![TIME [Bad Future]](https://asset.asean.biz.id/time--bad-future-.webp)
POV KATRIN
"Apakah aku sudah mati? Apakah begini rasanya mati?
Kenapa aku masih bisa berfikir? Sedangkan tubuhku mati rasa.
Kenapa aku tak bisa bergerak, bahkan untuk menggeser bola mata saja tidak bisa.
Apakah aku sudah mati? Mengapa detak jantungku tidak terdengar, padahal ini tempat paling sunyi yang pernah kusinggahi.
Apa aku sudah mati? Kenapa aku tidak merasakan deru napasku?
Apa yang terjadi? Kemana semua orang?"
[¹]
Alya dan teman-teman nya berada di dalam mobil. Mereka sedang melihat -lihat ke bawah. Pemandangan di bawah berbeda dengan apa yang biasanya mereka temui.
Jika biasanya mereka melihat gedung bertingkat, jalan Raya, dan pohon-pohon di sekitar jalan, kini bukan itu yang mereka lihat.
Di bawah, banyak gedung bertingkat dengan dinding kaca. Di dalam gedung-gedung tersebut terlihat hijau-hijau daun.
Di luar gedung-gedung tersebut juga terlihat pot yang di buat mengelilingi gedung dengan pola yang berbeda-beda tiap bangunan.
Bagian atap gedungnya juga terdapat tumbuhan. Ada perkebunan hingga sawah.
Di bagian langit nya, banyak mobil berterbangan. Di bawahnya masih berjalan rel kereta dan motor serta beberapa mobil atau angkutan umum.
"Om, sebenarnya kita di mana, sih? Asing banget tuh kota yang di bawah," Rey mulai bertanya."Ini lagi, kenapa kita harus botak gini, sih! Terus kenapa suara nya jadi kek suara robot gini, sih?" Rey dengan sifat banyak omong nya mulai bertanya.
"Maaf kek, saya akan jelaskan semuanya setelah kita sampai di Kutub Selatan," kata Alex dengan santai. ia mengemudikan mobil terbang ini.
"Sumpah ya! Kalau gak ingat diajarin emak harus sopan santun, udah gue ajak gelut nih om om satu."
"Kakek, saya memang cucu anda. Lebih tepatnya cicit. Sekarang adalah tahun dua ribu seratus lima puluh sembilan, dan usia saya memang sudah dua puluh tujuh tahun, tapi tetap saja anda adalah kakek buyut saya," kata Alex sedikit menoleh ke belakang.
"Nih, ya om, terserah deh, om mau bilang apa. 'Kan sekarang saya masih kecil, jangan panggil kakek lah!"
"Ya, anda benar. Jika sampai banyak orang yang tau kalau kalian dari masa lalu, pasti banyak ilmuan yang ingin segera meneliti kalian.
Mulai sekarang, kalian adalah keponakan ku. Em, tunggu. Pasti akan sangat merepotkan jika kalian tetap menjadi manusia. Itu memerlukan surat-surat," Alex menjeda ucapannya.
Dari kaca spion, ia dapat melihat kalau yang serius mendengarkannya hanya Rey dan Oliv. Alya sudah tidur lagi, dan Risa mabuk udara. Risa sedang dipijat-pijat kepalanya oleh Lucky agar merasa baikan.
"Oleh karena itu kalian akan menjadi robot saja!"
"Hah? Om mau otak-atik kita biar jadi robot gitu?"
"Rey! Kecilin volume suara kamu! Kasian Risa lagi pusing tuh," Oliv mengingatkan.
"Iya sayang, maaf, ya!" Rey menatap Oliv. Oliv sendiri sibuk melihat-lihat pemandangan.
"Sukurin! Dasar buaya! Sana-sini baperin!" Risa dengan suara lemah menyahuti. Rey pun menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Kenapa baby? Are you jeolus?" Kata Rey sambil menarik hidung Risa sampai si empunya tertarik ke depan.
"Rey! Gue pusing, Sat!!!" Risa berteriak sambil memukul lengan Rey.
Alya yang duduk di samping Risa terbangun. Ia merasa sangat pusing. Tidurnya barusan bukanlah tidur yang nyaman, dan cara bangunnya yang karena kaget juga bukan cara yang baik.
Ia merasa dunia sedang berputar. Ia memegang gagang pintu. Tangan sebelahnya lagi memegangi kepalanya.
"Kelly tolong wanita yang ada di depan mu. Dia sepertinya sedikit pusing," Alex yang sedari tadi memperhatikan mulai ikut campur.
Kelly dengan sigap mengoleskan minyak kayu putih di kepala Alya. Kelly juga menyerahkan air putih untuk Alya menggunakan tangan robotnya yang ke tiga.
"Mengapa kakek dan nenek berkelahi?" Ucap Alex.
"Stop panggil saya Kakek, sebelum saya kehilangan respek pada anda tuan Alex yang sok muda," kata Rey. Memang jika dibandingkan dengan teman-teman perempuannya, dia lebih banyak berbicara.
"Bagaimana saya tidak memanggil anda kakek, jika anda sendiri adalah kakek buyut saya?" Kata Alex.
"Om, gaada yang bisa menjelajahi waktu. Saya emang ******, tapi saya gak sebodoh itu buat percaya sama om," Ucap Rey.
"Saya punya bukti nya. Tapi itu ada di rumah," Alex masih serius mengendarai.
"Kita akan sampai sekitar jam tujuh malam. Kalian bisa tidur selama jam perjalanan. Jika lapar, Kelly dan Lucky memiliki cadangan makanan. Benar, 'kan Kelky?" Sambung Alex. Kelky adalah sebutannya untuk memanggil Kelly dan Lucky bersamaan. Kelly dan Lycky juga sudah terbiasa dengan panggilan Kelky.
