Tien N'Est Eternel

Tien N'Est Eternel
The positive side of Calvin


__ADS_3

..."Semuanya indah, jika ada doa Ibu didalamnya."...


Setelah pelaksanaan lomba debat kemarin, Calvin menjadi perbincangan hangat di sekolahnya. Kepala sekolah bahkan memujinya. Berkat ilmu agama yang dulu Ibunya berikan, Calvin bisa melalui semua ini.


Sepulang sekolah, ia bahkan menyempatkan waktu untuk berkunjung ke makam Ibunya, dengan ditemani oleh Erlan dan juga Heaven sebagai pendamping.


"Ibu liat, Calvin bawa siapa ... Mereka berdua yang sering Calvin ceritain ke Ibu. Sebenernya masih ada 2 orang lagi, Bu. Namanya Zander sama Gean, mereka berdua yang kemarin bantu Calvin buat menang lomba debat. Pialanya Calvin taro dipinggir makam Ibu, ya? Maaf Calvin gak bisa lama-lama disini. Calvin pamit, ya, Bu? Assalamu'alaikum."


Ketiganya pergi. Erlan dan Heaven memutuskan untuk pergi kearah markas lebih dulu, sementara Calvin, pria itu memutuskan untuk pulang kerumah.


Selama diperjalanan, yang bisa ia lakukan hanyalah melihat pemandangan sekitar. Matanya kini tertuju kearah rumah milik Kalila. Terdengar banyak suara dirumah itu. Calvin hanya terdiam sebentar, lalu setelah itu ia melajukan kembali motornya.


"Gue pulang." Baru saja masuk, mata Calvin sudah disuguhkan dengan pemandangan tidak mengenakan. Suara desaha* seorang gadis kini menggelegar keseluruh area penjuru rumah. Tangan Calvin kini sudah mengepal dengan kuat. Tatapannya kini tertuju kearah Darel yang menyuruhnya untuk masuk kedalam kamar.


"Gue gak mau," balasnya, yang dihadiahi pukulan keras dari seorang Vandi.


Tidak berhenti sampai disitu. Ayahnya yang tadi sibuk melakukan se* bebas, kini dengan santainya bergabung dengan kelakuan bejat seorang Vandi. Beberapa area dari tubuh Calvin kini sudah mengeluarkan darah. Luka terakhir yang ia terima, ada pada bagian pipi. Darel menatap miris hal itu. Lihat saja ... pipi kanan milik Calvin hampir terbuka lebar.


"Besok kau harus pulang lebih awal. Saya butuh pelampiasan." Brian dan Vandi kini pergi. Calvin dengan segera mengganti pakaian miliknya, dan langsung pergi dari tempat neraka itu. Darel yang geram, kini ia langsung saja menghajar Vandi dengan cukup brutal. Setelah dirasa puas, ia kembali kedalam kamarnya, dan meninggalkan Vandi yang masih dalam keadaan bergetar hebat.


Kembali kepada Calvin. Kini pria itu memutuskan untuk pergi kearah puskesmas, untuk mengobati luka yang dialaminya. Setelah selesai, ia langsung pergi kearah markas.


Kosong ... Hanya itu yang bisa mendeskripsikan keadaan disini. Calvin menidurkan dirinya di markas, ia berencana untuk menginap disini sampai keadaannya pulih.


Waktu berjalan dengan cepat. Calvin terbangun dari tidurnya, karena suara teriakan yang berasal dari Heaven dan juga Gean. Kedua pria itu sedang asik bermain Uno. Calvin menidurkan dirinya kembali, bisa bahaya jika Gean ataupun Zander mengetahui luka barunya ini.


"Gue tau lo udah bangun, Vin. Cepet kesini, dan jangan ngehindar dari gue."


Yang diperintahkan memutar bola matanya malas. Calvin secara terpaksa harus menghampiri kedua temannya itu. Gean dengan sigap langsung mengecek luka dari Calvin. Cukup parah ....


Peralatan kesehatan kini sudah siap. Secara telaten, Gean kini mengganti perban yang Calvin pakai sebelumnya. "Lo kenapa gak ngelawan mereka balik, sih?!"


"Percuma. Luka gue udah banyak, tusuk dikit gak ngaruh." Calvin menjawab dengan disertai cengiran khas nya. Gean tertegun melihat hal itu. Kenapa temannya ini begitu kuat?


"Jam berapa sekarang?"

__ADS_1


"7 malem."


Calvin ber-oh ria. "Gue pergi ke kamar mandi bentar, ya? Jangan ada yang ganggu dulu."


Kedua temannya mengangguk. Mereka lanjut bermain Uno bersama. Mata mereka kini teralihkan kearah Calvin, yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan celana yang terlihat seperti orang yang sedang kebanjiran. Calvin berlari kecil kearah kamar. Heaven yang penasaran kini mencoba mengintip. Bibirnya membentuk senyuman manis, saat tahu apa yang sedang Calvin lakukan.


"Pantes kuat sama cobaan dunia. Orang tamengnya aja langsung sama yang punya alam semesta."



"Zander asu! Gue kaya nge-gay berdua sama lo, kalo kaya gini caranya."


