
..."Stop wishing, he doesn't want you."...
"Ini adek kamu gak akan pulang?"
Yang diberi pertanyaan kini menggelengkan kepalanya pelan. "Dia emang sering kaya gini. Kalo pulang juga kasian, makannya gue ataupun Vandi gak pernah nyuruh dia buat pulang."
Kalila mengangguk. Ini sudah hari ke-3 dimana ia memutuskan untuk tinggal dirumah milik keluarga Darel. Sebenarnya ia merasa tidak enak, tapi Darel berkata, jika semuanya akan baik-baik saja.
"Vandi udah buatin lo sarapan, dimakan dulu gih. Ntar abis itu baru gue anter lo ke sekolah."
Yang diberi perintah kini menurut. Kalila langsung saja pergi kearah meja makan, lalu menikmati sarapan yang Vandi buat. Enak, gumamnya pelan. Selesai memakan sarapannya, Kalila ini melangkahkan kakinya kearah Darel yang sedang sibuk bermain game.
"Kak, ayok!" Ajaknya, yang dibalas acungan jempol.
Keduanya ini sudah bersiap. Darrel langsung saja melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai, pria itu tersenyum lalu pamit. Kalila yang masih tersenyum, kini ia dihampiri oleh Azkia, sahabatnya.
"Cie ... Siapa tuh, mana ganteng lagi."
"Emang."
Azkia menyenggol lengan sahabatnya itu pelan, "pacar lo?" Tanyanya dengan nada mengejek.
"Bukan, woy! Temen doang itu."
Gotcha!! Mendengar penjelasan itu, Azkia langsung saja mengkode Kalila untuk menjodohkannya dengan pria tadi. Kalila yang peka kini menganggukkan kepalanya pelan.
"WOY, DENGER NIH YA LO SEMUA. BENTAR LAGI GUE PUNYA PACAR GANTENG!!!"
Mereka berdua kini menjadi pusat perhatian. Kalila menundukkan kepalanya, karena merasa malu. Heaven yang kebetulan sedang lewat, ia tertawa mendengar pengumuman itu.
"Mana ada cowok yang mau sama cewek galak kaya lo," sindirnya dengan nada mengejek.
Mata Azkia membulat sempurna. Apa-apaan pria ini? Dengan ramah ia kini memukul lengan Heaven dengan tenaga terkuatnya. Yang dipukul malah semakin mengejek.
"Sok asik lo, Heaven."
"Gue emang asik, dih!"
Kegiatan mereka berdua terhenti, saat Calvin yang tiba-tiba saja datang, lalu menyeret seragam yang dipakai oleh Heaven dengan begitu ramahnya. Sang korban sudah berteriak tidak jelas, akan tetapi Calvin mengabaikan hal itu.
__ADS_1
Kalila menatap miris hal itu. Sementara Azkia? Gadis itu malah sibuk memperhatikan wajah tampan Calvin.
"Eh--- Anjing?"
Semuanya memperhatikan kearah sumber suara, termasuk Calvin dan juga Heaven. Kalila, gadis itu secara tiba tiba saja disiram air got, yang membuat seragamnya kini sudah kotor tidak karuan.
Sang pelaku malah tertawa puas. Calvin yang memang sangat benci dengan kegiatan seperti ini, ia dengan cepat menghampiri Kalila, lalu menggerakkan tangan gadis itu untuk segera menampar wajah dari Natalie.
Plak!
Sungguh suara yang sangat enak untuk didengar. Natalie kini menatap tajam kearah Calvin, sementara yang ditatap malah tersenyum manis.
"Lo kenapa sih selalu ikut campur?"
"Dia cewek gue, bangsat!"
Terdengar seperti sebuah candaan, akan tetapi raut wajah Calvin sudah menjelaskan semuanya. Natalie yang merasa takut, kini melarikan diri tanpa rasa bersalah. Kalila masih shock dengan kejadian tadi, ia kini menatap Calvin seolah-olah meminta penjelasan.
"Jangan dibawa serius, gue cuman gak suka sama pembullyan." Calvin pergi, hal itulah yang kini membuat Azkia dan juga Kalila bernafas lega.
"Calvin gentle, tapi gue takut sama wajah galaknya. Untung ganteng ...." Kalila menyetujui ucapan dari sahabatnya itu. Calvin, pria itu sempurna jika dibandingkan dengan keempat teman gilanya yang lain. Zander tidak terlalu buruk, tapi sayangnya pria itu terlalu cuek.
