
..."Hidup itu seperti senja. Nikmati setiap detiknya, karena esok belum tentu dia akan datang dengan keindahan yang sama."...
"Lo yakin bakalan undang tu geng soplak ke acara ulang tahun?"
Yang ditanya kini menganggukkan kepalanya dengan yakin. Langkah dari gadis itu kini mengarah ke sekumpulan pria yang sedang asik tertawa ria. Kalila dengan percaya diri mendekati, lalu tersenyum manis. "Besok jangan lupa ya hari ulang tahun gue. Jangan lupa dateng, makasih."
Calvin, selaku ketua dari geng itu, kini ia mencoba membaca semua keterangan yang ada di kartu undangan itu. Bibirnya tersenyum saat melihat lokasi acara perayaan tersebut. "Rumah gue," gumamnya pelan.
Heaven yang penasaran kini mencoba bertanya. Pria itu menaikkan sebelah alisnya saat tahu perkataan apa yang Calvin ucapkan. "Ini gak salah? Dia punya rumah sendiri loh ... I mean ulang tahun lo aja gak pernah dirayain, tapi dia?"
Tatapan milik Calvin kini beralih kearah Heaven. Pria itu dengan sigap mengusap pelan punggung dari temannya, sebagai upaya untuk menenangkannya.
"Gue gak apa-apa. Zeline juga anak yang sering disiksa sama Ayahnya, jadi gue ngerti situasi ini." Setelah mengatakan hal itu, Calvin pergi kearah kelas. Pria itu duduk, dan kemudian menulis beberapa alur cerita yang belum ia selesaikan.
"Um ... Vin. Lo bakal dateng, kan?"
"Iya. Tapi kayaknya gue bakal telat."
"Loh kenapa?"
Mata dari Calvin kini fokus kearah gadis itu, ia tersenyum, "ada beberapa hal yang harusnya lo gak tau, termasuk tentang kehidupan gue," sarkasnya, yang membuat Kalila kini meminta maaf kearahnya.
"Sorry, lagian gue cuman penasaran doang."
Yang diberi pernyataan maaf seperti itu hanya menganggukkan kepalanya pelan. Pelajaran kini sudah dimulai, tangan dari Calvin kini mulai menyimpan buku catatan alur cerita miliknya kedalam tas.
Materi hari ini bisa dibilang sangatlah mudah. Mata dari Calvin tetap saja fokus mengarah kearah depan. Ia tak ingin melewatkan satupun materi yang gurunya itu jelaskan.
Kalila? Gadis itu sudah berkelana dialam mimpinya. Calvin yang peka, ia langsung saja menyenggol pelan lengan dari gadis itu untuk segera bangun.
"Lo disuruh kedepan buat ngejelasin materi hari ini."
Mata Kalila secara perlahan membulat sempurna. Ia bahkan tak tahu apa materi yang gurunya jelaskan. Matanya kini sudah berkaca-kaca, ia ingin menangis saja kali ini.
Merasa peka, Calvin dengan sigap memberikan buku catatan miliknya. Bukannya merespon dengan baik, Kalila justru menatap sinis Calvin. "Gue gak se-bego itu, ya?!" Sinisnya pelan.
__ADS_1
Yang diperlakukan seperti itu kini mengedikkan bahunya tak acuh. Suara tegas dari sang guru, kini membuat Kalila secara refleks mengambil buku catatan milik Calvin. Ia maju, dan menjelaskan materi tadi secara sempurna.
Semua orang bertepuk tangan akan hal itu, termasuk Calvin. Pria itu tersenyum, dan mengacungkan jempolnya kearah Kalila dengan semangat.
Dari arah belakang, terlihat Heaven yang sedang berteriak heboh. Tangan kanannya ia gunakan, untuk memukul keras bagian bahu milik Gean.
"Awwss! Sakit, Anjin*."
Bukannya berhenti, Heaven malah semakin menjadi-jadi. Gebrakan keras dari sang guru kini berhasil menghentikan ulah jahil Heaven, hal inilah yang membuat sang ketua kelas berterimakasih kepada guru tersebut.
***
"Mau beli hadiah buat si Kalila? Gue gak enak kalo datang, tapi cuman bawa badan sama niat," oceh Gean kecil.
Erlan yang ada disampingnya, kini ia menganggukkan kepalanya setuju. Akhirnya mereka semua pergi kearah mall. Zander yang tidak tahu tentang persoalan wanita, ia secara sigap membawa Ibunya untuk ikut bersama mereka semua.
