
..."Kamu lebih kuat dari yang kamu tahu. Lebih cakap dari yang pernah kamu impikan. Dan kamu lebih dicintai dari yang kamu bayangkan."...
Jadilah berguna, agar bisa disukai oleh semua orang. Quotes singkat, yang bisa mempengaruhi kehidupan siapapun. Dunia ini luas, dan pasti akan ada seseorang yang bangga melihat kamu kuat.
"Kenapa harus Ibu yang mati, kenapa bukan lo aja, Vin?"
Yang diberi pernyataan seperti itu, hanya bisa tersenyum kecil. Beginilah kehidupannya, jika tidak mendapatkan siksaan, maka ia akan mendapatkan umpatan. Definisi 'hidup itu seimbang' benar-benar nyata, bukan?
"Pergi ke dapur sana, Bang Vandy udah masak."
Langkah kecilnya kini mulai tertuju kearah dapur. Calvin mendudukkan dirinya, dan mulai memakan hidangan yang tersisa. Porsi makanan yang ia dapatkan hari ini cukup banyak. Darel yang menyisakan ikan untuknya, Vandy yang memberinya sosis, sedangkan Ayahnya, hanya menyisakan nasi dan juga mie.
"Kalo udah beres jangan lupa cuci piring. Tugas lo dirumah ini cuman sebagai pembantu, gak lebih."
Calvin mengangguk. Ia benar-benar mengerjakan semua yang diperintahkan. Setelah semuanya sudah beres, ia memutuskan untuk pergi keluar rumah, bermaksud menghirup udara segar.
Langkahnya kini berhenti tepat dihadapan pria yang sedang tersenyum manis kearahnya. Ia terdiam, dan mulai mendengarkan beberapa lagu yang sekiranya bisa membuatnya menjadi tenang.
"Sampai kapan lo mau pura-pura lemah kaya gini?"
Yang ditanya kini mengangkat bahunya acuh. Lagipula siapa yang peduli dengan pertanyaan bodoh seperti itu?
Merasa bosan, Calvin kini pergi dengan pemuda asing itu. Keduanya kini memasuki sebuah rumah yang bisa dikatakan cukup angker (?), didalamnya terdapat beberapa orang yang biasa mereka siksa.
"Tuh cowok satu kenapa belum dibunuh juga?"
"Itu kan mangsa lo, anjing! Gue tau lo pura-pura gak inget," jawabnya yang dibalas acungan jempol oleh Calvin.
Kegiatan keduanya harus berhenti, setelah beberapa temannya yang lain mulai datang secara berurutan. Calvin menatap datar hal itu, sementara yang ditatap malah asik tertawa. Seperti tidak ada beban.
"Kenapa pada telat sih, anjing?"
__ADS_1
"Dijalan macet parah, Vin. Gue gak sengaja, sumpah!"
Erlan Darllin Harison. Pria bertubuh tinggi, tampan, dan juga pintar. Kata 'terlambat' sudah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi pemuda ini.
"Pacar gue ribet. Sekarang gue udah putus, gara-gara lebih milih buat kumpul."
Heaven Avram. Pria keturunan Arab ini sering kali bergonta-ganti pasangan. Putus dengan alasan 'geng ini lebih penting' sudah sering terdengar. Namanya bahkan tidak cocok dengan perilaku aslinya. Menurut Calvin, temannya yang satu ini lebih cocok diberi nama Hell Avram. Sangat Kreatif.
"Gue abis belajar."
Zander Alvaro Maximus adalah satu-satunya pria paling normal di geng ini. Memiliki IQ lebih tinggi daripada yang lain, membuat Zander lebih mementingkan bukunya, daripada geng yang sangat tidak jelas ini. Kurang sopan memang, tapi itulah faktanya.
"Alasan kalian gue terima. Termasuk alasan si Zander yang emang kaya gitu dari dulu."
Calvin menyetujui perkataan dari Gean. Kini, mereka semua kumpul untuk sekedar membicarakan plan masing-masing. Heaven sendiri, ia akan fokus mengelola bisnis Ibunya di bidang pertambangan. Sedangkan Erlan, pria itu memutuskan untuk lanjut S1. Gean dan Zander? Mereka berdua tidak berkomentar akan hal itu.
