
Pagi sekali Via sudah berangkat kesekolah meninggalkan Cia dan Riri yang masih berusaha dibangunkan oleh Yudis. Mulai hari ini Cia akan mengendarai mobil sendiri kesekolah bersama Riri. Semalam Ayah mereka mengirimkan mobil sport keluaran terbaru berwarna hitam atas permintaan Cia. Sebenarnya Cia masih tidak diperkenankan membawa mobil sendiri karena mengingat usianya yang masih 16 tahun dan Riri 14 tahun namun, Cia yang keras kepala berhasil membujuk orang tuanya jadilah dia di izinkan membawa mobil sendiri. Alasan Riri ikut dengan Cia karena ingin mengendarai mobil baru.
Via tak langsung menuju kelas namun dia memilih menuju taman belakang sekolah yang sepi namun terawat. Via adalah tipikal orang yang suka ketenangan tidak suka berbaur dan suka menyendiri. Hanya satu hal yang membuatnya dengan senang hati berbaur dengan orang lain yaitu musik. Via dengan senang hati akan maju dan bernyanyi dihadapan orang banyak. Namun hal itu ditentang oleh ayahnya yang mengakibatkan dirinya sering bertengkar dengan sang Ayah karena beberapa kali kedapatan ikut les musik.
Via duduk disalah satu bangku taman kemudian mengeluarkan buku gambar yang tebal dan sebuah pensil. Selain musik, menggambar juga merupakan hal yang paling digemari oleh Via. Via bersyukur kali ini ayahnya tidak menentang hal tersebut hingga dia lebih leluasa menekuninya.
Via kemudian mulai menggambar sembari sesekali mengamati sekitarnya dengan senyum tipis terpatri dibibirnya. Hanya hal hal seperti ini yang mampu membuat Via tersenyum.
"Kakak cantik banget kalo lagi senyum."Saut seseorang yang baru datang membuat Via mendongak menatap orang tersebut.
Terlalu larut dalam gambarnya membuat Via tak sadar ada orang yang melangkah ke arahnya.Ketika Via mendongak, wajah tampan langsung terpatri jelas didepan wajahnya. Cowok itu tersenyum manis menatap Via kemudian beralih melihat ke arah gambar Via.
"Siapa?"Tanya Via menatap cowok itu datar. Ketenangannya jadi terganggu karena kedatangan cowok itu. Untung saja gambarnya telah selesai.
"Astaga! Kakak lupa sama aku? Aku Raka kak temannya Riri masa lupa sih?"Ucap cowok itu dramatis yang ternyata adalah Raka.
"Oh."Ucap Via singkat membereskan alat gambarnya.
"Kak, gambarnya bagus banget boleh aku ambil gak?"Tanya Raka menahan tangan Via yang hendak memasukkan buku gambarnya kedalam tas.
"Untuk?"Tanya Via. Via cukup senang mendengar pujian Raka. Sangat jarang ada yang memuji gambarnya karna dia selalu menggambar ditempat sepi dan tenang.
"Mau aku jadiin pajangan kak. Gambarnya bagus banget aku suka."Ucap Raka jujur.
Gambar Via memang sangat bagus. Walaupun hanya satu warna dari pensil namun, hasilnya sangat menakjubkan. Gambar seorang gadis ditengah hutan yang terlihat sedang berlari dengan kepalanya menoleh kebelakang. Dress putih gadis itu nampak kusut dan kotor dengan kaki tertusuk duri yang tersebar dimana-mana.
"Oh."
Via kemudian membuka buku gambarnya dan mencari gambar yang barusan digambarnya. Raka menatap takjub dengan gambar-gambar lainnya yang beberapa diantaranya berwarna. Setelah mendapatkan gambarnya, Via melepas kertas tersebut dengan perlahan takut sobek kemudian menyerahkannya pada Raka.
"Makasih kak...lain kali aku bakal minta lagi. Boleh kan kak?"Tanya Raka kegirangan. Raka adalah penyuka tema dark atau horor itu yang membuat Raka tertarik pada gambar Via.
"Hm."Jawab Via singkat. Setelah memasukkan alat gambarnya Via langsung saja pergi dari taman tanpa pamit meninggalkan Raka yang menatapnya.
"Hah, untung gak ketahuan..."Ucap Raka lega. Dia kemudian menyalakan ponselnya dan menatap hasil tangkapannya tadi. Terdapat foto Via yang sedang tersenyum sembari menatap buku gambar dan sebuah pensil yang melekat ditangannya.
Tadi sebelum menghampiri Via, Raka diam-diam memotret Via yang kebetulan sedang tersenyum kala itu. Semenjak pertama kali bertemu dengan Via, Raka langsung mengidolakan Via. Dia kagum dengan setiap tingkah laku Via menurutnya Via itu keren. Ditambah setelah melihat senyum dan bakat Via Raka semakin mengidolakan Via.
..........
