![TIME [Bad Future]](https://asset.asean.biz.id/time--bad-future-.webp)
Bulat, putih, bulan. Ya itu bulan. Tapi, kenapa gede banget? Gue langsung duduk buat liat bulan yang benar-benar gede banget, gila! Gue gak pernah lihat bulan segede itu.
"Miaaaww," gue nengok ke paha gue. Seekor kucing Oren duduk di atas paha gue. Dia pasti tadi tidur di atas gue, terus pas gue duduk, dia jatuh ke paha gue. Tapi gue gak ngerasain.
Tunggu, ini kaya mirip kucingnya pak Bejo, guru Biologi gue. Gue elus-elus bulu si Oren yang bulunya lembut banget kaya kain sutera, tapi boong.
Gue ingat kejadian sebelum gue pinsan. Gue masuk ke dalam mesin. Feeling gue, sekarang gue ada di tempat antah berantah karena mesin itu yang bawa gue ke sini.
Gue liat sekeliling. Gedungnya, tiangnya, keadannya benar-benar asing. Yang gak asing cuma bukit yang ada di belakang salah satu gedung bertingkat yang keliatannya sih, formal.
Bukit itu, bukit yang ada di belakang sekolahan gue. Gue bisa ngenalin karena sering liat bukit itu. Tapi anehnya, kenapa gedungnya beda dan lebih megah? Itu bukan sekolah gue.
Gue gendong si kucing oren tadi. Gue jalan ke arah gedung, siapa tau ada orang yang bisa gue temuin dan gue tanyain.
Si kucing keliatan takut. Dia dari tadi ngumpetin mukanya ke dada gue yang ketutup sama seragam sekolah.
Gak, dada gue rata, gaada benjolan buat dijadiin bantal si mpus. Gini-gini gue masih normal, ya.
Di gerbangnya, gue berhenti dan gak liat ada orang. Gue liat ke dalam, samar-sanar keliatan ada orang yang lagi jalan di lorong di seberang lapangan.
Kayaknya sih, ini gedung sekolahan. Tapi, masa iya jam segini masih ada orang di sekolah?
"Hallo! Bisa bantu saya?" gue sedikit berteriak supaya orang yang gue lihat itu bisa denger gue.
Eh, tunggu. Kalau yang gue liat bukan orang gimana? Gue tutup mulut gue lagi. Gue takut itu bukan orang. Sayangnya bayangan yang tadi udah liat gue dan mau jalan ke arah gue.
Gue gemeteran sambil megangin si mpus. Gue bingung harus apa. Kalau dia beneran setan, pasti bakal ngejar gue walau pun gue lari-lari jauh.
Tuh, kan bener dia setan. Masa jalan dari seberang lapangan yang lebar banget gitu bisa secepat itu? Sekarang dia udah Deket sama gerbang.
Penampilannya kayaknya dia perempuan. Rambutnya panjang di gerai, pake jas hitam panjang ke bawah. Dia pakai kaca mata dan celana pendek sepaha. Gue bisa liat dia, karena cahaya di sekitar dia itu terang gitu, jadi kaya malaikat gitu. Padahal lampu cuma satu, di ruang satpam. Cewek secantik ini gak mungkin setan.
Dia senyum ke gue. Gue balas senyum. Tapi, kok dia kek takut gitu ya, mau deketin gue?
"Saya mohon tolong saya. Saya tersesat," Gue nyoba yakinin dia kalau gue orang baik.
"Gilang?" katanya.
Gue noleh ke kanan ke kiri. Nih, cewek ngomong sama siapa?
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu sampaikan? Apa kamu belum tenang di atas sana?" katanya lagi. Gue noleh lagi nyari orang yang dia aja omong.
Tadia dia bilang, "apa kamu belum tenang?" Artinya, dia lagi ngomong sama setan dong!
"Kamu ngomong sama aku?" Dia ngangguk. Tunggu, dia denger gue, lihat gue, tapi kok manggil gue Gilang? Ini bukan gedung RSJ, kan?
"Aku bukan Gilang. Aku Kevin," kata gue. Si mpus gerak-gerakin kepalanya. Dia liat ke cewek di seberang gue.
Cewek itu mendekat. Matanya tajam banget ngeliatin gue. Sekarang, dia ada di depan gue. Kita cuma di batasin pagar.
"Kamu, mirip banget sama Gilang," Dia ngeliatin muka gue kaya peneliti. Gue sedikit deg degan diliatin kaya gitu. Mana dia cantik banget lagi.
"Ah, kalian berbeda. Gilang punya garis di pipinya. Siapa kamu?" katanya lagi.
"Aku, Kevin. Aku Gatau ini di mana, aku tersesat."
"Terus gimana Lo bisa ke sini?" Okey, dia ngasih kode kalau supaya ucapan kita Santai aja.
