Three siblings

Three siblings
Chapter 4


__ADS_3

Malam harinya dikediaman Bagaskara.


"Kak, Papa sama Mama kemana? Kok dari tadi gak kelihatan?"Tanya Riri yang datang dari arah dapur menuju ruang keluarga.


"Mama sama Papa ke Singapura sore tadi... Katanya ada urusan mendadak..."Jawab Via yang sedang fokus melukis.


"WHAT?!!!! KOK GAK ADA YANG NGASIH TAU RIRI SIH?"Teriak Riri kaget yang duduk disamping Cia.


Cia langsung menutup telinganya yang terasa berdengung akibat teriakan Riri.


"Bisa gak sih Lo gak usah teriak...telinga gue sakit nih denger teriakan Lo yang ngalahin speaker tetangga."Kesal Cia sembari mengusap kupingnya.


"Hehehe, sorry namanya juga kaget? Eh btw, jadi malam ini cuman kita bertiga dirumah...?"Tanya Riri sambil memperhatikan Via yang melukis.


"Tidak, sebentar lagi Yudis bakal dateng temenin kita..."Jawab Via masih fokus melukis.


"Tumben Bang Yudis mau temenin kita? Biasanya kan Bang Fajar sama Bang Arthur."Heran Cia.


Karena biasanya Yudis selalu menolak jika disuruh menemani mereka. Alasannya sih karna takut sama Via dan Yudis juga tak bebas pulang larut malam karna pasti Via akan memarahinya.


"Bang Fajar ada tugas mendadak di Sulawesi sedangkan Bang Arthur ada di Rusia sekarang mengunjungi sahabatnya."Jawab Via.


Via akan berbicara panjang lebar jika bersama adik-adiknya walaupun masih kaku dan datar serta ekspresi tak terbaca.


"Oh...jadi kapan Bang Yudis datang? Aku ga-...."Omongan Cia terputus kala mendengar ketukan dari pintu utama.


TOK TOK TOK TING TONG


Bunyi suara ketukan dan bell secara bergantian.


"PERMISI SPADA, PAKET, ASSALAMUALAIKUM... WOI BUKA WOI...NIH PENGHUNINYA ADA GAK? KALO GAK ADA GUE BALIK NIH."Teriak seseorang dari luar.


"Itu suara bang Yudis kan?"Tanya Riri ngelag.


"BANG YUDIS, TUNGGU SEBENTAR CIA DATANG ."Teriak Cia kemudian berlari menuju pintu utama.


"WOI ASSALAMUALAIKUM..."Teriak Yudis dengan sedikit kesal karena sedari tadi tidak ada yang membuka pintu.


Ceklek...


"ABANG...Kenapa baru Dateng sekarang? Gue kangen ama Abang tau."Ucap Cia memeluk Yudis.


"Sorry, Abang lagi sibuk nyari Janda jadi gak sempat mampir kesini."Ucap Yudis bercanda.


"Gue cepuin ke Tante Meta nih."Ancam Cia .


"Bercanda Ci... Btw, kalian lagi ngapain sih dari tadi kok gak bukain pintu, dari tadi Lo Abang ucap Assalamualaikum tapi gak ada yang jawab."Ucap Yudis setelah duduk di sofa ruang keluarga.


"Bang Yudis Jan ngadi-ngadi deh, inget bang kita Atheis."Ucap Riri yang duduk disebelah Yudis.


"Hehehe, sorry lupa... Gara-gara keseringan bergaul nih sama Riki, Riko, sama Zidan."Cicit Yudis dengan cengiran khasnya.


"Serah Abang aja deh..."Ucap Cia dan Riri bersamaan.


"Btw, Via gue boleh keluar gak malam ini? Janji cuman sampe jam 12, gue ada kumpul bersama malem ini ama geng gue..."Izin Yudis pada Via sembari menatap Via gugup.


Via meletakkan kuasnya kemudian membereskan alat lukisnya dan membiarkan lukisannya yang belum kering terpajang diruang keluarga. Setelah semuanya beres Via kemudian menatap kearah Yudis dengan pandangan datar khasnya yang membuat Yudis semakin gugup dan takut-takut.


"Boleh gak?"Tanya Yudis sekali lagi.


"Tidak..."Jawab Via singkat lalu berdiri.

__ADS_1


Yudis hanya bisa pasrah dengan jawaban Via. Karena dia tau walaupun membujuk dengan sekeras mungkin tidak akan pernah berhasil. Jika Via sudah mengatakan A maka harus A tidak akan pernah berubah menjadi B.


"Ka- kalau gitu boleh gak temen gue dateng kesini... Janji setelah kumpul kita beresin."Izin Yudis lagi. Dia merasa seperti meminta izin kepada ayahnya bahkan lebih gugup.


"Baiklah..."Jawab Via kemudian masuk kedalam ruang kerja ayahnya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan ayahnya. Sementara Ayahnya pergi dia yang akan mengerjakan pekerjaan ayahnya.