Saat ini semua murid berkumpul di aula setelah mendengar panggilan dari kepala sekolah. Tiga bersaudara juga berkumpul disana bersama Aiden dkk serta Laras dan Sarah teman Riri dan Cia. Sedangkan Via, dia tidak punya teman sama sekali bahkan berkenalan dengan sekelasnya saja tidak.
"Ini kita dikumpulin buat apa sih? Ganggu orang sibuk aja."Keluh Riki berdecak sebal.
"Dih lu sibuk ngapain? Belajar dikelas aja jarang." Cibir Brian memandang Riki julid.
"Sibuk ngupil, upil gua banyak harus dibersihin biar makin ganteng." Balas Riki sembari mengupil didepan Brian.
"Iuh kok Lo jorok banget sih? Gak mau ah gua deket-deket Lo jauh-jauh sana."Usir Riri yang berada tepat disamping Riki memandang Riki jijik.
"Elah Ri, gitu banget Lo Ama gua, upil gua ganteng kok..."Ucap Riki sembari menyodorkan tangannya yang ia pakai mengupil tadi. Sebenarnya tangan Riki bersih tidak ada upil sama sekali Riki sengaja ingin mengerjai Riri.
"Hueekkk, Kak Riki jauh ih, gua gak suka cowok jorok kayak Lo..."Usir Riri menjauhkan badannya dari Riki yang berjalan makin mendekat pada Riri.
__ADS_1
"Heh, Lo apain bini gue hah? Jangan ganggu bini gua atau gue gampar Lo."Ucap Jayden sinis menatap Riki galak.
"Idih, ngaku-ngaku bini...Ri emang Lo mau jadi bini nya?"Tanya Raka sembari mengejek.
"Ogah... Jaemin tetap nomor 1 di hati gue..."Jawab Riri santai .
"MOHON PERHATIANNYA ANAK-ANAK. YANG SEDANG BERBICARA NANTI DILANJUTKAN SETELAH INI. OKE?"Ucap Kepala Sekolah dan seketika keadaan menjadi hening.
"OKE PAK!"Jawab seluruh murid serempak.
"BERDIRINYA SAYA DISINI, INGIN MENYAMPAIKAN BAHWA SEKOLAH KITA AKAN MENGADAKAN PERLOMBAAN ANTAR KELAS SELAMA 1 MINGGU DAN AKAN DITUTUP DENGAN ACARA PERSEMBAHAN DARI KELAS 12 PADA MALAM HARI DENGAN MENGUNDANG PARA PENDIRI DAN DONATUR DISEKOLAH KITA."Ucap Kepala sekolah dengan lantang menggunakan pembesar suara.
"WOAHHHH...."Seru para murid kompak dan nampak serius mendengar penyampaian dari kepala sekolah.
"JADI SAYA HARAP SETIAP KELAS BERPARTISIPASI DALAM ACARA INI TERUTAMA UNTUK KELAS 12. SEBAGIAN DARI NILAI UJIAN PRAKTIK KALIAN BERGANTUNG PADA ACARA INI. JADI ANAK KELAS 12 WAJIB UNTUK MENGIKUTI ACARA INI BAIK INDIVIDU MAUPUN KELOMPOK DAN DIPENGHUJUNG ACARA MASING MASING KELAS HARUS PUNYA PERWAKILAN UNTUK MENAMPILKAN PENAMPILAN SOLO. SELEBIHNYA AKAN DISAMPAIKAN OLEH KETUA KELAS MASING-MASING. BAIK SAYA AKHIRI SELAMAT BELAJAR KEMBALI." Ucap kepala sekolah mengakhiri penyampaiannya.
Semua siswa langsung menuju kelas masing-masing. Mereka langsung membahas mengenai lomba dan siapa yang akan ikut lomba.
...............
"Gimana Ri? Lo ikut lomba apa?"Tanya Cia sembari memakan makanannya, saat ini mereka sedang kumpul di kantin termasuk Aiden dkk.
"Biasalah gue ikut Dance, Volli, Basket, sama Tolak peluru. Lo sendiri gimana?"Tanya Riri balik juga sambil makan.
"Yah sama kayak Lo juga. Gua juga ikut cerdas cermat."Jawab Cia santai.
"Widih kalian hebat yah ikut banyak lomba."Puji Brian menatap binar Riri dan Cia.
"Iya dong, doain kita menang yah. Jan lupa nonton juga."Ucap Riri sedikit sombong.
"Kalo kita udah pasti ikut lomba Basket sama Volly, trus futsal juga...cuman itu aja sih. Tapi kalo Aiden ikut cerdas cermat juga soalnya dia yang paling cerdas disini."Jawab Riki sembari melirik teman-temannya.
"Iya?"Tanya Cia dan Riri tak percaya menatap Riki lalu Aiden.
"Yoi, di seluruh kelas 11 MIPA dia yang juara umum walaupun sering bolos."Ucap Riko bangga padahal bukan dia yang juara.
"Widih keren tuh, kalo kalian juara berapa? Gua sih gak yakin kalian dapet juara."Tanya Laras menatap mereka remeh dengan sedikit mengejek.
