
..."Dia biasa saja. Perasaan mu saja yang berlebihan."...
14 Mei 2023
"Lo yakin bisa menang? Lawan lo kali ini agak berat, Vin."
Calvin tersenyum. "ini satu-satunya cara biar Bang Vandi mau ngucapin selamat ulang tahun ke gue, Lan. Gue harus menang."
Erlan terdiam. Secara perlahan kini ia berjalan kearah Heaven, Zander, dan juga Gean. Percayalah, Zander tampak bersemangat kali ini. Pria itu bahkan rela membeli banner bertuliskan 'You can win, bro' hanya untuk Calvin seorang. Belum lagi Heaven yang rela menyemangati Calvin dengan toa yang dibawanya. Semuanya benar-benar sempurna jika dilihat dengan rasa kemanusiaan.
Erlan kini sudah bersiap, ia dan Heaven memang bertugas untuk menjadi pemandu suara menyemangati Calvin.
"CALVIN LO HARUS MENANG ... TUNJUKKIN KE SEMUA ORANG KALO LO YANG TERBAIK."
Ini pertamakalinya mereka semua mendengar suara teriakan dari Zander. Gean yang biasanya bersikap cool, kini ia heboh. Calvin yang melihat semua kelakuan teman-temannya, ia hanya bisa tertawa pelan.
"Hey, lo bisa ngalah, gak? Kali ini aja, gue pengen liat Ibu gue bahagia dengan kemenangan gue ini."
Calvin menghiraukan hal itu. Balapan kini sudah dimulai, dan tentu saja Calvin menempati posisi pertama. Keempat temannya yang melihat hal itu, mereka semua heboh. Gean, pria itu dari awal sudah yakin jika Calvin akan memenangkan balapan kali ini. Matanya membulat sempurna, saat menyadari jika feeling-nya kali ini salah.
"Loh, Vin? Lo harusnya menang, anjir."
Heaven tentu saja emosi. Melihat Calvin yang tiba tiba saja memperlambat laju motornya, membuatnya kini merasa, ada yang tidak beres dengan temannya ini.
Bukannya menjawab semua pertanyaan dari keempat temannya. Calvin malah menunjuk seorang pria yang sedang berpelukan dengan Ibu kandungnya. Gean yang melihat hal itu, dia mengangguk paham. Sementara Erlan? Pria itu mendesah kecewa.
"Lo juga butuh kemenangan itu, Vin. Sekali-kali jadi egois juga gak apa-apa. You also have the right to feel happiness."
Calvin tertawa, "ucapan selamat ulang tahun dari kalian juga udah bikin gue bahagia. Udah jangan sedih. Gue masih punya beberapa list balapan yang lain, moga aja gue menang disitu. Lagian ini pertama kalinya gue ngalah buat orang, ya, kan? Jadi santai aja," jelasnya sambil pergi kearah ruang istirahat.
Keempat temannya terdiam mendengar hal itu. Pasalnya, ini bukan pertama kalinya mereka melihat Calvin yang mengalah seperti ini. Kejadian ini juga pernah terjadi pada Erlan, saat itu dirinya sedang mengantri untuk membeli makanan. Kebetulan posisinya tepat dibelakang Calvin. Melihat temannya yang tiba-tiba saja berlari, Erlan menatap aneh hal itu. Ia dengan polosnya maju, dan mengambil makanan yang sudah ia beli. Sebelum ia benar-benar pergi, si Ibu pemilik pemilik warung mengatakan, jika itu adalah makanan terakhir yang ia jual.
__ADS_1
Calvin is the definition of a perfectly good person, with bad looks.
"Ayah ... Sakit."
"Saya tidak peduli. Bunda kamu selingkuh dari saya, dan kamu yang harus menanggung semua akibatnya."
Kalila sesekali meringis kesakitan. Tak bisa dipungkiri jika pukulan serta tamparan yang Ayahnya berikan benar-benar sangatlah kuat. Beberapa kali badan kecil dari gadis itu juga terlempar ke arah tembok.
"Jadi ****** sana, bawakan banyak uang untuk saya."
