
..."Kejar masa depanmu. Sukses lebih berharga daripada mengejar cinta seorang pria."...
"Naik." Yang diberi perintah malah berteriak tidak jelas. Calvin langsung saja menarik lengan kanan dari Kalila, dengan satu tarikan kencang. Berhasil, gadis itu kini sudah naik kearah motornya.
"Lo ngapain nyulik gue?"
"Darel titipin lo ke gue, jadi jangan bawel."
Selama diperjalanan keduanya saling diam. Calvin yang sibuk menyetir, dan Kalila yang sibuk membalas chat dari Azkia. Mata dari gadis itu terfokus kearah sebuah mall yang ada di seberang jalan. "Mall nya cantik," pujinya kecil.
Calvin tentu saja mendengarnya. Dengan cepat ia melajukan motornya, lalu berhenti tepat di mall yang tadi Kalila sebutkan. "Beli apapun yang lo mau, tugas gue cuman buat bikin lo seneng. Jadi, take ur time, Zeline."
"Nama gue Kalila," koreksi gadis itu dengan nada sinis.
"Kalila Zeline Pandhita, right? I'm not wrong lol."
Merasa malu dengan tindakannya tadi, Kalila langsung saja masuk kedalam mall, dengan diikuti Calvin yang berjalan dibelakangnya. Gadis itu masuk kedalam toko baju, hanya untuk melihat-lihat saja.
"Bajunya bagus, tapi ini mahal ...." Ia kembali pergi. Calvin yang peka, ia langsung saja mengambil baju itu, lalu membayarnya.
"Nih, ambil."
"Eh?"
"Darel nyuruh gue buat nyenengin lo, jadi jangan sungkan buat bilang lo mau baju ataupun tas."
"Tapi uangnya?"
"Senyuman lo lebih berharga daripada uang. So don't worry about it."
Kalila tertegun. Sifat Calvin bahkan tak seperti yang ia bayangkan. Pria itu lembut, dan selalu bersikap sopan. Sayangnya sifat ini tidak pernah pria itu tampilkan di sekolah. It's weird but it's totally true.
"Makasih, ya?" Calvin tersenyum kecil, ia kemudian mengangguk sebagai balasan kecil untuk gadis dihadapannya ini.
"Sekarang lo mau pulang atau mau main ke time zone dulu?"
"Time zone, ayok!" Yang diajak kini malah semakin bersemangat. Ia dengan cepat menarik tangan dari Calvin untuk segera bermain dengannya.
Calvin terlihat bersenang-senang. Pria itu sesekali memukul pelan kepala dari Kalila, karena terus-terusan gagal memasukkan bola. Keduanya kini mencoba permainan lain. Calvin sendiri lebih memilih untuk bermain game tembak-tembakan, sementara Kalila? Gadis itu sedang fokus mendapatkan boneka yang ada didalam mesin capit.
__ADS_1
"Ah gagal terus," kesalnya, yang kini berhasil menarik perhatian dari Calvin.
Memiliki tingkat kepekaan yang tinggi, Calvin secara spontan membantu gadis itu. Dalam sekali capitan, ia berhasil mendapatkan boneka yang gadis itu inginkan. Yang dibantu, kini sedang berteriak senang. Calvin tertawa melihat hal itu, temannya ini benar-benar lucu.
"Nih bonekanya, sekarang gue harus anterin lo buat pulang. Darel udah nunggu soalnya." Kalila mengangguk, gadis itu berjalan lebih dulu, lalu diikuti oleh Calvin yang berjalan dibelakangnya.
"Udah siap?"
"Siap!"
"Ayok kita jalan, ngeng ...."
They are both is so cute.
"Yang kalah bayar semua."
Zander, Gean, Heaven, dan Erlan. Keempat pria itu sedang bermain permainan gunting batu kertas, tujuannya hanya satu, untuk menjebak Gean agar membayar semua tagihan makanan ini.
"1 ... 2 ... 3, yang kalah bayar ....”
"Yes ... Gotcha!!!!"
"Gak sopan sama yang lebih tua."
Heaven mencibir. Pria itu menirukan gaya bicara Gean dihadapan Erlan dan juga Zander. Keduanya tertawa, hal inilah yang membuat Gean semakin mengelus dadanya sabar.
