
Sudah 1 Minggu berlalu. Kehidupan tiga bersaudara mulai kembali normal. Andra dan Diana kembali melakukan perjalanan bisnis keluar negri.
Kebetulan hari ini adalah hari Minggu. Cia dan Riri berencana untuk bersantai ria dirumah. Berbeda dengan Via yang sejak tadi pagi sudah berangkat entah kemana.
Di ruang keluarga.Cia dan Riri sedang bersantai ria menonton tv sembari menikmati cemilan. Lebih tepatnya tv yang menonton mereka. Karena mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing. Riri sedang menonton Treasure Map sedangkan Cia sedang membaca novel online.
"Kak Cia."Panggil Riri.
"Afah?"Saut Cia tanpa menoleh masih sibuk membaca rentetan huruf di ponselnya.
"Cemilannya abis."
"Trus?"Tanya Cia cuek.
"Ambilin cemilan lagi didapur."Rengek Riri.
"Ambil sendiri dong. Gak liat gue lagi sibuk."
"Sibuk apanya? orang cuman main hp."
"Lo juga cuman main hp tuh."
Karena kesal dengan ucapan Cia. Riri kemudian berjalan ogah-ogahan menuju dapur untuk mengambil cemilan.
Riri membuka Kulkas, lemari, dan tempat lainnya namun tak kunjung menemukan cemilan.
"KAK."Teriak Riri dari arah dapur.
"APASIH RI', GAK USAH TERIAK JUGA KALI INI BUKAN HUTAN."Kesal Cia karena waktu membacanya jadi terganggu.
"Cemilannya gak ada, udah abis."Ucap Riri sembari memasang wajah cemberut.
"Trus?"Tanya Cia cuek.
"YA BELIIN LAH."Teriak Riri kesal.
"Suruh pelayan sana. uangnya ambil di dompet gue tapi kan Lo punya duit sendiri jadi pake duit Lo sendiri."
"KAKAK... INIKAN HARI SABTU PARA PELAYAN LIBUR."Teriak Riri untuk kesekian kalinya.
Cia yang sudah sangat kesal langsung saja melempar ponselnya ke meja, untung saja mejanya tidak pecah.
"Lo pergi beli sendiri aja, nih dompet gue bawa aja sekalian belanja cemilan buat seminggu."Cia melemparkan dompetnya ke arah Riri yang langsung ditangkap oleh Riri.
"Naik apa? Kan semua pekerja lagi libur hari ini gak ada yang bisa nganterin gue."Lagi-lagi Riri memasang wajah cemberut.
"Motor matic kan ada, Lo bisa bawa motor kan? lagian tempatnya gak jauh cuman di ujung jalan."Jelas Cia.
"Iya ya. Yaudah gue pergi dulu."Pamit Riri.
°°°°°
Riri telah selesai berbelanja cemilan dan akan segera pulang. Saat ingin menyalakan motor tiba-tiba ada yang naik ke boncengannya. Riri yang terkejut hampir saja terjatuh bersama motornya, untung saja laki-laki yang duduk dibelakangnya menahan motor agar tak terjatuh dengan kaki panjangnya.
"HEH LO SIAPA SIH MAIN NAIK MOTOR ORANG? TURUN GAK LO."Ucap Riri ngegas. Dia kesal karna hampir saja dibuat terjatuh.
__ADS_1
"Lo gak kenal gue?" Bukannya menjawab Riri, cowok itu malah bertanya balik dengan wajah cengonya.
"Ya kagak lah. Lo gak begitu penting untuk gue tau."
"Terserah... sekarang anterin gue pulang ke jalan Cendrawasi."Perintah cowok itu dengan wajah santai membuat Riri jengkel.
"Lo siapa nyuruh-nyuruh. Kenal juga kagak. Turun gak Lo!" Riri turun dari motornya lalu memandang cowok itu jengkel.
"Lo pilih yang mana mau nganterin gue atau pulang jalan kaki."Ucap pemuda itu sembari memegang kunci motor Riri yang dia ambil dari tempatnya.
"LO!!!??!!" Teriak Riri tertahan.
Tanpa berkata apapun, Riri langsung naik ke boncengan cowok itu dengan wajah merah marah. Cowok itu terkekeh melihat wajah marah Riri yang menurutnya sangat imut.
Cowok itupun mulai melajukan motornya sesuai dengan arahan Riri. Tak lama merekapun sampai ke jalan Cendrawasi. Riri baru menyadari sesuatu. Jalan Cendrawasi sama dengan nama jalan tempat tinggalnya yang artinya cowok ini adalah tetangganya. Riri kembali memasang wajah kesalnya, dirinya sudah sangat jengkel dan dibuat tambah jengkel lagi dengan kenyataan itu.
"Dah berapa lama Lo tinggal disini?"Tanya Riri penasaran, dirinya sudah berdoa dalam hati semoga cowok ini tidak terlalu dekat dengan rumahnya.
"Baru aja hari ini. Gue tadinya pengen jalan-jalan sebentar eh malah kejauhan sampe nyasar."
Riri hanya mangut-mangut mendengar jawaban cowok itu.
Tak lama kemudian mereka berhenti didepan rumah mewah yang hampir setara dengan rumah Riri. Tapi Riri lagi-lagi baru menyadari sesuatu. Ternyata rumah mereka berhadapan dengan jalan aspal luas ditengah.
