
..."Mari mulai lagi, tanpa ada dia."...
"Gimana kemarin? Lo puas gak sama pestanya?"
Kalila mengangguk. Ini pertamakalinya ia merasa diistimewakan seperti ini. Matanya kini beralih kearah Calvin yang sedang memakan sarapannya dengan tenang. Merasa peka, Darel menjelaskan hal itu. "Dia nginep, bokapnya lagi kerja di Brazil soalnya."
"Um ... Adik kamu gak akan pulang?" Pertanyaan sensitif, yang kini berhasil mengundang perhatian dari sang pria gila.
"Itu privasi keluarga ini. Orang asing kaya lo gak berhak tau." Calvin berucap. Kalila yang tersentak kecil pun kini menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Darel menenangkan gadis itu, dan membawanya pergi menjauh. Sementara Vandi? Ia menatap sinis adik kecilnya. Dengan sekali tamparan, Calvin sudah tergeletak dibawah. Memiliki kesempatan yang cukup besar, secara kasar, Vandi kini menginjak bagian kepala dari adik kecilnya itu. Calvin meringis kesakitan, hal itu mengundang Darel yang segera berlari untuk menolongnya.
"Woy, Bang sadar! Dia adik lo, anj!"
Vandi mengabaikan hal itu. Ia terus saja menginjak kepala Calvin, hingga membuat sang korban kini mengeluarkan darah dibagian hidung dan sisi kanan kepalanya. Darel sudah panik tidak karuan, nafasnya kini mulai teratur setelah Vandi yang secara tiba-tiba berlari kearah kamarnya.
Calvin tersenyum kearah Darel. Pria itu menepuk pundak dari Abangnya, untuk sekedar mengucapkan rasa terima kasih.
"Gue pamit, gak akan pulang juga."
Darel mengangguk, "hati-hati, jangan lupa lukanya diobatin, gue takut ntar lo kena infeksi," ucapnya khawatir.
Yang diperhatikan seperti itu malah memutar bola matanya malas. "Who cares? Gue lebih baik kena infeksi, daripada harus ketemu sama Abang anj kaya si Vandi."
The feud between the brothers has already begun.
***
"Vin, lo mau kemana?" Itu suara Heaven. Pria itu memang sengaja mencegah langkah dari Calvin, yang terlihat terburu-buru berlari kearah gudang.
Yang dicegah malah melanjutkan langkahnya. Heaven akhirnya menyerah. Pria itu pergi, dan berkumpul kembali bersama Gean. "Si boss mau kemana itu?"
"Gak tau gue. Tadi gue cegat juga gak ngaruh," balasnya, yang dibalas anggukan kepala kecil oleh Gean.
"Mungkin dia mau ke UKS, soalnya tadi gue liat luka baru dibagian kepalanya nambah lagi." Tebakan random dari Erlan kini berhasil membuat Zander segera bergerak untuk mencari keberadaan dari Calvin.
Erlan, Heaven, dan Gean pun secara refleks melakukan hal yang sama. Kotak P3K sudah dipersiapkan, mereka dengan segera mengobati luka dari Calvin, setelah berhasil menemukan sosok pria kuat itu.
__ADS_1
"Lain kali lawan. Gue tau Vandi gak sekuat itu," omel Erlan yang dibalas acungan jempol singkat oleh sang empu.
"Beres." Calvin berterimakasih. Ia kini memeluk keempat temannya dengan erat, yang membuat Zander kini menahan air matanya secara mati-matian.
"Makasih, ya? Mungkin kalian bakal ragu denger hal kaya gini, tapi gue bener-bener beruntung bisa ketemu sama kalian berempat."
Heaven secara refleks menampar pelan mulut dari Calvin. Hal itulah yang kini mengundang gelak tawa dari ketiga temannya yang lain. "Lo jangan bilang gitu lah, anjir. Gue mending terus-terusan dipukulin sama lo, daripada harus denger nada bicara lo yang minta dikasianin kaya tadi."
"Sialan lo," balas Calvin dengan tawa khasnya.
"Balik kelas aja, yuk? Gue males dihukum sama guru botak sialan yang satu itu." Yang lain menyetujui ucapan dari Gean. Mereka berlima akhirnya pergi, dan masuk kedalam kelas. Calvin dan Zander lebih memilih untuk membaca buku di pojok ruangan kelas. Sementara yang lain sibuk mengobrol.
"Kalo tau sekarang jamkos kaya gini, gue mending makan siomay di warung Pak Asep, anj!"
Heaven tertawa. Ini kesekian kalinya ia mendengar keluhan dari Erlan, yang mengatakan jika ia gagal makan di warung Pak Asep. Heaven kini menepuk pelan bahu dari Erlan, berniat untuk menenangkannya. Yang diperlakukan seperti itu malah semakin menjadi-jadi.
Erlan. Pria itu menunjukkan suatu acara sirkus, yang membuat semua murid kini mulai menatap kearahnya. Pertunjukan itu harus terhenti karena Zander yang mengamuk.
