![TIME [Bad Future]](https://asset.asean.biz.id/time--bad-future-.webp)
"Gio! Lihat ini, makanan ini aku yang membentuknya! Aku cocok kan menjadi seorang koki?" Asuka menyerahkan pasta yang dibawanya dari dapur rumah sakit untuk makanan Gabriel. Asuka hanya mengubahnya menjadi bentuk love, namun tidak memasaknya.
Gabriel memperhatikan piring yang dibawa Asuka. Terlihat mie yang di bawanya di atur-atur dalam bentuk love dan juga beberapa di sekelilingnya.
"Apa ini spesial untukku?"
"Ya, tentu saja. Walau aku tidak membuatnya sendirian, tapi setidaknya aku membantu Oin dalam memasaknya," Asuka mengembangkan senyumannya dan membuat mata bulatnya menjadi sipit.
Gabriel tersenyum menanggapi. Ia mengambil alih piring di tangan Asuka dan mulai memakannya.
"Gio, Keyla dan temanmu Katrin, akan datang ke sini menjengukmu," Asuka mendudukan dirinya di dekat Gabriel.
"Siapa mereka?"
"Keyla, seorang perawat di rumah sakit ini. Katrin, temanmu yang kami temukan di dimensi waktu bersamamu. Keadaannya sangat lemah. Tapi setidaknya, dia mengingat semuanya," Asuka memperhatikan Gabriel yang sedang memakan pastanya. Gabriel hanya mengangguk-angguk.
"Apa kau mau makan?" tanya Gabriel sambil mengangkat sendok berisi pasta, bermaksud menyuapi Asuka.
"Maaf, tapi aku diprogram tidak dapat makan," Asuka masih tetap tersenyum.
"Maksudmu?"
Seseorang mengetuk pintu. Asuka menatap ke pintu seperti sedang memata-matai.
"Nah, itu mereka," Asuka tersenyum pada Gabriel. Pintu pun terbuka memperlihatkan dua orang wanita. Yang satu di kursi roda dan yang satu lagi berdiri di belakang kursi roda.
"Gabriel? Jadi lo yang hilang ingatan?" Seru wanita di kursi roda. Dia Katrin. Katrin berjalan memasuki ruangan dengan kursi rodanya. Katrin berseru dalam bahasa Indonesia.
"Siapa Gabriel?" Gabriel celingak-celinguk menatap orang-orang di sekitarnya. Gabriel merasa aneh, karena ia juga seperti asing dengan bahasa yang diucapkan Katrin, tapi kenapa ia bisa mengerti?
"Gio, Gabriel itu kau. Akhirnya aku tau siapa nama asli mu!" Asuka terlihat bersemangat dan merekatkan kedua tangannya lalu meletakannya di depan dada. "Tapi, aku lebih suka memanggilmu Gio. Bolehkah?"
__ADS_1
"Iya, panggil aku sesukamu asal itu bagus," Gabriel tersenyum pada Asuka.
"Ekhem," Katrin berdeham. "Jadi Asuka, bisa kau berikan padaku rincian data Gabriel?"
"Ah, tentu Keyla. Aku akan mengirimnya padamu, kupastikan kau dapat menemui itu di tab mu," Asuka tersenyum.
"Di mana temanku satu lagi yang kalian ceritakan?"
"Ah, dia sedang bersama istrinya."
"Gila, masa iya baru sampai di masa depan udah dapet istri aja!" Gumam Katrin.
"Maaf, kau bilang apa?"
"Tidak. Gabriel semoga lo cepet sembuh. Gue cuma mau kasih tau aja, nama bapak lo itu Pak Samsudin, kalau emak lo itu ibu Teri. Semoga aja lo cepet ingat, gue balik dulu!" Katrin memutar kursi rodanya. "Keyla, ayo kita kembali ke kamar!"
