
..."Manusia tidak akan pernah puas dalam hal kehidupan. Menempatkan 2 orang dalam 1 hati, contohnya."...
Suara dentingan sendok dan piring kini ramai terdengar. Keluarga Harison memang sedang mengadakan pertemuan dengan keluarga Raymond. Tradisi mereka adalah membicarakan tentang perjodohan. Anak pertama dari keluarga mereka harus secara pasrah berkorban untuk hal ini.
Diarah toilet, terlihat seorang pria yang sedang mengerang frustasi. Ia memang jomblo, tapi kenapa tradisi ini harus berpihak padanya? Langkahnya kini mulai mendekati meja khusus keluarganya. Ia duduk, lalu makan dengan tenang. Ayahnya yang memang suka dengan tradisi keluarga, ia dengan cepat menjodohkan anak pertamanya.
"Saya ingin mereka akrab satu sama lain lebih dulu," putusnya, yang dibalas anggukan kepala oleh semua anggota keluarganya itu.
"Lan, jaga Ashley baik-baik, ya?"
Yeah, he's Erlan Darllin Harison. Memiliki keluarga yang percaya akan ramalan, membuatnya agak sedikit tertekan dengan hal ini. Ia kini menatap calon istrinya yang sedari tadi asik makan. Jika dilihat lebih lama, gadis itu terlihat sangat manis. Kesadarannya kini kembali setelah Ayahnya, yaitu Arthur Darllin Harison, menepuk pundaknya pelan.
"Are you ready to always take care of Ashley?"
"Ahh ... Really, Dad? You doubt me?"
Sang Ayah tertawa pelan. Ia memberikan jempolnya, sebagai tanda jika ia percaya dengan loyalty anaknya. Pertemuan antara kedua keluarga kaya itu kini sudah berakhir. Berperan sebagai pria gentleman, membuat Erlan dengan sigap mengantarkan Ashley pulang.
Selama diperjalanan, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ashley yang mengantuk kini secara sengaja mendaratkan kepalanya di dada bidang milik Erlan. Modus ....
Mau tak mau Erlan mengusap pelan puncak kepala dari gadis itu, untuk membuatnya merasa nyaman. "Ashley, lo beneran mau nerima perjodohan itu?"
"Mau gimana lagi, tradisi perjodohannya kan udah ada dari lama. Jadi mustahil buat nolak," jawab gadis itu secara santai.
"Tapi gue be---"
"Aku tau, Kak. Tapi gak ada salahnya kita coba dulu. Kalo nanti Kakak selingkuh juga boleh. Aku nerima perjodohan ini, cuman gak mau nama keluarga aku tercoreng."
Erlan secara refleks memukul pelan bibir dari gadis yang baru dikenalinya itu. Matanya kini menyorot tajam kearah Ashley. "Gue gak se-brengsek itu buat mainin hati lo. Now let's try it first. Ashley Cole Harison, do you want to be my girlfriend?"
Sang supir yang sedari tadi fokus kearah jalan, kini secara tiba-tiba ia tersedak sesuatu. Erlan tertawa melihat hal itu, sementara Ashley? Gadis itu malah tersipu malu.
"Aduh, asu. Gini amat jadi supir," keluhnya kesal.
"Sabar. Orang tua kaya lo emang pantes liat gaya pacaran anak-anak muda kaya gue. Umur dah nginjek 26 tahun, tapi masih aja belum nikah. Padahal Bokap gue udah janji mau tanggung semua biaya pernikahannya." Erlan mencoba meyakinkan supir kesayangan keluarganya itu. Pasalnya, umur Revan bisa dibilang sudah cukup tua. Hal inilah yang membuat Ayahnya khawatir, dengan kisah percintaan sang supir kesayangan keluarga Harison ini.
__ADS_1
Yang dikhawatirkan justru bersantai ria. Prinsip Revan hanyalah satu, as long as there is money by his side, then he will always be happy. Terdengar unik memang, tapi itulah faktanya.
"Daripada lo mikirin kisah percintaan gue, mending naikin gaji gue aja gimana?"
"Revan anjin*!"
Langkah kaki Calvin kini mengarah ke pesisir pantai. Ia berdiam diri, sembari memperhatikan Ayah nya yang sedang asik memukuli seorang pria asing. Calvin tersenyum, setidaknya ia tak perlu test DNA, untuk membuktikan siapa Ayah kandungnya yang asli.
Sirine polisi kini terdengar semakin dekat. Dalam sekejap Ayahnya kini ditangkap polisi. Darel yang panik kini mencoba menahan kepergian Ayahnya. Pria itu menatap kesal Calvin, yang sedari tadi berdiam diri dengan senyuman liciknya.
"Bantuin Ayah, bego! Dia Ayah lo juga," kesalnya, dengan disertai pukulan keras yang tepat kearah pipi kanan milik Calvin.
"A father never abuses his biological child lol."
"Ayah cuman nyiksa fisik lo, bukan batin lo."
Calvin tertawa miris. "Lo gak tau rasanya jadi gue, Bang. Batin gue bahkan udah ancur dari lama. Perkataan lo sama Bang Vandi penyebab utamanya. Andai aja Bunda gak muncul di mimpi gue, mungkin lo, Bang Vandi, sama Ayah udah mati."
