TIME [Bad Future]

TIME [Bad Future]
Lima


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Alex bersiap-siap pergi. Ia akan pergi ke Tokyo, Japan untuk memeriksa mesin waktunya.


Alya sudah membujuk Alex agar mengizinkan mereka ikut. Namun, Alex melarangnya dengan alasan, kostum robot mereka belum memiliki identitas sehingga dapat menyebabkan masalah.


Mereka pada akhirnya menurut dan tinggal di rumah bersama Helen. Helen sibuk mengurus Rachel, Putri mereka —Helen dan Alex— yang masih berusia enam bulan.


"Gue bosan, ****," kata Rey sambil gonta-ganti saluran TV. Sebenarnya, acara di dalamnya cukup menarik. Hanya saja, Rey bukan tipe orang yang suka menonton.


"Emang lo doang apa yang bosan?" Kata Risa. Ia sedang menggunakan skincare milik Helen.


Sebenarnya hanya sebuah alat yang di gosok-gosokkan ke wajah. Helen bilang, itu dapat membuat kulit lebih sehat dan glowing dengan sekali pakai selama lima belas menit. Itu juga dijadikan terapi saat lelah.


"Apa kalian mau jalan-jalan ke pasar?" kata Helen yang kini sedang merapihkan piring yang barusan dicuci oleh mesin.


"Memangnya zwman sekarang masih ada pasar?"


"Kalian pikir?" Helen sedikit terkekeh. "Pasar dan pusat perbelanjaan lain dibuat agar, bila kita bosan kita bisa jalan-jalan keluar sembari berbelanja. Karena, tidak selamanya kita betah berada di dalam rumah terus menerus.


"Lagipula, Rachel sudah tidur. Aku bisa meitipkannya pada Lucky. Kalian bosan, 'kan berada di rumah terus?" Lanjut Helen.

__ADS_1


Mereka pun menganguk. Setelahnya, Helen menyuruh mereka untuk bersiap-siap. Helen memberikan baju untuk Rey dan teman-teman nya.


Helen menunggu di ruang tamu. Ia menggukan pakaian panas yang biasa digunakan saat musim dingin.


Setelah semuanya berkumpul, Helen mengajak mereka keluar rumah. Mereka tidak menggunakan kendaraan. Hanya berjalan kaki.


Di luar rumah keadaan masih gelap. Mereka —kecuali Helen— heran dengan fenomena alam ini. Rey bahkan berkali-kali melihat di eyephone-nya, untuk memastikan jam.


"Helen, ini di Negara mana?"


"Antartika. Yah, pemanasan global menyebabkan beberapa daerah kutub mencair. Termasuk Antartika. Walau begitu, Antartika tetap sebuah daratan yang jarang mendapat sinar matahari," Helen menjelaskan. Ia menyerahkan botol minum ke masing-masing mereka.


"Mungkin kalian haus nanti," katanya.


"Meski begitu, kami tetap menggunakan cahaya yang diserap dari cahaya matahari untuk bercocok tanam. Cahaya matahari hanya datang saat-saat tertentu saja," Jelas Helen. Rey dan ketiga temannya hanya manggut-manggut.


"Kupikir masa depan akan lebih canggih dengan bangunan lebih maju. Ternyata sama saja. Bahkan kalau tidak ada ruang kaca ini, aku dapat mengira ini adalah zamanku," kata Rey. Entahlah mengobrol dengan Alex dan Helen dapat membuat gaya bahasa mereka mengikuti gaya bahasa Alex dan Helen.


"Memang. Seharusnya tidak seperti ini. Namun, karena robot-robot jahat itu, kita harus pindah ke Antartika dan tentu saja dengan ekonomi yang menurun," jelas Helen. Rey dan teman-temannya menyergit heran. Seolah mengerti, Helen membuka suara untuk menjelaskan.

__ADS_1


Lima tahun yang lalu, sebuah lembaga menciptakan robot dengan kecerdasan buatan, dan memproduksinya dalam jumlah yang banyak. Sayangnya, robot-robot itu benar-benar mirip manusia —memiliki akal budi. Mereka dijadikan pelayan, dan membantu pekerjaan manusia.


Itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Namun, sama halnya dengan manusia, beberapa dari mereka memberontak. Mereka ingin agar kaum robot berkuasa di atas manusia. Mereka mempengaruhi robot-robot lain untuk memberontak.


"Yah, tentu saja mereka menang. Mereka diciptakan memiliki alat perlindungan di tubuh mereka. Mereka mampu mengambil alih Angkatan darat, laut, dan udara," Helen meneguk air minumnya.


Manusia saat itu tersisa kurang lebih seribu orang di dunia ini. Melihat banyaknya korban berjatuhan, mereka membuat perjanjian. Isinya yaitu, manusia hanya boleh tinggal di kutub Selatan, dan hanya yang memiliki surat izin yang boleh keluar dari kutub Selatan.


"Pada akhirnya, kami membuat peradaban baru di tempat ini," Helen menutup penjelasannya.


[¹]


"Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Alex begitu sampai di lab.


"Aku tak yakin. Lima belas menit yang lalu mereka masih di lubang hampa itu. Kini, sensor tidak mendeteksi adanya mereka. Aku yakin, mereka pasti sudah di keluarkan," kata XiaoQi, rekan kerja Alex. (Anggap saja mereka berbicara dengan bahasa Inggris).


"Bagaimana ini? Mereka benar-benar sudah menghilang!" Alex mengacak rambutnya.


"Aku tak yakin mereka sudah menghilang. Pasti ada kesalahan. Kita harus memperbaikinya," Kata XiaoQi lagi. Gadis yang sekitar berusia dua puluhan itu mencoba untuk menyemangati Alex. Ia tahu, Alex pasti merasa sangat bertanggung jawab atas semua kejadian ini, karena ia yang sudah keras kepala ingin membuka mesin waktu itu.

__ADS_1


"Ya, kita harus memperbaikinya."


☆☆☆


__ADS_2