"KENAPA LO TINGGAL DEPAN RUMAH GUE HAH? LO SENGAJA?"
"Bar-bar banget sih Lo jadi cewek. Ya mana gue tau kalo gue tinggal depan rumah Lo. Yang milih rumah bukan gue tapi ortu gue.Jadi itu rumah Lo?"Tanya cowok itu sambil menunjuk kediaman Bagaskara.
"Iya, emang kenapa?"Sewot Riri.
"Kirain Lo babunya."Ucap cowok itu santai namun membuat Riri kesal.
Riri langsung saja tancap gas menuju rumahnya lalu masuk setelah dibukakan gerbang oleh satpam.
"BUAHAHAHAHAHA Anjir mukanya merah. Kacian juga tapi seru."Tawa Cowok itu meledak setelah ditahan sedari tadi.
"Fazmi kamu lagi ngapain disitu. Sambil ketawa lagi. Kamu gak gila kan?"Tanya Ibu cowok itu yang ternyata bernama Fazmi.
"Eh mama Fazmi gak gila kok mah, tadi Fazmi cuman jailin cewek sampe marah. Mukanya sampai merah loh mah."Cerita Fazmi sesekali tertawa mengingat kejadian tadi.
"Lain kali jangan gitu lagi ya sayang. Kan kasian ceweknya digituin."Ucap mamah Fazmi lembut.
"Iya mah, janji Fazmi gak gitu lagi kalo inget."
"Fazmiii"Tegur Mamah Fazmi halus.
"Iya mah."
°°°°°
Riri masuk kedalam rumah dengan kesal. Ia meletakkan cemilan dihadapan Cia yang lagi lesehan dikarpet masih dengan membaca novel di ponselnya.
"Napa muka Lo kusut gitu? Hampir berpulang kesisinya atau gimana?"Tanya Cia melirik Riri sebentar lalu kembali fokus ke ponselnya.
"Gue kesel tau gak. Kesel banget malah."
__ADS_1
"Oh."Ucap Cia cuek.
"Ish kok gitu sih Lo jawabnya. Nanya kek gimana gue bisa kesel."Ucap Riri dengan nada jengkel.
"Hm, Lo Napa bisa jengkel?"Tanya Cia malas.
"Hah pokoknya gue Kessel.. Tadi kan waktu gue pergi beli cemilan pas dah naik motor mau pulang. Ada cowok tiba-tiba naik ke boncengan gue..."Riri menjeda kalimatnya untuk mengatur nafas.
"Trus?"Tanya Cia penasaran.
"Cie yang tadi cuek kali sekarang jadi kepo..."Goda Riri kepada Cia yang sudah memasang wajah jengkel.
"Lanjutin aja napa sih, mumpung gue kepo!"Ucap Cia dengan nada kesal.
"Hehehe, oke nih ku lanjut..."Kekeh Riri merasa senang melihat wajah jengkel kakaknya.
Riripun menceritakan seluruh kejadian tadi dengan sangat detail. Cia menyimak cerita Riri sesekali menimpali atau memberi komentar hingga Riri selesai bercerita.
"Jadi gitu... ngeselin kan?"
"Jadi tuh cowok tinggal depan rumah kita?"Tanya Cia penasaran.
"Iya pas banget depan rumah kita."
"Orangnya ganteng gak?"
"Gak tau dia pake masker."
"Tinggi?"
"Hm... cukup tinggi sih tapi masih tinggian papah."
"Suaranya gimana?"
"Hm... Gak tau, gue gak terlalu merhatiin suaranya karna kelewat jengkel."
"Hais... Lain kali kalo ketemu cowok no 1 liat penampilannya, 2 liat tingginya, 3 dengar suaranya bagus apa kagak..."
"Serah Lo deh... pokoknya gue kesel sama tuh cowok..."Ucap Riri kemudian bangkit berjalan ke arah tangga.
"HEH Mau kemana Lo?"
"Mau berak... Napa mau cebokin gue?Sorry gue bukan anak kecil lagi jadi gak usah."Setelah berkata seperti itu Riri langsung berlari menaiki tangga.
"Idih... Ogah kali gue kalo disuruh cebokin dia."Ucap Cia dengan wajah julidnya.
••••••
Dilain sisi....
Via kini tengah duduk santai disebuah taman yang sepi setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Via duduk sendiri menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang berhembus. Taman ini sangat sepi tidak ada pengunjung sama sekali. Tidak tau Karna apa, tapi sejak Via kecil dan menyatakan taman ini adalah taman Favoritnya, taman ini menjadi selalu sepi tanpa pengunjung. Walaupun begitu, taman ini sangat terawat bahkan tumbuhan yang ada disana seperti dirawat dengan teliti.
Via kemudian menutup matanya menyandarkan tubuhnya pada kursi taman membiarkan rambutnya berterbangan terkena angin. Hingga ia merasakan sebuah elusan dikepalanya yang terasa sangat menenangkan menurut Via. Hingga elusan itu berubah menjadi tepukan dipundaknya. Sontak Via membuka matanya.
"Siapa?"Tanya Via datar tanpa berbalik menatap seseorang yang menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Aku...."
Bersambung....