
..."Kamu masih punya Tuhan. Jadi tolong jangan menyerah hanya karena ucapan manusia."...
Berpikir jika ia terlalu lama menginap dirumah keluarga Darel, membuat Kalila kini memutuskan untuk pulang kerumahnya. Ia meminta Darel untuk mengantarkannya hingga sampai kedepan pagar rumah. Darel mengangguk paham. Setelah mengantar gadis itu pulang, ia tidak langsung pergi. Matanya kini melihat Kalila yang digusur secara paksa, lalu disiksa tiada henti.
Darel menatap miris hal itu. Ia kini memutuskan untuk pergi. Ingin membantu pun percuma, ia terlalu takut bertengkar dengan pria dewasa. Langkah miliknya kini harus terhenti karena Calvin yang menghadangnya secara tiba-tiba.
"Kalila mana?"
Darel menunduk. "Dia udah pulang kerumahnya," jawabnya dengan pelan.
Calvin mengangguk kecil. Ia kini pergi dari hadapan Darel, dan masuk kearah kamarnya untuk sekedar menenangkan diri.
Zander: Tema debatnya diganti lagi. Gue bakal kirim materinya sekarang, I hope you prepare the best for tomorrow. Gue yakin kita bertiga pasti menang
Pesan yang disampaikan oleh Zander cukup membuatnya bersemangat. Calvin membuka link yang telah Zander kirim, lalu membacanya dengan seksama. "Tentang jatuh cinta? Tema debat apaan ini, anjing! Mana gue belum pernah jatuh cinta lagi. Ini gimana belajarnya?"
Calvin mengerang frustasi. Ia membaca website secara asal lalu mempelajarinya. Merasa pusing, ia kini memutuskan untuk tidur. Persetanan untuk debat besok, ia sudah menyerah.
***
"Anjing! Gue salah ngirim link ke si Calvin." Zander ingin menghilang saja kali ini. Ia menghubungi Calvin, tapi tak ada satupun panggilan video call nya yang diangkat. Zander menjambak rambutnya frustasi, ia pasti akan diomeli habis-habisan oleh teman ganasnya itu.
"Zander, tidur Nak! Ini sudah jam 1, nanti kamu ngantuk lagi pas lomba." Itu suara dari Ibunya Zander. Elena Dwi Putri namanya. Zander kini menghampiri Ibunya, ia mengecup pipi Elena, lalu mengucapkan selamat malam.
Tak terasa hari kini sudah pagi. Zander terbangun dari tidurnya, dan langsung menyiapkan seragam sekolahnya. Pria itu membersihkan dirinya, lalu menghampiri Ibu dan Ayahnya yang sedang asik sarapan.
"Zander gak diajak? Beneran nih?"
Bukannya mendapat respon yang manis, Zander malah diabaikan oleh kedua orang tuanya. Ia kini mendengus kesal, dan kemudian melengos pergi kearah sekolah.
"Zander, bangsat! Ini tema debat kok ada 2?!" Calvin datang dengan membawa sebuah cutter yang ada ditangan kanannya. Zander memundurkan langkahnya secara perlahan. Acara melarikan dirinya itu harus gagal, karena Gean yang secara tiba-tiba ada di belakang punggung-nya.
__ADS_1
"Jangan lari lo, setan! Jelasin dulu ini. Mana lo salah ngirim sampe 2x lagi," semprot Gean dengan nada sinis.
Sebelum benar-benar menjawab. Ia mempersilahkan Gean dan juga Calvin untuk memarahinya hingga mereka berdua puas.
"Done. Now, it's your turn."
Zander mengangguk. "Kemarin malem gue bener-bener ngantuk, dan disitu gue kirim link nya secara asal. Gue bahkan baru sadar kalo itu salah, pas si Gean terus-terusan nelepon gue, cuman buat nanya apa maksud dari tema yang gue kirim. Sorry, Vin. My bad."
Yang diberi penjelasan kini mengacungkan jempolnya kearah Zander. Mereka bertiga akhirnya harus pergi ke ruangan kepala sekolah, untuk membahas tema debat kali ini.
"Temanya gak terlalu berat buat kalian?"
"Aman kok, Pak. Lagian disini ada Zander yang udah belajar banyak hal, belum lagi ada Gean yang cerdas baca situasi." Calvin membalas pertanyaan dari sang kepala sekolah dengan tegas. Kedua temannya yang lain menatap bangga hal itu. Calvin memang dapat diandalkan dalam situasi seperti ini.
"Saya harap kalian semua melakukan yang terbaik untuk sekolah ini. Tidak menang juga tidak apa-apa, yang penting kalian sudah berusaha."
Ketiganya mengangguk. Sebelum pergi, Calvin lebih dulu membalikkan meja yang ada diruangan hingga terlempar kearah luar. Gean shock melihat hal itu, sementara Zander? Ia tersenyum kecil.
"Eh ... Kalila? Tumben lo pake jaket ke sekolah. Lo gak sakit, kan?"
