keluar dari UKS.
"Kelas."
"Setidaknya kalo kak Via gak mau ke rumah sakit tetaplah diam di UKS atau aku akan melaporkan kakak ke papah dan mamah."Ucap Cia tegas tak terbantah.
Via kembali tidur di ranjang UKS membelakangi mereka semua tanpa sepatah kata apapun.
"kak Via."Panggil Cia dan Riri bersamaan.
"Keluar."Titah Via datar.
"Tapi kak-"
"Keluar."Ucap Via sekali lagi.
Akhirnya Cia, Riri beserta Aiden dkk keluar dari ruangan. Hanya satu orang yang bertahan disana. Raka.
"Kak makan dulu yah, kakak belum makan kan dari tadi pagi."Ucap Raka lembut mengelus surai Via.
"Nanti."Ucap Via. Entah kenapa Via tidak menolak Raka.Padahal dalam hati Raka sudah ketar ketir takut di tolak oleh Via.
"Makan sekarang yah sedikit saja habis itu minum obat. Aku tau kakak lagi kesakitan sekarang."Pinta Raka lembut masih mengelus surai Via pelan.
"Hm baiklah."Ucap Via kemudian bangun dan duduk menghadap Raka.
"Aku bisa makan sendiri."Tolak Via.
"Aku suapin ya kak. Aku tau kok tangan kakak lemes jadi gak usah dipaksain ya."Tawar Raka.
Via hanya mengangguk menanggapinya kemudian menerima suapan dari Raka. Raka menyuapinya dengan telaten sesekali memberikan air minum ketika melihat Via akan muntah.
"Kamu tidak makan?"Tanya Via sembari menatap Raka polos.
Seketika wajah Raka memerah saat menerima tatapan polos dari Via. Benar-benar sangat imut tanpa ada wajah datar nan dingin disana. Raka sejenak berfikir dimana letak 175 cm itu. Menurut Raka Via terlihat seperti balita polos sekarang.
"A- anu itu aku akan makan nanti setelah kakak selesai makan."Jawab Raka terbata. Tak tahan melihat serangan wajah polos Via bertubi-tubi.
"Oh."
Via kembali ke wajah datarnya semula membuat Raka lega. Raka benar-benar tidak tahan rasanya ia ingin mengurung Via untuk dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian Via selesai makan dan minum obat, kini Via tengah berbaring dengan Raka yang mengelus puncak kepalanya lembut.
"Sekarang giliran mu untuk makan."Ucap Via dengan nada perintah.
"Sebentar."
"Sekarang."Perintah Via mutlak.
"Baiklah."
Raka kemudian mengambil makanan yang ada di atas meja lalu memakannya dengan cepat.
"Pelan-pelan saja."Ucap Via.
__ADS_1
"I-iya."Jawab Raka malu-malu pasalnya Via memandangnya dengan lembut membuat jantungnya kembali disko.
beberapa saat kemudian Raka telah selesai makan. Sedangkan Via ketiduran karna efek obat. Raka memandangi wajah Via cukup lama kemudian mengeluarkan ponselnya lalu memotret Via yang tertidur dengan damai.
"Tidur aja cantik apalagi bangun." ucap Raka memandangi hasil tangkapannya. Raka tak habis pikir sejak Via tertidur tidak ada pergerakan sedikitpun posisi Via sama seperti posisi awal saat tertidur. Bahkan Raka sampai mengecek hidung Via apakah masih bernafas atau tidak dan semuanya normal saja kecuali badan Via yang panas.
°°°°°°°
"Hah... Kayaknya kak Via marah deh sama kita."Ucap Riri lesu saat sampai di kantin.
Begitu keluar dari UKS semuanya langsung menuju kantin karena jam selanjutnya diadakan rapat jadi tidak belajar.
"Hm... Kek gitu deh. Tapi kan kita tuh khawatir."Kesal Cia.
"Iya, kita cuman mau bawa ke rumah sakit trus kasih tau orang rumah tapi reaksi kakak kok kayak gitu sih."Ucap Riri ikutan kesal.
"Mungkin dia punya alasan sendiri."Ucap Aiden.
"Mungkin."Ucap Cia cuek.
"Udah gak usah terlalu dipikirin. Mungkin kakak kalian lagi banyak pikiran atau PMS mungkin jadinya kayak gitu."Ucap Riko.
"Eh, kalian tau gak?"Tanya Riki.
"Enggak."Jawab Cia, Riri, Riko dan Brian kompak.
"Kok gak tau sih?"
"Kan lu belom ngomong goblok." Kesal Brian padahal dia sudah kepo.
"Iya sih."Ucap Riki mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Emang apaan sih?"Tanya Riri kepo.
"Jadi gini katanya akan ada murid baru kelas 11."Jawab Riki.
"Cewek atau cowok?"Tanya Cia.
"Katanya sih Cowok."
"Widih, kalo ganteng gebet ah."Ucap Riri.
Plaakkk
"Apa sih Lo pukul kepala gue, sakit nih."Marah Riri sembari mengelus kepalanya yang dipukul oleh Jayden.
"Gak usah kamu main gebet-gebetan sama dia. Hargai gue sebagai suami Lo."Ucap Jayde santai.
"Apa sih. Lo bukan suami gue yah. Belum nikah dah ngaku-ngaku jadi suami gue."Kesal Riri membuang muka.
"Oh jadi kamu minta di nikahin gitu?"Tanya Jayden sembari mendekat ke arah Riri.
"Heh kagak ye... ogah gue nikah ama Lo."Jawab Riri semakin kesal.
"Oke, setelah lulus gue langsung lamar Lo."Ucap Jayden santai kembali duduk di tempatnya.
"Ogah, kagak mau gue nikah ama modelan jamet kek Lo. gak akan pernah."Kesal Riri apalagi setelah melihat wajah Jayden yang sangat santai membuat Riri semakin kesal.
Tanpa mereka sadari Cia beserta yang lainnya telah kembali ke kelas masing-masing, hanya tersisa mereka berdua yang menjadi pusat perhatian di kantin.
Bersambung....
__ADS_1