Three siblings

Three siblings
Chapter 8


__ADS_3

Tibalah hari dimana Via, Cia dan Riri akan lomba. Selama seminggu ini juga Tiga bersaudara itu semakin dekat dengan Aiden dkk termasuk Luna dia sering diantar jemput oleh Aiden dkk.


Hari ini adalah 1 hari menuju puncak acara. Khusus untuk hari ini hanya akan ada lomba Dance dan menyanyi.


°°°°°


"Widih yang mau tampil dah pada cantik-cantik."Seru Riki yang datang bersama yang lainnya untuk menyemangati tiga bersaudara yang akan tampil.


"Iya dong Riri gitu loh."Ucap Riri percaya diri sembari mengibaskan rambutnya hingga mengenai wajah Jayden.


"Anjir mata gue."Ringis Jayden perih pada matanya Karna terkena rambut Riri.


"Eh, sorry sorry gak sengaja sumpah. Sakit yah?"Ucap Riri khawatir sambil memegang wajah Jayden.


"Wah Ri anak orang sakit tuh Ri gara-gara Lo. Entar dia ngadu sama emaknya."Kompor Cia.


"Ish, Jan gitu lah kak. Lo gak tau apa jantung gue jedak jeduk nih."Kesal Riri tanpa menatap Cia. Riri masih sibuk memandang Jayden khawatir.


Jayden yang melihat Riri begitu khawatir mulai tersenyum jahil. Sebenarnya perihnya sudah hilang, namun melihat wajah Riri yang khawatir membuat ide tiba-tiba muncul dikepalanya.


"Iyanih perih banget ssshhtt."Ringis Jayden sembari mengucek matanya.


"Maaf tadi gue gak sengaja, kalo masih perih ayo ke Rumah sakit gue anter..."Khawatir Riri memandang Jayden lekat.


"Idih gue tau nih akal-akalan si curut. Dia cuman mau ambil kesempatan dalam kesempatan."Sahut Riko memandang Jayden julid.


"Maksudnya?"Tanya Riri menatap Riko dan Jayden bergantian.


"Ya elah Ri, ternyata Lo polos juga yah gampang dikibulin. Dia cuman pura-pura kesakitan sengaja mau ngerjain Lo."Ucap Raka membongkar tabiat Jayden.


Jayden langsung saja memandang Riki, Riko, dan Raka dengan sinis. Tiga bersaudara itu benar-benar sangat mengesalkan baginya.


"Jadi mata Lo gakpapa?"Tanya Riri dengan wajah jengkel.


"Gak kok, tadi beneran perih serius."Ucap Jayden dengan pose dua jari.


"Dahlah, gue ngambek. Sia-sia gue khawatir tadi."Ucap Riri jutek kemudian berjalan sedikit menjauh dari Jayden.


"Lo sih pake nge bongkar rencana gue kan Riri jadi ngambek sama gue. Lo tau darimana sih rencana gue?"Protes Jayden pada Riko.


"Ekspresi muka Lo udah ngejelasin rencana Lo. Cuman si Riri doang yang gampang dikibulin."Jelas Riko.


"Dahlah ngambek gue sama kalian."Kesal Jayden memalingkan wajahnya kearah lain.


"Dih pake ngambek segala. Kek cewek Lo."Julid Riki.


"Emang cowok gak boleh ngambek. Emang ada larangan bagi cowok gak boleh ngambek?"Balas Jayden ketus.


"Udah gak usah pada debat. Ini bukan ajang debat Capres dan cawapres. Mending kita liat penampilan Riri sama Cia mereka udah naik ke atas panggung."Lerai Brian jengah melihat mereka.


Skip penampilan Cia dan Riri telah selesai.


"Sumpah kalian keren banget, sambil nyanyi juga."Puji Aldean memandang mereka berbinar.


"Harus dong. Biar mama sama papa bangga."Ucap Riri sembari tersenyum memandang wajah imut Aldean.


Jayden yang melihat itu merasa cemberut. Sedari tadi dia masih diabaikan oleh Riri.


"Penampilan kalian keren. Gak gampang buat nge dance sambil nyanyi. "Puji Brian pada Cia dan Riri.


"Thanks kita memang keren."Ucap Cia pd.


"Kalian keren."Ucap Aiden sembari menyodorkan dua botol air mineral dingin.

__ADS_1


"Terimakasih."Ucap Cia menerima air mineral tersebut.


"Makasih kakak ganteng."Ucap Riri genit menerima air mineral tersebut.