Keyla dan Katrin berjalan keluar kamar. Gabriel mencoba mengingat nama Samsudin dan Teri. Ia merasa tidak asing, tapi ia juga tidak tau mereka siapa. Jika benar Samsudin dan Teri adalah orang tuanya, pasti mereka sudah mencemaskan ia sejak lama.
"Mungkin kau tidak sadar. Tapi, sebelum kau sadar, akan ku peringatan dulu. Jangan merasa nyaman dengan Asuka. Ia hanya robot perawat biasa. Dia tidak bisa memberikanmu kenikmatan, kecuali kalau dia robot sex," Keyla berbalik lagi meninggalkan Gabriel yang menyerngit heran dengan kata-kata Katrin.
'Apa di zaman sekarang, membaca pikiran dan perasaan orang adalah hal yag mudah?' batin Gabriel.
[¹]
"Nah, sudah selesai. Hanya masalah seperti ini saja kalian sampai kewalahan?" Profesor Hermes baru saja memperbaiki mesin waktu.
Helen yang juga berada di sana memberikan profesor minum. Begitu juga pada Lucky dan Kelly. Mereka memang terkadang makan dan minum seperti manusia. Tapi mereka tidak seperti manusia yang memerlukan makan rutin setiap harinya.
"Prof, bagaimana caranya kita menyelamatkan teman-teman mereka?"
"Tenang, aku sudah mengarahkan seseorang yang dekat dengan mereka untuk menjaga mereka. Kita hanya perlu menjalankan misi George yang gagal karena tidak mendapatkan jalan masuk."
__ADS_1
"Prof, kita bahkan tidak tau di mana letak gedung Venus.
Misi George, adalah misi yang pernah dilakukan seorang angkatan militer bernama George dengan beberapa anak buahnya. Misi tersebut adalah mematikan semua robot yang berada di bawah jaringan Venus.
Venus adalah perusahaan yang mengembangkan robot-robot humanoid yang kini menguasai bumi. Robot-robot itu ternyata dapat di kendalikan dan pengendalinya berada di gedung Venus.
Gedung Venus sendiri tidak diketahui letaknya. Dugaan yang ada adalah, gedung Venus di tidak berada di bumi, tapi di luar angkasa, atau di Venus sesuai sengan namanya. Dugaan lainnya, gedung Venus berada di dasar laut, pulau terpencil atau gedung Venus menggunakan teknologi imposible.
Dugaan terakhir sangat lemah, karena menggunakann teknologi tak terlihat pada gedung adalah ilegal. Tidak mungkin perusahaan sebesar itu dapat berkembang walau melawan pemerintah.
"Aku sudah menelitinya sejak lama. Semua mata-mataku sudah kuarahkan untuk mencari data tentang gedung Venus. Kami sudah mendapatkannya. Letaknya sangat jauh di mantel dalam bumi."
Semua nya melongo. Tidak menyangka selama ini ada bangunan di mantel dalam bumi. Benar-benar Venus adalah perusahaan paling maju di zaman ini.
"Kalian akan pulang lebih dulu," profesor mengotak-atik mesin waktunya.
"Kami datang bertujuh pulang juga harus bertujuh," Rey menegaskan.
"Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kalian karena teralalu lama di zaman ini."
"Kami tidak bisa menjelaskan apa pun pada orang tua mereka kalau mereka tau hal ini."
"Kalain dan mereka akan dikembalikan di tempat dan waktu yang sama. Dua menit setelah terajadinya badai di kamar kalian. Beserta barang-barangnya."
"Aku mohon, kami harus memastikan mereka baik-baik saja. Jika kalian tidak mau kami membantu, kami bisa rebahan di kamar sambil main Hp," Risa menoyor kepala Rey.
"Hp udah gak jaman kali sekarang," kata Risa.
"Baiklah. Kalian boleh di sini saja. Berjanjilah untuk tidak mengacau. Cukup Alex saja si tukang pengacau," Alex nyengir kuda dan berlalu keluar ruangan karena malu.
☆☆☆
__ADS_1