Tien N'Est Eternel

Tien N'Est Eternel
bullying


__ADS_3

..."Everyone will be stupid after knowing love. So don't fall in love."...


Erlan gila: P, Bang. Kumpul


Pesan singkat yang membuat Zander kini menghembuskan nafasnya pasrah. Dengan langkah gontai, ia kini berjalan kearah motor kesayangannya.


"Ni geng gak jelas nyusahin mulu," gerutunya kesal. Walaupun begitu, Zander tetap pergi kearah markas. Alasannya hanya satu, he didn't want his friendship to be ruined. Hanya itu, tidak ada yang lain lagi.


30 menit sudah berlalu, dan Zander tiba dalam keadaan sehat wal'afiat. Pria itu masuk kedalam markas, lalu menyapa Erlan dan juga Heaven yang sedang sibuk bermain game.


"Calvin sama Gean kemana?"


"Gean lagi beli batagor, kalo si Calvin belum dateng," jawab Erlan, dengan mata yang masih sibuk kearah ponsel.


Zander menganggukkan kepalanya paham. Merasa bosan, ia kini pergi kearah luar markas, untuk melihat pemandangan sekitar. Indah, batinnya. Matanya kini terfokus kearah Gean yang sedang meloncat-loncat kecil, sambil menyanyikan sebuah lagu. Zander menyapa temannya itu, yang disapa malah berlari, karena malu. Really weird ....


"Malem ini balapan, lo ikut gak?"


Yang ditanya kini mengalihkan pandangannya. That's Calvin. Tangan dari pria itu menepuk pundak dari Zander pelan, bermaksud untuk menyadarkannya.


"Luka dari Ayah lo lagi?"


Calvin mengangguk. Merasa kasihan dengan temannya itu, Zander berniat mengobatinya, akan tetapi Erlan yang baru saja keluar markas melarangnya dengan alasan, jika obat yang dibawa olehnya itu salah.


"Orang goblok mana yang mau ngobatin luka pake koyo?" Emosi Heaven sudah tak terbendung. Pria itu dengan sopannya memukul keras kepala dari Zander, hingga sang korban terjatuh dalam keadaan estetik.


Erlan tertawa puas. Orang yang otaknya di dengkul seperti Zander, pantas mendapatkan hal semacam ini. Yang menjadi korban malah menatap sinis kearah Calvin. "Lo kenapa gak bilang, kalo koyo gak bisa ngobatin luka sobek, anjing!"

__ADS_1


"Otak elit, mikir sulit. Koyo buat obat sakit perut ya, bangsat!"


Gean yang geram kini ia memukul pelan kedua temannya itu. Pria itu bahkan sempat menambahkan cubitan keras pada lengan Calvin. "Sesama orang goblok, gak boleh saling ngehina. Koyo itu obat buat ngilangin pegal-pegal, sama nyeri otot, ya, setan! Gak usah bertingkah lo berdua," sinisnya, yang membuat Heaven dan Erlan kini tertawa puas.


Selagi teman-temannya menertawakan kebodohan masing-masing. Calvin memutuskan untuk masuk kembali kedalam markas, dengan disusul Gean yang kini bertugas mengobati pria gila itu.


"Tahan dikit, ini agak sakit," titahnya yang dibalas anggukan kepala kecil oleh Calvin. Gean melakukan pekerjaan dengan sangat baik, ia mengoleskan obat kearah luka Calvin dengan sangat hati-hati. Yang diobati terlihat sesekali meringis kesakitan.


"Beres." Calvin tersenyum. Ia tak lupa mengucapkan kalimat terimakasih kepada Gean. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya kearah kamar yang ada ditempat itu. Ia menidurkan dirinya, lalu mulai berkelana di alam mimpi.


***


"Gue mau nginep disini." Kalimat sederhana, yang bisa berpengaruh bagi semua teman-temannya. Zander, pria itu dengan cepat bereaksi dengan perkataan Heaven. Bukannya melarang, ia malah orang pertama yang ikut serta dalam partisipasi ini.


"Nginep aja lah semuanya. Temenin juga si Calvin, kasian tu anak kalo pulang pasti dipukulin Ayahnya lagi." Semuanya menyetujui saran dari Erlan. Mereka semua memutuskan untuk masuk kedalam, lalu tersenyum kearah Gean yang sedang sibuk membereskan beberapa obat.