"Apa maksud lo, anjing?!"
Bibirnya kini membentuk senyuman kecil, saat matanya secara tidak sengaja mulai menangkap sosok Kalila, yang sedang bermain dengan beberapa burung. Calvin kini memarkirkan motornya, lalu menghampiri gadis itu.
"Gak niat pulang kerumah? Markas gak selamanya aman buat lo. Kalo lo lupa, ni tempat ada ditengah-tengah hutan. Binatang buas bisa aja sewaktu-waktu masuk kedalam sini."
Yang diajak berbicara malah mengangkat bahunya tak acuh. Gadis itu masih ingin berada disini. suasana nyaman dan tenang yang diinginkannya sejak dulu, kini sudah ia dapatkan.
"Gue bisa aja biarin lo buat tinggal disini, but avoidance of your father is not the right solution."
"Vin, gue udah capek fisik. Gue gak mau disiksa lagi." Kalila menunduk. Ia lemah jika menyangkut tentang Ayahnya, ralat, Ayah iblisnya.
"Come here, Zeline ...." Calvin membawa gadis itu kedalam pelukannya. Sesekali ia mengecup puncak kepala Kalila, sebagai upaya menenangkannya. "I'm always there for you. So don't ever feel alone, okay?" Ungkapnya, yang dibalas anggukan kepala kecil oleh sang gadis.
"Jadi gue gak harus pulang ke rumah lama, ya, kan?"
__ADS_1
"You should. Gue temenin, ya? Nanti kalo bokap lo macem-macem, gue bakal ngeluarin jurus ular kobra, kaya gini nih ...." Dengan lihai Calvin memeragakan bagaimana cara ular kobra menyerang. Kalila tertawa melihat hal itu.
Bukannya berhenti, Calvin malah semakin menjadi-jadi. Kali ini ia menunjukkan bagaimana seekor sigung mempertahankan dirinya.
"Wait a moment."
Kalila mengangguk. Setelah 10 detik menunggu, akhirnya jurus itu akan Calvin tunjukkan. Ia menungging, dengan alasan jika bagian punggungnya kini terasa sangat pegal.
Broott ...
Secara spontan Kalila menutup hidungnya. Tangan kanannya ia gunakan untuk memukul keras badan dari Calvin. Sang pelaku malah tertawa keras. "Mampus! Makan tuh gas alami," ejeknya secara puas.
Merasa lelah, kedua sejoli itu langsung tumbang ditempat. Mereka berdua kini menatap kearah langit, yang seakan-akan sedang tersenyum karena perbuatan mereka tadi.
"Langit nya cantik kaya lo," ucap Calvin. Ia menghela nafas dalam. "But don't you ever dare to fall in love with me," lanjutnya.
"Kenapa? Lo baik, gue suka. Lo juga sering nolong gue, makasih ya?"
"Gue gak sebaik yang lo pikir. I just hate bullying, no other reason." Kalila berdiri. Ia menatap Calvin yang masih sibuk menatap kearah langit.
"Alasan lo ada disetiap gue butuh, itu gimana maksudnya?"
"Gue jaga lo atas perintah dari Darel. Lo ngerti ungkapan 'ngerasa kasihan', kan? Nah itu kata yang cocok buat lo."
Badan Kalila bergetar. Air mata yang sedari tadi ia tahan, kini sudah meluncur dengan bebas. Ia menatap Calvin dengan senyuman kecil yang terpampang nyata di wajah cantik miliknya. "Omongan orang yang gak pernah ngerasain siksaan nyata dari bokap kandungnya sendiri, agak ngeri ya?"
Calvin tertawa mendengar hal itu. Ia kemudian bangkit, dan pergi meninggalkan Kalila yang masih menangis ditempat. Gean yang sedari tadi mengintip, ia dikejutkan dengan kehadiran Calvin, yang secara tiba-tiba berdiri dihadapannya.
"Vin, lo gak apa-apa?"
"Aman. Luka tusukan dari bokap aja gue kuat, apalagi ini? I beg you and Zander to take good care of Zeline. If I hear she's hurt, I'll give myself up to that madman." Setelah mengatakan hal itu, Calvin pergi menggunakan motor kesayangannya. Sementara Gean? Pria itu memutuskan untuk menenangkan Kalila yang masih saja menangis.
"Jangan lemah kalo diejek kaya tadi. Secara gak langsung, Calvin muji kalo lo itu cewek yang kuat. Be tough, you can get up without Calvin or Darel in the process."
"Tapi gue butuh seseorang sebagai support system di hidup gue, Yan."
__ADS_1
Gean tersenyum. Ia mengusap pelan puncak kepala dari gadis itu, untuk membuatnya yakin, jika semuanya akan baik-baik saja. "Kalo kata Calvin, Tuhan itu adalah support system' terbaik bagi semua umat manusia. Waktu ibadah adalah waktu terbaik untuk lo dan Tuhan saling bicara satu sama lain. Ungkapin semua masalah lo ke Tuhan, dan tunggu keajaiban apa yang bakal lo dapet. Percaya deh Kal, kalo Tuhan udah mihak lo, dunia dan Ayah jahat lo itu bisa apa?
TBC ...