"Calm down, Zan. Gue cuman bercanda."
"Bercanda ada waktunya. Lo gak liat gue sama Calvin lagi belajar?"
Inilah kegunaan Calvin sebagai ketua. Dengan santai ia kini menarik Zander, dan sebelum pergi, ia menepuk pundak dari Erlan untuk menenangkannya. "Lanjutin yang tadi. Gak usah nunduk. Zander cuman kebawa emosi doang," pesannya, yang dibalas anggukan kepala kecil oleh Erlan.
Kedua pria ganas itu kini sudah pergi. Erlan masih dalam keadaan shock. Gean kini datang sebagai penenang. Suasana mulai riuh kembali, saat Heaven yang secara tiba tiba menunjukkan pertunjukan sulapnya.
"Anjay, Heaven. Gue gak tau kalo lo se-chill ini, bro." Pujian itu berhasil membuat Heaven mengedipkan sebelah matanya kearah sekumpulan para gadis. Suara teriakan kini terdengar dimana-mana. Heaven sudah ambruk karena tertawa terlalu banyak, Erlan yang bingung kini ia mulai bertanya akan hal itu.
"Lo kenapa ketawa sendiri, anj?!"
"Lucu aja liat orang-orang pinter ketawa karena sifat goblo* gue."
Erlan mengangguk. "Itu hal bagus gak sih? Setidaknya sifat goblo* lo berguna bagi semua orang," sarkasnya santai.
"Erlan, anjin*."
__ADS_1
Setelah melewati tangga utama sekolah, Kalila dan Azkia pergi kearah kantin. Mereka berdua duduk, dan mulai memesan makanan masing-masing. Acara makan kali ini berlangsung dengan tenang, karena Calvin dkk sedang sibuk mempersiapkan debat antar sekolah. Kalila akui, jika geng tidak berguna itu memang memang pandai dalam hal seperti ini. Terutama Calvin.
"Lo yakin sekolah kita bakalan menang?"
Yang ditanya kini menganggukkan kepalanya. Azkia kini berusaha meyakinkan Kalila jika Calvin, Zander, dan Gean, tidak bisa diremehkan begitu saja. "Tahun lalu juga mereka bertiga menang. Lawan kebawa emosi, gara-gara Calvin ketawa kecil pas dia lagi ngomong. Abis kejadian itu si lawan jadi susah buat fokus. Gean yang pinter manfaatin situasi, dia langsung ambil alih hal itu. Dan akhirnya mereka bertiga menang."
"Lo seyakin itu mereka bertiga bakal menang?"
Azkia mengangguk, "kepala sekolah yang terkenal pinter aja bisa kalah debat sama Calvin, apalagi lawan di lomba minggu depan," balasnya dengan nada yakin.
Kalila justru tak memperdulikan hal itu. Matanya kini mulai fokus kearah handphone, lalu membaca salah satu cerita yang menjadi favoritnya sejak dulu.
"Kia, lo baca cerita dari @Clvml gak sih? Karyanya bagus-bagus sumpah."
"Tau, orang penulisnya aja si Calvin."
"Hah?!"
"Clvml. Calvin Marquel, itu singkatan buat username dia. Heaven, Gean, Zander, sama Erlan juga udah follow akun cerita tu anak."
Kalila tertegun. Kesadarannya kini mulai kembali, saat Ibu kantin yang secara mendadak datang kearahnya. "Neng, gak mau bubar? Bel udah bunyi dari tadi loh ...."
Dengan panik ia kini berlari kearah kelas bersama Azkia. Langkahnya terhenti tepat didepan perpustakaan, ada Calvin dan Zander didalamnya. Kedua pria itu tampak serius membaca sebuah buku.
"Lo yakin tema debat buat minggu depan tuh ini?"
Zander mengangguk. "Kalo misalkan temanya diubah, gue masih tetep yakin kalo kita bakal menang."
Calvin tertawa mendengar hal itu. Kedua gadis yang sedari tadi masih mengintip, kini mereka terpesona dengan pemandangan indah itu. Rahang yang tajam, serta bulu mata yang lentik, memang menambah kesan ketampanan dari seorang Calvin Marquel Ollyxton.
Kesadaran mereka kini kembali, saat Zander yang secara frontal mengatakan jika mereka berdua harus kembali kedalam kelas. Azkia mendengus kesal, dengan langkah berat mereka berdua kini kembali kedalam kelas.
"Sumpah ya si Zander cakep-cakep galak. Gak jadi like deh gue."
Kalila menatap tajam sahabatnya itu. Dengan santai ia kini memukul keras kepala dari Azkia untuk membuatnya sadar. "Lo ngomong berisik banget, anj! Mana si Gean udah denger lagi."
Yang dinasehati kini mulai mengalihkan pandangannya kearah Gean. Pria itu tersenyum kearah Azkia sembari mengacungkan jempolnya, pertanda setuju dengan ucapannya tadi.
__ADS_1
"Azkia bego!"
TBC ...