"Dia tidur. Bangunin aja ntar kalo udah mau sekolah, kasian anaknya luka-luka kaya gitu." Heaven mengangguk. Tanpa ada pembicaraan yang lain, mereka semua memutuskan untuk pergi kearah kamarnya masing-masing. Fyi di rumah kosong ini hanya ada 3 kamar. Kamar pertama diisi oleh Gean dan Calvin, kamar kedua diisi oleh Erlan dan Heaven, dan yang terakhir, kamar ketiga hanya diisi oleh Zander.


Pembagian kamar ini ditentukan oleh kebiasaan masing-masing. Zander selaku pria pecinta kedamaian, ia lebih mengambil kamar mandiri. Sementara yang lain? As you guys know, lah, ya. Ribet ....



"Kalila?" Itu Darel, pria yang selama ini menemaninya dalam keadaan susah maupun senang. Ia dan Darel sudah berteman cukup lama, tapi tidak ada pertemanan murni antara perempuan dan laki-laki, ya, kan? Pasti salah satunya menyimpan perasaan.


Hal ini terjadi kepada Kalila yang telah memendam perasaannya selama 2 tahun belakangan ini. Darel itu perfect. Dia tampan, dia pintar, dia bijaksana, dia bisa menghargai perempuan, dan yang terpenting, pria itu pintar dalam urusan act of service. Truly the true definition of the perfect man.


"Eh, kak Darel. Mau kemana, kak?"

__ADS_1


Yang diberi pertanyaan kini tersenyum manis. "Ke kampus. Kamu mau sekolah, kan? Sini, Kakak anterin," tawarnya yang dibalas anggukan kepala singkat oleh Kalila.


Mereka berdua akhirnya pergi. Darel bahkan tak segan menurunkan Kalila didepan gerbang sekolah. Berkat perlakuan simple itu, mereka berdua kini jadi perbincangan publik. Darel yang gemas dengan perubahan wajah Kalila, ia dengan cepat mengusap puncak kepala temannya itu. Setelah selesai? Ia pamit pergi.


Mata cantik Kalila masih saja menatap kepergian pria tampan nan rupawan itu. Sampai ia sendiri tidak sadar, jika sedari tadi dirinya sudah dipermalukan didepan publik.


"Kalila, Kalila ... Yang nganterin lo tadi itu pacar gue, gak usah kegatelan jadi cewek. di pasang-in sama Zander aja lo gak cocok, apalagi sama pacar gue." She's Natalie, gadis bertubuh cantik, yang sering membully orang-orang disekitarnya. Persis seperti sekarang, air comberan dan juga coretan tinta permanen sudah ia berikan kepada korban barunya ini.


Kalila yang mengalami serangan mendadak, ia hanya bisa pasrah. Matanya sesekali menatap kearah sekitar. Ia berharap ada beberapa siswa yang mau menolongnya. Akan tetapi hasilnya nihil.


"Hey, cewek anjing!" Kalila mengangkat wajahnya. Senyuman cantiknya terbit, saat Zander dan Heaven yang secara tiba-tiba datang, lalu berteriak keras kearah Natalie.


"Lepasin dia, tolol! Nyari mati mulu ya lo sama si Calvin. Ntar kalo di-bully balik malah playing victim. Lawak lo, setan." Emosi Heaven sudah meledak. Pria itu mendorong Natalie hingga terjatuh, lalu tersenyum puas.


"Apa hubungannya anak baru ini sama si Calvin?"


"Dia pacarnya, senggol dikit mati lo," jawab Zander, dengan nada sinisnya.


Natalie memutuskan untuk pergi. Setelah acara itu selesai, Zander dan Heaven memutuskan untuk kembali membolos, dan meninggalkan Kalila yang masih tertunduk lemas.


Sebagai gantinya, Calvin datang dengan Gean sebagai pendampingnya. Kedua pria itu memberikan air, dan juga seragam baru untuk Kalila. Sebelum benar-benar pergi dari situ, Calvin mengusap puncak kepala gadis itu, lalu memukulnya dengan pelan.


"No one will come to save u. Get up, cewek sialan!"


Calvin does not discriminate.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2