"Gimana jantung? Aman?"Tanya Cia dan Riri yang menahan tawa melihat wajah Yudis yang seperti menahan berak.


"Woilah, jantung gue kek mau pindah ke ginjal aja... Berasa kek disidang sama Papi gue..."Jawab Yudis sembari menetralkan detak jantungnya.


"Buahahahaha.... Sabar ya bang... Namanya juga kak Via..."Ucap Cia dan Riri sembari menertawai Yudis.


"Bisa-bisanya kalian tahan punya kakak modelan kek gitu, cuman dia yang beda sendiri..."Kesal Yudis.


"Sebenarnya kak Via tuh baik yah... Buktinya kita minta uang jajan dikasih lebih, minta ini itu dikasih... "Ucap Riri santai.


"Yodah deh, tunggu gue telfon temen gue suruh Dateng kesini.."


Setengah jam kemudian....


TING TONG.


"Ri ada tamu bukain gih."Perintah Cia pada Riri.


"Si Riri udah molor Ci, biar gue aja..."Ucap Yudis kemudian berjalan menuju pintu utama.


"Woi Ri bangun ada tamu... Lo gak malu apa tidur depan tamu.?"Ucap Cia membangunkan Riri.


"Apa sih...biarin lah gak peduli... "Jawab Riri setengah sadar kemudian kembali tidur dengan gaya tidak estetik.


Bagaimana tidak, Riri tidur di sofa dengan telentang memeluk boneka beruang yang sangat besar bahkan lebih besar dari sofa yang Riri tiduri. Sebenarnya badan Riri tak terlihat Karna tertindih boneka.


"Woah Yud, Lo beneran nginep disini Yud?"terdengar suara teman Yudis yang mulai berisik.


"Cia duduk membelakangi mereka jadi mereka tidak dapat melihat wajah Cia.


"Wih, Yud Lo nginap bareng cewek Yud... Lo gak ngapa-ngapain kan sama tuh cewek..."Tanya Teman Yudis.


"Ya enggak lah, mereka adek sepupu gue, perempuan tuh dijaga bukan dirusak."jawab Yudis ketus.


"Eh, Cia? Lo ada disini...?"Tanya salah satu teman Yudis menghampiri Cia.


Cia yang mendengar namanya terpanggil kemudian menoleh.


"Hah, Sayang kok Lo disini? Gue disini Karna emang tinggal disini..."jawab Cia. Ternyata yang bertanya adalah Rafa teman sekolah tiga bersaudara.


"Gue disini Karna diajak Ama bang Yudis, bukan cuman gue sih, ada Riki, Riko, Raka, Aiden, Jayden, Brian, Aldean, Zidan, Safir, sama Ilham."Ucap Rafa.


"Dek, Lo kok manggil Rafa sayang? Kalian pacaran?"Tanya Yudis yang sudah menatap Rafa tajam setajam silet.


"Gue gak pacaran Ama Rafa kok bang. Cuman tadi waktu perkenalan disekolah Rafa nyuruh panggil sayang jadi gue panggil sayang. Gak salah kan?"Jawab Cia menatap Yudis polos.


"Oh...kirain pacaran, kamu gak usah pacaran sama dia, dia Play Boy."Nasehat Yudis membuat Rafa mendelik.


"Sorry aja nih ya bang, gue gak playboy yang playboy tuh si kembar..."Kata Rafa dengan menunjuk sikembar Riki dan Riko.


"Perasaan kita cuman diam loh dari tadi malah dibawa bawa."Ucap Riki kesal diangguki oleh Riko.


Tidak ada yang menanggapi ucapan Riki. Mereka memilih duduk sembari menata makanan yang mereka beli dijalan.


Jayden merasa tertarik dengan boneka beruang yang sangat besar disofa yang posisinya tengkurap menutupi sofa.

__ADS_1


"Woah, gede banget boneka beruangnya... Gue pinjem ya kak Cia.."Belum sempat Cia menjawab, Jayden langsung menarik boneka tersebut sehingga nampak lah Riri yang tertidur dengan mulut terbuka dan baju yang sudah naik memperlihatkan perut ratanya.


"Aduh si Riri yang tidur kok gue yang malu yah?"Batin Cia miris melihat gaya tidur Riri.


"Woilah istri gue kok ada disini?"Ucap Jayden terkejut melihat keberadaan Riri yang tertidur.


"Astagfirullah..."Ucap Zidan yang tidak sengaja melihat perut Riri lalu mengalihkan pandangannya.


"BUAHAHAHAHAHA, tidurnya estetik sekali yah! Untung cantik."Tawa Ilham sembari memperagakan cara tidur Riri.


"Si Riri malu-maluin aja... Masih mending kalo tidurnya estetik, lah ini. Mana depan cogan pula. Buang sodara dosa gak sih. Mencoreng harga diri aja."Batin Cia menatap Riri miris lalu menutup wajahnya yang memerah menahan malu.


