TIME [Bad Future]

TIME [Bad Future]
Empat


__ADS_3

"Jadi Alex, kalian sudah bisa menjelajah waktu?" kata Helen sembari menyuap nasi ke mulut nya. Anak dalam gendongannya tadi sudah diambil alih oleh Kelly.


"Tidak Helen. Kami masih mengembangkannya. Mereka adalah kesalahan. Seharusnya kami yang pergi ke zaman mereka. Bukan mereka yang datang ke zaman kita," jelas Alex. Helen mengangguk mengerti.


"Jadi, apa anda bisa membatu kami kembali ke zaman kami?" Tanya Oliv.


"Kami sedang mengusahakan perbaikan untuk mesin waktunya. Jadi, kalian tidak usah khawatir," Jawab Alex tenang.


Hal itu tentu saja tidak bisa membuat Oliv dan teman-temannya merasa tenang. Setidaknya sedikit saja terdapat kelegaan.


"Alex, mau kah kau berjanji padaku?" kata Risa.


"Ya, apa itu?"


"Berjanjilah untuk memulangkan kami ke zaman kami," Risa berkata sambil menatap mata Alex. Matanya sedikit berkaca-kaca.


"Ya, saya berjanji. Saya akan mengusahakan semunya," Kata Alex mantap.


"Oh, ya Helen. Omong-omong dia adalah mertua buyut mu. Aku tau dia masih kecil, tapi itu benar," Alex memperkenalkan Rey.


"Oh, Kakek. Apa aku memperlakukanmu dengan baik?" Helen mendekati Rey. "Apa anda ingin menambah ayam?" sambung nya.


"Gak, gak perlu. Kamu cukup duduk, dan makan lah!" Kata Rey sedikit sombong. "Dan jangan panggil aku kakek."


"Baik lah, kek. Eh, maksudku siapa nama anda?"


"Rey. Panggil aku Rey!" Kata Rey. Terdengar suara bayi menangis bersamaan dengan ucapan Rey.


"Baiklah Rey. Saya pamit untuk mengurus anak saya. Tenang saja, saya akan melanjutkan makan saya. Kalian, lanjutkan lah. Makan yang banyak supaya sehat.


"Omong-omong kamar kalian di atas. Hanya tersisa satu kamar kosong. Alex akan mengaturnya. Semoga kalian betah!" Kata Helen. Ia pergi meninggalkan ruang makan dan menuju ruang TV dimana Kelly berada.


Alex sendiri nampak menekan sesuatu di telinganya. Ia lalu meningalkan ruang makan.


"Kemana tuh cicit gue?" ucap Rey.


"Mana gue tau," balas Alya. Mereka pun melanjutkan makan.

__ADS_1


Ayam goreng di meja tersisa satu potong. Risa yang melihatnya ingin mengambilnya. Kebetulan ia belum mengambil ayam tadi. Ia baru makan sayur sup. Saat tangannya sudah sampai di atas ayam, tangan Rey juga berada di sana. Risa langsung memukul tangan Rey.


"Ish, punya gue!" kata Risa sambil menarik Ayam dari piring.


"Hah? Apa? Gue gak salah dengar? Ini tu, yang beli cicit gue, yang masak menantu gue. Berarti ini punya gue! Lo gak berhak ngatur makanan di rumah gue!" Kata Rey dengan sombongnya.


"Bodo amat! Lagian menantu lo itu, 'kan ngasih ke gue juga, gak ke lo doang!" kata Risa tak mau kalah. Rey ingin menanggapi, namun Alex lebih dahulu mencuri perhatian.


"Semuanya, aku ada kabar buruk," kata Alex dengan wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Kabar apa Alex?" Alya bertanya setelah menyelesaikan kunyahannya. Rey dan Risa sudah tidak bertengkar. Mereka memperhatikan Alex.


"Teman kalian, terjebak di dimensi waktu," Alex berucap sambil mendudukan dirinya.


"Maksudmu?" kata Rey.


"Jadi, ada suatu tempat yang menghubungkan semua waktu di alam semesta. Kami menyebutnya dimensi waktu. Dalam dimensi waktu ada satu tempat —yang kita tidak tau di mana keberadaanya— yang tidak memiliki waktu.


Jadi tidak ada kehidupan di sana. Hanya ada ruang tanpa waktu," Alex menjeda.