Jayden yang sedari tadi cemberut bertambah cemberut melihat itu.


"Btw, setelah ini penampilan kak Via kan? Kak Via mana? Kok dari tadi gak keliatan?"Tanya Raka begitu bersemangat sembari matanya menelusuri sekitar mencari keberadaan Via.


"Eh, iya ya. Dari tadi gue juga gak liat kak Via setelah turun dari panggung."Ucap Cia ikut mencari Via.


"Tunggu gue telfon dulu siapa tau dia lagi ke toilet."Ucap Riri sembari mulai menghubungi Via.


"Gimana?"tanya Cia.


"Gak diangkat."Ucap Riri menggeleng.


"SELAMJUTNYA ADALAH PENAMPILAN BERNYANYI SOLO. PESERTA NOMOR 1 SILAHKAN MAJU KEDEPAN ATAS NAMA ADROVIA ZENITHA."Ucap pembawa acara memanggil Via untuk maju.


"Gimana nih, kak Via belum muncul juga."Ucap Cia khawatir.


"Tunggu sebentar lagi siapa tau dia akan datang."Ucap Aiden berusaha menenangkan.


"Gue takut kak Via kenapa-napa. Gak biasanya kak Via ngilang kayak gini."Lirih Riri.


"Tenang, dia pasti baik-baik aja. Kamu jangan khawatir."Jayden memeluk Riri berusaha memberikan ketenangan.


Beberapa saat kemudian ponsel Riri berbunyi tanda notifikasi masuk. Ternyata itu adalah pesan dari Via.


Kak Via.


Maaf aku tidak akan tampil. Tolong batalkan penampilanku.


"Kak Via tidak akan tampil."Ucap Riri.


"Gak tau kak Via cuman kirim pesan suruh batalin penampilannya."Ucap Riri sedih.


"Yasudah mungkin dia punya alasan untuk itu. Yang terpenting kita sudah dapat petunjuk tentang kak Via.


*******


Disisi lain...


Via berdiri dihadapan ayahnya tepatnya diruang kerja ayahnya. Pintu sudah tertutup rapat yang artinya tidak ada yang dapat mendengar percakapan mereka berdua karena ruangan tersebut kedap suara.


"Ada apa anda memanggilku?"Tanya Via langsung tanpa basa basi karena sebentar lagi penampilannya akan dimulai.


"Kamu masih bertanya perihal saya memanggilmu?"Tanya ayah Via balik yang bernama Andra.


"Ya."jawab Via singkat.


"Kamu tau kan konsekuensinya jika melanggar larangan saya. Tapi sepertinya kamu tidak akan pernah menganggap larangan saya serius."Ucap Andra tajam.


"Memangnya kenapa jika saya melakukan hobi saya. Itu tidak merugikan anda."Jawab Via berani menatap tepat kemanik mata Andra yang berwarna madu.


"Kamu sudah berani menjawab saya ternyata."Marah Andra menatap tajam tepat kemanik mata Via yang berwarna hitam legam.


"Saya punya mulut."Jawab Via lagi tanpa mengalihkan pandangannya.


PLAKKK


"Dimana sopan santun mu pada orang tua. Berani sekali kamu menjawab saya."Marah Andra menatap Via yang terduduk dilantai akibat tamparan Andra.


Via tak membalas ucapan Andra lagi. Mulutnya terlalu perih akibat tamparan tadi. Sepertinya ujung bibirnya sobek terbukti dengan adanya bercak darah di tangannya.

__ADS_1


"Hari itu kamu tidak menjaga anak saya betul-betul. Riri sampai pingsan dan direndahkan di Sekolah. Kamu pikir saya tidak tau hal itu? Kamu benar-benar tidak becus. Gajimu akan kupotong."Ucap Andra tanpa menatap Via.


"Dan hari ini andaikan Luna tidak memberitahu saya. Saya tidak akan tau kelakuan kamu. Berkat Luna saya tau semua tindakan kamu selama di Sekolah."


Via tertegun mendengar nama Luna. Entah kenapa rasanya sesak mendengar semua perlakuan ayahnya hari ini adalah tas laporan dari Luna. Dia begitu menyayangi sepupunya itu selalu melindunginya sama seperti Cia dan Riri. Selalu saling berbagi cerita namun mengapa dia tega melakukan itu.


"Sekarang batalkan penampilanmu itu. Saya tidak ingin mendengar kabar tentang penampilanmu."