"Yap," Kelly dan Lucky berkata bersamaan.
Rey mulai merenggangkan tubuhnya. Ia mencoba rileks di dalam mobil terbang yang memang sangat nyaman ini.
[²]
Pukul 19.43
"Semuanya, ayo bangun! Kita sudah sampai!" Alex berseru pada orang-orang di jok belakang.
Masing-masing dari mereka masih mencoba menyesuaikan diri. Semuanya baru bangun dari tidur mereka.
Mereka keluar dari mobil terbang. Suhunya begitu dingin. Mereka sampai menggigil.
"Kemarilah kalian, udara disini sangat dingin, aku akan mengatur suhu di baju kalian," Alex memanggil. Mereka pun mendekati Alex dan Alex memutar sesuatu seperti roda di belakang leher masing-masing dari mereka.
"Bagaimana? Merasa baikan?" Kata Alex. Mereka pun mengangguk.
Alex menuntun mereka berjalan menuju rumahnya. Mereka melewati gapura besar berbentuk lingkaran dengan dinding kaca di kanan kirinya. Mereka terus berjalan hingga berada di dalam lingkaran kaca itu.
Rey dan teman-temannya melihat-lihat sekeliling. Ketika mereka sudah masuk ke dalam, seekor paus predator berenang di atas mereka.
Mereka baru sadar, mereka sedang berada di bawah air. Tepatnya di bawah laut.
"Om, kita di mana, sih?" kata Rey.
"Maaf kek, tolong berhenti panggil saya om. Cukup panggil saya Alex, dan saya akan berhenti memanggil anda kakek, tapi saya akan memanggil anda Rey," Kata Alex.
"Okey, Alex. Ekhem, sebenarnya agak gak enak sih, rasanya manggil orang yang udah umur dua puluh tahunan dengan namanya langsung. Tapi, kita ini ada di mana?"
__ADS_1
"Desa George, Laut Kutub Selatan. Kami berhasil membuat desa ini mengapung di bawah air namun tidak sampai di permukanaan.
Karena, banyak nya manusia bumi yang tinggal di Kutub, menyebabkan kurang nya lahan di daratan. Kami pun membuat desa di laut. Beberapa desa juga berada di permukaan air," Jelas Alex.
Di kaki mereka adalah tanah, terasa seperti di atas daratan. Samping kanan kiri mereka adalah rumah-rumah warga.
"Gila! Jadi ini beneran masa depan?"
"Iya. Ini adalah tahun dua ribu seratus lima puluh sembilan," kata Alex santai. "Dan ini dia rumahku," sambung Alex sambil merentangkan tangan di depan sebuah rumah sederhana dengan model seperti rumah biasanya, namun tanpa garasi.
Mereka memasuki gerbang rumah. Terlihat tanaman imitasi berada di halaman rumah. Di depan terasnya terdapat tanaman asli yang berada di dalam kotak yang di kelilingi cahaya terang.
Mereka masuk ke dalam rumah. Terlihat seorang wanita seumuran Alex menggendong seorang bayi sedang menata meja makan.
"Hai Alex, kau sudah pulang?" sapa wanita itu.
"Helen, bukankah sudah ku beritahukan padamu, jangan melakukan semua pekerjaan rumah sendirian. Apa kau tidak tahu apa fungsi diciptakannya robot humanoid?"
"Maaf Alex, aku hanya ingin kau selalu ingat dengan diriku. Mungkin semua masakanku bisa membuatmu rindu ketika kau jauh dariku."
"Kau tahu Helen? Kau selalu. bisa membuat aku bergantung padamu," Jawab Alex sambil mengecup pipi Helen.
"Alex!"
"Maaf Helen. Tapi aku sungguh merindukanmu," ucap Alex sedikit terkekeh.
"Yang barusan itu memalukan. Di depan para robot humanoid..." wajah Helen berubah menjadi merah. Ia mencoba menyembunyikannya dengan membelakangi Alex dan sibuk dengan sayur sup nya yang sebenarnya sudah matang. Bahkan, sudah tersedia di meja.
Alex masih terkekeh. Ia selalu senang membuat Helen memerah. Ia kemudia menarik Helen dan menyuruh nya untuk duduk di kursi makan.
"Kalian, buka lah kostum itu dan mulai lah makan. Aku tau, kalian pasti lapar setelah semuanya," Kata Alex, Ia lau mencedok nasi. Namun, ditahan oleh Helen, yang langsung merebut centong nasi dan menyiapkan nasi Alex. Alex pun tersenyum pada Helen, begitu sebaliknya.
"Alex, bagaimana cara membuka ini?" kata Alya.
"Maaf tuan dan nyonya. Saya lupa memberitahukan kepada kalian," kata Alex sedikit terkekeh. "Buka lah jantung kalian, dan tekan tombol di dalam nya."
Mereka mengikuti arahahan Alex. Kostum robot mereka pun mengelupas sempurna lalu nampaklah wujud asli mereka.
"Makan lah. Simpan kotak itu di atas meja. Tenang saja, masakan kami ini khas Melayu. Aku berasal dari Kalimantan," jelas Alex.
Rey mengambil nasi lebih dahulu. Ia juga langsung mengambil lauknya.
"Alex, sebagai cucuku, aku boleh 'kan ambil banyak makan untuk kali ini?" kata Rey.
"Tentu. Makan lah sepuas kalian. Jangan malu-malu!"
Setelah Alex berkata begitu, Rey tersenyum lalu mengambil nasi lagi. Alya juga ikut mengambil nasi diikuti dengan yang lain.
"Jadi, kaliam ini berasal dari mana?"
"Dari tahun dua ribu sembilan belas," jawab Rey santai.
»»»
__ADS_1