"Teman kalian terjebak di sana. Kami mendeteksi adanya hawa panas di ruang tanpa waktu itu. Artinya, ada kehidupan di ruang itu. Dan kami menduga itu adalah teman kalian."


"Jadi?"


"Teman kalian dalam bahaya. Waktu teman kalian sebelum benar-benar hilang adalah dua puluh empat jam, dan kini hanya tersisa kurang dari dua puluh jam."


"Apa kau yakin kalau itu teman kita?"


"Ya," Alex meneguk minumannya.


Mereka sedikit berpikir untuk mencerna semuanya. Sebelum berada di sini, mereka sedang di rumah Alya mengerjakan tugas kelompok. Mereka ada tujuh orang. Alya, Rey, Oliv, Risa, Gabriel, Katrin, dan Kevin.


Mereka sampai di sini tanpa Katrin, Gabriel, dan Kevin. Kalau di pikir-pikir, mungkin mereka bisa saja tidak tertarik oleh lubang waktu itu —dengan kabur keluar kamar. Namun, mereka melihat dengan mata sendiri, mereka saling menggenggam tangan satu dengan lainnya. Mereka juga ingat kalau mereka sama-sama memasuki lubang waktu itu


"Rey, gue tiba-tiba gak napsu buat makan. Nih, buat lo aja," kata Risa sambil menyodorkan piring berisi ayam goreng ke Rey.


"Yeay! Thanks, Ris!" kata Rey sambil mengambil ayam goreng.

__ADS_1


Alya dan Oliv menatap Rey keheranan. Risa hanya diam memikirkan apa yang akan terjadi kepada Gabriel.


"Kok, lo bisa setenang itu, sih?" kata Alya.


"Rileks. Gak perlu cemas banget gitu. Kalau cemas kita malah gak bisa mikir. Mending kita tenang, kita pikirin caranya buat nyelametin mereka," Rey berkata sambil menyobek daging ayam dan memakannya.


Semua orang mengangguk. Mereka setuju dengan apa yang dikatakan Rey.


Makan malam telah usai. Oliv berinisiatif untuk mencuci piring. Namun, ia tidak menemukan wastafel untuk mencuci piring disana.


"Alex, apa rumahmu tidak punya wastafel untuk mencuci piring?" tanya Oliv.


"Kau tidak perlu mencuci piring di zaman ini, Oliv. Cukup kau letakan piring-piring itu di atas meja. Meja itu dapat membersihkan piring dengan sendirinya. Kau pikir, apa gunanya meja itu dibuat dengan ruang di bagian dalamnya?" Alex menjawab tanpa menoleh. Ia sedang fokus menonton berita di kacamatanya.


"Oh, aku tidak tahu," Oliv mengembalikan piring-piring yang dibawanya kembali ke mejanya. Oliv memperhatikan meja makan itu. Memang ternyata meja itu memiliki ruang di bagian bawahnya.


"Maaf karena tidak memberitahumu sebelumnya," kata Alex sambil melepas kacamatanya dan melihat ke Oliv.


"Tidak masalah."


[¹]


Oliv merebahkan tubuhnya setelah ia selesai mencuci wajah, tangan, kaki dan menggosok giginya. Ia menatap ke atas langit.


Oliv, Alya, Risa, dan Rey tidur di satu ruangan. Ruangan ini cukup luas. Alex membuatnya menjadi dua, satu ruangan untuk Rey dan satunya untuk para gadis.


Atapnya tertutup Kaca transparan, namun bagian dalam tidak terlihat dari luar.


Oliv menatap ke atas langit. Ia ingat, dulu pernah tidur di jalanan, hingga seorang berhati malaikat membawa mereka ke sebuah rumah sederhana.


Oliv rindu keluarganya. Rindu adiknya, rindu ayahnya. Lengan kekar ayahnya tak pernah membiarkan Oliv dan adiknya kelaparan.


Sedari dulu, ayahnya rela tak makan demi mereka. Ayahnya yang selalu berhasil menghibur dan membuat Oliv kembali bangkit.


Kini, hidupnya lebih baik. Punya rumah sendiri, dan bisa sekolah. Namun, ia melintas waktu, dan harus melakukannya sekali lagi. Apa ia bisa kembali? Apa ia bisa melihat ayahnya tersenyum lagi?


☆☆☆

__ADS_1


__ADS_2