Selama diperjalanan Erlan terus saja berbicara, yang membuat Zander kini mulai meninggalkannya secara diam-diam. Ya, mereka berdua sedang jalan-jalan bersama, lebih tepatnya sedang mengurus perlengkapan osis bersama.


Langkah Erlan kini mulai menuju kearah perlengkapan sekolah. Pria itu bahkan belum sadar jika Zander sudah menghilang sedari tadi. Secara acak ia kini mulai berbelanja, lalu membayarnya dengan cepat.


Tubuhnya kini mulai terdiam, saat menyadari jika Zander sudah hilang. Erlan mengeram kesal. "Zander, anjing!" Umpatnya dengan ramah.


Ia kini terus mencari keberadaan Zander. Dan akhirnya ia menemukan pria aneh itu yang sedang sibuk memperhatikan beberapa mobil mewah. "Beli dong, asu. Natap mulu, dibeli kagak," sarkasnya dengan nada kencang.


The real mahal dikit gak ngaruh.


***


Vandi: Calvin sama lo? Kalo iya, tolong suruh pulang. Gue lagi butuh dia soalnya


Secara kasar Zander kini melemparkan handphone nya ke sembarang arah. Dengan cepat ia mengambil handphone milik Erlan, lalu menghubungi Heaven, untuk tetap menjaga Calvin di markas.


"Zander, awas ...." Beruntungnya mereka tidak jadi menabrak seseorang. Erlan yang panik, ia langsung saja mengecek kondisi korban yang hampir saja terkena tabrakan.


"Kalila? Ngapain lo jalan sendirian kayak orang gila kaya gini? Mana tu kepala banyak luka lagi."


Yang ditanya kini memberikan senyuman hangatnya. "Gue kena pukulan geng motor sebelah. Mereka jumlahnya banyak, jadi wajar gue luka-luka kaya gini."


"Ikut gue sama Zander, ya? Gue obatin luka lo di markas." Erlan sudah jalan lebih dulu, tapi Kalila? Gadis itu masih termenung ditempat. Seakan tahu apa yang ada dipikiran gadis itu, Zander kini mulai turun tangan.

__ADS_1


"Lo bakalan aman. Ayok ikut, lagian gue gak minat sama cewek tepos kaya lo." Mata Kalila membulat. Dengan kesal ia kini masuk kearah mobil, dan menghiraukan perkataan Zander yang memerintahkannya untuk memakai seatbelt.


"Gue bilang pake, anjing! Nyusahin banget sih lo, bangsat!" Zander kini merampas seatbelt itu secara paksa, lalu memasangkannya dengan benar. Memiliki perasaan yang sensitif, membuat Kalila kini diam-diam menahan tangisannya.


Mobil kini berhenti tepat didepan pintu markas. Zander masuk lebih dulu. Sementara Erlan dan Kalila menyusul dari arah belakang.


"Kita datang ...."


Heaven dan Gean menyambut mereka bertiga. Memiliki kemampuan sebagai seorang dokter, membuat jiwa insting kedokteran Gean memberontak. Pria itu langsung saja berlari untuk mengambil kotak P3K, dan mulai mengobati luka yang dimiliki Kalila secara hati-hati. "Kalo sakit bilang ya?"


"Oke."


Pengobatan kini selesai. Gean secara refleks bertepuk tangan, atas ketangguhan Kalila dalam menahan semua rasa sakit yang dialaminya. Mereka semua akhirnya membubarkan diri kearah kamar masing-masing. Kalila sendiri lebih memilih untuk memandangi bulan diarea luar markas. Matanya kini beralih kearah Calvin, yang secara tiba-tiba berdiri dihadapannya.


" Zeline. Ikut gue, yuk?"


"Eh---"


Mereka berdua kini pergi kearah toko buku. Calvin mengambil sebuah buku gambar, crayon, cutter, dan juga Pulpen. Semua barang itu kini ia berikan kepada Kalila.


"Ini apa maksudnya?"


Calvin tersenyum. Secara perlahan ia kini mengusap puncak kepala dari Kalila secara pelan. "Kalo mau ngelukis pake buku gambar ini aja ya? Kasian tangan lo, jadi jelek tuh karena sering lo lukis."


"Vin?"


"Jaga kesehatan lo. Gue tau lo sering disiksa sama bokap, tapi itu bukan berarti lo bisa sepuasnya nyiksa diri lo sendiri. Sehat itu mahal. Lo boleh nangis, tapi jangan sampe lo nyerah."


Kalila menunduk. Tangisan yang selama ini ia tahan, kini meluncur dengan sempurna. "Gue capek, Vin. Gue pengen nyerah ...."


"Need hugs?" Kalila mengangguk, yang langsung disambut pelukan hangat dari seorang Calvin. Nyaman, gumamnya pelan.


"Lo cewek yang kuat. Dan lo tau? I'm very proud of you. Kalo lo capek, pukul tubuh gue sebagai pengganti samsak. Lo gak sendirian, Zeline. Jangan mati sebelum dijemput, okay? Gue sayang sama lo, jadi gue mohon tolong bertahan sedikit lagi."


TBC ....

__ADS_1


__ADS_2