![TIME [Bad Future]](https://asset.asean.biz.id/time--bad-future-.webp)
Alex bangun pagi seperti biasanya. Ia melakukan senam pagi seperti yang biasa dilakukannya. Sementara di dalam rumah, Helen sudah mulai menyiapkan sarapan.
Alex senam di rooftop rumahnya. Ia senam sambil melihat-lihat sekeliling. Di rumah yang berada di samping kanannya, ia dapat melihat seseorang cukup tua. Alex biasa memanggilnya Profesor Hermes. Profesor Hermes sedang melihat kaca yang berisi tanaman.
Teringat dengan kejadian yang terjadi kemarin, Alex mendatangi Profesor Hermes. Ia turun melalui tangga otomatis yang berada di rooftop nya. Setelah sampai di sana, ia segera membuka tembok yang dijadikan pembatas rumah Alex dan Profesor Hermes.
"Selamat pagi, Prof!" Sapa Alex.
"Pagi Alex. Ada perlu apa kau datang kemari?" Profesor Hermes menghentikan pekerjaannya dan mengajak Alex duduk di kursi terasnya.
"Prof, ada sedikit kesalahan," Alex memulai.
"Kau selalu membuat kesalahan, dan aku selalu membantumu. Kapan kau dapat membiarkanku beristirahat?" Profesor menghela napas nya.
Alex menunduk. Memang, ia selalu membuat kesalahan saat percobaan. Ia jadi merasa kurang enak saat profesor mengeluh.
"Tapi Alex, kau adalah tanggung jawabku. Orang tuamu menitipkanmu padaku. Jadi, apa kesalahnmu kali ini?"
"Aku, em... aku, telah mengaktifkan mesin waktu," Alex menjelaskan terbata-bata. Profesor menunggu Alex mengatakan selanjutnya.
"Mesin waktunya malah membawa orang dari masa lalu, ke masa kini da..."
"Sudah ku katakan, sebelum menggunakannya, kau harus mempelajari mesin itu sampai kau benar-benar paham! Apa tidak cukup aku memberimu wejangan selama ini?" Profesor meninggikan suaranya. Ia menatap Alex tajam. Alex yang di tatap seperti itu hanya menunduk membiarkan profesor memarahinya.
"Sekarang, di mana dia?" Profesor menurunkan volume suaranya. Ia berdiri dari duduknya.
"Mereka ada di rumahku," Alex masih menunduk. Profesor meninggalkan Alex berjalan melaui tembok yang tadi Alex lalui.
Di depan rumah, terlihat Helen yang sedang panik. Ia berjalan cepat menghampiri profesor Hermes.
"Ayah, ada apa? Kenapa tadi kau berbicara dengan suara yang tinggi?" Helen berbicara saat ia sudah berhadapan dengan profesor.
__ADS_1
"Suamimu itu, selalu membuat ulah. Untung kau mencintainya, kalau tidak, aku sudah mengirim dia ke matahari supaya ia menjadi daging panggang," Profesot melirik sekilas ke arah Alex yang berada di belakangnya. Alex masih menunduk merasa bersalah.
"Ayah, Alex akan bertanggung jawab atas kesalahannya."
"Tapi harus melibatkan aku. Sebaiknya, setelah ini kau berhenti jadi ilmuan dan mulai lah berjualan sayur!" Profesor berjalan mendahului Helen dan Alex.
Profesor tidak mempunyai istri. Tapi, ia mengangkat Helen sebagai anaknya. Walau Helen tidak sepintar dirinya, namun Helen mampu membuktikan pada profesor bahwa ia seoarang yang suka meneliti seperti profesor.
Helen dulunya yatim piatu yang tinggal di panti Asuhan. Dia memiliki fisik khas ras Kaukasoid sedangkan Profesor ciri fisik khas ras Melayu.
"Helen, di mana orang-orang itu?"
"Ayah, mereka masih tidur. Aku tidak bisa membangunkan mereka. Mungkin mereka masih merasa lelah setelah melakukan time travel."
"Alex, ayo pergi ke lab mu!" Kata Profesro jalan kembali ke luar rumah.
"Prof, teman-teman ku ada di dalam dan masih tidur. Aku harus mengajak mereja supaya bisa kr lab," kata Alex.
[1]
Katrin memandang keluar gedung. Gedungnya memang di desain dapat melihat pemandangan di luar, namun orang luar tak akan bisa melihat ke dalam gedung.
"Keyla, bagaimana caranya aku pulang? Aku takut keluargaku di rumah mencariku."
"Tenang saja. Jika kamu pulang, kami akan kembalikan kalian di tempat semula dengan waktu setelah terhisabnya kalian," Keyla meneliti file berisi perkembangan Katrin.
"Kapan aku bisa pulang?"
"Setelah kau dan semua teman-temanmu sehat. Kami tidak mungkin mengirim kalian satu-persatu," Katrin memperhatikan Keyla yang sedari tadi sibuk dengan komputer mejanya.
"Apa tidak ada film di zaman ini? Kau sangan bosan," Katrin kembaki berbaring dan menatap kosong ke atas awan.
__ADS_1
"Televisi!" Ucap Keyla. Tiba-tiba muncul sebuah layar tipis dari atap ruangan. Katrin terkejut dengan kedatangan TV itu yang tiba-tiba.
"Katakan jenis film apa yang mau kau tonton. Setelah muncul semua judulnya, kau bisa langsung menyebutkan judulnya," Keyla masih sibuk sendiri. Katrin yang langsung mengerti pun melakukan apa yang di katakan Keyla.
Sebenarnya, ada fitur 5 dimensi di TV tersebut agar si penonton benar-benar merasakan berada di dalam film nya atau bahkan menjadi pemeran dalam film. Namun, Keyla yang sudah terlanjur sibuk dengan pekerjaannya. Ia malas mau menjelaskan kepada Katrin. Jadilah Katrin hanya menonton saja tanpa ada kesan-kesan tertentu.
Lagipula, Katrin masih lemah dan bisa saja tidak kuat karena adegan-adegan dari film.
[2]
Profesor Hermes kembali lagi ke rumah Alex saat sudah pukul sepuluh pagi. Ia datang bersama dengan Dylo, robot humanoidnya.
"Mari kita perbaiki ini dengan mengembalikan mereka kembali ke Zaman mereka," Alex mengatakan.
"Alex, aku tidak main-main tentang menjadi tukang sayur," Profesor Hermes mengangkat kaki kanannya ke atas kaki kirinya dan menyandarkan tubuhnya pada sofa dentan tangan terlentang.
Alex hanya menunduk mendapat tatapan heran dari orang-orang.
"Begini, kita akan mengembalikan kalian sekarang. Aku akan memperbaikinya begitu kita tiba di sana," Semua orang mengangguk mengiyakan.
"Prof, kami juga kehilangan tiga orang teman mereka yang terjebak di dimensi waktu," XiaoQi mengatakan dengan wajah datarnya.
"Alex, kau benar-benar sangat menyebalkan," Alex menunduk. "Dylo, siapkan mobil kita."
Profesor Hermes nampak menghubungi seseorang. Ia menjauh dari perkumpulan ke arah sudut ruangan.
"Ris, kalau kita di sini terus kapan gue bisa nikah sama Oliv?" Rey sedikit berbisik pada Risa.
"Halu lo kejauhan," Risa menonyor kepala Rey.
☆☆☆
__ADS_1