Perjalanan yang mereka lewati bisa dibilang cukup menyenangkan. Heaven terlihat beberapa kali menggoda beberapa orang, yang membuat tawa dari Calvin, Gean, Zander, Erlan, dan juga Ibu dari Zander menjadi pecah seketika.
Selagi Ibu dari Zander sibuk memilih barang. Kelima pria aneh itu memutuskan bermain di time zone. Suara teriakan milik Gean dan juga Erlan berhasil membuat riuh tempat bermain itu.
"Just act normal. Lo ganteng, gak elit kalo harus malu sama hal beginian doang."
Yang dinasehati malah menatap sinis Calvin. Tangan ringan Zander kini mulai memukul bagian punggung dari Calvin, sebagai pembalasan dendam.
"Pukul terus. Jangan sampe tu Ibu lo gue bunuh, cuman karena anak gilanya ini."
"Peace, Vin."
Keduanya kini sudah damai. Mereka semua memutuskan untuk kembali ketempat awal, karena katanya Ibu dari Zander, yaitu Catherine, sudah selesai berbelanja.
"Gimana, Bun? Apa hadiahnya?" Tanpa berlama-lama, Catherine langsung saja menunjukkan sebuah gaun indah kepada mereka semua. Mata milik Gean kini membulat dengan sempurna, pilihan Wanita berumur 50 tahun memang tidak dapat diragukan lagi.
"Gue yakin si Kalila bakal suka sama hadiahnya," celetuk Heaven, yang dibalas anggukan kepala setuju oleh keempat teman-temannya.
"Kalian berempat pulang duluan aja, gue harus nganter ni ibu-ibu ketempat sepupu dulu."
__ADS_1
Baik Calvin, Heaven, Gean, dan Erlan. Mereka memutuskan untuk menunggu kedatangan Zander di markas. Hal ini mereka lakukan, karena Calvin akan mengikuti acara balapan yang diselenggarakan nanti malam.
Heaven sebagai pendukung no.1 Calvin, ia kini sudah bersiap dengan banner miliknya. Erlan tidak mau kalah, ia mempersiapkan 2 toa besar, yang nantinya ia gunakan untuk meneriakkan nama dari sang ketua geng tidak jelas ini.
"Kali ini lo harus menang. Gak ada embel-embel ngalah lagi, gue gedeg tau gak, anj?!"
Jari Calvin membentuk tanda peace. Heaven tertawa melihat hal itu, keganasan seorang Gean memang tidak ada duanya.
"Sorry gue telat. Jadi gimana Vin, lo udah siap tanding, kan?" Yang ditanya menganggukkan kepalanya. Zander tersenyum melihat hal itu, kali ini ia yakin jika temannya itu akan menang.
"Good luck, bro."
"Kalila, cepet masuk. Ini acaranya udah mau dimulai." Darel pergi keluar, dan menarik pelan tangan kanan dari gadis itu. Yang diberi perintah malah terdiam ditempat. Kalila sedari tadi menatap kearah pintu, yang membuat Darel berpikir, jika gadis itu sedang menunggu kedatangan dari seseorang.
"Nunggu siapa? Mending mulai dulu yuk acaranya. Kasian tuh temen-temen kamu yang udah datang malah disuruh nunggu."
Kalila mengangguk. Gadis itu kini pergi mengikuti langkah dari Darel. Acara pesta yang ia rayakan bisa dibilang cukup meriah. Ia tersenyum saat mendapati sekumpulan geng dari Calvin yang baru saja tiba.
Zander maju kearah Kalila. Pria itu menyerahkan hadiah yang ia beli tadi, dengan begitu sopannya. Selagi yang lain sibuk berjoget, Calvin mengambil kesempatan ini untuk masuk kedalam kamar milik Vandi.
"Kenapa?" Suara dengan nada rendah dari Vandi kini menyapa indra pendengaran milik Calvin. Pria itu bergidik ngeri mendengarnya.
"Gue mau ngasih ini ...."
Baik Vandi ataupun Darel, mereka secara kompak melihat kearah piala yang baru saja Calvin perlihatkan. "Juara 1 kompetisi balapan?"
Calvin mengangguk. Ia menyerahkan piala itu kearah Vandi dengan senyuman yang tercetak di wajah tampan miliknya. "Gue berhasil, Bang. Sekarang lo udah bangga kan sama gue?"
Setelah mengatakan hal itu, Calvin terlelap di kasur milik Vandi. Darel yang tersadar, ia mengusap pelan puncak kepala Adiknya itu. Vandi juga melakukan hal yang sama, pria itu mendekat, lalu memeluk badan dari Calvin secara perlahan.
"You did it, Adik kecilnya Abang."
TBC ...
__ADS_1