Tien N'Est Eternel

Tien N'Est Eternel
Reliable story writer


__ADS_3

..."You're just tired, not a failure....


Jangan jatuh cinta dengan seorang penulis, atau kamu akan abadi didalam karyanya, adalah salah satu quotes yang cocok bagi seorang Calvin. Memiliki imajinasi yang cukup luas, membuat pria tampan itu menghabiskan banyak waktunya, hanya untuk menulis cerita.


Writer Block salah satu alasan dimana ia harus vakum selama 1 tahun kebelakang. Dan mulai hari ini, Calvin memberanikan dirinya untuk menulis ulang seluruh cerita yang ia buat.


"Bangsat! Otak gue buntu banget, anjing!"


Calvin frustasi. Tangannya kini dengan lihai mengetik beberapa kosakata yang baru saja ia pelajari. Pria itu mulai beranjak dari tempat duduknya, setelah mendengar teriakan dari Ayahnya. Calvin menghembuskan nafasnya pasrah, lagi-lagi ia yang disalahkan.


"Kamu itu cowok, Vin. Ayah malu banget punya anak yang hobinya ngayal kaya kamu."


Yang dinasehati malah bersikap acuh. Lagipula siapa yang memperdulikan hal itu?


Calvin kembali setelah menyelesaikan semua urusan keluarganya. Ia kembali duduk, bertekad menyelesaikan semua ceritanya. Bibirnya kini membentuk senyuman kecil, setelah ia mengingat alur dari cerita yang ia buat.


"It's easy," gumamnya meremehkan.


Matanya tetap fokus memandang laptop, sampai tiba saatnya dimana Calvin harus menunda semua ceritanya kembali. Langkahnya kini mulai tertuju kearah kamar mandi, untuk bersiap pergi ke sekolah. Sekitar 30 menit, semuanya selesai. Pria itu dengan cepat pergi kearah luar, dan mulai mengemudikan motornya kearah sekolah.


"Calvin ...." He's Erlan, pria gila yang selalu dekat dengannya, kemana pun ia pergi. Beruntungnya, orang-orang disekolah tidak memandanginya sebagai gay sejati.


"Vin, liat Inggris. Gue mau nyontek ke si Zander, tapi tu anak malah nyuruh gue mikir," eluh Erlan, yang membuat Calvin kini menatap jijik kearah temannya itu.


"Nih!" Calvin melemparkan buku yang dibawanya kearah asal. Erlan yang belum siap, ia terkecoh dengan permainan apik Calvin.


"Awas ...." Yang diperingati malah telat beraksi. Calvin yang memang sedang sibuk mengobrol, ia kini tersungkur dengan posisi yang cukup estetik. Erlan tertawa melihat hal itu, setelah puas, ia kini mulai membantu Calvin untuk berdiri.


"Maaf, ya, kak. Gue gak sengaja."

__ADS_1


Gadis berambut panjang, dengan bola mata cokelat, kini mulai menghampiri kedua pria gila itu. Ia menunduk, dan langsung memohon maaf kepada Calvin. Mata dari Erlan kini mulai memperhatikan setiap inci dari gadis asing itu, tangannya kini bergerak secara asal saat berhasil mengingatnya.


"Lo cewek aneh yang waktu itu diancem mau diperkosa sama si Zander, ya, kan?"


Yang dituduh, kini mulai mengangkat kepalanya. Matanya kini mulai menyipit, setelah ia mengingat siapa pria yang ada dihadapannya ini. Bukannya emosi, karena gadis asing itu melukai temannya, Erlan malah asik berjoget. "Dunia sempit, ya? Bener kata Heaven, kalo jodoh gak kemana. Kiw, neng!" Gombalan cringe, yang membuat gadis itu kini mulai pergi, kearah sekumpulan temannya kembali.


Merasa malu dengan kejadian tadi, Erlan dengan cepat mendorong Calvin untuk cepat masuk kedalam kelas. Tanpa Erlan sadari, Heaven menyaksikan semua peristiwa tadi. Pria itu secara puas tertawa, yang membuat Gean kesal dan langsung memukul keras pria itu, untuk membuatnya menjadi diam. And yeah, he succeeded.


"Kalo ada ulangan, ntar gue nyontek ke lo, ya, Zan?"