"Idih si anjir ngeremehin banget jadi orang... Gini-gini kita tuh cerdas, gua juara umum 3, Riko 2, Brian 4, kalo Jayden sama Raka kagak tau, tapi waktu SMP juara umum 2 sama 3." Jawab Riki menggebu-gebu tak terima diremehkan seperti itu.
"Santai aja kali', sombong amat jadi orang... Aiden yang juara umum 1 aja gak sombong tuh." Ucap Laras jengkel karena rencana mengejeknya gagal.
"Lo-.."Ucapan Riki terpotong kala Brian menyumpal mulutnya dengan bakso.
"Diem deh Lo, ngalah aja sama cewek."Brian jengah mendengar perdebatan mereka yang tidak berfaedah sama sekali.
"Bri', Lo- Lo."Ucap Riki terbata-bata menatap Brian cengo.
"APA?!"Jawab Brian ngegas.
"Lo nyuap gua pake bakso siapa? Trus pake sendok siapa?"Tanya Riki setelah menelan bakso yang ada di mulutnya.
"Bakso gua sama sendok gua emang kenapa?"Tanya Brian balik belum menyadari sesuatu.
__ADS_1
Cia, Riri, dan Laras yang notabennya adalah Fujo langsung tersenyum penuh arti menatap mereka.
"First Kiss gua... Huaaaa Huek Huek." Tangis Riki sembari ingin muntah dan menggosok bibirnya.
"Ri dia uke nya kan? Kentara banget."Bisik Cia dan hanya Riri dan Laras yang dapat mendengarnya.
"Iya, mukanya si Riki kiyowo gimana gitu trus si Brian agak kekar mukanya juga agak tegas ke bule-bulean gitu."Timpal Riri berbisik dan diangguki oleh Cia dan Laras.
"Kasian kembaran gua, mana masih muda."Lirih Riko prihatin Karna samar-samar dia mendengar bisikan Cia dan Riri.
"Lo harus tanggung jawab Bri'."Tunjuk Riki tepat didepan Brian.
"Hah? Tanggung jawab gimana maksud lo? Lo hamil?"Tanya Brian dengan wajah polos-polos bangsatnya.
"Ya kali gua hamil gua kan cowok su."Kesal Riki menatap Brian jengah.
"Trus mau Lo apa? Cuman First Kiss doang santai aja kali. Lagipun itu gak sengaja."Santai Brian sembari meminum es kopinya.
"Santai Lo bilang? Lo harus tanggung jawab. Gimana kalo sesudah ini cewek-cewek gak ada yang mau Deket Ama gua?"Ucap Riki ngegas namun masih dengan volume normal.
"Kembaran Lo kenapa sih Riko? Kek cewek PMS aja. Rik-, eh semuanya kemana?"Tanya Brian kala melihat sekelilingnya kosong hanya ada beberapa murid.
"Tuh kan gara-gara Lo semuanya pada pergi. Dahlah."Tuding Riki kemudian meninggalkan Brian seorang diri.
"Adek gak mau pulang? Bell pulang udah bunyi dari tadi loh dek."ucap penjaga kantin menatap Brian Karna sisa Brian disana.
"Eh, ini mau pulang mba' permisi."Pamit Brian kemudian buru-buru keluar dari kantin.
°°°°°
"Sialan Lo pada ninggalin gue. Untung gak diculik tante-tante." Umpat Brian saat sampai diparkiran dimana teman-temannya berada.
"Apa sih ga jelas banget jadi orang."Sewot Cia.
Cia dan Riri langsung saja pulang tanpa menunggu Via setelah menatap Luna sinis.
Via dan Luna juga langsung masuk mobil hendak pulang. Namun, mobil Via mogok. Beberapa kali Via mencoba tetap tidak bisa.
Via dan Luna keluar dari mobil, ternyata masih ada Aiden dkk diparkiran motor. Via langsung saja berjalan kesana menghampiri Aiden dkk.
"Permisi." Sapa Via sopan namun masih dengan muka datar dan dingin.
"Eh kak Via kenapa kak?"Sapa Raka balik dengan tersenyum ramah.
"Saya mau minta tolong."Ungkap Via terus terang tanpa basa basi.
"Boleh aja, mau minta tolong apa?"Tanya Jayden.
"Mobilku mogok. Tolong antarkan Luna pulang."Pinta Via dengan raut datar namun masih terdengar sopan.
"Oke, tenang aja, Jayden bakal anter."Ucap Brian dan diangguki Jayden.
"Terimakasih."Ucap Via lalu berlalu pergi.
__ADS_1
Jayden dan Luna sudah meninggalkan pekarangan sekolah. Sedangkan Via menunggu tukang untuk memperbaiki mobilnya. Sebenarnya Brian, Raka, Aldean, dan Aiden menawarkan pulang bersama namun di tolak oleh Via. Jadilah mereka hanya menemani Via sampai mobilnya selesai diperbaiki.
Bersambung....