"Hm, berisik banget sih Ci, ganggu orang mimpi aja Lo, lagi enak pelukan sama Jaemin malah keganggu suara tawa Lo yang mirip lakik."Ucap Riri kesal karena tidurnya terganggu dengan suara tawa Ilham dan yang lainnya. Karena sudah tidak bisa tidur kembali, Riri kemudian memilih duduk dengan mata yang masih terpejam.


Perlahan Riri membuka matanya yang terasa susah untuk dibuka. Riri mengerjapkan matanya yang samar samar melihat banyak cogan didepannya. Kemudian matanya melotot sempurna memandangi Yudis dkk.


"Aduh keknya gue masih mimpi deh. Ini gue ditatap sama cogan. Astaga, ada yang mirip Haruto, astaga yang itu mirip ayang mingyu, wah itu mirip Soobin, yang itu mirip suami gue Jaemin."Ucap Riri dengan mata berbinar menatap mereka satu persatu sambil menunjuk Safir kemudian Brian, Lalu Rafa, kemudian terakhir Jayden.


"Mimpi gue indah banget...jadi gak pengen bangun... Kalo ini emang mimpi gak boleh ada yang bangunin gue... Sumpah mubazir banget kalo gue bangun..."Ucap Riri masih menatap mereka binar.


"HEH TOLOL... MEREKA NYATA YA NYET....Malu maluin Lo jadi adek ... Sumpah buang adek dosa gak?"Teriak Cia tetap ditelinga Riri kemudian menghela nafas kasar.


"WHAT?!!!! JADI GUE GAK LAGI MIMPI? JADI HARUTO, SOOBIN, MINGYU SAMA JAEMIN BENERAN ADA DIRUMAH KITA?"Teriak Riri menggema di seluruh mansion. Bahkan Via yang sedang mengerjakan beberapa dokumen terlonjak kaget karena jarak ruang kerja dan ruang keluarga dekat.


"Ssstttt.... Telinga gue anjirr tiba-tiba budek." Ucap Raka yang memang duduk tak jauh dari Riri.


"Riri."Tegur Via yang baru keluar dari ruang kerja menatap Riri datar lalu menuju dapur.


"Maaf kak kelepasan..."Cicit Riri takut takut dia lupa akan makhluk es satu itu.


Via tak menghiraukan Riri dan tetap melanjutkan jalannya menuju dapur. Riri setelah itu hanya duduk lalu mengambil ayam crispi yang ada dimeja makanan yang dibawa Aiden dkk.


Semuanyapun langsung bergabung duduk bersama Riri melupakan kejadian tadi sembari berkenalan. Riri duduk ditengah Aiden dan Jayden. Sedangkan Cia duduk ditengah Safir dan Yudis.


"Lo kuat makan juga ya Ri?"Ucap Jayden sembari terus menatap Riri yang sedang makan berbagai makanan dimeja.


"Emang kenapa? Masalah buat Lo?"Sewot Riri menatap Jayden malas.


"Ya gakpapa sih, tapi emang Lo gak takut gendut?"Tanya Jayden.


"Gak lah, ngapain takut, gue walaupun makan banyak tetap kek gini. Justru kalo gue gemuk nanti yang ada gue tambah imut montok banyak yang suka gimana? Kalo banyak orang suka sama kita juga gak baik..."Ucap Riri dengan tingkat kepedeannya yang sudah mendarah daging.


"Yeh, bilang aja Lo cacingan jadi gak bisa gemuk."Ejek Cia sembari mulutnya yang tidak berhenti mengunyah.


"Idih, Lo juga makan Mulu tuh tapi gak bisa gendut berarti Lo cacingan juga dong..."Balas Riri menatap Cia remeh.


"Hahaha, senjata makan tuan..."Ucap Ilham mengejek Cia. Cia hanya mendengus kesal menatap Riri malas.


Tiba tiba Via lewat dari arah dapur sembari membawa sekotak es krim berukuran jumbo ditangannya dan memakan es krim sambil berjalan.


"Via, ayo gabung sini."Panggil Yudis.


Via berhenti berjalan kemudian menatap mereka dengan mata tajamnya memperhatikan setiap orang lalu mengalihkan pandangannya ke arah es krimnya.


"Tidak."Tolak Via singkat kemudian kembali berjalan dengan memakan es krim sehingga menampakkan lesung pipinya dikedua pipi bulatnya.


Tampa sadar 3 diantara mereka menatap Via dengan tatapan yang sulit diartikan.


3 Jam kemudiannn...


Riri mulai mengumpulkan bekas makanan dimeja dan membereskan ruang keluarga. Namun pergelangan tangannya kemudian dipegang oleh seseorang hingga menghentikan aktivitasnya.

__ADS_1


"Biar kami yang membereskannya. Kamu duduk saja."


Bersambung....


__ADS_2