Tien N'Est Eternel

Tien N'Est Eternel
What's family?


__ADS_3

..."Heal, move on, and don't become like those who hurt you."...


Who said being a new student was fun? Ditambah masalahnya dengan Calvin, membuat hidup Kalila kini dipenuhi oleh rasa kebencian. Tapi siapa yang peduli dengan hal itu? Ia sekolah untuk mencari ilmu, bukan untuk klarifikasi berita tidak jelas, tentang masalahnya dengan Calvin.


Yang sedari tadi membuatnya kesal, kini ada dihadapannya. Calvin, pria itu dengan santai menyerobot antrean yang selama ini ia ditempati, tanpa rasa bersalahnya. Azkia berusaha menyingkirkan pria itu, akan tetapi Gean melarangnya, dengan alasan jika mood Calvin sedang tidak baik.


Kalila yang peka, ia kini mengerti apa penyebab pria dihadapannya ini menjadi badmood. Gadis itu dengan santai mencolek lengan dari Calvin, yang membuat sang empu kini menatap tajam kearahnya.


"Tulisan lo gagal, kan? Gue saranin buat si tokoh utama ngerasa bersalah sama pilihannya, pembaca bakalan suka dengan suasana kaya gitu. Walaupun gue bukan seorang penulis, tapi seenggaknya gue paham sama apa yang pembaca suka. I suggest, you should try that idea, Vin," sarannya, yang mulai dipertimbangkan oleh pria galak dihadapannya ini.


Calvin terlihat menganggukkan kepalanya. Bagus juga ide gadis gila ini, gumamnya kecil. Merasa ada ide yang harus segera ia salurkan, pria itu dengan cepat mengusap pelan puncak kepala Kalila, lalu setelah itu ia pergi kearah kelas.


Heaven yang melihat kejadian itu, ia berteriak heboh. Pasalnya kedua human yang dikenalinya ini saling bermusuhan, tapi kenapa sekarang mereka malah bermesraan?


"Kalila lo jangan kejang dulu, woy!" Erlan ikut heboh. Yang sedari tadi digoda malah menampilkan wajah datarnya saja. Gadis itu kini melakukan eye contact dengan Zander, bermaksud untuk memberi kode pada pria itu. Zander yang paham, malah menolak hal itu. Pria itu tersenyum sembari mengatakan 'good luck' kearahnya.


"Akankah Calvin dan Kalila berpacaran? Kita tunggu saja pemirsa ...."


"Berisik lo, anjir! Lagian cuman di usap, bukan di *****."


Gean membulatkan matanya tak percaya, kenapa gadis dibelakangnya ini sangat frontal? Merasa takut dirusak, Gean menyalip Zander, sebagai upaya bertahan hidup.


Heaven dan Erlan, mereka berdua malah semakin heboh. Hal inilah yang menjadi hiburan bagi sebagian siswa yang dikantin. Kalila sudah merengek tidak jelas kearah Azkia, akan tetapi yang dimintai tolong malah mengangkat bahunya tak acuh.


"Mau banget di ***** sama Calvin, sini sama Abang aja neng."

__ADS_1


Ingin rasanya Kalila menangis sekarang juga. Kenapa ia harus bernasib sial seperti ini? Dengan langkah kesalnya, ia kini pergi kearah kelas, dan duduk disamping Calvin yang sedang sibuk memperbaiki alur cerita yang ia buat. Kalila menatap sebal kearah pria itu, yang ditatap malah cuek bebek saja.


"Calvin, temen lo dikurung aja bisa gak sih? Gue risih banget ada mereka. Padahal nih ya, gue cuman bilang kalo lo tadi cuman ngusap doang, bukan *****. Tapi kenapa mereka malah jadi rusuh?"


Yang diajak bicara malah fokus menyelesaikan pekerjaannya. Kalila berdecak kesal, kenapa semua orang disekolah ini sama menyebalkannya?


"Emosi mulu lo jamet, sini ...."


Kalila menurut, matanya kini membulat sempurna saat tangan Calvin yang dengan sopannya memegang kedua gundukan berharganya. "Lo ngapain, anjing? Astaga susu gue ternodai."


