![TIME [Bad Future]](https://asset.asean.biz.id/time--bad-future-.webp)
"Katrin, Jihan akan menyuapimu," kata Keila, dokter perempuan yang sedari tadi memeriksa Katrin.
Katrin melihat ke arah pintu. Nampak seorang wanita umur dua puluhan. Penampilannya layaknya seorang perawat.
Wanita itu membawa nampan dengan isinya adalah sayur sup, nasi dan segelas air putih. Wanita itu mendekati Katrin. Setelah duduk di kursi yang ada di samping brankar, wanita itu mengaduk sup dan menyuapi Katrin.
"Jadi Katrin, bagaimana kamu bisa masuk ke dalam lubang waktu?" Keila juga duduk di samping brankar. Ia memperhatikan laporan dalam brntuk data yang berada di komputer tapi, tanpa perantara.
"Aku? Lubang waktu? Maaf, aku tidak ingat apa pun, yang membuatku datang ke sini," Katrin meneguk air putih.
"Ya, tidak masalah. Akan ku tanyakan pada temanmu di ruang sebelah.
"Teman? Siapa?"
"Entahlah. Dia laki-laki yang cukup tampan, tapi bukan tipe ku," Keila mengangkat bahunya acuh.
"Bisa aku melihat mereka?"
"Aku tidak yakin. Kau masih lemah."
"Ayolah Keila, aku yakin aku sudah lebih baik. Aku bisa berdiri, dan... Aw!" Katrin memegangi kepalanya. Ia merasa sangat sakit pada kepala bagian belakangnya.
Keila langsung mendekati Katrin dan membawanya kembali duduk. Keila langsung memeriksa keadaan Katrin. Sedangkan wanita yang tadi menyuapi Katrin, hanya memperhatikan.
"Sudah kukatakan, kau masih belum. sehat betul," kata Keila. Katrin cuma meringis. Kepalanya masih sakit. Ia kini sudah berbaring di atas brankar. Matanya sudah terpejam kembali.
Sedangkan di satu sisi, Gabriel sudah sadar dari pingsannya. Ia sedang di periksa oleh Asuka.
"Boleh ku tahu, siapa namamu?"
"Aku, em, aku tidak ingat apa pun," Gabriel memegangi kepalanya. Ia merasa sangat pusing.
"Baiklah, aku akan memanggilmu Gio, kupikir kau sangat mirip dengan seseorang," kata Asuka. Gabriel nampak tidak peduli. Ia membaringkan tubuhnya.
"Aku akan mengambilkanmu makanan."
"Tidak perlu, aku masih merasa pusing. Aku ingin tidur beberapa saat."
__ADS_1
"Baiklah, silahkan beristirahat selama aku mempelajari dirimu," Gabriel memejamkan matanya dan mulau tertidur.
Di ruangan yang cukup megah, luas, dan steril, terbaring Kevin dengan berbagai alat di sekelilingnya. Seorang wanita duduk di samping tempat tidurnya, yang juga megah. Wanita itu menatap Kevin tanpa henti. Yang menghentikannya menatap Kevin hanya kedipan mata.
Ia sudah sedari Kevin di temukan, tak henti-hentinya memperhatikan Kevin. Ia sangat mengenal baik dengan orang yang kini sedang menutup matanya. Ia tak bosan-bosannya menunggui Kevin. Padahal, dari hasil pemeriksaan, Kevin diketahui akan siuman lusa.
Wanita itu seolah sudah menantikan Kevin sedari lama.
"Nyonya, makan malam sudah siap. Apa saya perlu bawakan kemari?" seorang pelayan memasuki ruangan. Tanpa menoleh, wanita itu mengangguk lesu. Matanya tak bergerak dari menatap Kevin.
[¹]
"Alex, siapa wanita ini?" tanya Helen begitu Alex memasuki rumah.
"Helen perkenalkan, dia XiaoQi, rekan kerjaku, dan dia Alfin, rekan kerjaku juga. XiaoQi, Alfin, ini Helem istriku, dan mereka orang yang kita tarik ke zama kita, dan mereka kakek nenek buyutku," Jelas Alfin. Rey dan Riska yang mendengar itu pun melotot.
"Apa maksudmu barusan Alex?" Kata Risa.
"Kalian adalah kakek dan nenek buyut ku," Alex berbicara sambil mendudukkan dirinya di sofa. "Kelly, buatkan kami minum," lanjutnya.
"Alex, tidak baik memberitahukan masa depan kepada orang lain. Itu sebabnya mengapa hanya pemerintah dan orang yang memiliki izin yang diizinkan mempunyai mesin waktu," Helen menyentil telinga Alex. Alex hanya terkekeh melihat tanggapan Helen.
"Ye, yang ada lo kali, yang suka sama gue. Pasti lo yang ngemis-ngemis minta dinikahin!" Rey menepis telunjuk Risa.