"Kenapa? Kenapa saya tidak boleh tampil didepan umum? Kenapa ayah selalu melarang saya untuk tampil didepan umum?"Tanya Via menatap Andra yang terlihat menatapnya marah.


"Kirim pesan sekarang atau bahkan melukispun tak akan ku izinkan."Ancam Andra.


Via langsung saja mengirim pesan kepada Riri.


"Sudah."Ucap Via menatap Andra sendu. Harapannya untuk tampil bermusik didepan banyak orang sirnah. Padahal dia sudah sangat bersemangat ingin tampil hari ini dan telah mempersiapkan segalanya.


"Kenapa anda melarang saya sedangkan Cia dan Riri dibebaskan. Dan kenapa harus musik?"Tanya Via ragu. Jujur pertanyaan ini yang paling ingin Via tanyakan dari dulu namun baru sekarang dia memberanikan diri.


"Kamu tidak perlu tau alasannya. Lebih baik kamu mencari hobi lain sesuai bakatmu."Perintah Andra tanpa menatap Via.


"Ayah tau, bakatmu hanya dibidang itu. Aku tak sepandai Cia dan Riri yang mampu berbagai bahasa, Aku tak sepintar Cia dan Riri dalam akademik. Aku tak semultitalenta seperti Cia dan Riri yang bisa disemua bidang. Fisikku lemah kapasitas otakku rendah. Aku anak ayah yang paling bodoh. Aku tak sebebas itu untuk mencari bakat Karna nyatanya aku tak mampu."Lirih Via sembari menunduk.


"Aku tau kenapa ayah tidak pernah mau menunjukkan aku kedepan publik itu karena ayah malu punya anak sepertiku. Aku bahkan tau kenapa kakek dan nenek pilih kasih terhadapku karena mereka malu punya cucu sepertiku. Jika boleh memilih aku juga tidak ingin dilahirkan seperti ini ayah."


Andra hanya diam tanpa menatap ke arah Via. Ekspresi wajahnya hanya datar tanpa ada raut kepedulian disana.


Via menatap sendu kearah Andra. Melihat wajah Andra yang tampak tak peduli membuat dadanya sesak.


"Kerjakan dokumen-dokumen itu dan jangan keluar sebelum semuanya selesai."Perintah Andra kemudian berlalu keluar dari ruangan sembari menutup pintu rapat.


"Aku bahkan ragu, apakah aku benar anak keluarga ini."Lirih Via.


"Aku lelah dengan segala kebohongan ini. Aku benar-benar ingin menyerah namun tak bisa. Kenapa? Kenapa takdir sekejam ini padaku.


Malam harinya....


"Darimana saja kalian? Kenapa baru pulang?"Tanya Diana ibu dari tiga bersaudara kepada Cia dan Riri.


"Kami baru saja selesai tampil final mah. Riri lelah mau istirahat."Ucap Riri dengan wajah lelahnya.


"Kamu boleh kekamar. Cia ikut mamah."


"Iya mah."Jawab mereka serempak.


*****


Cia dan Diana kini berada di balkon.


"Ada apa mah? Kenapa bawa Cia kesini? Cia capek Lo habis lomba."Protes Cia.


"Kenapa kamu pake ikut lomba Dance segala hah? Kan mamah sudah pernah katakan kamu fokus aja belajar tentang perusahaan. Liat Via sampai sekarang masih berada di ruangan ayahmu mengerjakan dokumen perusahaan. "Marah Diana memandang putrinya lekat.


"Emang kenapa sih mah?"Tanya Cia lelah. Diana selalu memaksa Cia belajar tentang perusahaan dan selalu menyuruh Cia mengganti posisi Via.


"Pokoknya mamah gak mau tau, kamu harus belajar tentang perusahaan gantiin posisi Via mamah gak mau perusahaan Bagaskara jatuh ke tangan Via. Pokoknya kamu yang harus jadi pewaris satu-satunya."Ucap Diana tegas.


"Cia tuh lagi capek mah. Lagian Cia gak minat jadi CEO. Terserah hak waris jatuh ketangan siapa Cia gak peduli." Ucap Cia lalu berlalu meninggalkan Diana.


Diana memandang Cia kesal. Kenapa putrinya itu sangat sulit diatur dan sangat keras kepala.


Sedangkan dari kejauhan seseorang menatap mereka sendu. Dia mendengar segala percakapan mereka. Setelah kepergian Cia dia juga ikut pergi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2