![TIME [Bad Future]](https://asset.asean.biz.id/time--bad-future-.webp)
Alya sedang sibuk mengetik ketika Rey dan Kevin bermain game online. Alya dibantu Katrin dan Oliv. Mereka saling bergantian mengetik dan membacakan bahan yang harus diketik.
Alya, Katrin, dan Oliv tidak memperdulikan Rey dan Kevin. Mereka sudah tau konsekuensi bila satu kelompok dengan Rey dan Kevin, atau dengan beberapa anak laki-laki lainnya. Menurut mereka, asalkan Rey dan Kevin tidak berisik atau mengganggu, mereka tidak akan menyulitkan Rey dan Kevin dengan tidak mencantumkan nama mereka, agar guru mengira kalau mereka tidak mengerjakan tugas, dan akhirnya tidak memiliki nilai.
Tiga puluh menit waktu sudah berjalan. Tapi kelima anak di ruangan bernuansa aesthetik ini —yang kini sudah berantakan karena Kevin— masih tetap dalam kegiatan mereka.
'Ceklek'
Pintu terbuka memperlihatkan dua orang. Seorang lelalaki —namanya Gabriel— dan seorang perempuan —namanya Risa. Gabriel membawa nampan yang berisikan tumpukan gelas plastik, dengan satu teko ukuran sedang berisi minuman berwarna oranye. Risa membawa dua buah bungkusan biskuit.
"Ouchh, so sweet," Rey meledek Risa dan Gabriel —masih tetap fokus pada game nya. Risa langsung mendekati Rey. Biskuit yang tadi di pegangnya diletakann sembarangan. Ia mengambil bantal dan mengayunkamnya ke kepala Rey.
"Ish, awas, ah! Lagi mabar juga. Ntar gue kalah, nih!" sebelah tangan Rey memegang bantal yang di ayunkan Risa, sebelahnya lagi masih menekan-nekan layar ponselnya.
"Siapa suruh gangguin gue! Gue doain kuota lo habis!"
"Baru ngisi tadi pagi, yhaaaa!" Risa langsung mengambil guling dan kembali mengayunkan ke kepalanya Rey.
__ADS_1
"Buset dah, galak bener neng, lagi PMS?"
"Rey, ih!"
"Apa sayang?"
"Najis, uek gue denger si Rey ngomong sayang," Katrin menimpali.
"Sakit telinga gue sumpah dengernya," Alya ikut menanggapi, tapi matanya masih fokus pada laptop di hadapannya.
"Iri bilang sahabat!"
Mereka kembali fokus pada kegiatannya masing-masing. Risa yang tidak punya kegiatan pun ber selfie ria. Suara ketikan, suara jepretan kamera, suara wanita yang berasal dari game yang dimainkan oleh Rey dan Kevin, suara Rey dan Kevin yang greget dengan permainannya, dan suara Oliv yang sedang membacakan materi-lah yang menjadikan ruangan ini sedikit berisik.
"INNALILLAHI, HP GUE MATI PE'AK!" Rey berteriak.
"Rey, gak usah teriak-teriak, dong. Ganggu, tau," kata Oliv sambil melirik sekilas pada Rey.
__ADS_1
"Iya my honey, aku janji gak teriak-teriak lagi," kata Rey berniat menggombali Oliv. Oliv tidak menyahuti dan kembali membacakan materi. Lain dengan Risa yang malah tertawa.
"Hahaha... Karma tuh! Udah hape mati, di cuekin lagi sama Oliv! Emang nasib, udah nyungsep, masuk ke selokan lagi, BHAHAHHAAHA!" Risa tertawa sambil mengarahkan mulutnya ke muka nya Rey.
Rey mencubit pipi chuby Risa. Ia berakata, "honey, aku barusan gak nyungsep ke selokan. Jadi, kamu tenang aja, ya. Gak usah khawatir gitu."
"Paan sih, lu!" Risa menepis tangan Rey. Lalu, ia mengambil bantal dan melemparkannya tepat di kepala Rey.
Terasa ada angin sepoi-sepoi yang masuk ke dalam kamar. Lama-kelamaan angin itu terasa makin kencang.
Bingkai foto mulai berjatuhan, buku buku terbuka berlembar-lembar. Benda yang berada di atas meja berjatuhan. Mereka saling bertatapan. Terlihat ketakutan dari wajah mereka.
Angin terasa makin kencang, semua barang di kamar mulai berterbangan termasuk lamari dan kasur king size milik Alya -hanya sedikit terangkat.
Tubuh mereka terasa makin ringan. Tubuh mereka sudah terangkat. Mereka mulai berteriak. Sebuah lubang kecil yang memutar di langit-langit muncul dan semakin membesar.
Badan mereka dan barang-barang mulai terbang memutar seperti tornado. Mereka semakin naik ke atas langit-langit mendekati lubang hitam yang ukurannya sudah sangat besar.
__ADS_1
Teriakan mereka lebih kencang hingga terlihat urat-urat di leher mereka. Entah kenapa suara ribut di kamar ini, tak membuat satu orang pun mendekati kamar ini dan melihat apa yang sedang terjadi.
»»»