"Udah-udah! Jodoh gak boleh berantem terus!" Alya terkekeh melihat kedua temannya Yang ternyata saling berjodoh.
"DIEM LO!" Kata Risa Dan Rey bersamaan. Sontak, orang-orang Yang berada di dalam rumah Alex, langsung menyoraki mereka berdua.
Risa menghentakkan kakinya. Ia meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar tempat mereka tidur tadi malam. Wajahnya memerah menahan malu.
Orang-orang di ruang tamu tertawa melihat tingkah Risa. Rey sendiri hanya diam, ia tak tahu harus bertingkah seperti apa.
"Cukup. Ada yang harus aku bicarakan pada kalian," Alex berhenti tertawa dan merubah raut wajahnya menjadi serius. Semua yang berada di sana pun merubah wajahnya menjadi serius.
"Teman kalian yang kami temukan di mesin waktu, sekarang ada di pusat semua Negara dunia. Sayangnya, kita tidak bisa leluasa keluar masuk ke sana. Kemungkinan menyelamatkan teman-teman kalian hanya lima persen. Sangat tidak mungkin menyamar di sana. Terlalu ketat penjagaan di tempat itu," Alex meminum minuman yang baru saja di bawakan oleh Kelly.
"Bisa lewat jalur bawah tanah?" Oliv berkomentar.
__ADS_1
"Sayangnya, bawah tanah pun sudah di jadikan kota," Alfin menanggapi.
"Sebanyak apa sih, robot-robot itu? Sampai tanah aja dijadiin kota," Alya menanggapi.
"Robot, kloningan, dan manusia yang mortal."
"Mortal? Abadi?"
"Iya. Mereka tidak abadi. Mereka hanya mengulur waktu mati mereka dengan selalu meremajakan sel-sel mereka. Membuat wajah mereka awet muda, dan mencegah tubuh mereka dari penyakit. Bahkan, mereka bisa selamat dari kematian yang di sebabkan oleh kecelakaa," XiaoQi menjelaskan.
"Dan, para manusia mortal itu harus rutin ke dokter. Lewat satu hari saja, mereka bisa kembali tua. Itu sebabnya mereka menghianati manusia, karena mereka tidak bisa hidup di Kutub Selatan tanpa perawatan," Alfin melanjutkan.
"Yah, beberapa dari mereka mau menanggung risiko dengan tinggal di sini. Akhirnya, mereka hanya bertahan tiga jam, setelahnya meninggal."
"Beberapa lainnya mau membantu kita secara legal dan ilegal, dan sisanya lagi mendukung para robot."
Semua orang di sana mulai terdiam. Pikiran mereka bermacam-macam.
[²]
"Gio! Lihatlah, lalat itu bisa keluar dari jaring laba-laba!" Asuka heboh memperhatikan lalat yang sedari tadi berada di sarang laba-laba. Akhirnya, lalat itu dapat lolos dah bebas.
Gabriel hanya melihat sekilas, kemudian kembali memakan makanannya. Tadinya, ia disuapi Asuka. Tapi, Asuka terlalu banyak bicara. Gabriel akhirnya meminta agar ia makan sendiri.
"Gio, apa kau tau? Dunia ini sangat indah. Kami berhasil mengembalikan hewan hewan yang sudah punah jutaan tahun lalu," Asuka bersemangat.
"Ayo, ikuti aku!" Asuka menarik piring kosong dari tangan Gabriel. Ia meletakannya ke atas nakas. Kemudian, ia menarik Gabriel untuk mengikutinya.
Gabriel hanya diam mengikuti Asuka.
"Gio! Kau lihat di sana? Itu kebun binatang. Isinya, adalah hewan-hewan yang sudah punah, namun kembali di buat. Di sebut kloningan," Asuka masih semangat menjelaskan pada Gabriel. Tapi, Gabtiel tak menggubris. Ia hanya memperhatikan tanpa ada niatan untuk berbicara.
"Gio, aku berjanji, kalau kau sudah sehat, aku akan membawamu ke sana. Kau pasti penasaran dengan hewan-hewan itu," Asuka mengembangkan senyumnya, memperlihatkan gigi kelincinya. Gabriel gemas melihat Asuka yang sangat imut di matanya. Tanpa sadar, tangannya terulur menyubit pipi Asuka.
"Kau terlalu banyak bicara. Sekarang, aku ingin makan lagi. Apa aku bisa mendapat makanan lagi?" Gabriel masih meletakan tangannya di pipi Asuka. Pipi Asuka kembali mengembung, tersenyum pada Gabriel.
"Tentu saja. Aku tak diizinkan membuatmu lapar," Asuka melangkah pergi saat Gabriel melepas pipisnya.
__ADS_1
☆☆☆