"Gue punya gosip."
Semua mata kini tertuju kepada Erlan.
Selagi ketiga temannya sibuk membicarakan hal itu, Calvin dan Zander lebih memutuskan untuk pergi ketempat yang diceritakan. Heaven yang menyadari hal itu, ia dengan cepat menghadang.
"Minggir, anjing!
Calvin yang kesal, ia langsung saja memukul Heaven hingga tersungkur. Gean yang panik, ia langsung saja membantu Heaven untuk bangkit kembali. Tidak menyerah begitu saja, Heaven kembali menghadang kedua temannya yang sedang dilanda emosi. Bukannya takut, Heaven malah membalas tatapan Calvin, yang membuat pria itu semakin terpancing emosi.
"Lo mau apa sih, anjing! Gue mau bantu tuh cewek."
Tangan ringan Heaven kini mulai memukul keras kepala temannya itu. "Erlan belum tau ngasih tau, dimana tempat kejadiannya, ya, ******! Lem dulu tuh kaki, gak usah gegabah kaya gini," sarkasnya, yang dibalas senyuman kecil dari Calvin dan juga Zander.
"Anjing lo semua ...."
__ADS_1
***
Seperti yang sudah ditunggu-tunggu oleh Calvin dan juga Zander, mereka semua bertengkar melawan sekumpulan orang dengan jumlah yang cukup banyak. Heaven yang memiliki prinsip santai dulu sebelum bacok. Ia mengabadikan momen tersebut ke akun instagramnya miliknya.
"HEAVEN, ANJING! BANTU DULU LAWAN NI SEKUMPULAN TAI."
Yang diteriaki dengan cepat melawan. Bisa bahaya jika Calvin mengeluarkannya dari geng tidak jelas ini.
Pertempuran kali ini dimenangkan oleh Calvin dkk. Walaupun tubuh mereka bisa dikatakan lebih kecil, akan tetapi teknik bertarung milik Zander, Gean, dan Calvin bisa dibilang lebih unggul.
"Lo gak apa-apa?" Calvin menyodorkan tangannya kearah gadis yang diselamatkannya tadi. Bukannya bersikap ramah, gadis itu malah bersikap hal yang sebaliknya. Gean menatap aneh hal itu, ini bahkan pertamakalinya ia melihat seorang korban, yang bersikap kasar seperti ini.
"Minimal bilang makasih, mbak. Itu yang nolong lo mau berbuat baik loh." Yang disindir malah menatap tajam kearah Gean. Gadis itu bangkit, dan kemudian menepuk pelan pundak dari Calvin, sebagai ucapan terimakasih.
"Lo mau kemana? Ini hutan, bukan pasar. Ntar kalo lo nyasar, terus mati disambar hewan buas, gimana anjir?"
"Bacot lo, banci ... Awwshh--- Cowok sialan, gue jadi jatoh, kan."
Heaven dan Gean menatap aneh gadis itu. Dia terjatuh karena ulahnya sendiri, tapi kenapa gadis gila itu malah menyalahkan geng nya?
"Cewek gila. Mending tadi gue biarin lo mati aja kalo gitu."
Mendengar sindiran yang cukup menyakitkan, gadis itu kini berbalik badan, dan kemudian menunjuk wajah Calvin, berniat mengancam. Zander yang tidak tinggal diam, ia langsung menghalangi laju jalan gadis aneh itu.
"Selangkah lagi lo jalan, gue ambil keperawanan lo."
Cukup kejam, akan tetapi bisa membuat gadis aneh itu terdiam ditempat.
Calvin yang sadar dengan semuanya, ia dengan cepat berjalan kearah gadis itu, lalu menepuk bahunya secara perlahan. "Minimal tau diri, gue sama yang lain udah nolong lo. Sekarang, imbalannya mana?"
Yang ditanya seperti itu, malah memukul pelan kepalanya, yang kini mulai terasa pusing. Ide gila kini muncul dikepalanya, dengan spontan ia mengecup, ah, bukan, maksudnya ... ******* bibir dari Calvin dengan disertai suara merdu yang keluar dari bibir cantiknya itu.
__ADS_1
"Done, babe."
Dan begitulah awal dari kisah hidup Calvin akan dimulai ....