![TIME [Bad Future]](https://asset.asean.biz.id/time--bad-future-.webp)
"XiaoQi, apa yang harus aku katakan pada kakek buyutku? Aku tak bisa mengecewakannya dan mengatakan kalau teman-temannya menghilang," Alex memegangi kepalanya. Ia begitu menyesal tidak dapat menyelamatkan teman-teman kakeknya.
XiaoQi hanya diam. Ia masih sibuk mengotak-atik mesin waktunya. Mesinnya berupa besi lengkung yang dibuat berbentuk bulat.
Saat diaktifkan, bagian tengahnya akan mengeluarkan portal berwarna hitam. Mereka kadang menyebutnya dengan lubang hitam.
"Alex! Gawat! Alex!" Alfin, salah satu rekannya Alex menghampiri mereka dengan terburu-buru.
"Tenanglah Alfin. Ini minum dulu!" Alex menyodorkan segelas air putih yang memang tersedia di meja kerjanya.
"Aku tak bisa minum dengan kostum robot. Kau mau membuatku tersetrum?" Alfin marah-marah persis perempuan ketika sedang menstruasi. Alfin duduk di kursi sambil menetralkan debaran jantungnya.
Alex hanya menghela napasnya. Ia sangat tahu bagaimana sikap Alfin. Sebagai orang yang sudah lama berteman, Alex sudah bisa memaklumi sikap Alfin.
"Kau mau bilang apa Alfin?" tanya XiaoQi.
"Ah, iya," Alfin menghela napas nya. "Aku mendapatkan kabar buruk. Anak-anak yang kita temukan di dalam portal, mereka sudah keluar!"
"Wah, itu kabar baik Alfin. Apa aku harus mengajarimu tentang sesuatu yang membuatmu bahagia, dan sesuatu yang membuatmu sedih?" kata XiaoQi.
"Bukan begitu, bodoh! Kau harus mendengarkan seseorang saat bicara hingga habis," Alfin menjeda ucapannya.
"Yang menjadi masalahnya adalah, mereka ditemukan di mesin waktu milik King. Sekarang, bagaimana kita bisa membawa mereka kembali kepada kita?"
"Bagaimana itu bisa terjadi? Oh, bagaimana caraku bisa menyelamatkan mereka?" Alex mengacak rambutnya.
"Kita," XiaoQi mengelus bahu Alex. Alex menatapnya dengan tatapan kesedihan. "Aku akan membantumu. Begitu juga Alfin," lanjut XiaoQi.
"Hey, kenapa aku harus ikut?" Alfin menyuarakan ketidaksukaannya.
__ADS_1
"Karena kau, yang paling hebat diantara kami," Kata XiaoQi sambil tersenyum.
"Kau selalu begitu," Alfin berjalan untuk mengecek mesin waktunya meninggalkan Alex yang masih berpikir dan XiaoQi yang sedang merapihkan meja.
[¹]
Katrin membuka matanya. Ia memfokuskan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Belum apa-apa ia sudah disambut oleh cahaya lampu di atas kepalanya.
'Di mana, nih?' Katrin memegangi kepalanya yang terasa pening. Di sekitarnya terdapat banyak alat-alat yang ia tak tahu apa namanya dan fungsinya, sangat asing.
'Drap, drap,' Katrin mendengar suara sepatu mendekat. Ia yakin itu adalah dokter. Ia juga yakin, ruangan putih dengan banyak alat ini adalah salah satu ruang inap di rumah sakit.
'Kenapa gue bisa ada di rumah sakit?'
Sekeras apa pun Katrin mengingat, ia tak bisa. Ia sudah benar-benar melupakan apa yang terjadi hingga membuatnya berada diruangan ini.
Seseorang dari luar membuka pintu. Katrin melihat seorang wanita dengan wajah oval dan mata bulatnya. Dengan pipi chubby nya ia terlihat seperti sebuah boneka yang sangat lucu.
"Hai, sudah bangun?" sapa nya, dalam bahasa Inggris. Katrin mengangguk sebagai jawaban.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" Wanita itu kembali bertanya.
"Sedikit pusing," Untung, Katrin bukanlah seorang yang tidak tahu bahasa Inggris. Ia sangat lancar berbahasa Inggris. (Sekali lagi, anggap mereka berbicara dalam bahasa Inggris).
"Baiklah, aku harus memeriksamu. Kita akan mengobrol lagi nanti selesai aku mendapatkan laporan mengenai tubuhmu," wanita itu tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
'Fiks, gue udah mati.'
[²]
__ADS_1
"Perkenalkan, tuan Garry Dan nyonya
Finsen. Mereka adalah penjual sayur favoritku. Sayuran mereka benar-benar sangat segar, dan besar," Helen mengambil sebuah wortel yang besar, benar-benar besar. Wortel raksasa seukuran lengan pria dewasa yang berotot sedang.
"Buset, bisa buat makan seminggu kalau sendirian," Rey berbisik pada Risa.
"Harganya mahal, ****! Liat, tuh sampai lima dolar, gila. Di bapaknya Katrin aja lima ribu dapet tiga yang montok-montok," Risa menimpali.
"Beda zaman, say."
Risa memperhatikan semua sayuran yang disediakan pemilik warung. Semuanya tidak normal, ukurannya. Tapi, untuk bentuknya, tetap sama seperti sayuran selayaknya.
"Helen, apa itu?" Oliv menunjuk kumpulan gajah berbulu di lapangan yang berada di tengah-tengah pasar.
"Mamoot kloningan," Helen menjawab santai sambil memilih-milih sayuran.
"Kloningan?" Rey, Risa, Alya, dan Oliv kompak berucap.
"Iya. Maksudnya, buatan manusia. Bukan alami," mereka hanya mengangguk-angguk. Setidaknya, mereka pernah mendengar sedikit yang namanya kloningan. Jadi, ya sedikit mereka mengerti dan paham kalau ini zaman yang lebih canggih.
"Jangan bilang, kalian juga membuat kloningan dari dinosaurus?" Menunjuk-nunjuk angin.
"Ada, tapi hanya ada di Jurasic."
"Jangan bercanda, Helen. Jurasic Park itu hanya film."
"Dari film, membuat kita ingin menjadikannya nyata. Letaknya ada ada di Amerika Serikat. Andai saja, kalian bisa leluasa berjalan-jalan. Kalian pasti bisa pergi melihat dinosaurus di Jurasic," Rey melongo. Dia pikir, Jurasic Park tak akan pernah ada. Nyatanya, sekarang ada Jurasic Park!
☆☆☆
__ADS_1
Mampir ******* ku yuk^^
@floirecita_