Kalila melirik kearah seragam miliknya. Benar-benar sangat kacau. Kedua mata dari gadis cantik itu kini beralih kearah Zander yang mulai membuka satu per satu kancing seragamnya. Azkia sudah histeris, sementara Kalila? Gadis itu menatap shock pria dihadapannya.
"Nih, ambil." Zander melemparkan seragam miliknya kearah Azkia, sang penerima malah menatap heran kearahnya.
"Itu seragam buat Kalila. Calvin lagi gak bawa Hoodie, jadi dia numbalin gue."
"Terus lo pake apaan? Yakali telanjang dada begitu, gue tau badan lo bagus, tapi lama-lama eneg juga liatnya."
"Lo buta apa gimana?" Ketus Zander, sembari memakai Hoodie yang sedari tadi ia bawa. Azkia cengo dibuatnya. Sejak kapan Hoodie itu ada ditangan Zander?
"Udah bego, buta lagi."
Calvin is scary, but Zander's sarcasm goes beyond that.
"Mau sampe kapan tu cewek tinggal disini? Lo tau kan, si Calvin paling gak suka kalo ada orang baru."
__ADS_1
Darel mengangguk. Ia menyetujui semua perkataan Abang kandungnya itu. Tapi apa yang salah dengan tindakannya? Gadis yang ia tolong adalah korban kekerasan, jadi ia rasa Calvin akan menerima kehadiran gadis ini dengan sangat baik (?)
"Stop, berimajinasi tinggi. Adek lo keras kepala, suka kasar sama cewek, sering nyiksa orang. Apa yang lo harepin? Dia gak akan nerima kehadiran cewek ini dengan ramah."
"Disiksa sama orang tua sendiri, itu lebih sakit, anj! Kalo lo gak mau ikut campur, biar gue yang ngurus hal ini sendirian."
Mata Vandi kini membulat dengan sempurna. "Lo gila?! Adek lo pembunuh, anj! Dia bisa aja bunuh tuh cewek didepan mata lo sendiri."
Tak terima Adiknya dihina begitu saja, Darel secara langsung memukul keras muka Abang kandungnya itu. "Kapan dia ngebunuh orang? Jawab gue, Vandi!"
Yang ditanya malah melengos pergi. Darel kini mengatur nafasnya, berhadapan dengan anak iblis sungguh melelahkan.
"Aku pulang ...." Kalila datang dengan senyuman yang terlihat di wajah cantiknya. Dibelakang gadis itu, muncul Calvin dengan wajah datarnya.
"Gue pulang." Sang gadis kini mengalihkan pandangannya kearah sumber suara. Matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang datang.
"Lo kok disini?" Tanyanya kaget.
Calvin tersenyum kecil, "gue sepupunya Darel, yakali gak boleh datang. Yang harusnya ditanya gitu tuh ya lo, ngapain lo ada disini, kocak!" Sinisnya, yang dibalas tatapan tajam oleh sang gadis.
"Pergi lo sana, udah lemah, beban lagi, anj!"
Kalila menuruti perintah pria gila itu. Memastikan semuanya sudah aman, Darel kini menghampiri Adik kandungnya itu. "Lo ngapain ngaku jadi sepupu? Lo kan adik gue, bangsa*!"
"Gue tau lo udah cerita semua tentang gue ke Kalila. Dia temen sekelas gue, anjin*! Gue gak mau keliatan lemah didepan orang, gue gak mau dikasihanin orang, bangsa*! Berhenti ngomong soal luka fisik gue ke Kalila. Karena gue gak selemah itu, ya, anjin*!"
Bukannya terbawa emosi, Darel malah memerintahkan Calvin untuk menurunkan volume suaranya. Yang diberi perintah, kini menurut.
"Gue pergi. Najis banget gue tinggal di rumah keluarga neraka ini."
"Lo mau tinggal dimana? Dirumah Zander yang brengsek itu? Inget, dia pernah ngebunuh orang. Gue cuman gak mau lo jadi korban dia yang selanjutnya."
"Gue juga pernah. And Mr. Brian will be my next victim."
"Vin ... Lo jangan macem-macem, anjir."
Calvin tersenyum, "cuman satu macem kok," balasnya secara enteng.
TBC ....
__ADS_1