"Cuman beda 1 tahun doang bangga lo," balasnya, dengan nada meledek.
Gean sudah pasrah. Dengan santai ia kini berjalan kearah mobil, lalu menunggu ketiga temannya yang masih asik bercanda ria.
"Woy, anjing! Masuk kagak lo ...."
Ketiganya terlonjak kaget. Dengan cepat mereka bertiga berlari masuk kedalam mobil. Selama diperjalanan hanya ada suara Heaven yang terdengar. Zander dan Erlan? Mereka berdua sedang asik berkelana dialam mimpi.
"Ini si Calvin gak kita ajak gak apa-apa, kan?"
Gean mengangguk. "Aman, tadi Bang Darel juga udah izin ke gue kalo hari ini si Calvin disuruh jaga Kalila biar aman."
__ADS_1
"Kalila masih bayi? Ngapain dijaga ketua kita, njing!" Cibir Heaven tidak santai.
Gean tertawa. Sesekali tangan pria itu juga memukul pelan pundak dari teman gilanya itu. "Jangan gitu, anjir! Ntar lo disiksa Bang Darel mampus!"
Heaven memutar bola matanya malas. Pria itu berteriak senang saat Gean melajukan mobil mereka semua kearah rumah kediaman keluarga Calvin.
"Bro!"
Vandi tersenyum. Ia menyambut semua teman dari Adiknya dengan sangat ramah. "Sini masuk, Calvin-nya masih asik sama Kalila. Kalian semua makan-makan aja dulu," titahnya.
Gean mengangguk. Sebelum masuk, ia lebih dulu membangunkan Zander dan juga Erlan yang masih terlelap.
"Zan, Lan, bangun. Kita makan gratis dulu woy!"
"Perasaan kita baru makan," protes Erlan yang masih dalam keadaan mengantuk.
Heaven yang notabenenya adalah pecinta makanan. Ia secara santai memukul kepala dari teman tercintanya itu. "Yang ini makanan gratis, sayang kalo dianggurin," balasnya, yang langsung disetujui oleh Zander.
Setelah drama yang cukup lama. Akhirnya mereka semua masuk kedalam rumah keluarga Calvin. Erlan, Zander, dan Gean, mereka bertiga lebih sibuk mengobrol bersama Darel dan juga Vandi. Sementara Heaven, pria itu lebih memilih menghabiskan semua makanan yang ada.
"Bang, makanannya ada lagi?"
Darel yang cengo, dan Vandi yang tersenyum tipis. Dengan senang hati pria itu kini menyajikan kembali makanan yang tersedia dirumahnya. Heaven tersenyum bahagia melihat hal itu. Benar kata orang, makanan gratis memang lebih enak.
"Makasih ya, Bang?" Vandi mengangguk. Pria itu langsung saja mengusap puncak kepala Heaven secara lembut. "Makan yang banyak," ucapnya yang dibalas acungan jempol sang tamu.
"Kenapa gak lo aja yang nemenin Kalila jalan-jalan, Bang?"
Darel tersenyum. "Gue ada kerjaan bantuin bokap, kalo Vandi, dia sibuk kuliah."
"Saking sibuknya, Adeknya luka lebam pada dibiarin aja, ya?" Sarkas Zander.
Erlan menutup matanya. Hal inilah yang ia takutkan. Zander selalu saja sensitif jika menyangkut hal tentang Calvin. Pria itu selalu saja meng-skak semua orang yang mencoba menjatuhkan Calvin. But that's what real friends are for, right?
"Kita sering ngobatin Calvin kok."
Zander berdecih. "Seengaknya bunuh tu pria tua biar gak nyakitin temen gue lagi. Dia manusia, bukan patung yang kalo dipukul dikit gak ngerasain sakit. Punya otak tuh dipake, jangan dibuat pajangan doang. Gue tau lo berdua gak bego bego amat, jadi tolong pake dikit tu otak."
Setelah mengatakan hal itu Zander pergi kearah luar untuk menenangkan dirinya. Gean yang merasa memiliki tanggung jawab, ia pergi untuk menyusul Zander.
__ADS_1
Heaven yang sedang sibuk makan, ia kini tertawa kecil. matanya kini mengarah kearah Zander yang masih menenangkan dirinya. "That's my boy," gumamnya bangga.
TBC ...