Yang ditanya kini menganggukkan kepalanya. Tidak ingin Azkia merasa curiga, ia langsung saja membawa sahabatnya itu kedalam kelas. "Kapan lombanya bakal dimulai?"
"Sekitar 2 jam lagi. Lo gak liat apa itu si Gean masih baca buku?" Kalila tertawa samar. Ia merasa malu dengan hal ini. Mereka berdua memutuskan untuk ke kantin, karena hari ini semua guru memutuskan untuk meniadakan kegiatan belajar mengajar.
"Mie nya enak," puji Kalila dengan mulut yang masih dipenuhi dengan makanan.
Azkia mengangguk. Ia tersentak kaget saat Zander yang tiba tiba saja datang sembari memukul meja. "Bangsat! Temanya kenapa diganti lagi? Mana pake tema LGBT. Ini sekolahan, anj! Pake tema yang bermutu kek, malah pake tema sampah."
Terlihat dari arah belakang, Calvin dan Gean baru saja tiba. Mereka langsung saja menenangkan Zander yang kesabarannya setipis tisu dibagi 5. "Calm down, gue tau temanya gak masuk akal. Tapi mau gimana lagi, ini keputusan sekolah sebelah." Kali ini Gean yang berpendapat.
__ADS_1
Kalila yang sedari tadi diam, kini ia memutuskan untuk menghampiri ketiga pria gila itu, "skakmat argumen mereka pake pernyataan yang logis, gue yakin kalian bertiga pasti menang," ucapnya, yang dibalas acungan jempol singkat oleh Gean.
Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk masuk, kedalam ruangan khusus perlombaan. Kalila, Azkia, Erlan, dan Heaven juga sudah ada didalam. Perlombaan akhirnya dimulai. Team lawan melancarkan semua argumen yang membuat Zander sedikit mengerang frustasi. Sementara Gean? Ia tersenyum kecil. Now he knew why the debate theme had suddenly changed.
"Lihatlah ini ... Bukankah seorang pasangan LGBT juga butuh kebebasan? LGBT is not a crime, mereka bahkan tidak mengusik kehidupan kalian semua."
Tangan Zander kini sudah mengepal dengan kuat. Matanya kini mengarah kearah lain, ia bahkan merasa jijik dengan pemandangan didepannya. Apakah seorang siswa pantas berciuman didepan umum seperti ini? Ditambah lagi sebagian dari mereka adalah kaum LGBT.
Suara tawa kini mulai terdengar. Team dari Zander dianggap tidak bisa mengalahkan debat kali ini. Gean yang ingin menanggapi, kini ia dihentikan secara paksa oleh Calvin.
"Biar gue yang selesaiin semuanya." Gean mengangguk.
Semuanya kini terdiam. Calvin, pria itu dengan perlahan berdiri, yang membuat Heaven dan juga Erlan bersorak untuknya. "Hajar, Vin. Kaum LGBT kaya mereka gak pantes buat menang. Normal jaya jaya jaya."
Erlan tertawa. Merasa malu, ia kini memerintahkan Heaven untuk bersikap lebih tenang.
"Silahkan untuk pihak Calvin ...."
"Sebagai seorang manusia yang diciptakan berpasang-pasangan (QS. Az-Zariyat: 49). Kami diperintahkan untuk menghargai perbedaan bukan penyimpangan. Argumen kamu benar, kaum sodom memang layak bahagia, tapi hal itu juga berlaku bagi semua umat manusia. Sudah tahu jika hal ini salah, kenapa tetap dibela?"
"Izinkan saya memo--- "
"Tunggu, saya belum selesai menyampaikan argumen. What do you need to doubt anymore? Dalam agama yahudi, tepatnya Imamat 20:13, bunyinya seperti ini, 'Jika seorang pria terletak dengan seorang pria sebagai salah satu kebohongan dengan seorang wanita, keduanya telah melakukan kekejian; mereka harus dihukum mati; darah mereka akan berada di atas mereka.' Dalam agama Islam? Ada di surah Al-A’raf ayat 80-81. Agama Kristen? Ada juga, Roma 1:26-27. Dari sini, apa yang harus diperdebatkan kembali? God is on the side of the righteous, so what can you Sodomites do?"
Semuanya terdiam. Tunggu ... apa benar tadi Calvin yang berbicara?
"Calvin keren banget, woy!" Kalila, Heaven, dan Erlan menyetujui hal itu. Mereka semua bersorak dengan gembira, saat juri dari perlombaan debat memutuskan, jika team Zander memenangkan perlombaan debat tahun ini lagi.
Zander dan Gean secara spontan memeluk Calvin dengan sangat erat. Yang dipeluk malah asik menggoda siswa dari pihak lawan. "Cium tuh bibir sampe puas. Udah ganti materi secara mendadak, gak masuk akal pula, eh tau-tau nya kalah. Belajar lagi ya adek-adek, jangan si Joni doang yang diasah, otak juga harus."
Zander is crazy, but Calvin is more than that.
__ADS_1
TBC ...