Zander selaku orang terpintar dikelas ini, ia dengan entengnya menyetujui hal itu. Semua yang ada dikelas ini bersorak gembira, selain dapat diandalkan, Zander juga tampan. Hal itulah yang membuat beberapa gadis disekolah ini tertarik kepadanya.


Selagi yang lain sibuk membicarakan soal Zander. Calvin lebih memilih untuk membuat lanjutan cerita yang sempat ia buat. Matanya tetap fokus pada kertas yang ia pegang, sesekali ia berpikir apa kosakata yang cocok untuk ceritanya. Tanpa ia sendiri sadari, guru yang mengajar sudah masuk sedari tadi. Beruntungnya Calvin, guru itu hanya ingin memperkenalkan murid baru kepada semua murid-muridnya.


"Bapak harap kalian semua bisa berteman baik sama anak baru ini. Kamu ngerti, kan, Calvin?"


Heaven menyenggol lengan dari temannya secara pelan. Hal itulah yang membuat Calvin secara otomatis menganggukkan kepalanya. Guru itu pergi, dan anak baru tadi diperintah untuk duduk disamping Calvin.


Gean memerintahkan Heaven untuk diam, akan tetapi pria itu malah semakin ricuh. Hingga pukulan meja yang sangat keras, kini berhasil menghentikan pergerakan dari pria itu.


"Gue lagi nulis cerita, ya, anjing! Gak usah ricuh lo pada, bangsat!"


That's the real Calvin lol...



Kalila Zeline Pandhita. Seorang gadis cantik yang selalu berbuat onar dimanapun dan kapanpun. Tidak ada kata damai bagi hidupnya, terutama bagi kelima pria asing yang pernah membantunya pada hari itu. Ia tidak meminta tolong, jadi untuk apa ia berterimakasih?


"Lo tau gak sih di sekolah ini ada lima cowok yang paling sering buat onar. Mereka ganteng sih, tapi sayang bukan type gue."

__ADS_1


Azkia Eri Auristela. Gadis itu adalah satu-satunya sahabat yang Kalila punya. Selain cantik, gadis itu juga hanya menyukai pria tampan. Terlihat seperti mandang fisik memang, tapi siapa yang bisa menolak pesona cogan?


"Berisik deh, Kia. Udah dibilang gue gak suka cowok."


Yang dibentak malah membulatkan matanya tak percaya. "Kalila lu lesbi?" Tanyanya dengan nada shock.


"Enggak."


"Lah terus?"


Daripada menanggapi ocehan tidak jelas dari Azkia. Kalila lebih memilih melatih skill basketnya, yang selama ini ia pendam. Kehadiran Zander kini membuatnya kehilangan konsentrasi. Hal itulah yang membuat bola basket miliknya terlempar jauh kearah seseorang.


"Awas ...." Terlambat. Orang itu sudah tersungkur. Kalila menundukkan kepalanya sebagai rasa bersalah.


"Maaf, ya, kak. Gue gak sengaja."


Tidak ada respon apapun dari sang korban. Kalila mengeram kesal, kenapa sesulit ini meminta maaf kepada orang asing?


"Lo cewek aneh yang waktu itu diancem mau diperkosa sama si Zander, ya, kan?"


Mendengar pertanyaan aneh yang diajukan, membuat Kalila kini mulai menegakkan kepalanya. Matanya kini mulai menatap sinis Erlan.


"Dunia sempit, ya? Bener kata Heaven, kalo jodoh gak kemana. Kiw, neng!"


Bukannya menanggapi hal itu dengan ramah, Kalila malah pergi dari hadapan Erlan dan juga Calvin. Gadis itu menghentakkan kakinya dengan kesal, karena bertemu dengan kumpulan pria gila itu lagi. Benar kata Erlan, dunia ini sempit.


Langkahnya kini mulai menuju kearah kelas barunya. Ia menghembuskan nafasnya pasrah, karena bertemu dengan kumpulan pria gila itu lagi. Matanya kini mulai melirik kearah Calvin, yang sedang sibuk menulis ide cerita di buku miliknya. Tanpa sadar senyuman Kalila kini mulai perlahan terbit. Cute, gumamnya kecil.


"Gak usah senyum-senyum, lo jelek."

__ADS_1


Anjing?


TBC ...


__ADS_2