"Gue gak tau. Gue tadi mau manggil guru gue buat ngajar di kelas. Pas sampai di ruangannya gue ketarik ke dalam mesin yang gue gatau mesin apaan. Tiba-tiba, gue udah ada di bawah itu," gue nunjukin trotoar tempat awal tadi gue datang.
"Hah? Gak mungkin," dia palingin muka ke arah tanah. "Siapa nama gurunya?" lanjutnya.
"Ayo masuk," kata dia. Tiba-tiba pintu gerbangnya kebuka. Gue liatin gerbangnya. Gaada yang dorong kok bisa ngebuka? Aneh.
"Ikut gue," Dia mulai jalan di depan gue. Gue ngikutin dia dari belakang. Gue sedikit kewalahan ngikutin dia. Dia cepat banget jalannya. Gue sampai sedikit lari buat nyeimbangin dia.
Dia nengok ke gue. Ngeliat gue yang lari-larian, dia cuma datar aja gitu. Pas gue udah ada di samping dia, dia ngelepas sepatunya. Dia jadi nyeker gitu. Setelah dia nyeker, jalannya jadi normal. Berarti sepatu itu punya pengaruh.
Akhirnya, gue sama dia jalan bersebelahan. Gue perhatiin dari tadi, dia benera ngeluarin cahaya. Keliatan baget dari sekeliling dia yang keliatan gelap sedangkan dia benar-benar terang. Gue sedikit kena cahaya terang dari dia. Dia kaya lampu. Atau, malaikat?
"Jadi, lo muridnya pak Jojo?" akhirnya dia buka pembicaraan duluan.
"Iya."
"Gue Renatta. Panggil Nat," dia ulurin tangannya ke gue. Gue terima uluran tangannya.
"Sekilas, lo mirip banget sama Gilang. Makannya gue pikir lo Gilang."
"Gilang itu siapa?"
__ADS_1
"Pacar gue. Tapi udah meninggal seminggu yang lalu."
"Sorry, gue gak maksud."
"Iya santai aja. Betewe nanti lo tinggal sama gue aja, ya di asrama sekolah ini," dia senyum ke gue. Pikiran gue jadi ngawur ke sana-sini.
"Maksud lo, kita tidur bareng?" dia langsung nonjok hidung gue. Gue megangin hidung gue yang sakit habis dia tonjok. Untung gak ada darah yang keluar.
"Gak. Lo tidur di kamar yang beda," dia mulai datar lagi. Gue cuma diem aja nunggu omongan dia selanjutnya.
Sampai di depan pintu sebuah ruangan, dia gak ngomong-omong. Apa dia marah, ya?
"Ini ruang lab. Ada temen-temen gue juga di dalamnya. Lo bisa gabung sama mereka supaya lo gak sendirian. Gue gak bisa bareng terus sama lo, soalnya kita beda kelamin," kata dia datar sambil balik pergi. Waktu dia mau jalan, gue tahan tangannya pake tangan gue yang gak di lendotin mpus.
"Lo marah ya, sama gue? Gue gak maksud ngomong kaya tadi. Gue gak beneran, cuma bercanda," dia turunin tangan gue pelan-pelan.
"Gue gak marah. Muka gue emang datar gini," dia langsung pergi ninggalin gue.
"Oi! Gue gak kenal sama temen-temen lo!" Gue teriak pas dia udah agak jauh. Gue lupa, gue, kan baru di sini.
"Mereka kenal lo. Nama lo, sekarang Gilang!" kata dia. "Nih tangkap!" kata dia terus ngelempar apa benda bulat ke arah gue. Gue taruh si Mpus di bawah biar gue bisa ambil benda itu.
Gue langsung tangkap, tapi sayangnya dia gelinding. Gue nyari-nyari dia di bawah. Untung ada cahaya lampu yang terang di sini. Dan untungnya, warna bendanya bulat. Jadi, gue bisa lihat dia karena mencolok.
Gue ambil benda itu. Di atasnya ada tulisan.
'Di dalam ada anting sama tindik. Lo pake itu di telinga sama bibir lo. Di dalam nya juga ada kaca sama gambar tempat lo harus pake tindiknya. Gak usah takut. Tindiknya gak benar-benar bikin lubang.'
Gila! Ini alat bener-bener canggih. Alat ini nampilin tulisan bergerak, kaya video.
Gue buka tutup alat ini. Sekarang gue nyebut barang ini alat, bukan benda lagi. Karena dia emang kaya alat gitu.
Bener, di dalamnya ada anting sama tindik. Gue pasang menurut sama yang ada di gambar. Selesai masang, gue denger ada suara manggil nama gue. Gue nengok nyari sumber suara.
"Bodoh! Gue ngomong sama lo dari anting ini. Ini fungsinya kaya walki talki di zaman Lo. Tapi lebih canggih. Gue bisa liat dan dengar aktivitas yang lo lakuin. Gue bakal dikte apa yang harus lo lakuin. Jangan pecicilan. Stay Cool, lo sekarang Gilang, bukan Kevin!"
"Okey."
♥♥♥
__ADS_1