![TIME [Bad Future]](https://asset.asean.biz.id/time--bad-future-.webp)
"Ketika kami sedang kerja kelompok, tiba-tiba sebuah lubang di atas kami menghisap kami semua dan membawa kami ke sebuah tempat serba putih yang kosong. Hanya ada brankar dan masing-masing kami di atasnya."
"Kami berempat, tanpa arah. Bingung karena kehilangan tiga orang teman kami."
"Hingga robot-robot itu membawa kami ke daratan putih tanpa rumput hijau."
"Kami hanya ingin kembali."
"Namun, rasa empati kami membuat kami bertahan dan menolong anak cucu kami, dan mencari teman kami yang hilang di dimensi waktu."
"Hingga, kami bertemu manusia dengan pengikut yang banyak."
[¹]
"Jadi, satu kelompok beranggotakan delapan orang. Karena kalian ada tiga puluh sembilan orang, salah satu kelompok hanya akan mendapat tujuh anggota," Ningsih, guru mata pelajaran Biologi, sedang mengajar di kelas X MIPA2.
"Nah, untuk itu kalian silahkan cari sendiri anggotanya. Syaratnya, rumah harus berdekatan satu anggota dengan anggota lain, karena tugas ini akan di kerjakan di rumah," Ningsih mengacungkan jari telunjuknya.
"Kedua, dalam satu kelompok, ada campur antara laki-laki dan perempuan. Karena, kalau laki-laki semua pasti mereka gak akan ngerjain tugasnya."
"Yang terakhir, maksimal delapan orang setiap anggota, gak boleh lebih," Ningsih menyelesaikan ucapannya.
Tidak sampai sedetik setelah Ningsih menutup mulutnya, anak-anak kini sudah riuh mencari teman kelompok.
__ADS_1
"Eh, lo sama siapa?"
"Belum ada, gue sama lo, ya? Kan rumah kita dekat."
"Eh, gue sama lo, ya?"
"Em, gue udah sama Milka, lo minta sama Milka, ya?"
"Oliv sayang, Pangeran Rey sama Oliv aja, ya lagian kan istana kita deket," kata Rey.
"Gaya lo istana-istana! Rumah dari bata aja segala istana-istana," kata Kevin.
"Lah, suka-suka gue, lah! 'Kan yang bikin rumah bapak gue."
"Oliv, kita bertujuh 'kan dekat ya rumahnya, kita bertujuh aja, ya?" kata Alya.
"Okey. Jadi kita ni, ada Rey, Oliv, gue, Alya, Risa, Kevin, sama Gabriel," kata Katrin.
"Siapa yang bilang gue ikut?" Gabriel menimpali.
"Lo mau sama siapa? Kelompok lain udah pada penuh," kata Kevin.
"Hm, ya udah," kata Gabriel lagi.
__ADS_1
"Dasar batu es!"
Lonceng tanda pulang sekolah berbunyi. Anak-anak mulai membereskan tempatnya masing-masing.
Ningsih juga ikit membersihkan peralatannya. Setelah selesai, ia keluar kelas diikuti oleh murid-murid lainnya.
Dalam waktu sekejap, gerbang sekolah sudah penuh sesak oleh manusia yang ingin segera keluar dari tempat yang penuh dengan aturan ini —walau beberapa diantara murid-murid itu ada yang terpaksa atau bahkan sengaja tinggal di sekolah.
Tukang jajanan yang sedari tadi sudah 'nangkring' di depan gerbang sekolah,kini sudah dipenuhi oleh anak-anak sekolahan. Maklum, sekolah negeri selalu ramai dengan jajanannya.
"Oi, kapan nih, mau ngerjain tugas?" Kevin bertanya pada kelima temannya —satu temannya, Risa tidak masuk sekolah.
"Ntar sore lah, di rumah gue aja!" jawab Alya.
"Dapet camilan gak?"
"Lo ya, pikirannya tuh makanan mulu!" Sahut Rey
"Suka-suka, lah. Daripada lo, pikirannya ngebaperin cewek terus!"
"Nanti aku jam tiga ke rumah kamu ya, Al. Aku pulang duluan, ya!" Kata Oliv.
"Iya, aku tunggu, ya!" balas Alya. Oliv mengangguk dan langsung pergi meninggalkan mereka dan berjalan ke bapak-bapak di pinggir jalan yang menaiki motor Supra.
__ADS_1
"Ya udah. Gue pulang duluan, ya. Kat, yuk!" Alya menarik lengan Katrin yang sedang memakan cilok.
»»»