Yang sedari tadi menjadi korban, kini terlempar jauh dari rumahnya. Ya, Ayah mengusirnya dengan begitu halus. Sekarang Kalila tidak tahu lagi kemana ia harus meminta pertolongan. Azkia? Gadis itu pasti sudah tertidur pulas, pasalnya, ini sudah jam 2 malam. Akan sangat gila jika sahabatnya itu masih dalam keadaan sadar.
Melihat sekumpulan pria yang sedang berkumpul, Kalila dengan cepat bersembunyi. Yang ia takutkan hanya satu, yaitu diperkosa. Matanya kini mulai memperhatikan kearah sekumpulan pria itu, ada Darel disana.
"Kak Darel."
Yang dipanggil kini mengalihkan pandangannya. Pria itu tersenyum setelah mengetahui keberadaan Kalila, pria itu mendekat lalu memberikan Hoodie yang dipakainya kearah gadis cantik itu.
Selama diperjalanan, kedua sejoli itu hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali tangan dari Darel juga mengusap bagian paha dari gadis itu, bermaksud untuk menenangkannya.
Sesampainya dirumah, Darel masuk lebih dulu, lalu disusul Kalila yang masih menunduk karena takut. Vandi yang kebetulan sedang asik menonton film, ia menyambut Kalila dengan hangat. Pria itu bahkan sempat memberikan semua cemilan yang dibelinya kearah gadis itu.
"Tangan lo memar. Dipukul sama Darel?"
Kalila menggeleng. "Dipukul sama Ayah," jawabnya yang membuat Vandi secara refleks menghentikan acara mukbang nya.
"Sakit? Nanti gue suruh Darel buat obatin lo, ya?"
"Iya, makasih kak."
__ADS_1
Vandi masih shock dengan pernyataan gadis itu. Lebih tepatnya ia merasa Dejavu dengan luka yang jelas terpampang nyata. Luka gadis itu saja sudah parah, apalagi luka adik kecilnya?
"Kalo boleh tau kenapa bisa sampe ada luka sobek gitu?"
Kalila terdiam. Vandi yang mengerti, ia dengan cepat memerintahkan Darel untuk mengobati gadis malang itu.
"Tahan bentar, ya? Ini bakal agak sedikit sakit."
"Iya, Kak."
Selagi Darel sibuk dengan gadis itu, Vandi kini malah sibuk dengan pemikirannya sendiri. Matanya kini teralihkan kearah pintu yang mulai terbuka secara perlahan, itu Brian, Ayahnya.
"Vandi, adik kamu mana? Ayah butuh pelampiasan." Yang dipanggil, kini dengan cepat membawa Ayahnya itu pergi. Kalila menatap aneh keduanya, gadis itu kini bertanya kepada Darel, siapa adik yang Brian maksud.
"Gue punya adik, dia bandel banget. Ayah sering ngelampiasin amarahnya ke dia, persis sama kaya lo gini. Tapi bedanya, adik gue dapet luka lebih parah."
"Contohnya?"
"Tangan sama bagian kaki ditusuk pake pisau. Dia adik gue yang kuat, gue bangga sama dia."
Kalila termenung. Otaknya masih mencerna semua kalimat itu. "Terus kenapa kamu gak ngelindungin dia? Bukannya dia adik kamu, ya?"
Darel tersenyum miris, "gara-gara Bunda ngelahirin dia, Bunda jadi meninggal, Kal. Tapi gue tau dia gak salah, dan gue mau bela dia juga percuma. Ayah sama Vandi benci sama dia. Kalo gue ikut campur, bisa-bisa nasib gue yang sama kaya dia."
"Adik kamu gak nyerah?"
"Gue tau dia kuat. Vandi juga ngelarang dia buat nyerah. Orang baik terlahir buat disakiti, ya, kan?"
Kalila menggeleng dengan kuat. "Everyone deserves happiness. Termasuk adik kamu."
"Lo bener, tapi sayangnya adik gue diciptain Tuhan buat bikin semua orang bahagia, bukan buat dia bahagia."
__ADS_1
Kalila terdiam. Matanya kini menatap kearah langit-langit ruangan. Bibirnya kini membentuk senyuman kecil. Sesakit itukah menjadi orang baik?
TBC ...