Calvin menatap polos gadis itu. "Lah katanya tadi mau di *****?"


Tolong bawa otak polos Kalila saat ini juga.



"Gue yakin enggak, tapi mau gimana lagi. Ayah keras kepala, ditambah gue juga sama jahatnya kaya Ayah. Rel ... Lo satu-satunya harapan gue yang bisa nyembuhin mentalnya si Calvin. Dia emang brengsek, tapi dia tetep adek gue. Gue mohon, Rel. Bantu dia."


Darel mengangguk. Ia menyetujui keinginan Abangnya itu, mereka hanya terpaut 1 tahun. Sedangkan umurnya dengan Calvin terpaut 5 tahun.


"Gue mau masak, tapi tetep jaga rahasia, kalo makanan yang selama ini disisain buat si Calvin itu makanan baru, bukan makanan sisa."


Lagi-lagi Darel menyetujui hal itu. Vandi memang brengsek, akan tetapi pria itu tetap menganggap Calvin sebagai adik kandungnya. There's no such thing as an ex-little brother, right?


"Lo kenapa gak kaya gini dari dulu sih, Van?"

__ADS_1


Vandi termenung. Tapi beberapa saat kemudian, ia tersenyum kecil kearah Darel. "Gue pernah didatengin alm. Bunda di dalem mimpi. Bunda bilang kalo tindakan gue udah kelewat batas, dan Bunda juga bilang mau sekeras apapun gue nyiksa Calvin, Bunda tetep gak akan hidup lagi. Disitu gue mulai sadar, kalo tindakan gue emang salah. Gue bahkan numbalin Calvin yang jelas-jelas gak salah dalam hal ini. Gue sayang Calvin, Rel. Tapi gue gak mau Calvin tau hal ini," jelasnya, yang dibalas acungan jempol oleh Darel.


Keduanya kini bergegas pergi kearah kamar masing-masing, setelah Ayahnya sudah tiba dirumah. Brian berteriak kearah Vandi, pria itu memastikan jika makanan yang disediakan untuk Calvin, bukanlah makanan baru. Vandi mengiyakan hal itu, ia dengan cepat mengatakan jika itu adalah makanan sisa. Beruntungnya Vandi, Darel tadi sempat menuangkan beberapa tes teh, dan tisu diatas meja. Hal itulah yang membuat Brian percaya kepada mereka berdua.


Setelah Brian pergi, Darel menghembuskan nafasnya lega. Pria itu dengan cepat membersihkan semua ide yang tadi ia lakukan, sebelum Calvin tiba dirumah.


"Gue pulang ...."


Darel menatap sinis adiknya itu. Remember, this is just a drama. Pria itu menyuruh Calvin untuk makan, lalu setelah itu ia pergi kearah kamarnya.


"Enak." Calvin memuji makanan itu. Percayalah, ini pertamakalinya ia makan dengan lahap. Vandi yang sedari tadi memperhatikan, ia kini tersenyum tipis. Calvin butuh tenaga, dan besok adalah hari yang tepat untuk menyiksanya. Satu hal yang harus kalian ketahui, Vandi hanya tak ingin jika Ayahnya curiga tentang hal ini.


Bugh!


Pukulan yang keras, berhasil membuat Calvin terkulai lemas. Vandi menyesal akan hal itu, harusnya ia mengunci kamar Ayahnya lebih dulu. Fyi Brian mengidap penyakit Intermittent Explosive Disorder atau yang sering disebut sebagai gangguan ledakan marah. Pria tua itu bisa saja marah karena hal sepele, salah satunya hanya karena melihat wajah Calvin, yang kembali membuatnya mengingat dengan wajah alm. Istrinya.


"Maju kamu. Gara-gara istri saya ngelahirin kamu, saya jadi pria tua yang gak guna kaya gini."


Brian masih dalam keadaan emosi, pria tua itu masih saja memukuli Calvin yang sudah tidak sadarkan diri. Darel dan Vandi bahkan tidak bisa menghentikan hal itu. Keduanya memutuskan untuk menolong Calvin, setelah Brian pergi dari rumah.


"Maafin kelakuan bejat Ayah, ya, Dek?"


Being Calvin is really that painful.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2